Headlines

Powered by Blogger.

0 JWST Hampir Siap untuk Membuat Anda Terpukau

Home stretch.

Setelah menjelajah sejauh lebih dari satu juta mil dari Bumi, sekarang hanya tinggal dua bulan lagi bagi James Webb Space Telescope (JWST) untuk memulai operasi-operasi ilmiah. NASA mengumumkan pada tanggal 28 April bahwa pesawat ruang angkasa yang berkekuatan tersebut hampir menyelesaikan persiapan tahap akhirnya, sebuah proses yang disebut science instrument commissioning (verifikasi dan dokumentasi instrumen terpasang).

Meski JWST telah mencapai tahap akhir yang krusial dalam proses persiapannya, namun masih ada sejumlah tahap dan standarisasi (benchmarks) yang harus dilakukan sebelum penangkapan data ruang angkasa secara resmi itu dimulai.

JWST bukanlah sekedar sebuah telespkop yang memotret gambar-bambar—namun juga merupakan sebuah kotak perabotan ilmiah. Meski JWST baru-baru ini telah sepenuhnya selaras dengan segmen-segment cermin 18 heksagonalnya—sebuah tonggak penting (milestone) yang yang memungkinkan sebuah teleskop ruang angkasa mengambil gambar luar angkasa yang lebih jelas, lebih tajam—namun banyak dari intrumen-instrumennya yang masih belum selesai disetel, kata Klaus Pontoppidan, ilmuwan proyek untuk JWST di Institut Ilmu Ruang Angkasa (Space Telescope Science Institute)

“Para ahli astonomi adalah sebuah kelompok kuantitatif,” kata Pontoppidan. “Mereka menginginkan lebih dari sekedar gambar-gambar bagus, mereka berniat membuat pengukuran kuantitatif yang sebenarnya.”

Dalam persiapan tahap baru ini nanti akan dilakukan konfirmasi terhadap fungsi dari masing-masing instrumen, evaluasi performa dari masing-masing instrumen tersebut, dan kalibrasi terhadap sistem dari instrumen-instrumen tersebut untuk memastikan bahwa rangkaian operasi esensial nantinya bisa dilaksanakan secara tuntas. Tahap ini krusial untuk memastikan semua proses pengumpulan data nantinya berjalan lancar. “Semua orang ingin langsung masuk ke sains secepat mungkin, namun kita terlebih dahulu harus memastikan bahwa intsrumen-instrumen tersebut benar-benar bisa diandalkan untuk mengusung sains tersebut,” kata Pontoppidan.

Sebagian dari daftar evaluasi terhadap JWST termasuk uji target bergerak yang akan digunakan untuk melacak asteroid di semesta ruang angkasa, dan memastikan bahwa teleskop tersebut bisa mengenali tanda-tanda adanya planet-planet lain di luar sistem tata surya kita, atau yang disebut eksoplanet. Test lainnya yaitu tentang mengarahkan teleskop tersebut pada porsi-porsi langit yang berbeda , khususnya Awan Magelanik Besar (Large Magellanic Cloud), untuk mengukur dan mengoreksi adanya distorsi-distorsi optik yang mungkin terdapat dalam isntrumen-instrumen yang ada dalam teleskop tersebut.

 These are the preliminary test results of the Large Magellanic cloud, a small satellite galaxy of the Milky Way. The sizes and positions of the images shown here depict the relative arrangement of each of the instruments in the telescope’s focal plane, each pointing at a slightly offset part of the sky relative to one another.

Gambar di atas adalah hasil-hasil test pendahuluan terhadap Large Magellanic Cloud, yaitu sebuah galaksi satelit yang kecil dalam Sistem Tata Surya kita (Milky Way). Ukuran-ukuran dan posisi-posisi dari gambar-gambar yang ditunjukkan di sini menunjukkan adanya susunan relatif dari masing-masing instrumen yang ada dalam bidang fokus (focal plane) teleskop tersebut, yang masing-masing mengarah pada bagian langit yang agak meleset (slightly offset) yang relatif terhadap satu sama lain.

Teleskop tersebut dilengkapi dengan empat instrumen, yang masing-masing dirancang untuk melakukan pengumpulan data spesifik. Rangkaian kamera dan sensor-sensor spektografi dikalibrasi untuk menangkap gelombang-gelombang elektromagnetik di tengah dan di dekat jangkauan inframerah—gelombang-gelombang ini dipancarkan oleh objek-objek kosmik di kejauhan yang tidak bisa dilihat oleh mata manusia. Ketika test ini telah selesai dilakukan, maka instrumen-instrumen tersebut akan mendeteksi dan mengambil gambar-gambar dari galaksi-galaksi yang jauh dan bintang-bintang yang baru terbentuk, dan juga akan mendapatkan massa, temperatur, komposisi kimia dan properti-properti fisik dari benda-benda langit lainnya.

