Headlines

Powered by Blogger.

0 Mengekspose Keburukan Seseorang di Internet, Apa Tindakan Pemerintah?

 


Di era Internet ini media sosial adalah sesuatu yang niscaya bagi para penggunanya. Berselancar di Internet tanpa menggunakan media sosial terasa ada yang kurang lengkap. Bahkan ada yang menjadikan media sosial sebagai tujuan utama membuka Internet. Media sosial telah menjadi ikon Internet. Hidup tanpa media sosial di zaman sekarang adalah tidak lengkap dan terasa ketinggalan zaman.

Berbagai manfaat media sosial telah dirasakan banyak orang, mulai dari terjalinnya persahabatan yang akrab dengan orang yang tidak kita kenal nun jauh di sana, menemukan kembali teman lama yang tak pernah kita jumpai lagi di kehidupan nyata, dan yang yang paling ekstrem, menemukan jodoh; mendapat suami atau istri dari media sosial.

Namun, di sisi lain, tak sedikit pula yang terpedaya oleh media sosial. Ada yang tertipu oleh orang yang tidak mereka kenal hingga mengalami kerugian hingga ratusan juta rupiah, dan ada juga yang terkecoh oleh realita dunia maya; mengira apa yang mereka lihat di Internet adalah sesuatu yang nyata, padahal itu merupakan produk teknologi AI semata.

Dan yang sering membuat keki adalah betapa media sosial sekarang sudah dijadikan alat kontrol perilaku oleh sebagian pengguna. Mereka mungkin bertujuan baik. Mereka ingin agar hidup ini tertata rapi, nyaman, aman, dan sempurna seperti yang mereka inginkan.

Kita sering menyaksikan video di Tiktok, atau YouTube, atau Facebook yang mengekspose keburukan seseorang dengan tanpa tedeng aling-aling. Wajah orang yang diduga telah melakukan tindakan kriminal diekspose dengan jelas, tanpa ditutupi sedikitpun, atau di-blur.

Dan narasi yang menjelaskan masalahnya dibuat secara sepihak dan sangat emosional; hanya mengatakan keburukan si orang tersebut, tanpa memberinya kesempatan untuk membela diri. Kata-kata yang dipilih kasar dan menohok seolah-olah orang yang diekspose tak punya kebaikan sedikipun, dan merupakan objek yang harus dicaci maki oleh orang di seluruh dunia.

Mungkin itu dibuat sebagai contoh shock therapy, sebagai peringatan agar orang-orang tak melakukan hal serupa. Tapi, di sisi lain, hal ini tentu saja membuat si pelaku malu, trauma, depresi, bahkan gila, hingga bunuh diri karena tak tahan.

Pertanyaan yang timbul di benak kita, sebandingkah derita yang dia dapat; hukuman itu, dengan perbuatan yang telah dia lakukan? Apakah orang yang telah berbuat salah harus menanggung konsekuensi yang sedemikian berat?

Hukum tentu saja harus berazas keadilan. Begitulah prinsip hukum di dunia yang beradab. Kalau tidak adil, itu bukan hukum, melainkan tindakan bar-bar yang tak pantas dilakukan oleh orang yang berpendidikan dan berkemajuan. Hukum itu bukan dibuat untuk mempermalukan, atau untuk mengekspose kesalahan seseorang di muka dunia. Hukum dibuat untuk menciptakan keamanan, kenyamanan, dan ketertiban sebagai cerminan dari tataan masyarakat yang menggunakan akal pikiran dalam kehidupan sehari-hari.

Orang yang menegakkan hukum harus orang yang bersih, yang tidak pernah melanggar hukum atau melakukan tindakan kriminal apapun baik yang kecil maupun yang besar.

Seseorang baru bisa dinyatakan bersalah jika telah diputuskan bersalah oleh penegak hukum melalui pengadilan. Sebelum itu, tidak ada yang berhak menghukum mereka, apalagi mengkespose kesalahan mereka di muka dunia, dengan tanpa diberi kesempatan sedikitpun untuk membela diri, atau menjelaskan masalah yang sebenarnya, apalagi jika orang yang mengekspose kesalahan mereka itu adalah orang yang tak lepas dari berbagai kesalahan atau pelanggaran hukum pula.

