 |
| shutterstock |
Ibu saya mengkhawatirkan segala sesuatu
tentang saya
Dia tidak khawatir berlebihan akan terjadi
bencana atau meramal akan ada kecelakaan atau musibah yang menimpa saya.
Caranya lebih tenang daripada itu.
Ketegangan yang khas setiap kali saya keluar
dari rumah.
Kebiasaaan membayangkan hal-hal yang buruk
dari keadaan yang sebenarnya biasa saja.
Sebuah kecenderungan memecahkan masalah
sebelum saya sendiri menghadapi masalah itu, untuk memuluskan jalan yang
sebenarnya belum saya tempuh.
Ia melakukan itu karena
sayang. Saya mengerti itu bahkan sejak saya masih anak-anak, dan sekarang saya
jadi lebih paham lagi.
Namun di satu titik di tengah
jalan itu, saya mulai memperhatikan sesuatu—tentang bagaimana saya bergerak
dalam dunia ini, tentang tekstur spesifik dari kekhawatiran yang saya rasakan, tentang
refleks-refleks tertentu yang saya alami yang tidak sesuai benar dengan sosok
diri saya yang saya impikan.
Dan semakin jauh saya
memperhatikan hal-hal tersebut, semakin jelas saya bisa menapak tilas hal-hal
itu kembali ke masa kanak-kanak saya.
Penelitian tentang hal ini ternyata lebih maju
dari yang diketahui banyak orang.
Tumbuh dalam keluarga yang menjaga nilai-nilai
yang baik tapi memliki orang tua yang cemas tidaklah memiliki tanda-tanda yang
jelas terlihat—tak ada insiden dramatis, tak ada momen kerusakan yang jelas.
Namun efeknya lebih subtil, sehingga, lebih
sulit dilihat dan lebih sulit disebutkan.
Bagi anak-anak yang memiliki ibu yang selalu
khawatir atau cemas, di bawah ini adalah efek-efek yang mungkin timbul pada
mereka.
Anak-anak
merasakan kecemasan sebelum mereka mengetahui kata tentang itu
Anak-anak tak peru diberi
tahu bahwa sesuatu itu berbahaya. Mereka bisa membaca para orang dewasa di
sekitar mereka dengan presisi yang luar biasa—kedua mata yang tegang, napas
yang ditahan sebelum memberi respon, cara tubuh berubah ketika sesuatu terasa
tak pasti. Saya tidak tahu hingga saya menjadi dewasa bahwa tidak semua tubuh
orang melakukan itu. Ketika orang dewasa utama yang ada dalam ruangan suka khawatir
atau cemas, maka suasana lingkungan yang cemas itu akan menjadi pijakan si
anak—bukan sebuah kepercayaan yang mereka bentuk secara sadar, tapi merupakan
sebuah rasa yang merasuk ke dalam diri mereka sebelum mereka sendiri mampu
mempertanyakannya.
Anak-anak akan belajar bahwa dunia ini lebih berbahaya dari yang
sebenarnya
Seorang ibu yang
pengkhawatir atau pencemas akan memancarkan pandangan khusus tentang dunia yang
sebenarnya tanpa makna: bahwa sesuatu yang sebenarnya biasa menjadi penuh
kepalsuan, bahwa sesuatu bisa menjadi celaka tanpa peringatan terlebih dahulu,
bahwa kewaspadaan adalah respon yang seharusnya terhadap apa-apa yang terjadi
dalam kehidupan sehari-hari. Anak-anak menyerap hal ini bukan sebagai sebuah
pendapat, tapi sebagai sebuah fakta dan begitulah realitas yang sebenarnya.
Dan, kemudian, anak-anak
akan membawa anggapan tersebut—hingga usia mereka dewasa, ke dalam
situasi-situasi baru, ke dalam momen-momen yang secara objektif baik-baik saja
tapi terasa mengancam dengan cara-cara yang tidak bisa mereka jelaskan. Dunia
sebenarnya tidak se-berbahaya seperti yang mereka cemaskan. Namun sistem syaraf
tidak mengetahui hal itu. Sistem syaraf mempelajari apa yang dia pelajari, dan
dia mempelajari itu lebih dini.
