Headlines

Powered by Blogger.

0 Psikologi mengatakan bahwa tumbuh dengan ibu yang pencemas namun penh perhatian memiliki sisi negatif yang mengejutkan

shutterstock 
 Ibu saya mengkhawatirkan segala sesuatu tentang saya

Dia tidak khawatir berlebihan akan terjadi bencana atau meramal akan ada kecelakaan atau musibah yang menimpa saya. Caranya lebih tenang daripada itu.

Ketegangan yang khas setiap kali saya keluar dari rumah.

Kebiasaaan membayangkan hal-hal yang buruk dari keadaan yang sebenarnya biasa saja.

Sebuah kecenderungan memecahkan masalah sebelum saya sendiri menghadapi masalah itu, untuk memuluskan jalan yang sebenarnya belum saya tempuh.

Ia melakukan itu karena sayang. Saya mengerti itu bahkan sejak saya masih anak-anak, dan sekarang saya jadi lebih paham lagi.

Namun di satu titik di tengah jalan itu, saya mulai memperhatikan sesuatu—tentang bagaimana saya bergerak dalam dunia ini, tentang tekstur spesifik dari kekhawatiran yang saya rasakan, tentang refleks-refleks tertentu yang saya alami yang tidak sesuai benar dengan sosok diri saya yang saya impikan.

Dan semakin jauh saya memperhatikan hal-hal tersebut, semakin jelas saya bisa menapak tilas hal-hal itu kembali ke masa kanak-kanak saya.

Penelitian tentang hal ini ternyata lebih maju dari yang diketahui banyak orang.

Tumbuh dalam keluarga yang menjaga nilai-nilai yang baik tapi memliki orang tua yang cemas tidaklah memiliki tanda-tanda yang jelas terlihat—tak ada insiden dramatis, tak ada momen kerusakan yang jelas.

Namun efeknya lebih subtil, sehingga, lebih sulit dilihat dan lebih sulit disebutkan.

Bagi anak-anak yang memiliki ibu yang selalu khawatir atau cemas, di bawah ini adalah efek-efek yang mungkin timbul pada mereka.

Anak-anak merasakan kecemasan sebelum mereka mengetahui kata tentang itu

Anak-anak tak peru diberi tahu bahwa sesuatu itu berbahaya. Mereka bisa membaca para orang dewasa di sekitar mereka dengan presisi yang luar biasa—kedua mata yang tegang, napas yang ditahan sebelum memberi respon, cara tubuh berubah ketika sesuatu terasa tak pasti. Saya tidak tahu hingga saya menjadi dewasa bahwa tidak semua tubuh orang melakukan itu. Ketika orang dewasa utama yang ada dalam ruangan suka khawatir atau cemas, maka suasana lingkungan yang cemas itu akan menjadi pijakan si anak—bukan sebuah kepercayaan yang mereka bentuk secara sadar, tapi merupakan sebuah rasa yang merasuk ke dalam diri mereka sebelum mereka sendiri mampu mempertanyakannya.

Anak-anak akan belajar bahwa dunia ini lebih berbahaya dari yang sebenarnya

Seorang ibu yang pengkhawatir atau pencemas akan memancarkan pandangan khusus tentang dunia yang sebenarnya tanpa makna: bahwa sesuatu yang sebenarnya biasa menjadi penuh kepalsuan, bahwa sesuatu bisa menjadi celaka tanpa peringatan terlebih dahulu, bahwa kewaspadaan adalah respon yang seharusnya terhadap apa-apa yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Anak-anak menyerap hal ini bukan sebagai sebuah pendapat, tapi sebagai sebuah fakta dan begitulah realitas yang sebenarnya.

Dan, kemudian, anak-anak akan membawa anggapan tersebut—hingga usia mereka dewasa, ke dalam situasi-situasi baru, ke dalam momen-momen yang secara objektif baik-baik saja tapi terasa mengancam dengan cara-cara yang tidak bisa mereka jelaskan. Dunia sebenarnya tidak se-berbahaya seperti yang mereka cemaskan. Namun sistem syaraf tidak mengetahui hal itu. Sistem syaraf mempelajari apa yang dia pelajari, dan dia mempelajari itu lebih dini.

