Headlines

Powered by Blogger.

0 Semboyan yang Tidak Produktif

Ada satu yang menjadi unek-unek dan menganjal dalam pikiran saya sehubungan dengan visi dan misi Kabupaten Pesisir Barat, Provinsi Lampung, yang saya cintai ini, yaitu penggunaan tag line atau semboyan Negeri Para Sai Batin dan Ulama. Semboyan atau tag line ini pasif alias tidak produktif, dan bisa menimbulkan interpretasi yang tidak menguntungkan bagi perkembangan kabupaten ini ke depannya.

Entah apa yang terjadi. Ketika saya search di Google, kabupaten ini masih menggunakan semboyan lama yaitu, Helauni Kik Baghong (Lebih indah jika bersama). Tapi, tiba-tiba, dalam promosi dan propagandanya di media sosial dan media cetak belakangan ini, mereka menggunakan semboyan Negeri Para Sai batin dan Ulama seperti di atas.

Jika dibandingkan dengan semboyan Kabupaten Lampung Barat, induk dari kabupaten ini, yang berbunyi Beguwai Jejama (Bekerja bersama), jelas perbedaannya seratus delapan puluh derajat. Semboyan Kabupaten Lampung Barat jelas mencerminkan filosopi kerja, cara bekerja atau semangat kerja bagi masyarakatnya, sedangkan semboyan  Kabupaten Pesisir Barat sama sekali tidak mencerminkan semangat kerja. Alih-alih menimbulkan semangat kerja, semboyan Kabupaten Pesisir Barat seolah-olah merupakan sebuah peringatan, atau wanti-wanti, atau hanya label, atau pemberitahuan semata tentang karakter masyarakat derah ini, yang taat beribadah. Bagi masyarakat luar Pesisir Barat, semboyan ini bisa jadi merupakan sebuah peringatan.

Dalam perspektif Pemerintah Jokowi, semboyan Kabupatn Pesisir Barat ini jelas kontraproduktif. Dengan tag line yang sangat terkenal, Kerja, Kerja, Kerja, Pemerintah Jokowi jelas-jelas ingin membangkitkan semangat rakyat untuk bekerja, jangan hanya ngomong semata, sedangkan semboyan Kabupaten Pesisir Barat ini terkesan sebaliknya.

Semboyan sebuah kabupaten semestinya merupakan sesuatu yang memberi inspirasi atau semangat kerja bagi penduduknya, bukan hanya menunjukkan ciri khas wilayah tersebut karena sebuah semboyan sekalipun bisa menimbulkan dampak yang luas jika dibaca dan dihayati secara terus menerus (negeri kita bisa merdeka dari penjajah tentunya sedikit banyak tercapai berkat semboyan Merdeka atau Mati yang mengebu-gebu itu), apalagi Kabupaten Pesisir Barat masih tergolong  sebagai daerah  tertinggal, yang tentunya masih memerlukan penyemangat, pendorong, dan pemantik untuk kerja keras.

Selain itu, semboyan  Negeri Para Sai Batin dan Ulama ini juga bisa jadi kurang menguntungkan bagi pengembangan industri wisata kabupaten ini—wisata merupakan salah satu sektor andalan Kabupaten Pesisir Barat. Sektor wisata, jika dikelola dengan benar, bisa mendatangkan revenue yang yang tidak sedikit, yang bisa dijadikan andalan bagi pendapatan asli daerah ini. Namun semboyan tersebut bisa menimbulkan kesan bahwa kabupaten ini memperlakukan wisatawan dengan cara yang sama dengan yang dilaksanakan di Aceh. Semboyan Negeri Para Sai Batin dan Ulama ini, mau tidak mau, memberi kesan bahwa ulama turut serta mengendalikan pemerintahan di kabupaten ini, dan mengawasi setiap gerak-gerik wisatawan yang masuk ke wilayah ini. Tabik.

 

Read more

0 Fenomena Aphellion (Ilmu Kadrun Tingkat Dasar)

Banyak orang tidak percaya begitu saja akan adanya Fenomena Aphellion dan bahkan ada yang langsung membantah secara menggebu-gebu meskipun tidak berdasar, tidak punya argumen jelas, dan tidak bisa membuktikan sebaliknya secara ilmiah. Mereka tidak percaya bukan karena mereka tahu keadaan yang sebenarnya, melainkan karena dogma yang sudah tertanam sejak dini di dalam diri mereka, yang ironisnya justru tidak bisa dibuktikan secara ilmiah, sama halnya dengan mereka yang percaya Bumi ini datar, misalnya.

