Headlines

Powered by Blogger.

0 Mengapa Anak-Anak Selalu Berlari? Normalkah Anak-Anak yang Tak Suka Berlari? Simak Penjelasan Ilmahnya.

 

Bagi orang dewasa, berlari sering kali dianggap sebagai olahraga yang melelahkan. Namun bagi anak-anak, berlari adalah "mode standar" mereka saat berpindah tempat, tidak peduli apakah mereka berada di halaman rumah atau di dalam ruang tamu.

Fenomena ini bukan sekadar tanda bahwa mereka nakal atau tidak bisa diam. Secara ilmiah, ada alasan biologis, neurologis, dan psikologis yang mendalam di balik perilaku ini. Begitu pula dengan kondisi anak yang cenderung lebih tenang atau jarang berlari.

Bagian 1: Mengapa Anak-Anak "Selalu" Berlari?

Secara ilmiah, dorongan konstan untuk berlari pada anak-anak dipicu oleh beberapa faktor utama berikut:

1. Perkembangan Sistem Saraf dan Eksplorasi Sensorik

Otak anak-anak berkembang dengan kecepatan yang luar biasa. Saat mereka berlari, sistem saraf mereka menerima stimulasi sensorik yang intens, terutama pada sistem vestibular (terletak di telinga bagian dalam, berfungsi mengatur keseimbangan dan orientasi spasial) dan sistem proprioseptif (reseptor di otot dan sendi yang memberi tahu tubuh di mana ia berada).

Berlari membantu otak memetakan kemampuan tubuh mereka di dalam ruang. Sederhananya, anak-anak berlari untuk "menguji" dan melatih sistem keseimbangan tubuh yang sedang berkembang tersebut.

2. Metabolisme Tinggi dan Produksi Energi

Anak-anak memiliki tingkat metabolisme basal yang jauh lebih tinggi daripada orang dewasa. Tubuh mereka memproduksi energi dalam jumlah besar yang harus segera disalurkan.

Penelitian menunjukkan bahwa otot anak-anak memproduksi energi secara aerobik dengan sangat efisien, membuat mereka tidak mudah lelah akibat penumpukan asam laktat jika dibandingkan dengan orang dewasa. Berlari adalah cara paling alami dan cepat bagi tubuh mereka untuk membakar kelebihan energi tersebut.

3. Dorongan Neurotransmiter (Sistem Reward Otak)

Saat bergerak aktif atau berlari, otak melepaskan zat kimia seperti dofamin (hormon kesenangan dan motivasi) serta endorfin (pereda stres alami). Bagi anak-anak, berlari memberikan kepuasan instan yang memicu perasaan bahagia yang murni. Mereka berlari karena secara kimiawi, otak mereka mendefinisikan aktivitas tersebut sebagai sesuatu yang sangat menyenangkan.

4. Ketiadaan Kendali Eksekutif yang Matang

Bagian otak yang bernama prefrontal cortex (bertanggung jawab atas kontrol diri, perencanaan jangka panjang, dan penilaian risiko) belum matang sepenuhnya sampai seseorang menginjak usia 20-an.

Orang dewasa berjalan di dalam rumah karena tahu ada risiko menabrak meja atau memecahkan vas. Anak-anak digerakkan oleh impuls langsung: jika mereka melihat ruang kosong, otak mereka langsung memerintahkan untuk mengisinya dengan kecepatan.

Bagian 2: Mengapa Ada Anak yang Tidak Biasa Berlari?

Jika berlari adalah standar perkembangan, bagaimana penjelasan ilmiah untuk anak-anak yang cenderung tenang, lambat, atau jarang berlari dibandingkan teman sebayanya?

Kondisi ini tidak selalu berarti buruk. Secara klinis dan psikologis, variasi ini terbagi menjadi beberapa kategori:

1. Perbedaan Temperamen Alami (Faktor Genetik)

Setiap anak lahir dengan temperamen bawaan. Dalam psikologi perkembangan, anak-anak dikategorikan ke dalam profil yang berbeda:

  • High-intensity/Active: Anak yang selalu bergerak.
  • Low-intensity/Quiet: Anak yang secara genetik memiliki tingkat energi dasar yang lebih rendah. Mereka lebih suka mengeksplorasi dunia lewat observasi visual, menyusun mainan, atau aktivitas motorik halus (seperti menggambar atau bermain puzzle). Ini adalah variasi kepribadian yang sepenuhnya normal.

