Memastikan anak-anak Anda menyikat gigi adalah
penting bukan hanya untuk mencegah gigi berlubang.
Credit: Getty Images
Apakah itu tentang kebanyakan main sosial media di Internet, malas bangun sebelum pukul 10 pagi di akhir pekan, dan suka melewatkan sarapan, para orang tua sekarang terus menerus diingatkan bahwa kebiasaan tak sehat anak-anak mereka itu berakibat pada kesehatan mereka secara keseluruhan. Namun menurut sebuah penelitian terbaru, masih ada lagi kebiasaan sehari-hari penting yang berpotensi menimbulkan kerusakan pada kesehatan fisik maupun kesehatan mental anak-anak—dan anak-anak bisa jadi melewatkan ini jika tidak diingatkan: merawat gigi mereka sendiri.
Polling kesehatan anak-anak yang dilakukan oleh RS Anak-anak C.S. Mott Children’s mengungkap bahwa lebih dari sepertiga anak-anak menderita masalah kesehatan gigi. Lebih dari itu, para orang tua yang berpartisipasi dalam polling tersebut melaporkan lebih banyak kasus kesehatan gigi pada anak-anak yang melakukan pembersihan mulut kurang dari dua kali sehari, seperti menyikat gigi atau membersihkan gigi dengan benang gigi. Sekarang ini, para ahli turut urun rembuk membahas mengapa para orang tua perlu lebih aktif mengawasi kesehatan mulut anak-anak mereka.
Masalah Kesehatan Mulut yang Paling Banyak Menimpa Anak-Anak
Untuk melakukan penelitian ini, para peneliti telah melakukan polling terhadap 1.801 orang tua dari anak-anak yang berusia antara 4-17 tahun tentang kesehatan mulut mereka dan kebiasaan mereka. Secara khusus, para peneliti meminta para orang tua untuk menilai masalah kesehatan gigi anak-anak mereka, dan juga berapa sering anak-anak mereka melakukan praktik-praktik kebersihan mulut di “semua atau kebanyakan” hari dalam seminggu. Setelah mengamati data yang didapat, di bawah ini adalah hasil temuan para peneliti:
- 1 dari 3 anak menderita masalah kesehatan gigi. Lebih dari 36% orang tua melaporkan bahwa anak mereka telah mengalami masalah gigi yang berhubungan dengan kebiasaan rutin mereka menjaga kebersihan mulut mereka dalam dua tahun terkahir, termasuk lubang gigi dan gigi rusak (29%), gigi berubah warna atau bernoda (7%), sakit gigi dan/atau gigi sensitif (6%), dan masalah gusi (3%).
- Anak-anak kurang perhatian jika menyangkut masalah perawatan kesehatan mulut. Hanya 3 dari 5 orang tua mengatakan bahwa anak mereka menyikat gigi secara teratur dua kali sehari. Para orang tua juga melaporkan lebih sedikit anak laki-laki yang menyikat dan membersihkan gigi mereka dengan benang gigi dibandingkan dengan anak perempuan.
- Kesehatan mulut yang buruk mengakibatkan lebih banyak masalah gigi. Di antara para orang tua yang memiliki anak-anak yang hanya secara rutin membersihkan mulut mereka 0-1 kali sehari, 44% melaporkan adanya masalah gigi, dibandingkan dengan hanya 31% pada orang tua yang melaporkan bahwa anak-anak mereka melakukan itu sebanyak 2-3 kali sehari.
- Bau mulut sering kali diabaikan. Lebih dari sepertiga orang tua memperhatikan bahwa anak-anak mereka mengalami bau mulut yang ditemukan lebih umum terjadi pada anak-anak yang melakukan praktik membersihkan mulut 0- kali sehari di setiap hari atau di kebanyakan hari dalam seminggu. Namun kebanyakan orang tua menyebut itu sebagai “napas pagi,” hanya 47% yang mengatakan itu sebagai akibat dari kurangnya menyikat gigi atau membersihkan gigi denagn benang gigi.
Bagaimana kesehatan mulut memengaruhi kesehatan secara keseluruhan
Ketika kesehatan mulut diabaikan, maka akan muncul masalah kesehatan yang lain. Ini merupakan masalah yang paling umum yang terpaksa menyeret anak-anak ke dokter gigi, kata Kami Hoss, DDS, dokter gigi dan pendiri Supermouth, sebuah sistem kesehatan mulut untuk anak-anak dan dewasa.
“Gigi berlubang (Cavities) adalah nomer satu, diikuti oleh gingivitis, erosi enamel, dan apa yang saya sebut sebagai ketidakseimbangan mikrobioma, yang timbul dalam bentuk bau mulut kronis, karies berlubang (cavities recurrent) yang timbul pada anak-anak yang meskipun menyikat gigi, dan penyakit gusi dini,” kata Dr. Hoss.
Bahkan yang lebih mengkhawatirkan adalah efek kesehatan mental akibat kesehatan mulut yang buruk—meski hal ini memakan waktu lebih lama untuk diketahui.
Bagaigama kesehatan mulut berhubungan dengan kesehatan mental
Penelitian yang diterbitkan dalam Jurnal Orthodontis Amerika menemukan bahwa gigi adalah fitur nomer satu yang menjadi target bullying pada anak-anak usia sekolah. Anak-anak yang dibulli karena senyuman mereka dilaporkan memiliki rasa percaya diri yang lebih rendah dan tidak menyukai sekolah, dan bullying secara keseluruhan telah terbukti menimbulkan isolasi sosial dan depresi pada anak-anak semua jenjang usia.