Anak-anak tidak akan bisa mengembangkan toleransi terhadap resiko

Ketika seorang ibu pengkhawatir mulai ikut campur untuk memuluskan jalan sebelum si anak menghadapi kesulitan, itu berarti si anak tidak pernah membangun bukti-bukti internal bahwa mereka bisa menangani hal-hal sulit. Cara Goodwin, Ph.D., menulis dalam Psychology Today, bahwa anak-anak yang memliki orang tua yang overprotektif menunjukkan lebih banyak ketitdakteraturan emosional dan kecemasan sosial—dan bahwa membiarkan anak-anak menangani situasi-situasi sulit sendiri adalah cara untuk membuat mereka membangun keterampilan regulasi (regulation skills) yang mereka butuhkan. Kepercayaan bahwa mereka tidak bisa menangani segala sesuatu akan secara diam-diam tertanam pada diri mereka semakin lama mereka tidak diberi kepercayaan.

Anak-anak menjadi ahli dalam membaca ruangan

Anak yang tumbuh dengan orang tua yang mood-nya dibentuk dengan kecemasan berarti terbiasa membaca kecemasan atau kekhawatiran sejak dini dan secara akurat—mereka bisa melacak sinyal-sinyal, mengantisipasi reaksi, menyesuaikan tingkah laku dengan situasi. penyesuaian tersebut tampak seperti empati, dan dalam beberapa hal memang empati. Namun sikap seperti itu berkembang sebagai sebuah strategi survival pada awalnya. Si anak tidak belajar membaca di luar rasa ingin tahu dan koneksi. Melainkan, mereka belajar membaca orang lain demi untuk mengelola temperatur emosional ruangan tersebut.

Apa yang kita dapat ketika anak-anak tersebut dewasa adalah seseorang yang sering kali luar biasa perseptif tentang perasaan orang lain, namun mengalami kesulitan untuk berhenti membaca ruangan sebelum mereka bisa menyadari apa yang mereka sendiri rasakan.

Anak-anak jadi kesulitan mempercayai penilaian mereka sendiri

Eugene Berison, M.D., menulis dalam Psychology Today, mencatat bahwa orang tua yang overprotektif bisa secara tak disadari mengirim pesan bahwa si anak tidak mampu membuat keputusan yang baik—dan bahwa hal ini akan mengurangi rasa percaya diri si anak sedemikian rupa dan terbawa hingga mereka dewasa. Ketika orang dewasa di sekitar mereka selalu ikut campur, mengarahkan, dan menangani segala sesuatunya  terlebih dahulu, si anak akan menyadari bahwa instink mereka sendiri tidak bisa dipercaya. Bahwa impuls pertama mereka mungkin perlu diperiksa. Bahwa penilaian dari orang lain lebih terpercaya dari penilaian mereka sendiri.

Anak-anak membawa tanggung jawab yang bukan milik mereka

Ketika salah satu orang tua tampak cemas, seorang anak sering kali mencoba mengatasi kecemasan itu—mengurangi rasa khawatir, berpura-pura tidak ada apa-apa , untuk menghindari situasi-situasi yang tampak bisa menghilangkan rasa cemas itu. Seiring berjalannya waktu, hal ini menjadi sebuah pola: memonitor diri mereka sendiri bukan hanya untuk kepentingan mereka sendiri, tapi untuk mengelola keadaan emosional orang lain di sekitar mereka. Mereka menjadi para caretaker kecil tanpa diminta.

Saya merasakan ini dalam diri saya sendiri jauh lebih lambat dari yang seharusnya—editing reflektif (reflective editing) dari apa yang saya berikan, kebiasaan mengemas hal-hal sulit secara rapi sehingga tidak akan terlalu membebani siapa saja yang akan menerimanya.

Setting default anak-anak menjadi waspada, bukannya tenang

Sesuatu bisa jadi, secara teknis, baik-baik saja namun terasa tidak terasa baik-baik saja. Itulah warisan utama yang didapat anak yang tumbuh dalam keluarga yang dipenuhi kecemasan dan kekhawatiran—sebuah sistem syaraf yang dikalibrasi untuk mengantisipasi masalah-masalah yang sebemarnya tidak ada, untuk meraba-raba apa-apa yang bisa jadi salah meskipun sebenarnya tidak ada yang salah. Ketenangan, kalaupun timbul, bisa terasa mencurigakan. Seperti suasana tenang sebelum sesuatu terjadi. Sisanya adalah kecemasan, dan cemas, seiring berjalannya waktu, akan menjadi pijakan dasar di mana tubuh si anak akan kembali.