Fenomena Aphellion adalah peristiwa di mana letak Bumi bergeser menjadi sangat jauh dari matahari. Kita tidak bisa melihat fenomena tersebut tetapi bisa merasakan dampaknya. Dalam peristiwa ini suhu di Bumi menjadi sangat dingin yang ekstrem sehingga bisa menimbulkan penyakit seperti flu, batuk, sesak napas, dll. Pada tahun 2021 ini, Fenomena Aphellion berlangsung pada bulan Juli sampai Agustus.

Ada sebuah pemberitahuan menarik berkaitan dengan fenomena tersebut yang beredar di media sosial, yaitu pemberitahuan yang disertai pesan-pesan tentang metode meningkatkan kekebalan tubuh supaya tidak terserang flu, batuk, sesak napas dengan cara banyak-banyak mengonsumsi suplemen.

Meskipun tidak jelas disebutkan suplemen apa yang harus diminum untuk meningkatkan kekebalan tubuh tersebut, naman tak ayal ada yang mencurigai pesan tentang Fenomena Aphellion di atas hanyalah propaganda perusahaan yang memroduksi suplemen; untuk meningkatkan penjualan produk mereka, dan mereka menganggap Fenomena Aphellion itu tak pernah ada.

Ada salah seorang pejabat berstatus PNS golongan IV yang sangat ngotot tidak percaya akan adanya fenomena ini. Pejabat tersebut dengan ngotot dan menggebu-gebu menanyakan siapa yang pernah melihat peristiwa tersebut, dan siapa yang pernah meneliti peristiwa itu. “Siapa orangnya! Jangan-jangan ini hanya ulah produsen suplemen!” katanya.

Tentu saja ini merupakan sebuah pandangan yang sangat disayangkan muncul dari seorang pejabat.

Jika yang mengatakan itu adalah seorang petani, seorang yang tidak pernah bersentuhan dengan smartphone, yang tidak pernah dan tidak tahu cara mengakses Internet, tidak punya email, tidak punya akun media sosial, dll, tentu kita maklum.

Tetapi jika seorang pejabat yang hidup berkecukupan yang sehari-harinya meluangkan banyak waktu dengan HP di tangannya, punya akses ke Internet, punya media sosial, punya email, berpendidikan tinggi pula, bahkan sampai S2, tidak percaya akan hal ini, sungguh merupakan sebuah kepicikan yang nyata.

Bukankah informasi dan artikel ilmiah itu bertebaran di mana-mana di dalam genggaman kita, di jaman Internet ini. Kecuali kita memang tidak tertarik dengan informasi dan artikel ilmiah, dan jari kita hanya terbiasa meng-klik link-link kabar gossip dan kotbah agama, hanya dengan satu klik kita bisa mengetahui seluk beluk segala fenomena alam di universe ini, Fenomena Aphellion salah satunya.

Orang yang meneliti dan bisa membuktikan hal itu memang ada, dan mereka punya alat yang canggih untuk itu.

Kalau Anda tidak percaya juga, Anda bisa pergi ke NASA di Amerika Serikat sana. Mereka punya alat yang tidak bisa Anda bayangkan yang digunakan untuk meneliti semua peristiwa alam. Dari merekalah kita bisa tahu akan adanya gerhana matahari yang akan datang (dan ini terbukti), dari merekalah kita bisa tahu besarnya magnitude gempa Bumi yang baru saja terjadi beberapa detik yang lalu, dari merekalah kita bisa tahu cara meneliti adanya hilal yang kita lakukan setiap awal Ramadan, dari merekalah kita bisa tahu akan adanya ancaman gelombang laut yang tinggi, dari merekalah kita bisa tahu  bahwa bentuk Bumi ini bulat (meskipun secara lucu dibantah oleh sebagian orang, yang percaya Bumi ini datar), dll.