Rasa sakit yang berhubungan dengan masalah gigi juga bisa memicu timbulnya masalah sosial emosional pada anakanak.
Anak-anak yang giginya berlubang dan tak terawat bisa jadi mengalami sedikit rasa sakit setiap hari,” kata Dr. Hoss. “Mereka tidak bisa berkonsentrasi. Mereka mudah tersinggung. Saya telah melihat anak-anak yang salah diagnosis sebagai mengalami gangguan behavioral padahal masalah yang sebenarnya adalah rasa sakit di gigi yang tak bisa diatasi.
Hubungan antara kesehatan mental dan kesehatan mulut bisa berjalan dua arah.
Mengapa Kesehatan Mulut yang Buruk Kini Jadi Lebih Berbahaya bagi Anak-Anak
Ketika menyangkut pemahaman orang dewasa tentang kesehatan mulut, Dr. Hoss secara nyata melihat adanya pergeseran positif dalam dekade terakhir ini. “Para orang tua kini menjadi lebih pintar,” katanya. “Mereka menanyakan tentang kandungan [produk], tentang mikrobioma, tentang bagaimana mulut berhubungan dengan bagian-bagian tubuh lainnya.”
Namun anak-anak zaman sekarang menghadapi tantangan baru. Lebih banyak makanan olahan, makanan snack konstan, dan minuman-minuman mengandung asam (mulai dari soda hingga minuman berenergi) semuanya bisa berkontribusi dalam meningkatkan resiko timbulnya gigi berlubang dan kerusakan enamel gigi. Sementara dunia kita kini yang digerakkan secara online hanyalah memperburuk potensi efek kesehatan mental negatif dari masalah gigi—termasuk adanya ketidaknyamanan dan kecenderungan memiliki ekspektasi negatif akan tampilan mereka sendiri.
“Sosial media membuat anak-anak menjadi sangat tersadar akan penampilan mereka sejak usia dini,” kata Dr. Hoss. “Saya memiliki pasien seusia 8 tahun yang bertanya tentang pemutih gigi.
Sosial media memiliki pengaruh yang begitu kuat tentang bagaimana anak-anak mempersepsikan diri mereka sendiri dan membentuk ide-ide tentang bagaimana mereka seharusnya terlihat yang oleh Dr. Hoss disebut sebagai “kecemasan senyum” pada tahap yang mengkhawatirkan.
“Anak-anak yang memiliki kesehatan mulut yang sempurna menanyakan pada saya apakah ada yang “tidak beres” dengan gigi mereka karena gigi mereka tidak cocok dengan imej-imej terfilter yang mereka temukan di media sosial,” katanya. “Itu adalah masalah kesehatan mental yang menggunakan gigi sebagai topengnya, dan kini masalah seperti ini menjadi semakin banyak.
Bagaimana orang Tua Bisa Membantu
Di bawah ini, Dr. Hoss menawarkan tip-tip keren untuk mendapatkan kesehatan mulut bagi anak-anak Anda.
“Ketika Anda berinvestasi untuk kesehatan mulut anak-anak Anda sekarang, itu berarti Anda sedang berinvestasi dalam setiap dimensi masa depan mereka,” kata Dr. Hoss. “Ini benar-benar merupakan sesuatu yang besar pengaruhnya yang bisa dilakukan oleh orang tua untuk anak-anak mereka.
Mulai sejak dini
Dr. Hoss merekomendasikan agar para orang tua mengikuti aturan sederhana 1-4-7 jika menyangkut masalah kesehatan mulut: Buat jadwal kunjungan ke dokter gigi untuk anak-anak Anda mulai usia 1 tahun, lakukan evaluasi ortodontik pada usia 4 tahun untuk mengetahui pertumbuhan rahang, saluran udara, dan napas, dan lakukan evaluasi ortodontik komprehensif ketika usia anak Anda mencapai 7 tahun.
“Ini berdasarkan jendela perkembangan kritis di mana intervensi dini bisa mencegah timbulnya masalah yang lebih besar di masa yang akan datang,” katanya.
Berpikir rutin, bukan hanya produk tunggal
“Anak Anda butuh pendekatan kesehatan mulut terkoordinir yang disesuaikan dengan perkembangan usia mereka,” kata Dr. Hoss. “Setiap satuan dari produk di bawah ini harus bekerja secara bersama-sama untuk mendukung mikrobioma mulut, bukan malah merusaknya.”
Di bawah ini Adalah produk-produk yang dia rekomendasikan tersedia di dalam kamar mandi:
- Alkaline, pasta gigi prebiotik dengan nano-hydroxyapatite dan vitamin D3 dan K2
- Benang gigi PTFE-free floss
- Sikat gigi ultra-lembut
- Pembersih lidah
- Setelah usia 6 tahun, bersihkan mulut dengan obat kumur yang tidak mengandung alkohol, pewarna buatan, dan pH alkaline
Beri contoh kebiasaan menjaga kesehatan mulut yang terbaik
“Penelitian menunjukkan anak-anak yang orang tuanya memprioritaskan kesehatan diri mereka sendiri lima kali lebih besar kemungkinannya akan menjadi pengunjung dokter gigi,” kata Dr. Hoss. “Dan hati-hati dengan tanda peringatan diam-diam ini: bernapas dengan mulut, bau mulut kronis, mendengkur, gigi menggeretak, atau enggan tersenyum.” (Liz Regalia)
Read the original article on Parents
https://www.yahoo.com/health/your-body/oral-health/articles/kids-oral-health-linked-mental-210000749.html
Post a Comment