Headlines

Powered by Blogger.

0 Pola Pikir Penyumbang Angka Kemiskinan

 


Dalam sebagian budaya di dunia ini, masyarakatnya berkeyakinan bahwa seseorang harus kawin, beranak, dan berbahagia, tidak peduli betapapun keadaan ekonomi mereka.

Ummat Islam meyakini bahwa kawin atau menikah adalah sunnah rasul; seseorang yang tidak kawin dianggap tidak mengikuti sunnah rasul. Kawin atau menikah dan punya anak dalam budaya Islam juga dianggap merupakan kewajiban seorang muslim untuk mengembangkan atau memperbanyak umat Islam di seluruh dunia. Makin banyak anak makin banyak umat Islam. Makin banyak umat Islam makin banyak kekuatan untuk menegakkan syariat Islam guna meraih cita-cita meraih kejayaan Islam di muka Bumi ini. Begitulah pikiran mereka.

Dalam masyarakat Islam, kawin dan beranak itu dilakukan tanpa perhitungan ekonomi; tanpa menghitung biaya yang harus dikeluarkan untuk merawat seorang anak. Sebuah keluarga kecil, miskin, yang punya satu anak, yang kepala keluarganya tak punya penghasilan tetap, akan kewalhan menghadapi betapa kerasnya himpitan biaya hidup yang harus dia tanggung, belum lagi jika anak mereka bertambah jadi satu, dua, atau tiga, bahkan empat dan seterusnya.

Bayangkan, orang tua dengan penghasilan tak menentu, misalnya, yang secara rata-rata berpenghasilan antara satu hingga dua juta rupiah sebulan, atau kurang dari itu, harus menghidupi tiga orang anak yang semuanya masih bersekolah. Jika dua di antara anak mereka itu harus menempuh jarak yang cukup jauh dari rumah mereka, maka setiap hari orang tua harus mengeluarkan minimal duapuluh ribu rupiah untuk satu orang anak, untuk bensin sepeda motor dan jajan mereka.

Tidak jarang, akibat kerasnya himpitan ekonomi, si orang tua menyerah. Anak-anak mereka terpaksa harus putus sekolah, atau dipaksa kawin dalam usia muda, dan kemudian mengulang kehidupan orang tua mereka pada anak-anak mereka.

Pada beberapa kasus, anak terpaksa menjadi nakal tau bertindak kriminal untuk memenuhi kebutuhan hidup.

Keadaan seperti ini akan terus berulang pada anak cucu mereka sehingga membuat angka kemiskinan semakin besar dari waktu ke waktu.

Di belahan dunia lain, masyarakatnya berpikir rasional. Banyak di antara mereka yang menolak kawin dengan alasan berat menanggung biaya hidup keluarga, dan memilih hidup menyendiri hingga akhir khayat mereka.

Dalam masyarakat yang berpikir rasional seperti itu otomatis angka kemiskinan kian lama kian menurun seiring dengan menurunnya jumlah penduduk. Negara-negara maju seperti negara-negara di Eropa, Amerika Utara, dan Jepang umumnya berpikiran rasional seperti ini, dan angka kemiskinan dan pengangguran di negara-negara tersebut relatif kecil jika dibandingkan dengan negara-negara yang penduduknya berpikiran bahwa mereka harus punya anak.

Menurut data dari World Bank, sekitar 700 juta orang di dunia masih hidup dalam kemiskinan ekstrem, yaitu dengan penghasilan kurang dari 2,15 dolar AS per hari. Sebagian besar dari mereka tinggal di negara berkembang, di mana tingkat kelahiran juga relatif tinggi.

Dalam konteks pendidikan, biaya transportasi, seragam, buku, dan kebutuhan harian anak dapat menjadi beban berat. Jika satu anak membutuhkan biaya harian sekitar Rp20.000 untuk transportasi dan uang saku, maka tiga anak memerlukan sekitar Rp60.000 per hari atau hampir Rp1,8 juta per bulan—jumlah yang bahkan melebihi penghasilan banyak keluarga miskin.

Akibatnya, banyak keluarga harus membuat pilihan sulit. Tidak sedikit anak yang akhirnya putus sekolah karena keterbatasan biaya. Data dari UNESCO menunjukkan bahwa sekitar 244 juta anak dan remaja di seluruh dunia tidak bersekolah, dan faktor ekonomi menjadi salah satu penyebab utama.

Read more

0 Penggunaan Suplemen di Kalangan Remaja Meningkat Tajam dan Produk Penurun Berat Badan Adalah Bahaya yang Terus Berkembang di Kalangan Remaja Putri

 

Photo by HighwayStarz on Deposit Photos
Sebuah meta analisis berskala besar terbaru menunjukkan betapa luasnya penggunaan suplemen di kalangan anak-anak dan remaja, dan mengapa para orang tua perlu memperhatikan hal ini lebih jauh.