Dan, untuk kasus-kasus dalam video yang kita saksikan di Internet, sanggupkah si pembuat video membuktikan kesalahan mereka? Bagaimana jika tuduhan itu tidak benar? Bagaimana jika video itu sengaja dibuat sebagai fitnah untuk membunuh karakter seseorang? Bagaimama jika video itu dibuat sebagai alat balas dendam?

Kita sebagai penonton harus bijaksana. Ingat azas praduga tak bersalah. Seseorang tidak bisa dinyatakan bersalah sebelum ditetapkan oleh putusan pengadilan.

Mengekspose kesalahan seseorang di media sosial itu adalah tindakan main hakim sendiri yang tidak boleh terjadi. Dan dalam hal ini, Pemerintah semestinya berindak. Pemerintah tidak boleh hanya jadi penonton, dan membuat keadaan menjadi lebih buruk.

Read more

0 Meta Kini Mengizinkan Para Orang Tua Memonitor Apa yang Anak Mereka Diskusikan di AI

Meta mengumumkan alat baru yang memungkinkan para orang tua memonitor apa-apa yang anak mereka diskusikan di AI (Reuters)
Meta, induk Perusahaan Facebook dan Instagram, mengumumkan sebuah alat baru yang bisa membuat para orang tua mengetahui apa yang anak mereka sedang diskusikan di AI bots. Meski para orang tua sudah pernah diingatkan agar mencari tahu apakah anak-anak mereka membicarakan topik seperti bunuh diri atau cara melukai diri sendiri, namun alat baru ini akan memberi para orang tua tinjauan yang lebih detail tentang apa yang anak-anak mereka diskusikan di AI.

Mulai tanggal 23 April 2026, para orang tua yang akan menggunakan alat tinjauan ini yang ditawarkan di Facebook, Messenger, dan Instagram bisa mengakses tab “Insight”. Salah satu option dalam tab ini diberi label “Their All Interactions” (Interaksi Mereka Seluruhnya) dan menyediakan serangkaian topik yang telah didiskusikan anak-anak mereka dalam chatbots Meta dalam tujuh hari terakhir.

Topik-topik tersebut mencakup berbagai kategori yang meliputi bahasan seperti sekolah, travel, menulis, hiburan, gaya hidup, kesehatan dan kesejahteraan, dan juga sub-sub topik yang merupakan rincian dari topik-topik tersebut.

Subtopik di bawah kesejahteraan (well-being), sebagai contoh, bisa mencakup hal-hal seperti kesehatan mental atau kesehatan fisik, dan topik gaya hidup (lifestyle) bisa jadi mencakup makanan dan fashion.

Menurut laporan PC Mag, untuk menggunakan tab Insight ini, para orang tua harus memastikan anak-anak mereka menggunakan akun remaja (teen account), yang tersedia di platform Meta. Alat baru ini sementara tersedia untuk para orang tua di A.S., U.K., Australia, Kanada, dan Brazil. Perusahaaan itu mengatakan mereka belum akan mengeluarkan versi global alat ini dalam beberapa minggu ke depan.

Alat baru ini diciptakan setelah merebaknya sebuah kasus hukum di mana Meta diharuskan membayar $375 juta atas kegagalan mereka memblok eksploitasi anak di aplikasi milik mereka.

Meta juga telah mengumumkan pembuatan aplikasi AI Wellbeing Expert Council (Dewan Keselamatan AI), yang digambarkan sebagai sebuah “grup para ahli untuk menyediakan input berjalan bagi pengalaman-pengalaman AI pada remaja, untuk membantu kita memastikan mereka tetap berada pada jalur aman sesuai usia mereka.”

Para karyawan Perusahaan yang bekerja dalam proyek AI dilaporkan akan mengadakan pertemuan secara reguler dengan dewan tersebut untuk membahas update fitur-fitur mereka dan untuk mendengarkan umpan balik dari produk-produk mereka.

Keselamatan dan kesehatan anak-anak di sosial media telah menjadi sebuah isu yang menonjol dalam beberapa bulan terkhir ini.

Pada bulan Maret 2026, baik Meta maupun Google dinyatakan telah abai atas peran mereka dalam memberi kontribusi atas depresi dan kecemasan yang diderita seorang wanita yang menuntut perusahaan tersebut, di mana wanita tersebut mengklaim bahwa produk-produk Meta dan Google bersifat adiktif dan telah membuat dia terjebak dalam penggunaan produk-produk tersebut sejak dia masih anak kecil.