2. Keterlambatan Motorik atau Masalah Fisik

Jika anak jarang berlari karena mereka terlihat kesulitan saat mencobanya, ada kemungkinan terjadi hambatan fisik:

  • Hipotonisitas (Hypotonia): Kondisi di mana otot memiliki tegangan (tonus) yang rendah, sehingga anak membutuhkan usaha yang jauh lebih besar hanya untuk berdiri atau berjalan, membuat mereka cepat lelah.
  • Masalah Koordinasi atau Keseimbangan: Gangguan pada telinga bagian dalam atau perkembangan otak kecil (cerebellum) dapat membuat anak merasa tidak aman saat bergerak cepat karena sensasi pusing atau takut jatuh.

3. Masalah Proses Sensorik (Sensory Processing)

Beberapa anak mengalami Sensory Avoiding (menghindari stimulasi sensorik). Bagi anak-anak ini, pergerakan yang terlalu cepat, angin yang menerpa wajah saat berlari, atau perubahan visual yang terlalu cepat saat bergerak bisa terasa sangat overwhelming (kewalahan) dan menakutkan bagi sistem saraf mereka. Akibatnya, mereka memilih bergerak dengan sangat hati-hati.

4. Kurangnya Stimulasi Lingkungan

Anak-anak yang menghabiskan terlalu banyak waktu di depan layar (screen time) sejak bayi berisiko mengalami keterlambatan perkembangan motorik kasar. Otak mereka terbiasa mendapatkan dopamin secara pasif dari visual gadget, sehingga dorongan alami tubuh untuk bergerak aktif menjadi tumpul.

Kapan Orang Tua Harus Waspada?

Sifat tenang atau jarang berlari adalah hal yang normal selama anak mampu melakukannya saat diminta atau saat bermain. Namun, jika anak menunjukkan gejala seperti sering terjatuh di usia yang seharusnya sudah stabil (di atas 3 tahun), terlihat lemas, menghindari interaksi sosial, atau mengalami keterlambatan bicara bersamaan dengan sifat pasifnya, konsultasi dengan dokter spesialis anak atau psikolog perkembangan sangat disarankan untuk deteksi dini.


Read more

0 Salah Kaprah Rumah Duka dan Pemakanan Keluarga

 Kalau Anda hidup di kampung atau di kota kecil, mungkin Anda sering mendengar pengumuman tentang kematian seseorang mengumandang dari masjid. Dalam pengumuman seperti itu biasanya disebutkan bahwa “jenazah disemayamkan di rumah duka di ….” (menyebut nama kampung) padahal yang dimaksud adalah rumah keluarga almarhum. Selain itu juga disebutkan bahwa “jenazah akan dikebumikan di pemakaman keluarga di ….” (menyebut nama Lokasi pemakaman) padahal yang dimaksud Adalah pemakaman umum.

Penggunaan istilah "rumah duka" dan "pemakaman keluarga" dalam pengumuman kematian sering kali mengalami pergeseran makna antara bahasa formal dan kebiasaan masyarakat setempat.

Memahami Definisi Rumah Duka

Secara terminologi formal, rumah duka adalah fasilitas komersial atau publik yang dikelola secara profesional untuk merawat jenazah sebelum dimakamkan.

  • Fungsi Utama: Menyediakan ruang persemayaman, tempat pemandian jenazah, peti mati, hingga transportasi ambulans. Biasanya digunakan oleh masyarakat perkotaan yang memiliki keterbatasan lahan rumah pribadi.
  • Pergeseran di Kampung: Dalam pengumuman di masjid, penyebutan "rumah duka" sebenarnya merujuk pada kediaman pribadi keluarga almarhum.