Anak-anak mengalami kesulitan mentoleransi ketidakpastian

Kecemasan, pada intinya, adalah sebuah upaya untuk mengatasi ketakpastian dengan cara membayangkan akibat yang mungkin timbul. Anak yang tumbuh dengan model begini akan akan belajar bahwa ketakpastian adalah sesuatu yang harus dilenyapkan bukannya ditolerir—bahwa tidak tahu apa akibat yang akan ditimbulkan sesuatu adalah sebuah masalah yang memerlukan manajemen aktif. Ketika mereka tumbuh dewasa, hal ini akan timbul dalam bentuk pikiran yang berlebihan, dalam bentuk kesulitan membuat keputusan, dalam bentuk kelelahan otak khusus yang tidak pernah tenang karena kepastian yang dibiasakan dicari oleh otak tak pernah cukup tersedia.

Ketakpastian tidak pernah menjadi bahaya yang nyata. Tapi pesan ini, yang diserap sejak usia dini, akan sulit di-update.

Anak-anak akan menginternalisasi memori menjadi milik mereka sendiri

Pada beberapa titik—dan ini terjadi secara gradual sehingga tidak ada momen yang bisa diidentifikiasi—kekhawatiran sang ibu tidak lagi menjadi sesuatu yang diamati si anak melainkan menjadi sesuatu yang dirasakan oleh si anak. Kekhawatiran sang ibu itu bukan lagi dipinjamkan pada si anak. Kekhawatiran itu sudah menjadi milik si anak. Saya selama bertahun-tahun mengira bahwa saya adalah seorang pencemas sejak lahir, sama halnya dengan seseoarang yang menjadi tinggi sejak lahir. Rasa takut yang spesifik boleh jadi akan bergeser, objek kekhawatiran bisa jadi berubah, namun orientasi terhadap dunia—berhati-hati, siaga, bersiap—menjadi begitu akrab sehingga tak lagi terasa seperti warisan yang didapat dan mulai terasa menjadi sifat pribadi.

Anak-anak menyayangi ibu mereka—dan hal ini membuat keadaan ini menjadi lebih sulit, bukannya lebih mudah

Ini adalah bagian yang sulit dibicarakan. Rasa khawatir itu berasal dari rasa sayang. Si ibu mencoba untuk melindungi, mencegah anak mereka menderita, mencoba melakukan sesuatu yang terasa seperti menjaga. Dan efeknya sangatlah nyata. Kedua hal itu adalah benar secara bersamaan, rasa menderita dan rasa kasih sayang itu tidaklah dalam posisi berlawanan—keduanya tiba secara bersamaan, saling merangkul satu sama lain, yang membuat warisan ini jadi sangat sulit dihilangkan. (Julie Brown)

https://www.yahoo.com/lifestyle/articles/psychology-says-growing-worrying-well-190031326.html

Read more

0 “Kimia Abadi" (Forever Chemicals) Bisa melemahkan Tulang Anak-anak, Kata Penelitian

 

(Mindklongdan/iStock/Getty Images Plus)
Ada kekhawatiran yang terus meningkat atas kerusakan yang diakibatkan oleh “penggunaan zat kimia jangka lama (forever chemicals)’. Dan penelitian kini telah menghubung-hubungkan zat-zat ini dengan melemahnya tulang pada anak-anak.

Masing-masing dan setiap zat polyfluoroalkyl (FPAS) telah diberi julukan sebagai kimia abadi (forever chemicals) karena zat-zat tersebut melekat dan membandel di lingkungan. Zat-zat tersebut telah digunakan dalam industri manufaktur dan industri lainnya selama puluhan tahun, dan sulit dihindari.

Dalam sebuah penelitian terbaru, para peneliti dari AS dan Kanada telah meneliti data kesehatan terhadap 218 anak-anak ketika mereka mengalami pertumbuhan, dan memperhatikan level beberapa PFAS di dalam darah mereka: perfluorohexane sulfonic acid (PFHxS), perfluoroctane sulfonic acid (PFOS), perfluorooctanoic acid (PFOA), dan perfluorononanoic acid (PFNA).

Para peneliti telah melakukan referensi silang tentang level beberapa PFAS pada anak-anak usia tertentu dengan mengukur kepadatan tulang pada masing-masing bagian berbeda dari kerangka anak-anak tersebut.