Pengadilan di California menghadiahi wanita tersebut $6 juta. Keputusan ini menandai pertama kalinya perusahaan sosial media dianggap bertanggung jawab atas cara-cara produk-produk mereka menimbulkan dampak pada perseorangan, khususnya anak-anak dan remaja.

Juri di pengadilan memutuskan bahwa aplikasi Google dan Meta—dalam kasus Google, YouTube—dirancang untuk menimbulkan kecanduan dan tidak memberi cara yang tepat untuk melindungi para pengguna muda. (Graig Graziosi)

https://www.yahoo.com/news/articles/meta-now-allows-parents-see-220245665.html

Read more

0 Psikologi mengatakan bahwa tumbuh dengan ibu yang pencemas namun penh perhatian memiliki sisi negatif yang mengejutkan

shutterstock 
 Ibu saya mengkhawatirkan segala sesuatu tentang saya

Dia tidak khawatir berlebihan akan terjadi bencana atau meramal akan ada kecelakaan atau musibah yang menimpa saya. Caranya lebih tenang daripada itu.

Ketegangan yang khas setiap kali saya keluar dari rumah.

Kebiasaaan membayangkan hal-hal yang buruk dari keadaan yang sebenarnya biasa saja.

Sebuah kecenderungan memecahkan masalah sebelum saya sendiri menghadapi masalah itu, untuk memuluskan jalan yang sebenarnya belum saya tempuh.

Ia melakukan itu karena sayang. Saya mengerti itu bahkan sejak saya masih anak-anak, dan sekarang saya jadi lebih paham lagi.

Namun di satu titik di tengah jalan itu, saya mulai memperhatikan sesuatu—tentang bagaimana saya bergerak dalam dunia ini, tentang tekstur spesifik dari kekhawatiran yang saya rasakan, tentang refleks-refleks tertentu yang saya alami yang tidak sesuai benar dengan sosok diri saya yang saya impikan.

Dan semakin jauh saya memperhatikan hal-hal tersebut, semakin jelas saya bisa menapak tilas hal-hal itu kembali ke masa kanak-kanak saya.

Penelitian tentang hal ini ternyata lebih maju dari yang diketahui banyak orang.

Tumbuh dalam keluarga yang menjaga nilai-nilai yang baik tapi memliki orang tua yang cemas tidaklah memiliki tanda-tanda yang jelas terlihat—tak ada insiden dramatis, tak ada momen kerusakan yang jelas.

Namun efeknya lebih subtil, sehingga, lebih sulit dilihat dan lebih sulit disebutkan.

Bagi anak-anak yang memiliki ibu yang selalu khawatir atau cemas, di bawah ini adalah efek-efek yang mungkin timbul pada mereka.

Anak-anak merasakan kecemasan sebelum mereka mengetahui kata tentang itu

Anak-anak tak peru diberi tahu bahwa sesuatu itu berbahaya. Mereka bisa membaca para orang dewasa di sekitar mereka dengan presisi yang luar biasa—kedua mata yang tegang, napas yang ditahan sebelum memberi respon, cara tubuh berubah ketika sesuatu terasa tak pasti. Saya tidak tahu hingga saya menjadi dewasa bahwa tidak semua tubuh orang melakukan itu. Ketika orang dewasa utama yang ada dalam ruangan suka khawatir atau cemas, maka suasana lingkungan yang cemas itu akan menjadi pijakan si anak—bukan sebuah kepercayaan yang mereka bentuk secara sadar, tapi merupakan sebuah rasa yang merasuk ke dalam diri mereka sebelum mereka sendiri mampu mempertanyakannya.

Anak-anak akan belajar bahwa dunia ini lebih berbahaya dari yang sebenarnya

Seorang ibu yang pengkhawatir atau pencemas akan memancarkan pandangan khusus tentang dunia yang sebenarnya tanpa makna: bahwa sesuatu yang sebenarnya biasa menjadi penuh kepalsuan, bahwa sesuatu bisa menjadi celaka tanpa peringatan terlebih dahulu, bahwa kewaspadaan adalah respon yang seharusnya terhadap apa-apa yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Anak-anak menyerap hal ini bukan sebagai sebuah pendapat, tapi sebagai sebuah fakta dan begitulah realitas yang sebenarnya.