Anak-anak tidak akan bisa mengembangkan toleransi terhadap resiko
Ketika seorang ibu
pengkhawatir mulai ikut campur untuk memuluskan jalan sebelum si anak
menghadapi kesulitan, itu berarti si anak tidak pernah membangun bukti-bukti
internal bahwa mereka bisa menangani hal-hal sulit. Cara
Goodwin, Ph.D., menulis dalam Psychology Today, bahwa anak-anak yang
memliki orang tua yang overprotektif menunjukkan lebih banyak ketitdakteraturan
emosional dan kecemasan sosial—dan bahwa membiarkan anak-anak menangani
situasi-situasi sulit sendiri adalah cara untuk membuat mereka membangun keterampilan
regulasi (regulation skills) yang mereka butuhkan. Kepercayaan bahwa
mereka tidak bisa menangani segala sesuatu akan secara diam-diam tertanam pada
diri mereka semakin lama mereka tidak diberi kepercayaan.
Anak-anak menjadi ahli dalam membaca ruangan
Anak yang tumbuh dengan
orang tua yang mood-nya dibentuk dengan kecemasan berarti terbiasa
membaca kecemasan atau kekhawatiran sejak dini dan secara akurat—mereka bisa
melacak sinyal-sinyal, mengantisipasi reaksi, menyesuaikan tingkah laku dengan
situasi. penyesuaian tersebut tampak seperti empati, dan dalam beberapa hal
memang empati. Namun sikap seperti itu berkembang sebagai
sebuah strategi survival pada awalnya. Si anak tidak belajar membaca di
luar rasa ingin tahu dan koneksi. Melainkan, mereka belajar membaca orang lain
demi untuk mengelola temperatur emosional ruangan tersebut.
Apa yang kita dapat ketika anak-anak tersebut
dewasa adalah seseorang yang sering kali luar biasa perseptif tentang perasaan
orang lain, namun mengalami kesulitan untuk berhenti membaca ruangan sebelum
mereka bisa menyadari apa yang mereka sendiri rasakan.
Anak-anak
jadi kesulitan mempercayai penilaian mereka sendiri
Eugene Berison, M.D., menulis dalam Psychology
Today, mencatat bahwa orang tua yang overprotektif bisa secara tak disadari
mengirim pesan bahwa si anak tidak mampu membuat keputusan yang baik—dan bahwa
hal ini akan mengurangi rasa percaya diri si anak sedemikian rupa dan terbawa
hingga mereka dewasa. Ketika orang dewasa di sekitar mereka selalu ikut campur,
mengarahkan, dan menangani segala sesuatunya terlebih dahulu, si anak akan menyadari bahwa
instink mereka sendiri tidak bisa dipercaya. Bahwa impuls pertama mereka
mungkin perlu diperiksa. Bahwa penilaian dari orang lain lebih terpercaya dari
penilaian mereka sendiri.
Anak-anak
membawa tanggung jawab yang bukan milik mereka
Ketika salah satu orang tua tampak cemas, seorang
anak sering kali mencoba mengatasi kecemasan itu—mengurangi rasa khawatir,
berpura-pura tidak ada apa-apa , untuk menghindari situasi-situasi yang tampak
bisa menghilangkan rasa cemas itu. Seiring berjalannya waktu, hal ini menjadi
sebuah pola: memonitor diri mereka sendiri bukan hanya untuk kepentingan mereka
sendiri, tapi untuk mengelola keadaan emosional orang lain di sekitar mereka.
Mereka menjadi para caretaker kecil tanpa diminta.