Memahami Definisi Pemakaman Keluarga

Pemakaman keluarga secara harfiah merujuk pada tanah milik pribadi (privat) yang dikhususkan hanya untuk anggota keluarga atau silsilah keturunan tertentu.

  • Ciri Khas: Lokasinya bisa berada di halaman belakang rumah (lazim di beberapa daerah di Indonesia) atau di lahan perkebunan milik keluarga. Kepemilikannya tidak terbuka untuk masyarakat umum.
  • Pergeseran di Kampung: Ketika pengumuman menyebut "pemakaman keluarga", sering kali yang dimaksud adalah Tempat Pemakaman Umum (TPU) yang berada di wilayah tersebut.

Mengapa Salah Kaprah Ini Terjadi?

Fenomena penggunaan istilah ini biasanya dipicu oleh beberapa faktor sosial:

Istilah yang Digunakan

Maksud Sebenarnya

Alasan Penggunaan

Rumah Duka

Rumah Tinggal Pribadi

Memberikan kesan formalitas dan penghormatan pada acara duka.

Pemakaman Keluarga

Pemakaman Umum (TPU)

Menunjukkan kedekatan identitas bahwa almarhum dimakamkan di lingkungan asalnya.

Disemayamkan

Diletakkan/Disolatkan

Istilah "semayam" dianggap lebih halus daripada sekadar mengatakan "ditaruh" atau "ada di".

Kesimpulan

Ketidaktepatan penggunaan istilah ini sebenarnya adalah bentuk eufemisme (penghalusan bahasa). Di kota besar, rumah duka dan pemakaman keluarga adalah entitas bisnis atau privat yang sangat eksklusif. Namun, di kampung atau kota kecil, istilah tersebut menjadi simbol kebersamaan; bahwa setiap tetangga adalah keluarga, dan setiap rumah yang berduka adalah pusat perhatian seluruh warga.

Meskipun secara teknis kurang tepat, penggunaan istilah ini sudah menjadi bagian dari etika berkomunikasi (pragmatik) yang diterima luas oleh masyarakat kita.

 

Read more

0 Kesehatan Gigi Anak-Anak Memengaruhi Kesehatan Mental Mereka, Menurut Dokter Gigi

 

Credit: Getty Images
Memastikan anak-anak Anda menyikat gigi adalah penting bukan hanya untuk mencegah gigi berlubang.

Apakah itu tentang kebanyakan main sosial media di Internet, malas bangun sebelum pukul 10 pagi di akhir pekan, dan suka melewatkan sarapan, para orang tua sekarang terus menerus diingatkan bahwa kebiasaan tak sehat anak-anak mereka itu berakibat pada kesehatan mereka secara keseluruhan. Namun menurut sebuah penelitian terbaru, masih ada lagi kebiasaan sehari-hari penting yang berpotensi menimbulkan kerusakan pada kesehatan fisik maupun kesehatan mental anak-anak—dan anak-anak bisa jadi melewatkan ini jika tidak diingatkan: merawat gigi mereka sendiri.

Polling kesehatan anak-anak yang dilakukan oleh RS Anak-anak C.S. Mott Children’s mengungkap bahwa lebih dari sepertiga anak-anak menderita masalah kesehatan gigi. Lebih dari itu, para orang tua yang berpartisipasi dalam polling tersebut melaporkan lebih banyak kasus kesehatan gigi pada anak-anak yang melakukan pembersihan mulut kurang dari dua kali sehari, seperti menyikat gigi atau membersihkan gigi dengan benang gigi. Sekarang ini, para ahli turut urun rembuk membahas mengapa para orang tua perlu lebih aktif mengawasi kesehatan mulut anak-anak mereka.