Dan, kemudian, anak-anak akan membawa anggapan tersebut—hingga usia mereka dewasa, ke dalam situasi-situasi baru, ke dalam momen-momen yang secara objektif baik-baik saja tapi terasa mengancam dengan cara-cara yang tidak bisa mereka jelaskan. Dunia sebenarnya tidak se-berbahaya seperti yang mereka cemaskan. Namun sistem syaraf tidak mengetahui hal itu. Sistem syaraf mempelajari apa yang dia pelajari, dan dia mempelajari itu lebih dini.

Anak-anak tidak akan bisa mengembangkan toleransi terhadap resiko

Ketika seorang ibu pengkhawatir mulai ikut campur untuk memuluskan jalan sebelum si anak menghadapi kesulitan, itu berarti si anak tidak pernah membangun bukti-bukti internal bahwa mereka bisa menangani hal-hal sulit. Cara Goodwin, Ph.D., menulis dalam Psychology Today, bahwa anak-anak yang memliki orang tua yang overprotektif menunjukkan lebih banyak ketitdakteraturan emosional dan kecemasan sosial—dan bahwa membiarkan anak-anak menangani situasi-situasi sulit sendiri adalah cara untuk membuat mereka membangun keterampilan regulasi (regulation skills) yang mereka butuhkan. Kepercayaan bahwa mereka tidak bisa menangani segala sesuatu akan secara diam-diam tertanam pada diri mereka semakin lama mereka tidak diberi kepercayaan.

Anak-anak menjadi ahli dalam membaca ruangan

Anak yang tumbuh dengan orang tua yang mood-nya dibentuk dengan kecemasan berarti terbiasa membaca kecemasan atau kekhawatiran sejak dini dan secara akurat—mereka bisa melacak sinyal-sinyal, mengantisipasi reaksi, menyesuaikan tingkah laku dengan situasi. penyesuaian tersebut tampak seperti empati, dan dalam beberapa hal memang empati. Namun sikap seperti itu berkembang sebagai sebuah strategi survival pada awalnya. Si anak tidak belajar membaca di luar rasa ingin tahu dan koneksi. Melainkan, mereka belajar membaca orang lain demi untuk mengelola temperatur emosional ruangan tersebut.

Apa yang kita dapat ketika anak-anak tersebut dewasa adalah seseorang yang sering kali luar biasa perseptif tentang perasaan orang lain, namun mengalami kesulitan untuk berhenti membaca ruangan sebelum mereka bisa menyadari apa yang mereka sendiri rasakan.

Anak-anak jadi kesulitan mempercayai penilaian mereka sendiri

Eugene Berison, M.D., menulis dalam Psychology Today, mencatat bahwa orang tua yang overprotektif bisa secara tak disadari mengirim pesan bahwa si anak tidak mampu membuat keputusan yang baik—dan bahwa hal ini akan mengurangi rasa percaya diri si anak sedemikian rupa dan terbawa hingga mereka dewasa. Ketika orang dewasa di sekitar mereka selalu ikut campur, mengarahkan, dan menangani segala sesuatunya  terlebih dahulu, si anak akan menyadari bahwa instink mereka sendiri tidak bisa dipercaya. Bahwa impuls pertama mereka mungkin perlu diperiksa. Bahwa penilaian dari orang lain lebih terpercaya dari penilaian mereka sendiri.

Anak-anak membawa tanggung jawab yang bukan milik mereka

Ketika salah satu orang tua tampak cemas, seorang anak sering kali mencoba mengatasi kecemasan itu—mengurangi rasa khawatir, berpura-pura tidak ada apa-apa , untuk menghindari situasi-situasi yang tampak bisa menghilangkan rasa cemas itu. Seiring berjalannya waktu, hal ini menjadi sebuah pola: memonitor diri mereka sendiri bukan hanya untuk kepentingan mereka sendiri, tapi untuk mengelola keadaan emosional orang lain di sekitar mereka. Mereka menjadi para caretaker kecil tanpa diminta.

Saya merasakan ini dalam diri saya sendiri jauh lebih lambat dari yang seharusnya—editing reflektif (reflective editing) dari apa yang saya berikan, kebiasaan mengemas hal-hal sulit secara rapi sehingga tidak akan terlalu membebani siapa saja yang akan menerimanya.

