 |
| Photo by Markus Spiske on Unsplash |
Kebanyakan cerita tentang iklim yang ditulis sekaramg ini berfokus pada beberapa hal ekstrem: Hujan paling buruk, banjir paling buruk,
kekeringan paling buruk, topan paling buruk. Adalah salah—baik secara saintifik
maupun dari sudut pandang kemanusiaan—jika kita meremehkan dampak buruk dari
perubahan iklim, yang telah menjadi semakin buruk secara signifikan pada abad
ini. Menurut
Berkeley Earth, tahun 2025 adalah tahun terpanas ketiga
yang terjadi di Bumi sejak 1850, hanya kalah dengan tahun 2024 dan 2023. Sementara
para ilmuwan menganggap sebagian dari pemanasan ini sebagai dari perubahan
cuaca alami, namun menurut konsensus yang kita ketahui bersama adalah karena
temperatur yang meningkat yang disebabkan terutama oleh aktivitas manusia.
Sejauh ini kerusakan paling parah disebabkan oleh pemanasan
global belum dirasakan secara universal. Panas 90 derajat di London pada bulan
Mei membawa konsekuensi kesehatan yang nyata, namun tidak akan membunuh manusia
dalam jumlah besar. Bahkan Florida, yang baru-baru ini luluh lantak oleh angin
topan, mengalami kerugian ekonomi yang tidak begitu berarti bagi GDP negara bagian
tersebut—meskipun pada level lokal, kerusakan yang ditimbulkannya sangatlah
parah. Namun, bahkan panas 110 derajat di Las Vegas tidak sebanding dengan
kondisi-kondisi di bagian-bagian dunia lain di mana perubahan iklim telah
menjadi masalah untuk bertahan hidup. New Delhi, sebuah kota berpenduduk 20
juta, telah mencatat temperatur setinggi 1150 F disertai kualitas
udara yang buruk.
Hingga sejauh ini, sebagian besar orang di dunia belumlah menjadi
korban akibat perubahan cuaca—meski efek terburuk dari perubahan cuaca ini
telah merusak beberapa wilayah di dunia.
Apa yang mendesak untuk diperhatikan ada di depan kita. Banyak negara
di dunia telah mengingkari komitmen mereka terdahulu untuk mengurangi emisi gas
rumah kaca. Kesepakatan Paris—sebuah kesepakatan internasional yang mengikat
yang disetujui oleh 195 negara di COP21 pada tanggal 12 Desember 2015—telah
membuat patokan yang jelas: Membatasi peningkatan temperatur hingga 1,50
C di atas level praindustri. Amerika Serikat Adalah satu di antara
negara-negara yang telah mengabaikan kesepakatan ini.
Para ilmuwan telah mengembangkan detil-detil apa saja yang akan
terjadi pada akbir abad ini jika pemanasan global berlanjut dengan kecepatan seperti
yang ada sekarang. Akibat yang paling membahayakan akan terjadi pada skenario
emisi-tinggi, di mana peningkatan pemanasan mencapai hingga mendekati 3-50
C di atas level praindustri pada tahun 2100. Jika dunia mengurangi bahan bakar
fosil, dampak terburuk itu kecil kemungkinan akan terjadi—namun pengurangan ini
belum dilaksanakan sekarang. Konsumsi bahan bakar fosil masih terus meningkat,
dan Amerika Serikat telah mengabaikan pengembagan energi matahari dan energi
angin, dan secara aktif terus meningkatkan pengeboran minyak dan pembukaan tambang
batu bara baru.
Di bawah ini adalah dokumentasi resiko-reskio paling buruk yang
bisa menimpa kehdupan manusia dan masyarakat, yang diambil dari proyeksi oleh WHO, IPCC, MIT, Stanford, dan berbagai jurnal
ilmiah dan institusi riset.