Sesungguhnya, peristiwa alam yang diteliti oleh ilmuwan seperti di atas, telah banyak membantu mempermudah kehidupan kita, dan ada metode pembuktiannya. Dan kalau Anda ingkar, tidak percaya, Anda bisa meminta bukti pada mereka. Tetapi mungkin mereka tidak akan peduli Anda percaya atau tidak karena itu tidak penting, dan nggak ngaruh.

Tapi, let me tell you one thing, sikap tidak percaya hal-hal ilmiah yang sesungguhnya bisa dibuktikan seperti itu, dan suka membantah apa saja hanya bermodalkan rasa tidak percaya, namun langsung percaya tentang adanya surga dan neraka yang justru tidak pernah bisa dibuktikan, melainkan hanya dari kutbah para ulama, adalah salah satu penghambat kemajuan. Inilah salah satu sebab bangsa kita ini nggak maju-maju dalam hal ilmu pengetahuan dan teknologi, ekonomi, sosial, dan budaya.

 

 

Read more

0 Remaja Lebih Besar Kemungkinannya Akan Mengalami Kecanduan Mariyuana Dibanding Orang Dewasa Muda

<![endif]--> Remaja lebih besar kemungkinannya akan mengalami kecanduan mariyuana atau prescription drugs (obat-obat yang diresepkan) dibandingkan dengan orang dewasa muda dalam waktu setahun setelah mereka mencoba benda tersebut untuk pertama kalinya, menurut sebuah penelitian terbaru oleh National Institute on Drug Abuse, Amerika Serikat.

Laporan tersebut, yang diterbitkan pada hari Senin dalam jurnal peer-review JAMAPediatrics, semakin menambah banyaknya bukti-bukti bahwa remaja adolesens lebih rawan terhadap penyalahgunaan zat dibandinglkan dengan orang dewasa muda, dan  dengan demikian, semakin meningkatkan perlunya pendidikan pencegahan narkoba dan pendeteksian dini, kata para ahli kesehatan.

“Kita tahu bahwa orang muda lebih rawan mengalami penyalahgunaan zat,” kata Dr. Nora Volkow, direktur NIDA dan penulis utama dari analisis penelitian tersebut. “Meski tidak setiap orang yang menggunakan narkoba akan kecanduan, namun remaja akan mengalami kecanduan lebih cepat dibandingkan orang dewasa muda.”

Para peneliti di NIDA, sebuah bagian dari Insitute Kesehatan Nasional AS, menganalisis data yang berasal dari seluruh negara bagian yang didapat dari Survei Nasional Penyalahgunaan Obat-obatan dan Kesehatan yang dilaksanakan oleh lembaga Penyalahgunaan Zat dan Layanan Kesehatan Mental AS dari 2015 hingga 2018.

Mereka menemukan bahwa 10,7% remaja usia antara 12 hingga 17 tahun mengalami penyalahgunaan ganja, dibandingkan dengan 6,4% yang dialami orang dewasa muda usia antara 18 hingga 25.

Meski terdapat perbedaan pendapat seputar mariyuana sebagaimana beberapa negara bagian mulai men-dekrimilasisasi atau melegalkan penggunaan mariyuana untuk rekreasi, namun para remaja masih ada kemungkinan mengalami gangguan penyalahgunaan ganja yang bisa memengaruhi masa depan mereka, kata Dr. Krishna White, seorang dokter remaja adolesens di Rumah Sakit Anak-anak Philadelphia.

“Anda tidak mengalami kecanduan fisik yang sama, namun Anda bisa mengalami kecanduan psikologis (terhadap mariyuana),” katanya. “Dan Anda lebih besar kemungkinannya mengalami hal tersebut ketika usia Anda lebih muda.

Penelitian tersebut juga menemukan bahwa remaja lebih besar kemungkinannya, dibandingkan orang dewasa muda, akan mengalami kecanduan obat-obat yang diresepkan dokter (prescription drugs) dalam tempo 12 bulan.

·         11,2% remaja mengalami kecanduan opioid yang diresepkan (prescribed opioids), dibandingkan 6,9% orang dewsa muda.

·         13,9% remaja mengalami kecanduan stimulan yang diresepkan (prescribed stimulant), dibandingkan 3,9% orang dewasa muda.

·         11,2% remaja mengalami kecanduan obat penenang yang diresepkan (prescribed tranquilizers), dibandingkan 4,7% orang dewsa muda.