Setting default anak-anak menjadi waspada, bukannya tenang

Sesuatu bisa jadi, secara teknis, baik-baik saja namun terasa tidak terasa baik-baik saja. Itulah warisan utama yang didapat anak yang tumbuh dalam keluarga yang dipenuhi kecemasan dan kekhawatiran—sebuah sistem syaraf yang dikalibrasi untuk mengantisipasi masalah-masalah yang sebemarnya tidak ada, untuk meraba-raba apa-apa yang bisa jadi salah meskipun sebenarnya tidak ada yang salah. Ketenangan, kalaupun timbul, bisa terasa mencurigakan. Seperti suasana tenang sebelum sesuatu terjadi. Sisanya adalah kecemasan, dan cemas, seiring berjalannya waktu, akan menjadi pijakan dasar di mana tubuh si anak akan kembali.

Anak-anak mengalami kesulitan mentoleransi ketidakpastian

Kecemasan, pada intinya, adalah sebuah upaya untuk mengatasi ketakpastian dengan cara membayangkan akibat yang mungkin timbul. Anak yang tumbuh dengan model begini akan akan belajar bahwa ketakpastian adalah sesuatu yang harus dilenyapkan bukannya ditolerir—bahwa tidak tahu apa akibat yang akan ditimbulkan sesuatu adalah sebuah masalah yang memerlukan manajemen aktif. Ketika mereka tumbuh dewasa, hal ini akan timbul dalam bentuk pikiran yang berlebihan, dalam bentuk kesulitan membuat keputusan, dalam bentuk kelelahan otak khusus yang tidak pernah tenang karena kepastian yang dibiasakan dicari oleh otak tak pernah cukup tersedia.

Ketakpastian tidak pernah menjadi bahaya yang nyata. Tapi pesan ini, yang diserap sejak usia dini, akan sulit di-update.

Anak-anak akan menginternalisasi memori menjadi milik mereka sendiri

Pada beberapa titik—dan ini terjadi secara gradual sehingga tidak ada momen yang bisa diidentifikiasi—kekhawatiran sang ibu tidak lagi menjadi sesuatu yang diamati si anak melainkan menjadi sesuatu yang dirasakan oleh si anak. Kekhawatiran sang ibu itu bukan lagi dipinjamkan pada si anak. Kekhawatiran itu sudah menjadi milik si anak. Saya selama bertahun-tahun mengira bahwa saya adalah seorang pencemas sejak lahir, sama halnya dengan seseoarang yang menjadi tinggi sejak lahir. Rasa takut yang spesifik boleh jadi akan bergeser, objek kekhawatiran bisa jadi berubah, namun orientasi terhadap dunia—berhati-hati, siaga, bersiap—menjadi begitu akrab sehingga tak lagi terasa seperti warisan yang didapat dan mulai terasa menjadi sifat pribadi.

Anak-anak menyayangi ibu mereka—dan hal ini membuat keadaan ini menjadi lebih sulit, bukannya lebih mudah

Ini adalah bagian yang sulit dibicarakan. Rasa khawatir itu berasal dari rasa sayang. Si ibu mencoba untuk melindungi, mencegah anak mereka menderita, mencoba melakukan sesuatu yang terasa seperti menjaga. Dan efeknya sangatlah nyata. Kedua hal itu adalah benar secara bersamaan, rasa menderita dan rasa kasih sayang itu tidaklah dalam posisi berlawanan—keduanya tiba secara bersamaan, saling merangkul satu sama lain, yang membuat warisan ini jadi sangat sulit dihilangkan. (Julie Brown)

https://www.yahoo.com/lifestyle/articles/psychology-says-growing-worrying-well-190031326.html

Read more

0 “Kimia Abadi" (Forever Chemicals) Bisa melemahkan Tulang Anak-anak, Kata Penelitian

 

(Mindklongdan/iStock/Getty Images Plus)
Ada kekhawatiran yang terus meningkat atas kerusakan yang diakibatkan oleh “penggunaan zat kimia jangka lama (forever chemicals)’. Dan penelitian kini telah menghubung-hubungkan zat-zat ini dengan melemahnya tulang pada anak-anak.

Masing-masing dan setiap zat polyfluoroalkyl (FPAS) telah diberi julukan sebagai kimia abadi (forever chemicals) karena zat-zat tersebut melekat dan membandel di lingkungan. Zat-zat tersebut telah digunakan dalam industri manufaktur dan industri lainnya selama puluhan tahun, dan sulit dihindari.