Data menunjukkan adanya hubugan antara PFOA dengan kepadatan tulang lengan bawah pada anak usia 12 tahun. Untuk bagian-bagian lain yang di-scan, hubungan pada kepadatan tulang bervariasi dengan waktu paparan, yang mengisyaratkan bahwa usia adalah sebuah faktor penting dalam bagaimana PFAS bisa menimbulkan kerusakan.

hubungan yang lebih kuat ditemukan di tulang lengan bawah pada anak perempuan berusia 12 tahun, dengan PFOA (Buckley et al., J. Endocr. Soc., 2026)
 

“Hasil-hasil temuan ini menambah bukti adanya eksposur PFAS pada usia dini bisa menimbulkan konsekuensi kesehatan jangka panjang, yang menjadi pengingat bagi kita akan pentingnya upaya-upaya kita untuk mengurangi kontaminasi dalam air minum dan produk makanan yang kita makan,” kata ahli epidemiologi Jessie Buckley dari University of North Carolina.

Di antara banyaknya temuan-temuan yang ditemukan oleh para peneliti adalah bahwa hubungan antara level PFAS yang lebih tinggi dengan kepadatan tulang yang lebih rendah ternyata lebih kuat pada wanita, sebuah temuan yang bisa diteliti secara lebih rinci oleh penelitian-penelitian di masa yang akan datang.

Ini adalah sebuah penelitian observasional—para peneliti tidak melakukan intervensi langsung—dan oleh karena itu tidaklah membuktikan adanya hubungan sebab akibat. Akan tetapi, hubungan-hubungan yang ditemukan di sini kiranya cukup berarti untuk mengisyaratkan adanya hubungan antara PFAS dan kepadatan tulang, yang perlu diteliti lebih lanjut.

Perbedaan antara level PFAS yang paling tinggi dengan yang paling rendah bisa berarti adanya peluang sebesar 30 persen untuk mengalami kerapuhan tulang, menurut perkiraan para peneliti.

Sebuah penelitian terdahulu tentang hal ini menggarisbawahi bahwa massa tulang yang lebih rendah pada usia dini berhubungan dengan adanya resiko yang lebih tinggi akan terjadinya kerapuhan tulang dan kondisi-kondisi seperti osteoporosis ketika seseorang tumbuh menjadi dewasa.

Pertanyaan berikutnya adalah ada apa di balik adanya hubungan ini. Para peneliti merujuk pada penelitian terdahulu yang menghubungkan beberapa jenis PFAS berbeda dengan disrupsi vitamin D, yang boleh jadi menjelaskan adanya beberapa mekanisme ikut terlibat.

Vitamin D Adalah salah satu dari beberapa zat kimia dan zat-zat yang dibutuhkan tubuh untuk membanguan tulang dengan layak, dan meskipun penelitian ini hanya sampai pada anak berusia 12 tahun, namun ini merupakan usia yang krusial bagi pertumbuhan biologis dan perkembangan tubuh secara keseluruhan.

“Temuan kami ini mengisyaratkan bahwa berkurangnya eksposur PFAS selama masa developmental window utama (masa ketika otak anak sangat reseptif untuk mempelajari keterampilan baru seperti bahasa, pemrosesan sensorik, atau keterampilan motorik) bisa mendukung terbentuknya tulang yang lebih sehat selama usia hidup,” kata Buckley.

PFOA adalah sebuah PFAS yang umum karena telah banyak digunakan—pada produk tekstil, elektronik, dan pembersih. Sebagaimana telah banyak penelitian yang menghubungkan PFOA sebagai membahayakan kesehatan, maka penggunaan zat kimia ini sekarang dilarang di sekuruh dunia di bawah aturan Stockholm Convention, namun zat kimia ini masih banyak terdapat di lingkungan kita.

Dari lebih dari 10.000 PFAS yang ada untuk kita gunakan, hanya sedikit yang telah diteliti tentang keamanannya, dan Sebagian telah dihubungkan dengan timbulnya gangguan kesehatan pada konsentrasi tertentu.

PFOA, sebagai contoh, diberi label sebagai sebuah karsinogen oleh sebuah Badan Riset Internasional tentang kanker. PFOS berhubugan dengan kanker dan cacat lahir, dan PFNA telah dihubungkan dengan timbulnya penuaan dini pada sebagian orang.

Meski ada banyak usaha untuk menemukan cara untuk menghilangkan bagian yang paling membahayakan dari zat-zat kimia ini dari lingkungan, namun upaya ini masih dalam tahap awal. PFAS telah menyusup ke dalam makanan dan minuman kita, ke dalam siklus air, dan ke dalam tanah yang kita pijak, sehingga diperlukan kerja keras untuk membersihkannya.

