 |
| Photo by HighwayStarz on Deposit Photos |
Sebuah meta analisis berskala besar
terbaru menunjukkan betapa luasnya penggunaan suplemen di kalangan
anak-anak dan remaja, dan mengapa para orang tua perlu memperhatikan hal ini
lebih jauh.
Anak-anak dan remaja menghadapi isu body image adalah
sebuah isu yang bermetamorfosis dan berubah seiring berjalannya waktu. Para
orang tua yang merupakan anak-anak di tahun 80-an dan 90-an memandang model
tubuh yang kerempeng dan gambar pria berotot di sampul majalah sebagai sesuatu
yang ideal yang harus ditiru. Penemuan dan penyebaran gambar-gambar hasil
editing Photoshop dalam media publikasi kian memperbesar godaan tersebut dan
membuat banyak anak-anak tersesat di jalan yang salah.
Apa yang dihadapi anak-anak zaman sekarang adalah jauh, jauh
lebih buruk, seiring peningkatan penggunaan sosial media yang telah
memungkinkan orang menilai, mem-bully, menekan, dan mempermalukan atau
mengisolasi seseorang karena bentuk tubuhnya selama 24 jam sehari. Ruang yang
sulit diamankan oleh polisi ini menjunjukkan tip-tip, trik bagi anak-anak, dan
obat-obatan dan suplemen yang dijual bebas yang bisa mereka beli dengan mudah
demi mendapatkan bentuk tubuh atau rupa yang mereka rasa mereka butuhkan.
Penelitian telah menunjukkan bahwa hampir satu dari 10 remaja di
seluruh dunia telah mencoba produk penurun berat badan tanpa resep dokter, dan
lebih dari separuh dari remaja lelaki dilaporkan menggunakan suplemen protein,
yang mengkhawatirkan komunitas pemerhati kesehatan anak. Temuan tersebut
memberi gambaran akan sebuah generasi yang bergerak melawan tekanan body
image, pengaruh media sosial, dan pasar suplemen yang hampir seluruhnya tak
beraturan—yang sering kali tanpa bimbingan dari dokter.
Jumlahnya
Lebih Besar dari yang Diketahui para Orang Tua
Sebuah meta analisis penting yang diterbitkan
dalam jurnal JAMA Network Open, yang dipimpin oleh para peneliti di Sekolah
Kesehatan Masyarakat Harvard T.H. Chan bersama para kolega mereka dari Deakin
University and Monash University Australia, telah meneliti 90
penelitian yang mencakup lebih dari 604.000 partisipan di bawah usia 18.
Hasilnya mengejutkan: 9% remaja telah
menggunakan produk-produk penurun berat badan tanpa resep dokter pada satu
ketika dalam hidup mereka, 6% dalam tahun terakhir, 4% di bulan terakhir, dan
2% di minggu terakhir. Remaja putri lebih besar kecenderungannya menggunakan
produk ini.
Suplemen protein menunjukkan cerita yang paralel
pada masing-masing sisi gender yang berbeda. Penelitian dari tahun 2022
menemukan bahwa 33% remaja putri dan 55% remaja putra dilaporkan mengonsumsi
bubuk protein atau minum minuman protein, dan sebuah tinjauan penelitian pada
tahun 2024 menemukan bahwa sebanyak 25,7% remaja laki-laki telah menggunakan
kreatin. Ini bukanlah tindakan menyimpang—tindakan ini merefleksikan kebiasaan
mainstream di kalangan remaja Amerika.
Kalau kita zoom secara global, gambaran
tersebut adalah sama mengkhawatirkannya. Sebuah peer-reciew yang mengulas
tinjauan yang diterbitkan di dalam sebuah jurnal medis menemukan bahwa suplemen
di kalangan anak-anak dan remaja telah terus meningkat di banyak negara, dengan
lebih dari 30% anak-anak di Amerika Serikat menggunakan suplemen secara
teratur, 22,6% di Australia, dan 32,4% di China. Tinjauan tersebut juga menunjukkan
adanya perbedaan berarti di antara kelompok usia: anak-anak usia lebih muda
cenderung mengonsumsi suplemen untuk kekebalan tubuh dan pertumbuhan, sedangkan
para remaja jauh lebih besar kemungkinannya untuk mengejar penampilan tubuh
yang atletis atau bentuk tubuh yang mereka sukai.
Media
Sosial Jadi Pembakar
Para ahli berterus terang akan penyebab trend
ini terjadi. Bryn Austin, seorang profesor di Sekolah Kesehatan Masyarakat Harvard
T.H. Chan School dan direktur Strategic Training Initiative for the
Prevention of Eating Disorders (Inisiatif Latihan Strategis untuk Mencegah
Gangguan Makan), mengatakan pada STAT News, “Industri ini besar—industri
global—dan terus dipromosikan melalui media sosial, khususnya dengan sasaran
para orang muda yang menggunakan produk-produk ini. Hal ini tentu saja
menimbulkan resiko pada anak-anak.