“Penelitian telah menunjukkan bahwa perkembangan otak berlanjut hingga seseorang berusia 20-an, dan permulaan penggunaan obat-obatan di usia tersebut merupakan salah satu faktor resiko yang sangat penting bahwa yang bersangkutan akan mengalami kecanduan,” kata Dr. Emily Einstein, co-author dari penelitian tersebut dan kepala Cabang Kebijakan Sains NIDA.

Hasil-hasil Penelitian tersebut tidak mengejutkan bagi White, yang mengatakan adalah penting bagi para orang tua untuk mengetahui perbedaan antara penggunaan untuk rekreasi dan penyalahgunaan zat.

“Ada kepercayaan di kalangan orang tua bahwa percobaan penggunaan obat-obatan dan alkohol itu merupakan hal biasa,” katanya. “Namun kita tahu bahwa semakin muda usia anak-anak mulai minum-minum, menghisap ganja dan menggunakan obat-obat yang diresepkan, semakin besar resikonya.”

Meski estimasi penggunaan kokain, methamphetamine, dan heroin di kalangan remaja adalah terlalu kecil untuk dilaporkan, namun hampir sepertiga dari orang dewasa muda mengalami gangguan penyalahgunaan heroin dan seperempat mengalami gangguan kecanduan methamphetamine dalam tempo setahun setelah mereka mencoba benda tersebut tuntuk pertama kalinya, kata penelitian tersebut.

Alkohol, mariyuana dan tembakau hingga kini masih merupakan zat yang paling banyak digunakan oleh remaja, menurut Pusat Pencegahan dan Penanggulangan Penyakit AS.

Lembaga tersebut mengatakan bahwa penyalahgunaan zat bisa memengaruhi perkembangan dan pertumbuhan remaja dan berkontribusi terhadap meningkatnya masalah kesehatan pada orang dewasa di masa yang akan datang, seperti penyakit jantung, darah tinggi, dan gangguan tidur.

“Hal ini menggaris-bahwahi pentingnya pencegahan penyalahgunaan obat-obatan dan deteksi  penggunaan atau penyalahgunaan obat-obatan di kalangan remaja dan orang dewasa muda,” kata Einstein. “Menawarkan layanan berkala dan memberi dukungan bagi orang-orang muda yang membutuhkan hal itu harus menjadi prioritras dalam layanan kesehatan masyarakat.”

Follow Adrianna Rodriguez on Twitter: @AdriannaUSAT.

Health and patient safety coverage at USA TODAY is made possible in part by a grant from the Masimo Foundation for Ethics, Innovation and Competition in Healthcare. The Masimo Foundation does not provide editorial input.

This article originally appeared on USA TODAY: Marijuana study: Teens more likely to get addicted than young adults

https://www.yahoo.com/news/teens-more-likely-young-adults-100124150.html

Read more

0 Waspada, Ilmuwan Temukan Varian Virus Corona yang Lebih Berbahaya

  Coronavirus testing at a Virginia Garcia clinic in Hillsboro, Ore., May 1, 2020.  (Ruth Fremson/The New York Times)

Para ilmuwan di Oregon telah menemukan sebuah versi lokal dari varian virus corona yang pertama kali muncul di Inggris yang telah menyebar dengan cepat—tapi sekarang varian virus corona tersebut telah terkombinasi dengan sebuah virus mutasi yang boleh jadi membuatnya menjadi lebih tahan terhadap vaksin.

Para peneliti sejauh ini telah menemukan sebuah kasus tunggal dari kombinasi virus yang mengerikan ini, namun analisis genetik mengisyaratkan bahwa varian virus tersebut didapat dari masyarakat dan tidak tumbuh dan berkembang di dalam diri si pasien.  

“Kita tidak mengimpor varian virus ini dari mana-mana—varian virus ini muncul secara spontan.” Kata Brian O’Roak, seorang ahli genetik di Universitas Sains dan Kesehatan Oregon yang memimpin penelitian tersebut. Dia dan para koleganya berpartisipasi dalam sebuah upaya dari Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit untuk melacak varian-varian virus , dan mereka telah memasukkan hasil penelitian mereka tersebut di dalam database yang di-share oleh para ilmuwan.