Masalah Kesehatan Mulut yang Paling Banyak Menimpa Anak-Anak

Untuk melakukan penelitian ini, para peneliti telah melakukan polling terhadap 1.801 orang tua dari anak-anak yang berusia antara 4-17 tahun tentang kesehatan mulut mereka dan kebiasaan mereka. Secara khusus, para peneliti meminta para orang tua untuk menilai masalah kesehatan gigi anak-anak mereka, dan juga berapa sering anak-anak mereka melakukan praktik-praktik kebersihan mulut di “semua atau kebanyakan” hari dalam seminggu. Setelah mengamati data yang didapat, di bawah ini adalah hasil temuan para peneliti:

  • 1 dari 3 anak menderita masalah kesehatan gigi. Lebih dari 36% orang tua melaporkan bahwa anak mereka telah mengalami masalah gigi yang berhubungan dengan kebiasaan rutin mereka menjaga kebersihan mulut mereka dalam dua tahun terkahir, termasuk lubang gigi dan gigi rusak (29%), gigi berubah warna atau bernoda (7%), sakit gigi dan/atau gigi sensitif (6%), dan masalah gusi (3%).
  • Anak-anak kurang perhatian jika menyangkut masalah perawatan kesehatan mulut. Hanya 3 dari 5 orang tua mengatakan bahwa anak mereka menyikat gigi secara teratur dua kali sehari. Para orang tua juga melaporkan lebih sedikit anak laki-laki yang menyikat dan membersihkan gigi mereka dengan benang gigi dibandingkan dengan anak perempuan.
  • Kesehatan mulut yang buruk mengakibatkan lebih banyak masalah gigi. Di antara para orang tua yang memiliki anak-anak yang hanya secara rutin membersihkan mulut mereka 0-1 kali sehari, 44% melaporkan adanya masalah gigi, dibandingkan dengan hanya 31% pada orang tua yang melaporkan bahwa anak-anak mereka melakukan itu sebanyak 2-3 kali sehari.
  • Bau mulut sering kali diabaikan. Lebih dari sepertiga orang tua memperhatikan bahwa anak-anak mereka mengalami bau mulut yang ditemukan lebih umum terjadi pada anak-anak yang melakukan praktik membersihkan mulut 0- kali sehari di setiap hari atau di kebanyakan hari dalam seminggu. Namun kebanyakan orang tua menyebut itu sebagai “napas pagi,” hanya 47% yang mengatakan itu sebagai akibat dari kurangnya menyikat gigi atau membersihkan gigi denagn benang gigi.

Bagaimana kesehatan mulut memengaruhi kesehatan secara keseluruhan

Ketika kesehatan mulut diabaikan, maka akan muncul masalah kesehatan yang lain. Ini merupakan masalah yang paling umum yang terpaksa menyeret anak-anak ke dokter gigi, kata Kami Hoss, DDS, dokter gigi dan pendiri Supermouth, sebuah sistem kesehatan mulut untuk anak-anak dan dewasa.

“Gigi berlubang (Cavities) adalah nomer satu, diikuti oleh gingivitis, erosi enamel, dan apa yang saya sebut sebagai ketidakseimbangan mikrobioma, yang timbul dalam bentuk bau mulut kronis, karies berlubang (cavities recurrent) yang timbul pada anak-anak yang meskipun menyikat gigi, dan penyakit gusi dini,” kata Dr. Hoss.

Bahkan yang lebih mengkhawatirkan adalah efek kesehatan mental akibat kesehatan mulut yang buruk—meski hal ini memakan waktu lebih lama untuk diketahui.

Bagaigama kesehatan mulut berhubungan dengan kesehatan mental

Penelitian yang diterbitkan dalam Jurnal Orthodontis Amerika menemukan bahwa gigi adalah fitur nomer satu yang menjadi target bullying pada anak-anak usia sekolah. Anak-anak yang dibulli karena senyuman mereka dilaporkan memiliki rasa percaya diri yang lebih rendah dan tidak menyukai sekolah, dan bullying secara keseluruhan telah terbukti menimbulkan isolasi sosial dan depresi pada anak-anak semua jenjang usia.

Rasa sakit yang berhubungan dengan masalah gigi juga bisa memicu timbulnya masalah sosial emosional pada anakanak.