Anak-anak dan remaja menghadapi isu body image adalah sebuah isu yang bermetamorfosis dan berubah seiring berjalannya waktu. Para orang tua yang merupakan anak-anak di tahun 80-an dan 90-an memandang model tubuh yang kerempeng dan gambar pria berotot di sampul majalah sebagai sesuatu yang ideal yang harus ditiru. Penemuan dan penyebaran gambar-gambar hasil editing Photoshop dalam media publikasi kian memperbesar godaan tersebut dan membuat banyak anak-anak tersesat di jalan yang salah.

Apa yang dihadapi anak-anak zaman sekarang adalah jauh, jauh lebih buruk, seiring peningkatan penggunaan sosial media yang telah memungkinkan orang menilai, mem-bully, menekan, dan mempermalukan atau mengisolasi seseorang karena bentuk tubuhnya selama 24 jam sehari. Ruang yang sulit diamankan oleh polisi ini menjunjukkan tip-tip, trik bagi anak-anak, dan obat-obatan dan suplemen yang dijual bebas yang bisa mereka beli dengan mudah demi mendapatkan bentuk tubuh atau rupa yang mereka rasa mereka butuhkan.

Penelitian telah menunjukkan bahwa hampir satu dari 10 remaja di seluruh dunia telah mencoba produk penurun berat badan tanpa resep dokter, dan lebih dari separuh dari remaja lelaki dilaporkan menggunakan suplemen protein, yang mengkhawatirkan komunitas pemerhati kesehatan anak. Temuan tersebut memberi gambaran akan sebuah generasi yang bergerak melawan tekanan body image, pengaruh media sosial, dan pasar suplemen yang hampir seluruhnya tak beraturan—yang sering kali tanpa bimbingan dari dokter.

Jumlahnya Lebih Besar dari yang Diketahui para Orang Tua

Sebuah meta analisis penting yang diterbitkan dalam jurnal JAMA Network Open, yang dipimpin oleh para peneliti di Sekolah Kesehatan Masyarakat Harvard T.H. Chan bersama para kolega mereka dari Deakin University and Monash University Australia, telah meneliti 90 penelitian yang mencakup lebih dari 604.000 partisipan di bawah usia 18.

Hasilnya mengejutkan: 9% remaja telah menggunakan produk-produk penurun berat badan tanpa resep dokter pada satu ketika dalam hidup mereka, 6% dalam tahun terakhir, 4% di bulan terakhir, dan 2% di minggu terakhir. Remaja putri lebih besar kecenderungannya menggunakan produk ini.

Suplemen protein menunjukkan cerita yang paralel pada masing-masing sisi gender yang berbeda. Penelitian dari tahun 2022 menemukan bahwa 33% remaja putri dan 55% remaja putra dilaporkan mengonsumsi bubuk protein atau minum minuman protein, dan sebuah tinjauan penelitian pada tahun 2024 menemukan bahwa sebanyak 25,7% remaja laki-laki telah menggunakan kreatin. Ini bukanlah tindakan menyimpang—tindakan ini merefleksikan kebiasaan mainstream di kalangan remaja Amerika.

Kalau kita zoom secara global, gambaran tersebut adalah sama mengkhawatirkannya. Sebuah peer-reciew yang mengulas tinjauan yang diterbitkan di dalam sebuah jurnal medis menemukan bahwa suplemen di kalangan anak-anak dan remaja telah terus meningkat di banyak negara, dengan lebih dari 30% anak-anak di Amerika Serikat menggunakan suplemen secara teratur, 22,6% di Australia, dan 32,4% di China. Tinjauan tersebut juga menunjukkan adanya perbedaan berarti di antara kelompok usia: anak-anak usia lebih muda cenderung mengonsumsi suplemen untuk kekebalan tubuh dan pertumbuhan, sedangkan para remaja jauh lebih besar kemungkinannya untuk mengejar penampilan tubuh yang atletis atau bentuk tubuh yang mereka sukai.

Media Sosial Jadi Pembakar

Para ahli berterus terang akan penyebab trend ini terjadi. Bryn Austin, seorang profesor di Sekolah Kesehatan Masyarakat Harvard T.H. Chan School dan direktur Strategic Training Initiative for the Prevention of Eating Disorders (Inisiatif Latihan Strategis untuk Mencegah Gangguan Makan), mengatakan pada STAT News, “Industri ini besar—industri global—dan terus dipromosikan melalui media sosial, khususnya dengan sasaran para orang muda yang menggunakan produk-produk ini. Hal ini tentu saja menimbulkan resiko pada anak-anak.

Amanda Raffoul seorang peneliti program yang sama yang tidak terlibat dalam penelitian di atas, juga membenarkan adanya kekhawatiran ini. Dia berkata pada The 19th, “Sangat disayangkan, tingginya level suplemen penurun berat badan tersebut bukanlah hal yang mengejutkan, khususnya di kalangan remaja putri. Industri suplemen penurun berat badan ini Adalah semacam Wild West: Keberadaannya sangat tak beraturan. Dan karena kurangnya aturan tersebut, maka produk tersebut bisa didapat di mana saja dengan mudah.”