Amanda Raffoul seorang peneliti program yang
sama yang tidak terlibat dalam penelitian di atas, juga membenarkan adanya
kekhawatiran ini. Dia berkata pada The 19th, “Sangat disayangkan, tingginya
level suplemen penurun berat badan tersebut bukanlah hal yang mengejutkan,
khususnya di kalangan remaja putri. Industri suplemen penurun berat badan ini
Adalah semacam Wild West: Keberadaannya sangat tak beraturan. Dan karena
kurangnya aturan tersebut, maka produk tersebut bisa didapat di mana saja
dengan mudah.”
Kekhawatiran kita bukan hanya pada masalah
pemasaran produk ini tapi juga tentang kandungan suplemen itu sendiri.
Penelitian tentang anak-anak lelaki dan bentuk tubuh mengisyaratkan bahwa
platform media sosial menyuguhkan konten diet fitness yang semakin ekstrem pada
remaja laki-laki, yang berkontribusi pada sebuah kondisi yang disebut muscle
dysmorphia (perasaan di mana tubuh terlalu kecil atau kurang berotot). Meski
hanya sekitar 2% remaja laki-laki yang telah didiagnosis resmi, namun para ahli
percaya bahwa jumlah anak muda yang menggunakan produk ini jauh lebih besar,
dengan banyak kasus yang tidak diketahui.
Bagi remaja putri,
tekanannya datang dari arah berbeda. Ekosistem media sosial yang sama yang
menawarkan tubuh berotot dan membungkah pada remaja laki-laki pada saat yang
sama juga mempromosikan tubuh yang tipis dan penurunan berat badan yang cepat
pada remaja putri, yang dengan demikian menormalisasi penggunaan produk-prdoduk
suplemen tersebut—pil diet, laksatif, diuretik, dan apa yang disebut suplemen
fitness—yang mengandung resiko fisik dan psikologis.
Apa yang Produk Ini Bisa Lakukan Pada Tubuh yang Sedang Tumbuh
 |
| Photo by LanaStock on Deposit Photos |
Tidak adanya
aturan adalah masalah pokok dalam hal ini. Tidak seperti obat-obat resep
dokter, makanan suplemen tidak memerlukan bukti keamanan atau keampuhan sebelum
dijual bebas di toko. Himbauan pemerintah federal AS kurang keras dibandingkan
dengan akibat yang bisa ditimbulkan oleh obat-obatan ini, dan kemasan yang
antianak bahkan tidak digunakan.
Pusat Kesehatan
Implementer dan Integratif melaporkan bahwa hampir sebanyak 4.600 anak-anak
mengunjungi ruang ICU setiap tahunnya akibat makanan suplemen, dengan
kebanyakan kasus melibatkan tidak adanya pengawasan atau konsumsi vitamin dan
mineral. Produk-produk suplemen bodybuilding mengandung bahaya yang lebih
besar: Sebagian mengandung senyawa serupa steroids tersembunyi yang bisa
menyebabkan cedera liver, stroke, atau gagal ginjal.
Suplemen penurun berat badan oleh FDA
ditemukan mengandung bahan yang tidak disebutkan, dan produk-produk yang kaya
akan kafein atau herbal yang mengandung kafein yang bisa menimbulkan dampak detak
jantung yang bisa mengancam nyawa.
Resikonya meluas hingga jauh dari yang tertera
dalam label. Berbagai penelitian telah menemukan kesenjangan yang berarti
antara apa yang diklaim dalam kemasan suplemen dengan apa yang sebenarnya
dikandung dalam produk-produk tersebut. kontaminasi dengan obat-obatan (drugs),
logam berat, dan zat-zat kimia lainnya adalah sebuah masalah yang
didokumentasikan di dalam berbagai industri.
Khusus untuk kaum remaja, resikonya lebih
besar karena tubuh mereka masih bertumbuh. Dr Ellen Rome, seorang spesialis
obat-obatan remaja di klinik Cleveland, mengingatkan bahwa konsekuensi dari
pembatasan makanan dan penggunaan suplemen bisa jadi kontraintuitif dan
berlangsung lama. Dia berkata pada Cleveland Clinic Health Essentials,
“Anak-abak muda yang melakukan ‘diet’ atau membatasi asupan makanan yang
berhubungan dengan kebutuhan kesehatan mereka, pada akhirnya akan mengalami
penambahan berat badan seiring berjalannya waktu agar tubuh mereka bisa
bertahan melalui ‘kelaparan’ berikutnya.”
Dr Rome juga mengingatkan akan bahaya adanya
trend menghindari lemak dan memilih makanan rendah karbohidrat yang sering ditemui remaja
secara online, mengingat bahwa untuk mengembangkan otak diperlukan 50 hingga 90
gram lemak per hari mulai dari lahir hingga mencapai usia 26 tahun, dan bahwa
mengurangi lemak dalam makanan selama masa remaja bisa menimbulkan dampak pada
terbentuknya jalur syaraf baru.