Anak-anak yang giginya berlubang dan tak terawat bisa jadi mengalami sedikit rasa sakit setiap hari,” kata Dr. Hoss. “Mereka tidak bisa berkonsentrasi. Mereka mudah tersinggung. Saya telah melihat anak-anak yang salah diagnosis sebagai mengalami gangguan behavioral padahal masalah yang sebenarnya adalah rasa sakit  di gigi yang tak bisa diatasi.

Hubungan antara kesehatan mental dan kesehatan mulut bisa berjalan dua arah.

Mengapa Kesehatan Mulut yang Buruk Kini Jadi Lebih Berbahaya bagi Anak-Anak

Ketika menyangkut pemahaman orang dewasa tentang kesehatan mulut, Dr. Hoss secara nyata melihat adanya pergeseran positif dalam dekade terakhir ini. “Para orang tua kini menjadi lebih pintar,” katanya. “Mereka menanyakan tentang kandungan [produk], tentang mikrobioma, tentang bagaimana mulut berhubungan dengan bagian-bagian tubuh lainnya.”

Namun anak-anak zaman sekarang menghadapi tantangan baru. Lebih banyak makanan olahan, makanan snack konstan, dan minuman-minuman mengandung asam (mulai dari soda hingga minuman berenergi) semuanya bisa berkontribusi dalam meningkatkan resiko timbulnya gigi berlubang dan kerusakan enamel gigi. Sementara dunia kita kini yang digerakkan secara online hanyalah memperburuk potensi efek kesehatan mental negatif dari masalah gigi—termasuk adanya ketidaknyamanan dan kecenderungan memiliki ekspektasi negatif akan tampilan mereka sendiri.

“Sosial media membuat anak-anak menjadi sangat tersadar akan penampilan mereka sejak usia dini,” kata Dr. Hoss. “Saya memiliki pasien seusia 8 tahun yang bertanya tentang pemutih gigi.

Sosial media memiliki pengaruh yang begitu kuat tentang bagaimana anak-anak mempersepsikan diri mereka sendiri dan membentuk ide-ide tentang bagaimana mereka seharusnya terlihat yang oleh Dr. Hoss disebut sebagai “kecemasan senyum” pada tahap yang mengkhawatirkan.

“Anak-anak yang memiliki kesehatan mulut yang sempurna menanyakan pada saya apakah ada yang “tidak beres” dengan gigi mereka karena gigi mereka tidak cocok dengan imej-imej terfilter yang mereka temukan di media sosial,” katanya. “Itu adalah masalah kesehatan mental yang menggunakan gigi sebagai topengnya, dan kini masalah seperti ini menjadi semakin banyak.

Bagaimana orang Tua Bisa Membantu

Di bawah ini, Dr. Hoss menawarkan tip-tip keren untuk mendapatkan kesehatan mulut bagi anak-anak Anda.

“Ketika Anda berinvestasi untuk kesehatan mulut anak-anak Anda sekarang, itu berarti Anda sedang berinvestasi dalam setiap dimensi masa depan mereka,” kata Dr. Hoss. “Ini benar-benar merupakan sesuatu yang besar pengaruhnya yang bisa dilakukan oleh orang tua untuk anak-anak mereka.

Mulai sejak dini

Dr. Hoss merekomendasikan agar para orang tua mengikuti aturan sederhana 1-4-7 jika menyangkut masalah kesehatan mulut: Buat jadwal kunjungan ke dokter gigi untuk anak-anak Anda mulai usia 1 tahun, lakukan evaluasi ortodontik pada usia 4 tahun untuk mengetahui pertumbuhan rahang, saluran udara, dan napas, dan lakukan evaluasi ortodontik komprehensif ketika usia anak Anda mencapai 7 tahun.

“Ini berdasarkan jendela perkembangan kritis di mana intervensi dini bisa mencegah timbulnya masalah yang lebih besar di masa yang akan datang,” katanya.

Berpikir rutin, bukan hanya produk tunggal

“Anak Anda butuh pendekatan kesehatan mulut terkoordinir yang disesuaikan dengan perkembangan usia mereka,” kata Dr. Hoss. “Setiap satuan dari produk di bawah ini harus bekerja secara bersama-sama untuk mendukung mikrobioma mulut, bukan malah merusaknya.”