Penelitian ini tidak meneliti bagaimana perkembangan kepadatan tulang anak-anak yang diteliti tersebut berlanjut hingga usia remaja dan dewasa. Yang ingin ditekankan oleh para peneliti adalah bahwa hal ini merupakan sesuatu yang perlu diperhatikan di masa yang akan datang guna lebih dapat memastikan lagi tentang adanya hubungan-hubungan yang disebutkan di sini.

“Penelitian lanjutan diperlukan untuk mengkaji apakah hubungan forever chemicals dengan kerapuhan tulang pada anak-anak ini masih bertahan atau berubah hingga usia dewasa,” tulis para peneliti di dalam sebah jurnal yang mereka terbitkan. (David Niels)

The research has been published in the Journal of the Endocrine Society.

https://www.yahoo.com/news/articles/forever-chemicals-may-weakening-bones-180002967.html

Read more

0 Kebiasaan Sehat ini Tampaknya Bisa Meningkatkan Kekuatan Otak Ketika Anda Baru Melakukannya


Ada banyak alasan untuk melakukan olahraga, mulai dari latihan kesiapan mental (mental health perks) hingga latihan kekuatan fisik (straight up physical fitness). Namun penelitian baru mengisyaratkan bahwa meningkatkan kegiatan fitness rutin yang Anda lakukan bisa memicu lebih banyak pelepasan protein penguat otak

Namun ada sedikit yang perlu dicatat sehubungan dengan hasil temuan ini, termasuk bahwa para peneliti hanya berfokus pada orang yang dianggap tidak aktif ketika penelitian itu dimulai. Namun para ahli mengatakan bahwa hasil tersebut menekankan akan pentingnya latihan olahraga untuk meningkatkan kesehatan otak Anda (dan juga kesehatan Anda secara keseluruhan).

Di bawah ini adalah saran dari penelitian tersebut, plus apa saja yang mungkin ada di balik hubungan ini.

Para peneliti: Flaminia Ronca, PhD, kepala penulis peneliti dan associate professor di Jurusan Intervensi Target di University College London; Amalia Peterson, MD, ahli neurologi behavioral dan aisten professor Neurologi di Pusat Kesehatan Vanderbilt University; Davide Cappon, PhD, direktur Neuropsikologi di Tufts Medical Center. 

Ap saja temuan penelitian ini?

Dalam penelitian ini, yang diterbitkan di dalam jurnal Brain Research, para peneliti meminta 30 orang partisipan yang tidak aktif melaksanakan pelathan selama 12 minggu dengan siklus tiga kali seminggu. Tim peneliti menelusuri banyak tanda-tanda kesehatan selama penelitian tersebut berlangsung, termasuk VO2max dan faktor neurotrofik yang berasal dari otak (BDNF). Mereka juga memberi para partisipan serangkaian test memori kognitif dan mengukur perubahan-perubahan dala aktivitas otak dalam prefrontal cortex. Prefrontal cortext tersebut mengontrol fungsi-fungsi eksekutif, termasuk pembuatan keputusan, regulasi emosi, perhatian, dan ilmpulsitas.

Para peneliti menemukan bahwa level BDNF pasca latihan olahraga meningkat setelah para partisipan menjadi lebih bugar dan ini dihubungkan dengan perubahan-perubahan dalam aktivitas otak yang berhubungan dengan perhatian (attention) dan aspek-aspek fungsi eksekutif lainnya.

Mereka juga menemukan bahwa latihan aerobik mulai dari yang ringan hingga yang berat selama 15 menit saja bisa memicu pelepasan BDNF. Dalam minggu terakhir percobaan tersebut, para partisipan menunjukkan adanya peningkatan BDNF yang lebih besar setelah melakukanlLatihan olahraga intensif dibandinkan dengan sebelum program itu dimulai. (Hal ini tampaknya berhubungan dengan membaiknya VO2max).

Peningkatan level BDNF yang lebih besar akibat latihan olahraga tersebut juga berhubungan dengan perubahan-perubahan dalam aktivitas di dalam prefrontal cortex selama tugas-tugas perhatian dan hambatan (attention dan inhibition). Secara kesluruhan, hasil temuan tersebut mengisyaratkan bahwa meningkatkan kegiatan rutin olahraga bisa meningkatkan BDNF dan juga bisa meningkatkan aspek-asoek fungsi eksekutif, seperti perhatian.