Sign up for The Morning newsletter from the New York Times

Varian virus yang pertama kali ditemukan di Inggris, yang dinamakan virus B.1.1.7, kini telah menyebar luas di AS, dan tercatat ada 2.500 kasus tularan varian virus tersebut di 46 negara bagian. Jenis virus ini lebih menular dan lebih mematikan dari versi virus corona aslinya, dan diperkirakan akan terhitung sebagai sebagian besar dari kasus tularan virus corona di AS dalam beberapa minggu ke depan.

Versi virus baru yang muncul di Oregon ini mempunyai tulang punggung yang sama, namun juga merupakan sebuah mutasi—E484K, atau “Eek”—yang ditemukan dalam berbagai varian virus yang terdapat di Afrika Selatan, Brazil dan New York City.

Penelitian laboratorium dan percobaan klinis di Afrika Selatan mengindikasikan bahwa virus mutasi Eek menyebabkan vaksin yang ada saat ini kurang efektif dengan cara membuat respon imun tubuh menjadi tumpul. (Vaksin masih bekerja, namun temuan ini cukup mengkhawatirkan sehingga Pfizer-BioNTech dan Moderna telah mulai menguji versi terbaru dari vaksin mereka yang dirancang untuk membasmi varian virus yang ditemukan di Afrika Selatan.)

Varian B.1.1.7 dengan Eek juga telah muncul di Inggris, yang disebut-sebut sebagai “varian yang mengkhawatirkan” oleh para ilmuwan. Namun virus yang ditemukan di Oregon tampaknya telah mengalami evolusi secara independen, kata O’Roak.

O’Roak dan para koleganya menemukan varian virus tersebut di antara berbagai sampel virus corona yang dikumpulkan oleh Laboratorium Kesehatan Masyarakat Oregon State dari seluruh negara bagian Oregon, termasuk sebagian dari wabah yang muncul dalam program layanan kesehatan. Dari 13 hasil test yang mereka analisis, 10 ditemukan sebagai virus B.1.1.7 sendiri, dan satu menjadi kombinasi B.1.1.7 dan Eek.

Para ahli lain mengatakan bahwa temuan tersebut tidaklah mengejutkan, karena mutasi Eek telah muncul dalam bentuk virus di seluruh penjuru dunia. Namun kejadian mutasi dalam B.1.1.7 menarik untuk diamati, kata mereka.

Di Inggris, versi varian virus ini hanya ditemui dalam sejumlah kecil kasus. Namun pada waktu kombinasi virus ini berevolusi di sana, B.1.1.7 telah terlebih dahulu menyebar di negara itu.

“Kita berada di titik di mana B.1.1.7 masih dalam tahap perkenalan,” di AS, kata Stacia Wayman, seorang ahli genomik komputasional di Universitas California, Berkeley. “Ketika virus tersebut berevolusi, dan ketika dia secara perlahan menjadi dominan, virus tersebut bisa menimbulkan mutasi lebih banyak lagi.”

Mutasi-mutasi virus bisa jadi memperkuat atau memperlemah satu sama lain. Sebagai contoh, varian-varian virus yang ditemukan di Afrika Selatan dan Brazil mengandung banyak mutasi yang sama, termasuk Eek. Namun versi Brazil memiliki mutasi K417N yang tidak ditemukan dalam versi dari Afrika Selatan.

Dalam sebuah penelitian yang terbit hari Kamis di Nature, para peneliti membandingkan respon-respon antibodi terhadap tiga varian virus yang diteliti—yaitu yang ditemukan di Inggris, Afrika Selatan dan Brazil. Senada dengan penelitian-penelitian lainnya, mereka menemukan bahwa varian virus yang menyerang Afrika Selatan adalah yang paling resisten terhadap antibodi yang diproduksi oleh sistem imun.

Namun varian virus yang beredar di Brazil tidaklah begitu resisten, meskipun membawa mutasi Eek. “Jika Anda memiliki mutasi yang kedua, Anda tidak akan mendapat efek yang begitu buruk,” kata Michael Diamond, seorang ahli imunologi virus di Universitas Washington di St. Louis, yang mempimpin penelitian tersebut.

Terlalu dini mengatakan apakah varian virus yang ditemukan di Oregon akan berkelakuan sama dengan yang ditemukan di Afrika Selatan atau Brazil. Namun ide bahwa mutasi-mutasi lain bisa memperlemah efek Eek adalah “berita gembira” kata Wayman.