Di bawah ini Adalah produk-produk yang dia rekomendasikan tersedia di dalam kamar mandi:

  • Alkaline, pasta gigi prebiotik dengan nano-hydroxyapatite dan vitamin D3 dan K2
  • Benang gigi PTFE-free floss
  • Sikat gigi ultra-lembut
  • Pembersih lidah
  • Setelah usia 6 tahun, bersihkan mulut dengan obat kumur yang tidak mengandung alkohol, pewarna buatan, dan pH alkaline

Beri contoh kebiasaan menjaga kesehatan mulut yang terbaik

“Penelitian menunjukkan anak-anak yang orang tuanya memprioritaskan kesehatan diri mereka sendiri lima kali lebih besar kemungkinannya akan menjadi pengunjung dokter gigi,” kata Dr. Hoss. “Dan hati-hati dengan tanda peringatan diam-diam ini: bernapas dengan mulut, bau mulut kronis, mendengkur, gigi menggeretak, atau enggan tersenyum.” (Liz Regalia)

Read the original article on Parents

https://www.yahoo.com/health/your-body/oral-health/articles/kids-oral-health-linked-mental-210000749.html

Read more

0 Hati-Hati Mencuci Steam Sepeda Motor dalam Keadaan Mesin Panas

 


Mencuci sepeda motor di layanan cuci steam praktis disukai banyak orang. Hanya dengan membayar Rp.15.000 pemilik sepeda motor akan menerima sepeda motornya bersih dan kinclong tanpa harus bersusah payah. Tapi, hati-hati, ada yang perlu Anda ingat sebelum membawa sepeda motor Anda ke tempat cuci steam sepeda motor, terutama jika tempat itu jauh atau memakan waktu lama untuk mencapainya.

Mencuci sepeda motor dengan steam (air bertekanan tinggi + panas) saat mesin masih panas berkaitan langsung dengan fisika material dan keamanan komponen. Kalau dipaksakan, ada beberapa efek sebab–akibat yang cukup serius.

1. Perubahan suhu mendadak (thermal shock)

Ketika mesin panas (bisa >80–100°C) langsung disemprot air (apalagi air dingin/steam), terjadi perubahan suhu ekstrem secara tiba-tiba.

👉 Akibatnya:

  • Logam seperti blok mesin dan knalpot bisa memuai lalu menyusut mendadak
  • Berisiko retak halus (microcrack) pada permukaan logam
  • Dalam jangka panjang bisa menyebabkan kebocoran atau kerusakan struktur mesin

2. Risiko korsleting pada sistem kelistrikan

Motor modern punya banyak komponen listrik (ECU, sensor, kabel).

👉 Saat panas:

  • Karet pelindung kabel dan seal lebih lunak/mengembang
  • Air lebih mudah masuk ke celah

👉 Akibatnya:

  • Korsleting listrik
  • Sensor error
  • Motor bisa mogok tiba-tiba atau sulit dinyalakan

3. Kerusakan pada seal dan karet

Seal (oli, radiator, dll.) dirancang bekerja stabil pada suhu tertentu.

👉 Jika disiram saat panas:

  • Terjadi perubahan tekanan dan suhu mendadak
  • Seal bisa:
    • Getas
    • Retak
    • Tidak rapat lagi

👉 Akibat:

  • Kebocoran oli
  • Kebocoran cairan pendingin

4. Knalpot dan bagian luar bisa rusak

Knalpot adalah bagian yang sangat panas.