Apakah BDNF itu, dan apa hubungannya dengan kesehatan otak?

BDNF Adalah faktor pertumbuhan bagi neuron. Neuron adalah sel-sel dalam sistem syaraf. “Secara umum, BDNF yang lebih tinggi itu berhubungan dengan kesehatan otak yang lebih baik,” kata Amalia Peterson, MD,  ahli neurologi berhavioral dan asisten profesor neurologi di Vanderbilt University Medical Center. BDNF berperan penting dalam mengatur koneksi antarsel otak.”

Level BDNF yang lebih tinggi biasanya berhubungan dengan kemampuan belajar yang lebih baik, memori, dan tahan terhadap penuaan, “namun ini hanyalah sepotong teka-teki yang lebih besar—bukan cerita secara keseluruhan,” kata Davide Cappon, direktur Neuropsikologi di Tufts Medical Center.

Bagaimanakah latihan olahraga bisa memperbaiki BDNF?

Latihan olahraga akan memaksa tubuh Anda melepas lebih banyak BDNF, yang dikeluarkan di dalam otak dan lewat otot, kata Flaminia Ronca, PhD, kepala penulis peneliti dan associate professor di Jurusan Intervensi Target di University College London.

Latihan olahraga juga bisa memperbaiki aliran darah dan penggunaan energi, yang tampaknya bisa menstimulasi produksi BDNF, menurut Cappon. “Ketika orang menjadi lebih bugar, mereka kemungkinan akan mengembangkan respon BDNF yang lebih besar terhadap masing-masing kegiatan latihan olahraga. Ini berarti sistem tersebut menjadi lebih responsif seiring berjalannya waktu.

Jadi, jika Anda sudah aktif secara fisik, Anda masih bisa merasakan manfaat peningkatan BDNF dari olahraga. “Meski tubuh kita sudah memproduksi BDNF, namun kita memproduksi [lebih banyak lagi] setiap kali kita melakukan latihan olahraga,” kata Ronca. “Dan jika tubuh kita lebih bugar, maka tubuh kita akan memproduksi lebih banyak lagi dalam setiap kegiatan latihan olahraga yang kita lakukan.

Pada akhirnya, hal ini bisa membantu orang merasa lebih memiliki pikiran jernih ketika mereka melakukan latihan olahraga rutin teratur.

Hal ini juga ada hubungannya dengan bukti berdasarkan pengalaman pribadi (anecdotal evidence) yang ditemui Cappon. “Para pasein akan mengatakan sesuatu seperti ‘Saya merasa pikiran lebih tajam’ atau ‘pikirn saya lebih jernih.’ Hal itu sesuai dengan apa yang kita alami—latihan olahraga bisa memperbaiki perhatian (attention), kecepatan memproses (processing speed), dan energi mental, bahkan jika dilakukan dalam waktu sebentar. (Korin Miller)

https://health.yahoo.com/wellness/fitness/exercise/articles/healthy-habit-seems-trigger-more-110000072.html

Read more

0 Tujuh Alasan Mengapa Anda Harus Tidur Lebih Lama

Para peneliti telah melakukan pekerjaan yang bagus dalam mempelajari bagaimana fisik dan mental kita bergantung pada tidur dan akibat-akibat apa saja yang akan timbul ketika masa istirahat ini tidak dilakukan secara serius. Di bawah ini Adalah 7 alasan untuk meyakinkan Anda betapa tidur cukup itu penting.

Tidur Menguatkan Jantung

Kekurangan tidur yang terus menerus terjadi akan memicu proses penjangkitan penyakit (inflammatory) di dalam tubuh kita. Hal ini bisa menimbulkan kalsifikasi pembuluh darah (arterioklorosis), yang dianggap merupakan penyebab utama penyakit kardiovaskuler seperti serangan jantung atau stroke. Sebagaimana kekurangan tidur bisa merusak jantung, maka cukup tidur bisa melindungi jantung: Tidur membuat tekanan darah tetap konstan dalam jangka lama, yang akan memperbaiki pembuluh darah dan Kesehatan jantung.

Tidur Menjaga Sistem Imun Tetap Fit

Pertahanan tubuh terhadap infeksi, sistem imun, memerlukan tidur agar bisa berfungsi normal. Secara lebih spesifik, tidur dibutuhkan oleh sel-sel imun agar mampu melawan patogen. Kurang lama tidur, sebagai contoh, akan merusak fungsi apa yang disebut sel-T (T-cells), yang berfungsi membuang sel-sel tubuh yang terkena infeksi dan, dengan demikian, mencegah virus menyebar terlalu banyak di dalam tubuh.