Sebagian dari alat-alat ini telah mengirim gambar-gambar awal. Dalam beberapa bulan masa uji, pengukuran-pengukuran yang dilakukan oleh JWST tidak akan digunakan dalam riset, kata Scott Friedman, seorang ilmuwan observatorium di Telescope Science Insitute yang juga merupakan seorang ilmuwan penguji untuk misi JWST. Namun, hasil-hasil tersebut akan digunakan untuk memastikan bahwa semua sistem, sebagaimana kata mereka, siap untuk digunakan.

[Related: A fully aligned James Webb Space Telescope captures a glorious image of a star]

Persiapan tahap akhir ini telah berjalan selama kira-kira empat bulan dari enam bulan proses keseluruhannya. Meski hanya tinggal beberapa hari lagi sebelum apa yang dikatakan oleh Friedman bahwa, jika segala sesuatunya berjalan lancar sesuai jadwal, pesawat ruang angkasa tersebut akan siap melaksanakan tanggung jawab sains untuk tahun pertamanya pada bulan Juni depan. Namun seperti halnya sistem-sistem yang baru, para anggota tim dan teleskop itu sendiri memiliki banyak tantangan untuk dipelajari lebih lanjut.

“Kita telah membuat sebuah rencana yang sangat rinci untuk jangka waktu yang cukup lama tentang bagaimana dan apa saja yang akan kita lakukan dalam langkah-langkah kita ke depannya,” kata Fiedman. “Memang belum semuanya sempurna, tapi secara garis besar, segala sesuatunya telah berjalan lebih baik dari yang kita perkirakan sebelumnya.”

Dengan sisa waktu hanya tinggal beberapa minggu lagi ini, tentunya para ahli astronomi dan juga mereka yang non-ilmuwan sangat menunggu-nunggu temuan-temuan apa saja yang akan didapat oleh teleskop ruang angkasa tersebut ketika jika uji kesiapan (instrument commissioning) ini sudah selesai. Pontoppidan berencana merayakan hal ini dengan mengeluarkan gambar-gambar berwarna terbaru tentang alam semesta ini pada publik.

“Saya selalu merasa bahwa dengan melaksanakan eksperimen-eksperiman astronomi yang besar ini akan memberi kita inti dari apa yang membuat kita ini menjadi manusia,” katanya, “untuk menemukan dunia, untuk menemukan dari mana kita berasal [dan] ke mana kita akan pergi dengan wahana yang sama sekali baru.”

Microsoft may earn an Affiliate Commission if you purchase something through recommended links in this article.

https://www.msn.com/en-us/news/technology/the-james-webb-space-telescope-is-almost-ready-to-start-blowing-our-minds/ar-AAWZcXp?ocid=EMMX&cvid=6673f82cd01949ec9329be15c94edefe

 

Read more

0 Ego Sektarian dalam Kasus Prof. Budi

Ego sektarian adalah perasaan bahwa sebuah kelompok keagamaan (sekte) lebih unggul atau lebih benar, atau lebih penting dari kelompok lainnya. Orang yang memiliki ego sektarian selalu merasa bahwa kelompok mereka paling benar, dan yang lain salah semua. Mereka biasanya tidak bisa menerima pendapat orang lain, dan tidak menerima kenyataan bahwa kelompok lain benar dalam satu hal. Untuk itu mereka selalu mencari-cari alsan pembenar yang bisa mendukung pendapat mereka.

Dan ego sektarian ini kembali muncul dalam bentuknya yang ekstrem setelah kasus hebohnya pernyataan Prof. Budi santoso Purwokartiko Rektor ITK yang juga merupakan Guru Besar di Institut Teknologi Surabaya (ITS).

Dalam sebuah statusnya di Facebook, Prof. Budi mengatakan, “... Dan kebetulan dari 16 orang yang saya wawancarai, hanya ada dua cowok, dan sisanya cewek. Dari 14 (cewek tersebut) ada dua yang tidak hadir. Jadi, 12 mahasiswi yang saya wawancarai, tidak ada satupun menutup kepala ala manusia gurun. Otaknya benar-nbenar open mind. Mereka mencari Tuhan ke negara-negara maju seperti Korea, Eropa Barat, dan US, bukan ke negara-negara yang orang-orangnya pandai bercerita tanpa karya teknologi.”

Yang dimaksud Prof. Budi sebagai orang yang dia wawancarai itu adalah para peserta program beasiswa LPDP, di mana beliau bertindak sebagai salah seorang reviewer, yang memiliki andil dalam menentukan lulus tidaknya seorang peserta, dalam program tersebut.

Pernyataan tersebut tak ayal menjadi gorengan bagi para penganut ego sektarian. Mereka menilai pernyataan tersebut sebagai bermuatan SARA, bersifat rasis, dan merupakan ungkapan tidak suka pada mereka yang berjilbab.