Kekhawatiran kita bukan hanya pada masalah pemasaran produk ini tapi juga tentang kandungan suplemen itu sendiri. Penelitian tentang anak-anak lelaki dan bentuk tubuh mengisyaratkan bahwa platform media sosial menyuguhkan konten diet fitness yang semakin ekstrem pada remaja laki-laki, yang berkontribusi pada sebuah kondisi yang disebut muscle dysmorphia (perasaan di mana tubuh terlalu kecil atau kurang berotot). Meski hanya sekitar 2% remaja laki-laki yang telah didiagnosis resmi, namun para ahli percaya bahwa jumlah anak muda yang menggunakan produk ini jauh lebih besar, dengan banyak kasus yang tidak diketahui.

Bagi remaja putri, tekanannya datang dari arah berbeda. Ekosistem media sosial yang sama yang menawarkan tubuh berotot dan membungkah pada remaja laki-laki pada saat yang sama juga mempromosikan tubuh yang tipis dan penurunan berat badan yang cepat pada remaja putri, yang dengan demikian menormalisasi penggunaan produk-prdoduk suplemen tersebut—pil diet, laksatif, diuretik, dan apa yang disebut suplemen fitness—yang mengandung resiko fisik dan psikologis.

Apa yang Produk Ini Bisa Lakukan Pada Tubuh yang Sedang Tumbuh

Photo by LanaStock on Deposit Photos
Tidak adanya aturan adalah masalah pokok dalam hal ini. Tidak seperti obat-obat resep dokter, makanan suplemen tidak memerlukan bukti keamanan atau keampuhan sebelum dijual bebas di toko. Himbauan pemerintah federal AS kurang keras dibandingkan dengan akibat yang bisa ditimbulkan oleh obat-obatan ini, dan kemasan yang antianak bahkan tidak digunakan.

Pusat Kesehatan Implementer dan Integratif melaporkan bahwa hampir sebanyak 4.600 anak-anak mengunjungi ruang ICU setiap tahunnya akibat makanan suplemen, dengan kebanyakan kasus melibatkan tidak adanya pengawasan atau konsumsi vitamin dan mineral. Produk-produk suplemen bodybuilding mengandung bahaya yang lebih besar: Sebagian mengandung senyawa serupa steroids tersembunyi yang bisa menyebabkan cedera liver, stroke, atau gagal ginjal.

Suplemen penurun berat badan oleh FDA ditemukan mengandung bahan yang tidak disebutkan, dan produk-produk yang kaya akan kafein atau herbal yang mengandung kafein yang bisa menimbulkan dampak detak jantung yang bisa mengancam nyawa.

Resikonya meluas hingga jauh dari yang tertera dalam label. Berbagai penelitian telah menemukan kesenjangan yang berarti antara apa yang diklaim dalam kemasan suplemen dengan apa yang sebenarnya dikandung dalam produk-produk tersebut. kontaminasi dengan obat-obatan (drugs), logam berat, dan zat-zat kimia lainnya adalah sebuah masalah yang didokumentasikan di dalam berbagai industri.

Khusus untuk kaum remaja, resikonya lebih besar karena tubuh mereka masih bertumbuh. Dr Ellen Rome, seorang spesialis obat-obatan remaja di klinik Cleveland, mengingatkan bahwa konsekuensi dari pembatasan makanan dan penggunaan suplemen bisa jadi kontraintuitif dan berlangsung lama. Dia berkata pada Cleveland Clinic Health Essentials, “Anak-abak muda yang melakukan ‘diet’ atau membatasi asupan makanan yang berhubungan dengan kebutuhan kesehatan mereka, pada akhirnya akan mengalami penambahan berat badan seiring berjalannya waktu agar tubuh mereka bisa bertahan melalui ‘kelaparan’ berikutnya.”

Dr Rome juga mengingatkan akan bahaya adanya trend menghindari lemak dan memilih makanan rendah karbohidrat yang sering ditemui remaja secara online, mengingat bahwa untuk mengembangkan otak diperlukan 50 hingga 90 gram lemak per hari mulai dari lahir hingga mencapai usia 26 tahun, dan bahwa mengurangi lemak dalam makanan selama masa remaja bisa menimbulkan dampak pada terbentuknya jalur syaraf baru.

Bubuk protein juga membawa resiko tersendiri: Jika dikonsumsi pada saat kurang minum, bubuk protein tersebut bisa menembus pembatas darah ke otak dengan kecepatan meningkat dan berpotensi menimbulkan penggumpalan darah mini. Kreatin, di sisi lain, bisa menimbulkan stress pada ginjal dan ini belum diteliti pada mereka yang berusia di bawah 18.

Lanskap Peraturan Mulai Bergerak

Sebagian pembuat kebijakan mulai memberi respon. Negara bagian New York telah mengeluarkan aturan pada tahun 2023 yang melarang penjualan diet fitness dan suplemen pada anak-anak, para peneliti di balik penelitian Jaringan Terbuka JAMA mencatat bahwa diperlukan adanya campur tangan dari pemerintah seperti ini, mengingat betapa bebasnya produk-produk ini dijual secara online dan di toko-toko dengan tidak memandang usia konsumen.