Tidur Bisa Meningkatkan Pertumbuhan Otot

Tidur dan olahraga adalah satu kesatuan: Tidur memainkan peran penting dalam pertumbuhan otot. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa massa otot berkurang lebih banyak pada mereka yang tidur lima setengah jam atau kurang dalam semalam dibandingkan dengan mereka yang tidur lebih dari delapan jam. Para peneliti menduga bahwa ketika Anda tidur cukup, hormon-hormon pertumbuhan dilepaskan dan ini memengaruhi pembentukan protein yang penting bagi pertumbuhan otot

Tidur Bisa Meningkatkan Performa

Kurang tidur di malam hari bisa memiliki dampak signifikan terhadap konsentrasi dan pikiran. Seberapa baiknya tidur seseorang akan memengaruhi performa otak orang tersebut, karena: Selama tidur berlangsung, memori terbentuk dan terkonsolidasi. Memori menjadi solid, informasi yang tak berguna “dibuang.”

Tidur Mengurangi Resiko Terjadi Kecelakaan

Dalam beberapa kasus, mengabaikan tidur bisa mengancam nyawa—khususnya di jalan raya. Seseorang yang kelelahan secara terus menerus memiliki resiko kecelakaan yang meningakat, karena mengemudi mobil dalam keadaan mengantuk bisa mengarah pada apa yang disebut sebagai mikrotidur, serangan terlelap yang bisa mengancam nyawa. Di Amerika Serikat, sekitar 62 persen kecelakaan lalulintas disebabkan kurang tidur. Separuh dari kecelakaan akibat mengantuk ini terjadi pada para pengemudi muda berusia 25 tahun ke bawah. Para pekerja shift juga beresiko ketika pulang kerja: resiko kecelakaan pada mereka lebih tinggi hingga delapan kali lipat.

Tidur Cukup Bisa Menghindari Kegemukan

Apakah kurang tidur berkontribusi terhadap meningkatnya berat badan? Para peneliti telah berusaha menjawab pertanyaan ini beberapa lama. Sebuah penelitian dari UK menunjukkan bahwa orang dewasa yang kurang tidur memiliki resiko obesitas yang meningkat. Sebaliknya, orang yang tidur lebih banyak cenderung memiliki indeks massa tubuh (BMI) yang lebih rendah. Hubungan negatif antara lamanya tidur dan BMI bisa berhubungan dengan berbagai penyebab patopsikologis. Ini Adalah perubahan-perubahan fungsi tubuh akibat penyakit. Hal ini mencakup, sebagai contoh, efek negatif dari kurang tidur terhadap metabolisme. Selain itu, orang yang tidur cuma sebentar cenderung memiliki level ghrelin (sebuah hormon yang mengatur rasa lapar dan kenyang) yang tinggi.

Memroses Emosi

Setiap orang menghabiskan waktu malam hari sebanyak 20 persen dengan bermimpi, meskipun mimpi itu tidak mereka ingat di pagi harinya. Mimpi yang paling jelas terjadi pada fase tidur REM. Namun, belum diketahui secara pasti tugas apa yang dikerjakan oleh tidur bermimpi. Akan tetapi, para peneliti menduga bahwa mimpi membantu otak memroses emosi, khususnya memori yang berasal dari area “residu hari”, yaitu memori emosional tentang peristiwa-peristiwa di hari sebelumnya. Sebuah asalan yang bagus untuk lebih sering tidur lebih awal.

https://www.articleskill.com/mind-body/sleepm

Read more

0 Wanita, 54 Tahun, Melakukan Suntikan Pencegah Kehamilan selama 21 Tahun. Sekarang didiagnosis Mengalami 4 Kanker Otak

“Sekarang saya bisa haid kapan saja,” kata Kerry Sharples.

PERLU ANDA KETAHUI

  • Seorang Wanita berusia 54 tahun menyatakan bahwa dia “menyesal” telah melakukan suntikan pencegah kehamilan setelah dia didiagnosis mengalami empat jenis kanker otak. 
  • Dokter mengatakan bahwa meningioma yang dialami wanita tersebut bisa jadi berhubungan dengan kebiasaan si wanita tersebut menggunakan suntikan kontraseptif—yang telah dia lakukan secara teratur selama 21 tahun, guna menghindari datang bulan. 
  • “Haid saya bisa datang kapan saja sekarang, kata Kerry Sharples

 

 

 

 

 

Kerry Sharples mengatakan pada para dokter selama kunjungan rutin pada tahun 2025 bahwa dia mengalami telinga berdenyut di telinga sebelah kanannya, menurut Kennedy News.