Dalam sebuah penelitian terbaru, para peneliti dari AS dan Kanada telah meneliti data kesehatan terhadap 218 anak-anak ketika mereka mengalami pertumbuhan, dan memperhatikan level beberapa PFAS di dalam darah mereka: perfluorohexane sulfonic acid (PFHxS), perfluoroctane sulfonic acid (PFOS), perfluorooctanoic acid (PFOA), dan perfluorononanoic acid (PFNA).

Para peneliti telah melakukan referensi silang tentang level beberapa PFAS pada anak-anak usia tertentu dengan mengukur kepadatan tulang pada masing-masing bagian berbeda dari kerangka anak-anak tersebut.

Data menunjukkan adanya hubugan antara PFOA dengan kepadatan tulang lengan bawah pada anak usia 12 tahun. Untuk bagian-bagian lain yang di-scan, hubungan pada kepadatan tulang bervariasi dengan waktu paparan, yang mengisyaratkan bahwa usia adalah sebuah faktor penting dalam bagaimana PFAS bisa menimbulkan kerusakan.

hubungan yang lebih kuat ditemukan di tulang lengan bawah pada anak perempuan berusia 12 tahun, dengan PFOA (Buckley et al., J. Endocr. Soc., 2026)
 

“Hasil-hasil temuan ini menambah bukti adanya eksposur PFAS pada usia dini bisa menimbulkan konsekuensi kesehatan jangka panjang, yang menjadi pengingat bagi kita akan pentingnya upaya-upaya kita untuk mengurangi kontaminasi dalam air minum dan produk makanan yang kita makan,” kata ahli epidemiologi Jessie Buckley dari University of North Carolina.

Di antara banyaknya temuan-temuan yang ditemukan oleh para peneliti adalah bahwa hubungan antara level PFAS yang lebih tinggi dengan kepadatan tulang yang lebih rendah ternyata lebih kuat pada wanita, sebuah temuan yang bisa diteliti secara lebih rinci oleh penelitian-penelitian di masa yang akan datang.

Ini adalah sebuah penelitian observasional—para peneliti tidak melakukan intervensi langsung—dan oleh karena itu tidaklah membuktikan adanya hubungan sebab akibat. Akan tetapi, hubungan-hubungan yang ditemukan di sini kiranya cukup berarti untuk mengisyaratkan adanya hubungan antara PFAS dan kepadatan tulang, yang perlu diteliti lebih lanjut.

Perbedaan antara level PFAS yang paling tinggi dengan yang paling rendah bisa berarti adanya peluang sebesar 30 persen untuk mengalami kerapuhan tulang, menurut perkiraan para peneliti.

Sebuah penelitian terdahulu tentang hal ini menggarisbawahi bahwa massa tulang yang lebih rendah pada usia dini berhubungan dengan adanya resiko yang lebih tinggi akan terjadinya kerapuhan tulang dan kondisi-kondisi seperti osteoporosis ketika seseorang tumbuh menjadi dewasa.

Pertanyaan berikutnya adalah ada apa di balik adanya hubungan ini. Para peneliti merujuk pada penelitian terdahulu yang menghubungkan beberapa jenis PFAS berbeda dengan disrupsi vitamin D, yang boleh jadi menjelaskan adanya beberapa mekanisme ikut terlibat.

Vitamin D Adalah salah satu dari beberapa zat kimia dan zat-zat yang dibutuhkan tubuh untuk membanguan tulang dengan layak, dan meskipun penelitian ini hanya sampai pada anak berusia 12 tahun, namun ini merupakan usia yang krusial bagi pertumbuhan biologis dan perkembangan tubuh secara keseluruhan.

“Temuan kami ini mengisyaratkan bahwa berkurangnya eksposur PFAS selama masa developmental window utama (masa ketika otak anak sangat reseptif untuk mempelajari keterampilan baru seperti bahasa, pemrosesan sensorik, atau keterampilan motorik) bisa mendukung terbentuknya tulang yang lebih sehat selama usia hidup,” kata Buckley.