Tinjauan peer review yang diterbitkan dalam jurnal medis juga menggarisbawahi hal yang sama: Kebanyakan suplemen yang digunakan oleh anak-anak dan remaja dipilih tidak berdasarkan nasihat dokter atau ahli diet, tapi berdasarkan rekomendasi dari orang tua, teman gym, dan para influencer sosial media. Hanya kurang dari separuh orang tua dalam salah satu penelitian di Amerika Utara melaporkan bahwa mereka telah berkonsultasi pada ahli kesehatan sebelum memberi anak mereka suplemen.

Apa yang Bisa Dilakukan Orang Tua Sekarang

                                                      Photo by dashmed on Deposit Photos 

Para ahli kesehatan anak tetap konsisten pada bimbingan mereka: Tidak ada suplemen yang boleh diberikan pada seorang anak atau remaja tanpa dikonsultasikan pada penyedia layanan kesehatan terlebih dahulu. Dokter anak tidak merekomendasikan multivitamin bagi anak yang sehat yang bisa memakan berbagai makanan, dan resiko penggunaan suplemen yang tidak diawasi, mulai dari dosis yang tidak tepat hingga interaksi-interaksi berbahaya dengan obat-obatan medis, juga didokumentasikan dengan baik.

Dr. Rome merekomendasikan agar para orang tua berkonsultasi dengan dokter anak dan ahli diet yang terdaftar untuk menentukan rencana makanan yang akan disusun untuk kebutuhan khusus anak remaja mereka. Untuk remaja yang ingin mengembangkan otot atau mengatur berat badan mereka, sumber makanan protein utuh, makanan seimbang, dan meningkatkan aktivitas fisik adalah jauh lebih aman dan lebih efektif daripada suplemen apapun yang dijual di pasar. Dia berkata pada Cleveland Clinic Health Essentials, “Yang terbaik dilakukan adalah bekerja sama dengan dokter anak dan ahli diet terdaftar untuk menentukan rencana makanan sehat yang sesuai dengan dompet Anda dan anak remaja Anda.

Para orang tua juga harus sadar bahwa kata ‘natural’ (‘alami’)yang terdapat pada label makanan belum tentu berarti aman, dan bahwa produk-produk yang dipasarkan sebagai obat homeofatik, termasuk sebagian yang secara keliru dipromosikan sebagai alternatif vaksin, belum terbukti melindungi anak-anak dari penyakit.

Masalah Ini Penting bagi Keluarga

Yang membuat trend ini sulit diatasi adalah bahwa masalah ini berada di dalam interseksi dari tiga kekuatan: Industri yang tak beraturan yang melibatkan uang yang luar biasa besar, lingkungan sosial media yang mengambil keuntungan dari rasa ketidaknyamanan akan tubuh, dan tahap perkembangan di mana anak muda khususnya rawan terhadap keduanya.

Fakta bahwa penggunaan suplemen kini meningkat bukan hanya di AS tapi juga di berbagai benua mengisyaratkan bahwa ini bukanlah masalah lokal yang menghendaki solusi yang juga lokal. Bagi para orang tua, yang paling protektif yang bisa Anda lakukan sekarang adalah membuka komunikasi dengan anak remaja Anda tentang suplemen atau obat apa yang sedang mereka konsumsi, mengapa mereka menggunakan itu, dan apa yang sebenarnya direkomendasikan oleh dokter; Sebelum produk yang mereka temukan secara online itu yang mengambil alih komunikasi dengan mereka. (Jeff Moss)

https://www.yahoo.com/health/your-body/childrens-health/articles/teen-supplement-rising-fast-weight-223424905.html

Read more

0 Mengekspose Keburukan Seseorang di Internet, Apa Tindakan Pemerintah?

 


Di era Internet ini media sosial adalah sesuatu yang niscaya bagi para penggunanya. Berselancar di Internet tanpa menggunakan media sosial terasa ada yang kurang lengkap. Bahkan ada yang menjadikan media sosial sebagai tujuan utama membuka Internet. Media sosial telah menjadi ikon Internet. Hidup tanpa media sosial di zaman sekarang adalah tidak lengkap dan terasa ketinggalan zaman.

Berbagai manfaat media sosial telah dirasakan banyak orang, mulai dari terjalinnya persahabatan yang akrab dengan orang yang tidak kita kenal nun jauh di sana, menemukan kembali teman lama yang tak pernah kita jumpai lagi di kehidupan nyata, dan yang yang paling ekstrem, menemukan jodoh; mendapat suami atau istri dari media sosial.