Sharples, 45, mengatakan bahwa dokter memintanya melakukan scan beberapa kali dan test darah untuk berjaga-jaga, dan kemudian dia mendapat berita mengejutkan: dia mengalami empat jenis tumor jinak, yang juga dikenal sebagai meningioma. (Yang terbesar dari keempat tumor tersebut berada di belakang mata kanannya dan berukuran sekitar 1,4 inci).

Wanita itu mengatakan bahwa pada titik itulah dokter menganjurkan dia berhenti melakukan suntikan hormon pencegah kehamilan—yang telah dia lakukan secara teratur selama 21 tahun, guna menghindari haid setiap bulan.

“Saya menyesal telah melakukan suntik ini,” kata Sharples. “Kedengarannya bodoh sekali sekarang, bahwa saya tidak ingin haid dan terus menerus begitu. Dan sekarang saya mengalami empat jenis kanker otak. Sekarang haid saya bisa datang kapan saja. Ini benar-benar gila.”

Menurut Sharples, yang merupakan ibu dari dua orang anak, dokter yang dia temui menjelaskan padanya setelah dia menyadari keempat jenis kanker otak tersebut bahwa ada bukti yang relatif baru yang menunjukkan adanya hubungan kecil antara suntikan kontraseptik yang dia terima dengan diagnosis tersebut.

The woman said that, had she known of a link, however small, between the shots and meningiomas beforehand, she likely would have made a different decision about her personal health plan.

Wanita tersebut mengatakan bahwa, jika dia telah mengetahui bahwa ada hubungan, antara suntikan tersebut dengan meningioma, betapapun kecilnya, tentu dia akan mengambil tindakan yang berbeda untuk mencegah kehamilan.

“Saya tahu banyak wanita yang mengalami efek samping tertentu, namun sejauh yang saya ketahui, saya baik-baik saja. Saya pikir, ‘Mengapa saya harus menghentikan sesuatu yang tak menimbulkan kerusakan?’ Jika dokter dulu mengatakan ada resiko seperti ini [tumor otak], tentu saya akan ambil tindakan berbeda,” kata Sharples, dari Cheshire, Inggris.

“Saya agak naif untuk [tidak] tidak mencari tahu hal ini,” katanya menambahkan. “Tapi jika Anda mendapatkan suntikan itu dari dokter, tentu Anda akan menganggap itu akan baik-baik saja.”

Sharples tidak memberi tahu nama khusus dari suntikan pencegah kehamilan yang dia lakukan selama ini.

Melihat ke belakang, Sharples mengatakan bahwa dia “sangat terkejut” atas diagnosis tersebut. Dia menambahkan bahwa dia masih belum sepenuhnya menerima hal ini.

“Saya adalah [tipe orang] siap menerima dan menjalankan sesuatu, tapi kadang-kadang perasaan tidak siap menerima itu timbul,” katanya.

Sharples—yang kini khawatir dia akan menjadi buta, atau mati, jika dokter tidak memerintahkannya melakukan test—melanjutkan tentang tumor otak yang dialaminya: “Semoga tumor ini menciut, atau tidak menjadi lebih besar, sekarang saya berhenti [memakai suntikan hormon].

Sharples berharap dengan berbagi cerita seperti ini, lebih banyak wanita akan tersadar akan resiko suntikan pembatas kehamilan sintetis berbasis progesterone.

“Saya tidak ingin menakut-nakuti orang [atau] membuat mereka takut akan Tuhan, tapi mereka harus sadar akan penyebab yang mungkin ditimbulkan [suntikan] itu,” katanya.

“Pikirkan kembali dan lakukan penelitian sendiri. Ada banyak pilihan lain yang bisa Anda lakukan,’ katanya menambahkan.

Menurut National Institutes of Health (NIH), data menunjukkan bahwa secara keseluruhan resiko klinis terkena meningioma akibat suntikan hormon pencegah kehamilan itu kecil saja.

Read the original article on People

https://www.yahoo.com/news/articles/woman-45-took-birth-control-090000288.html


Read more
 
© Hasim's Space | Design by Blog template in collaboration with Concert Tickets, and Menopause symptoms
Powered by Blogger