👉 Saat kena air:

  • Bisa muncul noda belang permanen
  • Lapisan krom bisa rusak atau mengelupas
  • Dalam kasus ekstrem: melengkung atau retak

5. Pelumas cepat hilang dari bagian tertentu

Air bertekanan tinggi saat mesin panas bisa:

  • Menghilangkan pelumas di rantai atau bearing lebih cepat

👉 Akibat:

  • Gesekan meningkat
  • Komponen lebih cepat aus

6. Risiko keselamatan (uap panas)

Kalau mesin panas kena air:

  • Air bisa langsung menguap jadi uap panas

👉 Akibat:

  • Bisa melukai kulit (melepuh)
  • Berbahaya bagi orang yang mencuci

Kesimpulan sederhana

Mesin harus dingin karena:

  • Menghindari kerusakan material (retak, deformasi)
  • Mencegah korsleting listrik
  • Menjaga keawetan seal dan komponen
  • Menghindari bahaya bagi pengguna

Saran praktis

  • Tunggu minimal 15–30 menit setelah mesin mati
  • Pastikan mesin sudah hangat ke dingin (tidak panas disentuh) sebelum dicuci

Berikut bagian-bagian sepeda motor yang sebaiknya tidak disemprot langsung dengan tekanan tinggi (atau minimal sangat hati-hati):

1. Area kelistrikan & elektronik

Contoh:

  • ECU (otak motor)
  • Soket kabel
  • Aki (baterai)
  • Fuse box

👉 Kenapa harus dihindari:

  • Air bertekanan bisa menembus celah kecil
  • Masuk ke konektor → korsleting atau karat

👉 Akibat:

  • Motor susah hidup
  • Indikator error muncul
  • Komponen elektronik rusak (mahal)

2. Kunci kontak & panel speedometer

👉 Kenapa:

  • Tidak sepenuhnya kedap air bertekanan tinggi

👉 Akibat:

  • Air masuk → karat di dalam
  • Speedometer bisa berembun atau mati

3. Bearing (laher) roda & komstir

Lokasi:

  • Tengah roda
  • Leher setang (komstir)

👉 Kenapa:

  • Air tekanan tinggi bisa mengusir grease (pelumas) di dalam

👉 Akibat:

  • Bearing jadi kering
  • Timbul bunyi “ngik-ngik”
  • Cepat aus dan rusak

4. Rantai (chain) motor

👉 Banyak orang salah di sini.

👉 Kenapa:

  • Tekanan tinggi bisa menghilangkan pelumas rantai
  • Bahkan bisa merusak o-ring (pada rantai tipe tertentu)

👉 Akibat:

  • Rantai cepat kering, berisik, dan aus
  • Umur rantai lebih pendek

👉 Solusi:

  • Cuci biasa saja, lalu lumasi ulang setelah kering

5. Filter udara (air filter box)

👉 Kenapa:

  • Jika air masuk, filter bisa basah

👉 Akibat:

  • Pembakaran terganggu
  • Motor jadi brebet atau mati

6. Knalpot (lubang ujung)

👉 Kenapa:

  • Air bisa masuk ke dalam sistem knalpot

👉 Akibat:

  • Muncul karat dari dalam
  • Suara berubah atau performa terganggu

7. Seal suspensi (shock depan)

👉 Kenapa:

  • Tekanan tinggi bisa merusak seal

👉 Akibat:

  • Oli shock bocor
  • Suspensi jadi tidak nyaman

8. Body stiker & cat tertentu

👉 Kenapa:

  • Tekanan tinggi terlalu dekat bisa mengelupas stiker atau clear coat

👉 Akibat:

  • Tampilan motor cepat jelek

✔️ Cara aman mencuci motor dengan steam

  • Jaga jarak semprotan ± 30–50 cm
  • Hindari fokus di satu titik terlalu lama
  • Gunakan tekanan sedang, bukan maksimal
  • Setelah cuci:
    • Keringkan
    • Lumasi rantai
    • Nyalakan mesin sebentar (biar sisa air menguap)

Intinya

Steam itu efektif, tapi kalau salah arah:
👉 bukan membersihkan—malah mempercepat kerusakan komponen


Read more

0 Pola Pikir Penyumbang Angka Kemiskinan

 


Dalam sebagian budaya di dunia ini, masyarakatnya berkeyakinan bahwa seseorang harus kawin, beranak, dan berbahagia, tidak peduli betapapun keadaan ekonomi mereka.