Namun, di sisi lain, tak sedikit pula yang terpedaya oleh media sosial. Ada yang tertipu oleh orang yang tidak mereka kenal hingga mengalami kerugian hingga ratusan juta rupiah, dan ada juga yang terkecoh oleh realita dunia maya; mengira apa yang mereka lihat di Internet adalah sesuatu yang nyata, padahal itu merupakan produk teknologi AI semata.

Dan yang sering membuat keki adalah betapa media sosial sekarang sudah dijadikan alat kontrol perilaku oleh sebagian pengguna. Mereka mungkin bertujuan baik. Mereka ingin agar hidup ini tertata rapi, nyaman, aman, dan sempurna seperti yang mereka inginkan.

Kita sering menyaksikan video di Tiktok, atau YouTube, atau Facebook yang mengekspose keburukan seseorang dengan tanpa tedeng aling-aling. Wajah orang yang diduga telah melakukan tindakan kriminal diekspose dengan jelas, tanpa ditutupi sedikitpun, atau di-blur.

Dan narasi yang menjelaskan masalahnya dibuat secara sepihak dan sangat emosional; hanya mengatakan keburukan si orang tersebut, tanpa memberinya kesempatan untuk membela diri. Kata-kata yang dipilih kasar dan menohok seolah-olah orang yang diekspose tak punya kebaikan sedikipun, dan merupakan objek yang harus dicaci maki oleh orang di seluruh dunia.

Mungkin itu dibuat sebagai contoh shock therapy, sebagai peringatan agar orang-orang tak melakukan hal serupa. Tapi, di sisi lain, hal ini tentu saja membuat si pelaku malu, trauma, depresi, bahkan gila, hingga bunuh diri karena tak tahan.

Pertanyaan yang timbul di benak kita, sebandingkah derita yang dia dapat; hukuman itu, dengan perbuatan yang telah dia lakukan? Apakah orang yang telah berbuat salah harus menanggung konsekuensi yang sedemikian berat?

Hukum tentu saja harus berazas keadilan. Begitulah prinsip hukum di dunia yang beradab. Kalau tidak adil, itu bukan hukum, melainkan tindakan bar-bar yang tak pantas dilakukan oleh orang yang berpendidikan dan berkemajuan. Hukum itu bukan dibuat untuk mempermalukan, atau untuk mengekspose kesalahan seseorang di muka dunia. Hukum dibuat untuk menciptakan keamanan, kenyamanan, dan ketertiban sebagai cerminan dari tataan masyarakat yang menggunakan akal pikiran dalam kehidupan sehari-hari.

Orang yang menegakkan hukum harus orang yang bersih, yang tidak pernah melanggar hukum atau melakukan tindakan kriminal apapun baik yang kecil maupun yang besar.

Seseorang baru bisa dinyatakan bersalah jika telah diputuskan bersalah oleh penegak hukum melalui pengadilan. Sebelum itu, tidak ada yang berhak menghukum mereka, apalagi mengkespose kesalahan mereka di muka dunia, dengan tanpa diberi kesempatan sedikitpun untuk membela diri, atau menjelaskan masalah yang sebenarnya, apalagi jika orang yang mengekspose kesalahan mereka itu adalah orang yang tak lepas dari berbagai kesalahan atau pelanggaran hukum pula.

Dan, untuk kasus-kasus dalam video yang kita saksikan di Internet, sanggupkah si pembuat video membuktikan kesalahan mereka? Bagaimana jika tuduhan itu tidak benar? Bagaimana jika video itu sengaja dibuat sebagai fitnah untuk membunuh karakter seseorang? Bagaimama jika video itu dibuat sebagai alat balas dendam?

Kita sebagai penonton harus bijaksana. Ingat azas praduga tak bersalah. Seseorang tidak bisa dinyatakan bersalah sebelum ditetapkan oleh putusan pengadilan.

Mengekspose kesalahan seseorang di media sosial itu adalah tindakan main hakim sendiri yang tidak boleh terjadi. Dan dalam hal ini, Pemerintah semestinya berindak. Pemerintah tidak boleh hanya jadi penonton, dan membuat keadaan menjadi lebih buruk.

Read more

0 Meta Kini Mengizinkan Para Orang Tua Memonitor Apa yang Anak Mereka Diskusikan di AI

Meta mengumumkan alat baru yang memungkinkan para orang tua memonitor apa-apa yang anak mereka diskusikan di AI (Reuters)
Meta, induk Perusahaan Facebook dan Instagram, mengumumkan sebuah alat baru yang bisa membuat para orang tua mengetahui apa yang anak mereka sedang diskusikan di AI bots. Meski para orang tua sudah pernah diingatkan agar mencari tahu apakah anak-anak mereka membicarakan topik seperti bunuh diri atau cara melukai diri sendiri, namun alat baru ini akan memberi para orang tua tinjauan yang lebih detail tentang apa yang anak-anak mereka diskusikan di AI.

Mulai tanggal 23 April 2026, para orang tua yang akan menggunakan alat tinjauan ini yang ditawarkan di Facebook, Messenger, dan Instagram bisa mengakses tab “Insight”. Salah satu option dalam tab ini diberi label “Their All Interactions” (Interaksi Mereka Seluruhnya) dan menyediakan serangkaian topik yang telah didiskusikan anak-anak mereka dalam chatbots Meta dalam tujuh hari terakhir.