PFOA adalah sebuah PFAS yang umum karena telah banyak digunakan—pada produk tekstil, elektronik, dan pembersih. Sebagaimana telah banyak penelitian yang menghubungkan PFOA sebagai membahayakan kesehatan, maka penggunaan zat kimia ini sekarang dilarang di sekuruh dunia di bawah aturan Stockholm Convention, namun zat kimia ini masih banyak terdapat di lingkungan kita.

Dari lebih dari 10.000 PFAS yang ada untuk kita gunakan, hanya sedikit yang telah diteliti tentang keamanannya, dan Sebagian telah dihubungkan dengan timbulnya gangguan kesehatan pada konsentrasi tertentu.

PFOA, sebagai contoh, diberi label sebagai sebuah karsinogen oleh sebuah Badan Riset Internasional tentang kanker. PFOS berhubugan dengan kanker dan cacat lahir, dan PFNA telah dihubungkan dengan timbulnya penuaan dini pada sebagian orang.

Meski ada banyak usaha untuk menemukan cara untuk menghilangkan bagian yang paling membahayakan dari zat-zat kimia ini dari lingkungan, namun upaya ini masih dalam tahap awal. PFAS telah menyusup ke dalam makanan dan minuman kita, ke dalam siklus air, dan ke dalam tanah yang kita pijak, sehingga diperlukan kerja keras untuk membersihkannya.

Penelitian ini tidak meneliti bagaimana perkembangan kepadatan tulang anak-anak yang diteliti tersebut berlanjut hingga usia remaja dan dewasa. Yang ingin ditekankan oleh para peneliti adalah bahwa hal ini merupakan sesuatu yang perlu diperhatikan di masa yang akan datang guna lebih dapat memastikan lagi tentang adanya hubungan-hubungan yang disebutkan di sini.

“Penelitian lanjutan diperlukan untuk mengkaji apakah hubungan forever chemicals dengan kerapuhan tulang pada anak-anak ini masih bertahan atau berubah hingga usia dewasa,” tulis para peneliti di dalam sebah jurnal yang mereka terbitkan. (David Niels)

The research has been published in the Journal of the Endocrine Society.

https://www.yahoo.com/news/articles/forever-chemicals-may-weakening-bones-180002967.html

Read more

0 Kebiasaan Sehat ini Tampaknya Bisa Meningkatkan Kekuatan Otak Ketika Anda Baru Melakukannya


Ada banyak alasan untuk melakukan olahraga, mulai dari latihan kesiapan mental (mental health perks) hingga latihan kekuatan fisik (straight up physical fitness). Namun penelitian baru mengisyaratkan bahwa meningkatkan kegiatan fitness rutin yang Anda lakukan bisa memicu lebih banyak pelepasan protein penguat otak

Namun ada sedikit yang perlu dicatat sehubungan dengan hasil temuan ini, termasuk bahwa para peneliti hanya berfokus pada orang yang dianggap tidak aktif ketika penelitian itu dimulai. Namun para ahli mengatakan bahwa hasil tersebut menekankan akan pentingnya latihan olahraga untuk meningkatkan kesehatan otak Anda (dan juga kesehatan Anda secara keseluruhan).

Di bawah ini adalah saran dari penelitian tersebut, plus apa saja yang mungkin ada di balik hubungan ini.

Para peneliti: Flaminia Ronca, PhD, kepala penulis peneliti dan associate professor di Jurusan Intervensi Target di University College London; Amalia Peterson, MD, ahli neurologi behavioral dan aisten professor Neurologi di Pusat Kesehatan Vanderbilt University; Davide Cappon, PhD, direktur Neuropsikologi di Tufts Medical Center. 

Ap saja temuan penelitian ini?

Dalam penelitian ini, yang diterbitkan di dalam jurnal Brain Research, para peneliti meminta 30 orang partisipan yang tidak aktif melaksanakan pelathan selama 12 minggu dengan siklus tiga kali seminggu. Tim peneliti menelusuri banyak tanda-tanda kesehatan selama penelitian tersebut berlangsung, termasuk VO2max dan faktor neurotrofik yang berasal dari otak (BDNF). Mereka juga memberi para partisipan serangkaian test memori kognitif dan mengukur perubahan-perubahan dala aktivitas otak dalam prefrontal cortex. Prefrontal cortext tersebut mengontrol fungsi-fungsi eksekutif, termasuk pembuatan keputusan, regulasi emosi, perhatian, dan ilmpulsitas.