Ummat Islam meyakini bahwa kawin atau menikah adalah sunnah rasul; seseorang yang tidak kawin dianggap tidak mengikuti sunnah rasul. Kawin atau menikah dan punya anak dalam budaya Islam juga dianggap merupakan kewajiban seorang muslim untuk mengembangkan atau memperbanyak umat Islam di seluruh dunia. Makin banyak anak makin banyak umat Islam. Makin banyak umat Islam makin banyak kekuatan untuk menegakkan syariat Islam guna meraih cita-cita meraih kejayaan Islam di muka Bumi ini. Begitulah pikiran mereka.

Dalam masyarakat Islam, kawin dan beranak itu dilakukan tanpa perhitungan ekonomi; tanpa menghitung biaya yang harus dikeluarkan untuk merawat seorang anak. Sebuah keluarga kecil, miskin, yang punya satu anak, yang kepala keluarganya tak punya penghasilan tetap, akan kewalhan menghadapi betapa kerasnya himpitan biaya hidup yang harus dia tanggung, belum lagi jika anak mereka bertambah jadi satu, dua, atau tiga, bahkan empat dan seterusnya.

Bayangkan, orang tua dengan penghasilan tak menentu, misalnya, yang secara rata-rata berpenghasilan antara satu hingga dua juta rupiah sebulan, atau kurang dari itu, harus menghidupi tiga orang anak yang semuanya masih bersekolah. Jika dua di antara anak mereka itu harus menempuh jarak yang cukup jauh dari rumah mereka, maka setiap hari orang tua harus mengeluarkan minimal duapuluh ribu rupiah untuk satu orang anak, untuk bensin sepeda motor dan jajan mereka.

Tidak jarang, akibat kerasnya himpitan ekonomi, si orang tua menyerah. Anak-anak mereka terpaksa harus putus sekolah, atau dipaksa kawin dalam usia muda, dan kemudian mengulang kehidupan orang tua mereka pada anak-anak mereka.

Pada beberapa kasus, anak terpaksa menjadi nakal tau bertindak kriminal untuk memenuhi kebutuhan hidup.

Keadaan seperti ini akan terus berulang pada anak cucu mereka sehingga membuat angka kemiskinan semakin besar dari waktu ke waktu.

Di belahan dunia lain, masyarakatnya berpikir rasional. Banyak di antara mereka yang menolak kawin dengan alasan berat menanggung biaya hidup keluarga, dan memilih hidup menyendiri hingga akhir khayat mereka.

Dalam masyarakat yang berpikir rasional seperti itu otomatis angka kemiskinan kian lama kian menurun seiring dengan menurunnya jumlah penduduk. Negara-negara maju seperti negara-negara di Eropa, Amerika Utara, dan Jepang umumnya berpikiran rasional seperti ini, dan angka kemiskinan dan pengangguran di negara-negara tersebut relatif kecil jika dibandingkan dengan negara-negara yang penduduknya berpikiran bahwa mereka harus punya anak.

Menurut data dari World Bank, sekitar 700 juta orang di dunia masih hidup dalam kemiskinan ekstrem, yaitu dengan penghasilan kurang dari 2,15 dolar AS per hari. Sebagian besar dari mereka tinggal di negara berkembang, di mana tingkat kelahiran juga relatif tinggi.

Dalam konteks pendidikan, biaya transportasi, seragam, buku, dan kebutuhan harian anak dapat menjadi beban berat. Jika satu anak membutuhkan biaya harian sekitar Rp20.000 untuk transportasi dan uang saku, maka tiga anak memerlukan sekitar Rp60.000 per hari atau hampir Rp1,8 juta per bulan—jumlah yang bahkan melebihi penghasilan banyak keluarga miskin.

Akibatnya, banyak keluarga harus membuat pilihan sulit. Tidak sedikit anak yang akhirnya putus sekolah karena keterbatasan biaya. Data dari UNESCO menunjukkan bahwa sekitar 244 juta anak dan remaja di seluruh dunia tidak bersekolah, dan faktor ekonomi menjadi salah satu penyebab utama.

Read more
 
© Hasim's Space | Design by Blog template in collaboration with Concert Tickets, and Menopause symptoms
Powered by Blogger