Topik-topik tersebut mencakup berbagai kategori yang meliputi bahasan seperti sekolah, travel, menulis, hiburan, gaya hidup, kesehatan dan kesejahteraan, dan juga sub-sub topik yang merupakan rincian dari topik-topik tersebut.

Subtopik di bawah kesejahteraan (well-being), sebagai contoh, bisa mencakup hal-hal seperti kesehatan mental atau kesehatan fisik, dan topik gaya hidup (lifestyle) bisa jadi mencakup makanan dan fashion.

Menurut laporan PC Mag, untuk menggunakan tab Insight ini, para orang tua harus memastikan anak-anak mereka menggunakan akun remaja (teen account), yang tersedia di platform Meta. Alat baru ini sementara tersedia untuk para orang tua di A.S., U.K., Australia, Kanada, dan Brazil. Perusahaaan itu mengatakan mereka belum akan mengeluarkan versi global alat ini dalam beberapa minggu ke depan.

Alat baru ini diciptakan setelah merebaknya sebuah kasus hukum di mana Meta diharuskan membayar $375 juta atas kegagalan mereka memblok eksploitasi anak di aplikasi milik mereka.

Meta juga telah mengumumkan pembuatan aplikasi AI Wellbeing Expert Council (Dewan Keselamatan AI), yang digambarkan sebagai sebuah “grup para ahli untuk menyediakan input berjalan bagi pengalaman-pengalaman AI pada remaja, untuk membantu kita memastikan mereka tetap berada pada jalur aman sesuai usia mereka.”

Para karyawan Perusahaan yang bekerja dalam proyek AI dilaporkan akan mengadakan pertemuan secara reguler dengan dewan tersebut untuk membahas update fitur-fitur mereka dan untuk mendengarkan umpan balik dari produk-produk mereka.

Keselamatan dan kesehatan anak-anak di sosial media telah menjadi sebuah isu yang menonjol dalam beberapa bulan terkhir ini.

Pada bulan Maret 2026, baik Meta maupun Google dinyatakan telah abai atas peran mereka dalam memberi kontribusi atas depresi dan kecemasan yang diderita seorang wanita yang menuntut perusahaan tersebut, di mana wanita tersebut mengklaim bahwa produk-produk Meta dan Google bersifat adiktif dan telah membuat dia terjebak dalam penggunaan produk-produk tersebut sejak dia masih anak kecil.

Pengadilan di California menghadiahi wanita tersebut $6 juta. Keputusan ini menandai pertama kalinya perusahaan sosial media dianggap bertanggung jawab atas cara-cara produk-produk mereka menimbulkan dampak pada perseorangan, khususnya anak-anak dan remaja.

Juri di pengadilan memutuskan bahwa aplikasi Google dan Meta—dalam kasus Google, YouTube—dirancang untuk menimbulkan kecanduan dan tidak memberi cara yang tepat untuk melindungi para pengguna muda. (Graig Graziosi)

https://www.yahoo.com/news/articles/meta-now-allows-parents-see-220245665.html

Read more

0 Psikologi mengatakan bahwa tumbuh dengan ibu yang pencemas namun penh perhatian memiliki sisi negatif yang mengejutkan

shutterstock 
 Ibu saya mengkhawatirkan segala sesuatu tentang saya

Dia tidak khawatir berlebihan akan terjadi bencana atau meramal akan ada kecelakaan atau musibah yang menimpa saya. Caranya lebih tenang daripada itu.

Ketegangan yang khas setiap kali saya keluar dari rumah.

Kebiasaaan membayangkan hal-hal yang buruk dari keadaan yang sebenarnya biasa saja.

Sebuah kecenderungan memecahkan masalah sebelum saya sendiri menghadapi masalah itu, untuk memuluskan jalan yang sebenarnya belum saya tempuh.

Ia melakukan itu karena sayang. Saya mengerti itu bahkan sejak saya masih anak-anak, dan sekarang saya jadi lebih paham lagi.

Namun di satu titik di tengah jalan itu, saya mulai memperhatikan sesuatu—tentang bagaimana saya bergerak dalam dunia ini, tentang tekstur spesifik dari kekhawatiran yang saya rasakan, tentang refleks-refleks tertentu yang saya alami yang tidak sesuai benar dengan sosok diri saya yang saya impikan.

Dan semakin jauh saya memperhatikan hal-hal tersebut, semakin jelas saya bisa menapak tilas hal-hal itu kembali ke masa kanak-kanak saya.

Penelitian tentang hal ini ternyata lebih maju dari yang diketahui banyak orang.

Tumbuh dalam keluarga yang menjaga nilai-nilai yang baik tapi memliki orang tua yang cemas tidaklah memiliki tanda-tanda yang jelas terlihat—tak ada insiden dramatis, tak ada momen kerusakan yang jelas.