Saya merasakan ini dalam diri saya sendiri
jauh lebih lambat dari yang seharusnya—editing reflektif (reflective editing)
dari apa yang saya berikan, kebiasaan mengemas hal-hal sulit secara rapi
sehingga tidak akan terlalu membebani siapa saja yang akan menerimanya.
Setting
default anak-anak menjadi waspada, bukannya tenang
Sesuatu bisa jadi, secara teknis, baik-baik
saja namun terasa tidak terasa baik-baik saja. Itulah warisan utama yang
didapat anak yang tumbuh dalam keluarga yang dipenuhi kecemasan dan
kekhawatiran—sebuah sistem syaraf yang dikalibrasi untuk mengantisipasi
masalah-masalah yang sebemarnya tidak ada, untuk meraba-raba apa-apa yang bisa
jadi salah meskipun sebenarnya tidak ada yang salah. Ketenangan, kalaupun
timbul, bisa terasa mencurigakan. Seperti suasana tenang sebelum sesuatu
terjadi. Sisanya adalah kecemasan, dan cemas, seiring berjalannya waktu, akan
menjadi pijakan dasar di mana tubuh si anak akan kembali.
Anak-anak
mengalami kesulitan mentoleransi ketidakpastian
Kecemasan, pada intinya, adalah sebuah upaya
untuk mengatasi ketakpastian dengan cara membayangkan akibat yang mungkin
timbul. Anak yang tumbuh dengan model begini akan akan belajar bahwa
ketakpastian adalah sesuatu yang harus dilenyapkan bukannya ditolerir—bahwa
tidak tahu apa akibat yang akan ditimbulkan sesuatu adalah sebuah masalah yang
memerlukan manajemen aktif. Ketika mereka tumbuh dewasa, hal ini akan timbul
dalam bentuk pikiran yang berlebihan, dalam bentuk kesulitan membuat keputusan,
dalam bentuk kelelahan otak khusus yang tidak pernah tenang karena kepastian
yang dibiasakan dicari oleh otak tak pernah cukup tersedia.
Ketakpastian tidak pernah menjadi bahaya yang
nyata. Tapi pesan ini, yang diserap sejak usia dini, akan sulit di-update.
Anak-anak
akan menginternalisasi memori menjadi milik mereka sendiri
Pada beberapa titik—dan ini terjadi secara gradual
sehingga tidak ada momen yang bisa diidentifikiasi—kekhawatiran sang ibu tidak
lagi menjadi sesuatu yang diamati si anak melainkan menjadi sesuatu yang
dirasakan oleh si anak. Kekhawatiran sang ibu itu bukan lagi dipinjamkan pada
si anak. Kekhawatiran itu sudah menjadi milik si anak. Saya selama
bertahun-tahun mengira bahwa saya adalah seorang pencemas sejak lahir, sama
halnya dengan seseoarang yang menjadi tinggi sejak lahir. Rasa takut yang
spesifik boleh jadi akan bergeser, objek kekhawatiran bisa jadi berubah, namun
orientasi terhadap dunia—berhati-hati, siaga, bersiap—menjadi begitu akrab
sehingga tak lagi terasa seperti warisan yang didapat dan mulai terasa menjadi
sifat pribadi.
Anak-anak
menyayangi ibu mereka—dan hal ini membuat keadaan ini menjadi lebih sulit,
bukannya lebih mudah
Ini adalah bagian yang sulit dibicarakan. Rasa
khawatir itu berasal dari rasa sayang. Si ibu mencoba untuk melindungi,
mencegah anak mereka menderita, mencoba melakukan sesuatu yang terasa seperti
menjaga. Dan efeknya sangatlah nyata. Kedua hal itu adalah benar secara
bersamaan, rasa menderita dan rasa kasih sayang itu tidaklah dalam posisi
berlawanan—keduanya tiba secara bersamaan, saling merangkul satu sama lain,
yang membuat warisan ini jadi sangat sulit dihilangkan. (Julie Brown)
https://www.yahoo.com/lifestyle/articles/psychology-says-growing-worrying-well-190031326.html