Para peneliti menemukan bahwa level BDNF pasca latihan olahraga meningkat setelah para partisipan menjadi lebih bugar dan ini dihubungkan dengan perubahan-perubahan dalam aktivitas otak yang berhubungan dengan perhatian (attention) dan aspek-aspek fungsi eksekutif lainnya.

Mereka juga menemukan bahwa latihan aerobik mulai dari yang ringan hingga yang berat selama 15 menit saja bisa memicu pelepasan BDNF. Dalam minggu terakhir percobaan tersebut, para partisipan menunjukkan adanya peningkatan BDNF yang lebih besar setelah melakukanlLatihan olahraga intensif dibandinkan dengan sebelum program itu dimulai. (Hal ini tampaknya berhubungan dengan membaiknya VO2max).

Peningkatan level BDNF yang lebih besar akibat latihan olahraga tersebut juga berhubungan dengan perubahan-perubahan dalam aktivitas di dalam prefrontal cortex selama tugas-tugas perhatian dan hambatan (attention dan inhibition). Secara kesluruhan, hasil temuan tersebut mengisyaratkan bahwa meningkatkan kegiatan rutin olahraga bisa meningkatkan BDNF dan juga bisa meningkatkan aspek-asoek fungsi eksekutif, seperti perhatian.

Apakah BDNF itu, dan apa hubungannya dengan kesehatan otak?

BDNF Adalah faktor pertumbuhan bagi neuron. Neuron adalah sel-sel dalam sistem syaraf. “Secara umum, BDNF yang lebih tinggi itu berhubungan dengan kesehatan otak yang lebih baik,” kata Amalia Peterson, MD,  ahli neurologi berhavioral dan asisten profesor neurologi di Vanderbilt University Medical Center. BDNF berperan penting dalam mengatur koneksi antarsel otak.”

Level BDNF yang lebih tinggi biasanya berhubungan dengan kemampuan belajar yang lebih baik, memori, dan tahan terhadap penuaan, “namun ini hanyalah sepotong teka-teki yang lebih besar—bukan cerita secara keseluruhan,” kata Davide Cappon, direktur Neuropsikologi di Tufts Medical Center.

Bagaimanakah latihan olahraga bisa memperbaiki BDNF?

Latihan olahraga akan memaksa tubuh Anda melepas lebih banyak BDNF, yang dikeluarkan di dalam otak dan lewat otot, kata Flaminia Ronca, PhD, kepala penulis peneliti dan associate professor di Jurusan Intervensi Target di University College London.

Latihan olahraga juga bisa memperbaiki aliran darah dan penggunaan energi, yang tampaknya bisa menstimulasi produksi BDNF, menurut Cappon. “Ketika orang menjadi lebih bugar, mereka kemungkinan akan mengembangkan respon BDNF yang lebih besar terhadap masing-masing kegiatan latihan olahraga. Ini berarti sistem tersebut menjadi lebih responsif seiring berjalannya waktu.

Jadi, jika Anda sudah aktif secara fisik, Anda masih bisa merasakan manfaat peningkatan BDNF dari olahraga. “Meski tubuh kita sudah memproduksi BDNF, namun kita memproduksi [lebih banyak lagi] setiap kali kita melakukan latihan olahraga,” kata Ronca. “Dan jika tubuh kita lebih bugar, maka tubuh kita akan memproduksi lebih banyak lagi dalam setiap kegiatan latihan olahraga yang kita lakukan.

Pada akhirnya, hal ini bisa membantu orang merasa lebih memiliki pikiran jernih ketika mereka melakukan latihan olahraga rutin teratur.

Hal ini juga ada hubungannya dengan bukti berdasarkan pengalaman pribadi (anecdotal evidence) yang ditemui Cappon. “Para pasein akan mengatakan sesuatu seperti ‘Saya merasa pikiran lebih tajam’ atau ‘pikirn saya lebih jernih.’ Hal itu sesuai dengan apa yang kita alami—latihan olahraga bisa memperbaiki perhatian (attention), kecepatan memproses (processing speed), dan energi mental, bahkan jika dilakukan dalam waktu sebentar. (Korin Miller)

https://health.yahoo.com/wellness/fitness/exercise/articles/healthy-habit-seems-trigger-more-110000072.html

Read more
 
© Hasim's Space | Design by Blog template in collaboration with Concert Tickets, and Menopause symptoms
Powered by Blogger