Secara keseluruhan, katanya, temuan Oregon ini semakin meyakinkan kita akan perlunya untuk terus waspada, termasuk memakai masker, hingga timbul kekebalan dalam masyarakat dalam jumlah yang substansial.

“Orang tidak perlu ketakutan namun harus tetap waspada,” katanya. “Kita tidak boleh memperlemah perlindungan kita ketika masih banyak varian-varian virus yang bisa menular.”

This article originally appeared in The New York Times.

© 2021 The New York Times Company

 

Read more

0 Influencer Instagram Tuai Kecaman Setelah Memasang Foto Telanjang di Atas Punggung Seekor Gajah di Bali

 

Seorang influencer media sosial Rusia berusia 22 tahun mendapat kecaman keras dari netizen karena memposting foto telanjang dirinya di atas seekor gajah di Bali di akun Instagram miliknya yang memiliki follower sebanyak 553.000 orang. Alesya Kafelnikova mendapat hujatan atas video pendek yang yang dia post tanggal 13 Februari 2021, di mana dia terlihat sedang berbaring telungkup di punggung seekor gajah Sumatra, menurut The Sun. Video yang telah dihapus tersebut dia beri caption: “Natural Vibes.” Dalam sebuah post berikutnya, Kafelnikova memasang sebuah foto yang diduga dengan gajah yang sama dengan caption, “To love nature is human nature.”

Meski ada beberapa komen yang mendukung Kafelnikova, puteri dari bekas juara dunia tennis Yevgeny Kafelnikov, namun beberapa netizen menghujatnya karena menggunakan gajah di sosial media. “Gajah yang malang. Apakah kamu tidak malu tidur telanjang di punggung seekor gajah? Gajah adalah makhluk hidup. Uang telah menggelapkan segalanya,” kata salah satu komen. Gajah bukanlah hewan asli Bali dan keberadaannya di sana untuk menghibur para turis. Seorang juru bicara organisasi Save The Asian Elephants mengatakan pada The Sun bahwa foto Kafelnikova tersebut merupakan, “sebuah perbuatan iseng yang tragis terhadap gajah Asia yang agung ketika spesies tersebut sedang berjuang mempertahankan keberadaan mereka melawan penyalahgunaan yang brutal dalam bidang wisata dan ‘hiburan’ manusia.” “Save The Asian Elephants membela adanya undang-undang yang melarang penerbitan iklan dan penjualan tiket-tiket hiburan yang tidak etis di mana hewan yang spesial ini dikomersialkan dengan cara dipukul, ditujah, dan berbagai siksaan lainnya untuk membuat mereka menjadi hewan yang dieksploitasi secara komersial—hewan ini hanya boleh berada di tempat perlindungan hewan,” katanya menambahkan.

Kafelnikova membela fotonya dalam sebuah postingan tertanggal 18 Febrruari, dengan mengatakan bahwa dia telah memberi bantuan fiansial kepada orang-orang lokal dan hewan-hewan di tempat dia mengambil foto tersebut. Dia menambahkan bahwa dia mencintai Bali dan hewan-hewan. “Asal Anda tahu saja, saya telah banyak beramal selama bertahun-tahun dan salah satu sumbangan saya yang terakhir adalah bantuan keuangan bagi hewan-hewan dan penduduk desa, di mana saya mengambil foto tersebut,” tulisnya. Kafelnikova mengatakan bahwa dia mengambil foto dan video tersebut ketika dia melakukan sesi foto pribadi di Bali, di mana dia tinggal belakangan ini. Dia juga menambahkan bahwa dia tidak pernah bermaksud menyakiti perasaan masyarakat setempat. “Saya berharap semua orang yang berpikiran negatif terhadap saya akan mendapat kesadaran estetik terhadap postingan saya dan Anda akan melihat keindahan yang menakjubkan di dalamnya!” Kafelnikova menambahkan. Feature Images via @kafelnikova_a (left) @starnews (right, screenshot)

 https://www.yahoo.com/entertainment/instagram-influencer-sparks-outrage-posing-160644297.html

Read more
 
© Hasim's Space | Design by Blog template in collaboration with Concert Tickets, and Menopause symptoms
Powered by Blogger