Bubuk protein juga membawa resiko tersendiri:
Jika dikonsumsi pada saat kurang minum, bubuk protein tersebut bisa menembus
pembatas darah ke otak dengan kecepatan meningkat dan berpotensi menimbulkan penggumpalan
darah mini. Kreatin, di sisi lain, bisa menimbulkan stress pada ginjal dan ini
belum diteliti pada mereka yang berusia di bawah 18.
Lanskap Peraturan
Mulai Bergerak
Sebagian pembuat kebijakan mulai memberi
respon. Negara bagian New York telah mengeluarkan aturan pada tahun 2023 yang
melarang penjualan diet fitness dan suplemen pada anak-anak, para peneliti di
balik penelitian Jaringan Terbuka JAMA mencatat bahwa diperlukan adanya campur
tangan dari pemerintah seperti ini, mengingat betapa bebasnya produk-produk ini
dijual secara online dan di toko-toko dengan tidak memandang usia
konsumen.
Tinjauan peer review yang diterbitkan
dalam jurnal medis juga menggarisbawahi hal yang sama: Kebanyakan suplemen yang
digunakan oleh anak-anak dan remaja dipilih tidak berdasarkan nasihat dokter
atau ahli diet, tapi berdasarkan rekomendasi dari orang tua, teman gym,
dan para influencer sosial media. Hanya kurang dari separuh orang tua dalam
salah satu penelitian di Amerika Utara melaporkan bahwa mereka telah
berkonsultasi pada ahli kesehatan sebelum memberi anak mereka suplemen.
Apa yang Bisa
Dilakukan Orang Tua Sekarang
Photo by dashmed on Deposit Photos
Para ahli kesehatan anak tetap konsisten pada
bimbingan mereka: Tidak ada suplemen yang boleh diberikan pada seorang anak
atau remaja tanpa dikonsultasikan pada penyedia layanan kesehatan terlebih
dahulu. Dokter anak tidak merekomendasikan multivitamin bagi anak yang sehat
yang bisa memakan berbagai makanan, dan resiko penggunaan suplemen yang tidak
diawasi, mulai dari dosis yang tidak tepat hingga interaksi-interaksi berbahaya
dengan obat-obatan medis, juga didokumentasikan dengan baik.
Dr. Rome merekomendasikan agar para orang tua
berkonsultasi dengan dokter anak dan ahli diet yang terdaftar untuk menentukan
rencana makanan yang akan disusun untuk kebutuhan khusus anak remaja mereka.
Untuk remaja yang ingin mengembangkan otot atau mengatur berat badan mereka,
sumber makanan protein utuh, makanan seimbang, dan meningkatkan aktivitas fisik
adalah jauh lebih aman dan lebih efektif daripada suplemen apapun yang dijual
di pasar. Dia berkata pada Cleveland Clinic Health Essentials, “Yang
terbaik dilakukan adalah bekerja sama dengan dokter anak dan ahli diet
terdaftar untuk menentukan rencana makanan sehat yang sesuai dengan dompet Anda
dan anak remaja Anda.
Para orang tua juga harus sadar bahwa kata
‘natural’ (‘alami’)yang terdapat pada label makanan belum tentu berarti aman,
dan bahwa produk-produk yang dipasarkan sebagai obat homeofatik, termasuk sebagian
yang secara keliru dipromosikan sebagai alternatif vaksin, belum terbukti
melindungi anak-anak dari penyakit.
Masalah Ini
Penting bagi Keluarga
Yang membuat trend ini sulit diatasi adalah
bahwa masalah ini berada di dalam interseksi dari tiga kekuatan: Industri yang
tak beraturan yang melibatkan uang yang luar biasa besar, lingkungan sosial
media yang mengambil keuntungan dari rasa ketidaknyamanan akan tubuh, dan tahap
perkembangan di mana anak muda khususnya rawan terhadap keduanya.
Fakta bahwa penggunaan suplemen kini meningkat
bukan hanya di AS tapi juga di berbagai benua mengisyaratkan bahwa ini bukanlah
masalah lokal yang menghendaki solusi yang juga lokal. Bagi para orang tua,
yang paling protektif yang bisa Anda lakukan sekarang adalah membuka komunikasi
dengan anak remaja Anda tentang suplemen atau obat apa yang sedang mereka
konsumsi, mengapa mereka menggunakan itu, dan apa yang sebenarnya
direkomendasikan oleh dokter; Sebelum produk yang mereka temukan secara online
itu yang mengambil alih komunikasi dengan mereka. (Jeff Moss)
https://www.yahoo.com/health/your-body/childrens-health/articles/teen-supplement-rising-fast-weight-223424905.html