Namun efeknya lebih subtil, sehingga, lebih sulit dilihat dan lebih sulit disebutkan.

Bagi anak-anak yang memiliki ibu yang selalu khawatir atau cemas, di bawah ini adalah efek-efek yang mungkin timbul pada mereka.

Anak-anak merasakan kecemasan sebelum mereka mengetahui kata tentang itu

Anak-anak tak peru diberi tahu bahwa sesuatu itu berbahaya. Mereka bisa membaca para orang dewasa di sekitar mereka dengan presisi yang luar biasa—kedua mata yang tegang, napas yang ditahan sebelum memberi respon, cara tubuh berubah ketika sesuatu terasa tak pasti. Saya tidak tahu hingga saya menjadi dewasa bahwa tidak semua tubuh orang melakukan itu. Ketika orang dewasa utama yang ada dalam ruangan suka khawatir atau cemas, maka suasana lingkungan yang cemas itu akan menjadi pijakan si anak—bukan sebuah kepercayaan yang mereka bentuk secara sadar, tapi merupakan sebuah rasa yang merasuk ke dalam diri mereka sebelum mereka sendiri mampu mempertanyakannya.

Anak-anak akan belajar bahwa dunia ini lebih berbahaya dari yang sebenarnya

Seorang ibu yang pengkhawatir atau pencemas akan memancarkan pandangan khusus tentang dunia yang sebenarnya tanpa makna: bahwa sesuatu yang sebenarnya biasa menjadi penuh kepalsuan, bahwa sesuatu bisa menjadi celaka tanpa peringatan terlebih dahulu, bahwa kewaspadaan adalah respon yang seharusnya terhadap apa-apa yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Anak-anak menyerap hal ini bukan sebagai sebuah pendapat, tapi sebagai sebuah fakta dan begitulah realitas yang sebenarnya.

Dan, kemudian, anak-anak akan membawa anggapan tersebut—hingga usia mereka dewasa, ke dalam situasi-situasi baru, ke dalam momen-momen yang secara objektif baik-baik saja tapi terasa mengancam dengan cara-cara yang tidak bisa mereka jelaskan. Dunia sebenarnya tidak se-berbahaya seperti yang mereka cemaskan. Namun sistem syaraf tidak mengetahui hal itu. Sistem syaraf mempelajari apa yang dia pelajari, dan dia mempelajari itu lebih dini.

Anak-anak tidak akan bisa mengembangkan toleransi terhadap resiko

Ketika seorang ibu pengkhawatir mulai ikut campur untuk memuluskan jalan sebelum si anak menghadapi kesulitan, itu berarti si anak tidak pernah membangun bukti-bukti internal bahwa mereka bisa menangani hal-hal sulit. Cara Goodwin, Ph.D., menulis dalam Psychology Today, bahwa anak-anak yang memliki orang tua yang overprotektif menunjukkan lebih banyak ketitdakteraturan emosional dan kecemasan sosial—dan bahwa membiarkan anak-anak menangani situasi-situasi sulit sendiri adalah cara untuk membuat mereka membangun keterampilan regulasi (regulation skills) yang mereka butuhkan. Kepercayaan bahwa mereka tidak bisa menangani segala sesuatu akan secara diam-diam tertanam pada diri mereka semakin lama mereka tidak diberi kepercayaan.

Anak-anak menjadi ahli dalam membaca ruangan

Anak yang tumbuh dengan orang tua yang mood-nya dibentuk dengan kecemasan berarti terbiasa membaca kecemasan atau kekhawatiran sejak dini dan secara akurat—mereka bisa melacak sinyal-sinyal, mengantisipasi reaksi, menyesuaikan tingkah laku dengan situasi. penyesuaian tersebut tampak seperti empati, dan dalam beberapa hal memang empati. Namun sikap seperti itu berkembang sebagai sebuah strategi survival pada awalnya. Si anak tidak belajar membaca di luar rasa ingin tahu dan koneksi. Melainkan, mereka belajar membaca orang lain demi untuk mengelola temperatur emosional ruangan tersebut.

Apa yang kita dapat ketika anak-anak tersebut dewasa adalah seseorang yang sering kali luar biasa perseptif tentang perasaan orang lain, namun mengalami kesulitan untuk berhenti membaca ruangan sebelum mereka bisa menyadari apa yang mereka sendiri rasakan.

Anak-anak jadi kesulitan mempercayai penilaian mereka sendiri

Eugene Berison, M.D., menulis dalam Psychology Today, mencatat bahwa orang tua yang overprotektif bisa secara tak disadari mengirim pesan bahwa si anak tidak mampu membuat keputusan yang baik—dan bahwa hal ini akan mengurangi rasa percaya diri si anak sedemikian rupa dan terbawa hingga mereka dewasa. Ketika orang dewasa di sekitar mereka selalu ikut campur, mengarahkan, dan menangani segala sesuatunya  terlebih dahulu, si anak akan menyadari bahwa instink mereka sendiri tidak bisa dipercaya. Bahwa impuls pertama mereka mungkin perlu diperiksa. Bahwa penilaian dari orang lain lebih terpercaya dari penilaian mereka sendiri.