Panas Ekstrem dan Habitabilitas
Di Sebagian Asia Selatan dan Timur Tengah, kombinasi panas dan
kelembaban bisa jadi melampaui batas manusia bisa bertahan hidup—temperatur
bola basah (wet-bulb temperature) mendekati 350C, di mana tubuh
kita tidak lagi bisa mendinginkan diri sendiri. Pekerja buruh luar ruangan bisa
jadi mempertaruhkan nyawa mereka di sebagian besar tahun, dan sistem pendingin
akan kewalahan di wilayah-wilayah di mana listriknya tak menentu. Kematian bisa
mencapai angka ribuan dengan cepat, di mana pekerja luar ruang yang lebih tua
dan masyarakat miskin paling besar beresiko terkena dampak. Seiring berjalannya
waktu, jutaan orang bisa jadi menghadapi masalah yang mengancam nyawa mereka selama
beberapa bulan dalam satu tahun.
Pada suhu 40C, panas ekstrem yang semula diperkirakan
hanya terjadi satu kali dalam satu abad akan menjadi peristiwa tahunan. Jika dikombinasikan
dengan kekeringan yang panjang, ini akan mengurangi produktivitas pertanian secara
tajam dan bisa menyebabkan ribuan orang mati akibat cuaca panas.
Level Permukaan laut dan Kerusakan
Pesisir
Level permukaan laut di seluruh dunia bisa naik lebih dari tiga
kaki pada tahun 2100, Sebagian disebabkan oleh semakin cepatnya lapisan es di
Greenland dan Antartika Barat menghilang. Dataran pesisir yang rendah akan
tergenang berulang-ulang secara permanen.
Jutaan manusia kemugkinan harus mencari tempat pindah--khususnya ke dan sekitar wilayah kota-kota seperti Dhaka, Shanghai, Miami, New York, Jakarta,
Mumbai, dan New Orleans. Wilayah-wilayah yang tidak sepenuhnya tenggelam akan
menghadapi masalah banjir kronis, angin badai kencang, dan erosi. Triliunan
dolar aset dan infratrsuktur akan hancur, dan suplai air bersih di banyak
wilayah akan terganggu.
Tindakan meninggalkan wilayah pinggir laut ini dan aliran para
pengungsi akan semakin memingkatkan resiko instabilitas politik dan konflik
militer di wilayah-wilayah yang menjadi tujuan para pengungsi tersebut.
Ketidakamanan Makanan dan Air
Panas, kekeringan, banjir, dan pergeseran musim (monsoon)
yang dan pola angin topan akan semakin berdampak buruk bagi tanaman pertanian
seperti gandum, padi, dan jagung—makanan pokok di wliayah Asia Selatan, Amerika
Utara, dan China. Tanpa adanya adaptasi signifikan tentang varietas tanaman
baru dan sistem irigasi, hasil-hasil pertanian tersebut bisa jadi jauh menurun
di seluruh dunia.
Ratusan juta manusia kini sudah menghadapi masalah air, dan masalah
tersebut akan semakin dalam ketika glasier-glasier mencair, pola curah hujan
berubah, dan kekeringan menjadi semakin sering dan parah. Kelangkaan air akan
memicu timbulnya dampak krisis makanan dan meningkatkan kemungkinan timbulnya
konflik.
Kolaps-nya Masyarakat dan Ekonomi
Puluhan hingga ratusan
juta orang akan kehilangan tempat tinggal—baik di dalam negeri mereka sendiri
maupun di wilayah perbatasan negara—disebabkan panas, banjir, kekeringan, dan
kelaparan. Instabilitas sosial akan meningkat disertai konflik kekerasan
dan gonjang-ganjing politik, yang akan mulai paling akut di wilayah-wilayah
rawan di Afrika dan Asia Selatan.
Korban ekonomi akan mencapai triliunan, dipicu oleh bencana
iklim, menurunnya produktivitas, dan besarnya biaya adaptasi. Negara-negara
yang lebih miskin dan masyarakat berpenghasilan rendah akan menanggung beban
paling berat, kurangnya cadangan finansial atau jaringan keamanan dari
pemerintah untuk bertahan atau memulihkan diri dari guncangan yang
berulang-ulang.
Apakah ini merupakan gambaran kondisi kemanusiaan di masa depan
atau bukan, itu tergantung pada pilihan yang kita buat sekarang. Variable
sentralnya jelas: Apakah penggunaan bahan bakar fosil akan terus meningkat—atau
akhirnya akan menurun. (Douglas McIntyre).
https://www.yahoo.com/news/science/articles/worst-dangers-climate-change-still-131000236.html