Anak-anak membawa tanggung jawab yang bukan milik mereka

Ketika salah satu orang tua tampak cemas, seorang anak sering kali mencoba mengatasi kecemasan itu—mengurangi rasa khawatir, berpura-pura tidak ada apa-apa , untuk menghindari situasi-situasi yang tampak bisa menghilangkan rasa cemas itu. Seiring berjalannya waktu, hal ini menjadi sebuah pola: memonitor diri mereka sendiri bukan hanya untuk kepentingan mereka sendiri, tapi untuk mengelola keadaan emosional orang lain di sekitar mereka. Mereka menjadi para caretaker kecil tanpa diminta.

Saya merasakan ini dalam diri saya sendiri jauh lebih lambat dari yang seharusnya—editing reflektif (reflective editing) dari apa yang saya berikan, kebiasaan mengemas hal-hal sulit secara rapi sehingga tidak akan terlalu membebani siapa saja yang akan menerimanya.

Setting default anak-anak menjadi waspada, bukannya tenang

Sesuatu bisa jadi, secara teknis, baik-baik saja namun terasa tidak terasa baik-baik saja. Itulah warisan utama yang didapat anak yang tumbuh dalam keluarga yang dipenuhi kecemasan dan kekhawatiran—sebuah sistem syaraf yang dikalibrasi untuk mengantisipasi masalah-masalah yang sebemarnya tidak ada, untuk meraba-raba apa-apa yang bisa jadi salah meskipun sebenarnya tidak ada yang salah. Ketenangan, kalaupun timbul, bisa terasa mencurigakan. Seperti suasana tenang sebelum sesuatu terjadi. Sisanya adalah kecemasan, dan cemas, seiring berjalannya waktu, akan menjadi pijakan dasar di mana tubuh si anak akan kembali.

Anak-anak mengalami kesulitan mentoleransi ketidakpastian

Kecemasan, pada intinya, adalah sebuah upaya untuk mengatasi ketakpastian dengan cara membayangkan akibat yang mungkin timbul. Anak yang tumbuh dengan model begini akan akan belajar bahwa ketakpastian adalah sesuatu yang harus dilenyapkan bukannya ditolerir—bahwa tidak tahu apa akibat yang akan ditimbulkan sesuatu adalah sebuah masalah yang memerlukan manajemen aktif. Ketika mereka tumbuh dewasa, hal ini akan timbul dalam bentuk pikiran yang berlebihan, dalam bentuk kesulitan membuat keputusan, dalam bentuk kelelahan otak khusus yang tidak pernah tenang karena kepastian yang dibiasakan dicari oleh otak tak pernah cukup tersedia.

Ketakpastian tidak pernah menjadi bahaya yang nyata. Tapi pesan ini, yang diserap sejak usia dini, akan sulit di-update.

Anak-anak akan menginternalisasi memori menjadi milik mereka sendiri

Pada beberapa titik—dan ini terjadi secara gradual sehingga tidak ada momen yang bisa diidentifikiasi—kekhawatiran sang ibu tidak lagi menjadi sesuatu yang diamati si anak melainkan menjadi sesuatu yang dirasakan oleh si anak. Kekhawatiran sang ibu itu bukan lagi dipinjamkan pada si anak. Kekhawatiran itu sudah menjadi milik si anak. Saya selama bertahun-tahun mengira bahwa saya adalah seorang pencemas sejak lahir, sama halnya dengan seseoarang yang menjadi tinggi sejak lahir. Rasa takut yang spesifik boleh jadi akan bergeser, objek kekhawatiran bisa jadi berubah, namun orientasi terhadap dunia—berhati-hati, siaga, bersiap—menjadi begitu akrab sehingga tak lagi terasa seperti warisan yang didapat dan mulai terasa menjadi sifat pribadi.

Anak-anak menyayangi ibu mereka—dan hal ini membuat keadaan ini menjadi lebih sulit, bukannya lebih mudah

Ini adalah bagian yang sulit dibicarakan. Rasa khawatir itu berasal dari rasa sayang. Si ibu mencoba untuk melindungi, mencegah anak mereka menderita, mencoba melakukan sesuatu yang terasa seperti menjaga. Dan efeknya sangatlah nyata. Kedua hal itu adalah benar secara bersamaan, rasa menderita dan rasa kasih sayang itu tidaklah dalam posisi berlawanan—keduanya tiba secara bersamaan, saling merangkul satu sama lain, yang membuat warisan ini jadi sangat sulit dihilangkan. (Julie Brown)

https://www.yahoo.com/lifestyle/articles/psychology-says-growing-worrying-well-190031326.html

Read more
 
© Hasim's Space | Design by Blog template in collaboration with Concert Tickets, and Menopause symptoms
Powered by Blogger