Berbagai reaksi tidak suka pun bermunculan di sana sini. Bukan saja tidak suka pada pernyataan tersebut, tapi juga tidak suka pada diri Prof. Budi secara pribadi. Mereka menyerbu dari berbagai penjuru, dengan menggunakan berbagai media. Dan bukan itu saja, bahkan situs ITK-pun menjadi sasaran serangan para hacker yang juga hater. Bukan saja netizen kaum awam, bahkan pejabat negara pun ada yang menyatakan rasa tidak mereka.

Dan konsekuensi dari semua itu, Prof. Budi terancam diberhentikan dari kedudukannya sebagai reviewer dalam Program Beasisw LPDP, bahkan dari kedudukannya sebagai Rektor ITK.

Namun benarkan pernyataan Prof. Budi tersebut mengandung unsur SARA dan berbau rasis?

Prof. Budi sendiri tentu membantah tuduhan tersebut. Dalam sebuah wawancara dengan media online dia mengatakan bahwa dia tidak bermaksud merendahkan orang berjilbab, atau melakukan diskriminasi terhadap mereka. Dalam hal itu dia hanya menceritakan bahwa kebetulan ke-12 orang yang dia wawancarai tersebut tidak memakai jilbab, seperti yang dikutip oleh detikSulsel, Sabtu (30/4/2022).

Dan, memang, jika kita berpikir jernih, pernyataan Prof, budi tersebut tentu bukan cerminan sebuah sikap rasis atau mengandung unsur SARA. Frasa “manusia guru’ seperti yang dia katakan hanyalah merujuk pada mereka yang hidup di gurun, dengan ciri-ciri mengenakan jilbab karena iklim dan kondisi padang pasir di sana menghendaki mereka mengenakan itu. Frasa “manusia gurun’ dalam hal ini sama saja dengan istilah “orang gunung’ yang berarti mereka yang tinggal di gunung, yang juga memiliki ciri khas yang berbeda dengan mereka yang tinggal di gurun, atau ‘orang kota’ yang berarti mereka yang tinggal dikota, yang juga memiliki ciri khas yang berbeda.

Jadi frasa “manusia gurun’ dalam hal ini hanya merujuk pada identitas etnis semata, dan tidak melibatkan identitas keagamaan, karena jilbab bukanlah identitas agama tertentu saja. Faktanya, jilbab (penutup kepala) bukan hanya dikenakan oleh perempuan Muslim saja, tetapi juga oleh kaum Yahudi, dan Nasrani.

Dan jilbab sejatinya bukanlah esensi beragama karena masih ada pro dan kontra soal kewajiban mengenakan jilbab bagi perempuan Muslim, dan fakta bahwa perempuan Muslim juga banyak yang tidak berjilbab.

Jadi kiranya reaksi berlebihan terhadap pernyataan Prof. Budi itu tidak diperlukan, dan tidak ada gunanya sama sekali, apalagi menuduh bahwa Prof. Budi membenci orang berjilbab, dan tidak akan meloloskan peserta program basiswa LPDP yang mengenakan jilbab.

Dalam statusnya di Facebook  yang dia tulis tanggal 6 Mei 2022, prof. Budi mengatakan bahwa dia sudah meloloskan puluhan orang berkerudung dalam Program Beasiswa LPDP, dan memberi rekomendasi dosen berkerudung untuk kuliah lanjut.

Berikut adalah kutipan salah satu paragraf dari tulisan tersebut: Berapa puluh orang berkerudung saya loloskan mendapat beasiswa LPDP, berapa dosen berkerudung saya beri surat rekomendasi untuk kuliah lanjut,berapa puluh mahasiswi berkerudung saya bimbing Tugas akhir/thesis/disertasi, berapa banyak duafa/janda berkerudung saya bantu tiap bulan. Apa mereka mau melihat fakta ini?

Kiranya tidak berlebihan jika saya katakan bahwa Prof. Budi adalah salah satu aset pembangunan negeri ini. Dan jangan biarkan salah satu aset berharga ini hilang hanya karena sentimen keagamaan yang salah kaprah.

Sudah saatnya menggunakan logika, dan keluar dari kungkungan ego sektarian yang selalu mau menang sendiri dan tertutup terhadap perbedaan pendapat.*

Read more

0 Tragedi David Reimer: Anak yang Jenis Kelaminnya Diubah Karena Kecelakaan

Setelah mengalami kesalahan fatal ketika disunat pada waktu masih bayi, penis David Reimer rusak dan tak dapat diperbaiki lagi, lalu kedua orang tuanya memutuskan mengubah David menjadi perempuan.

Orang tua David Reimer hanya ingin melakukan apa yang mereka pandang tepat bagi David.

Sunat yang semestinya menjadi sebuah operasi yang rutin dan biasa, namun pada tahun 1965 berubah menjadi sebuah mimpi buruk yang mengubah jalan hidup bagi Reimer, ketika dokter yang menyunatnya secara tak sengaja menyebabkan penisnya yang masih bayi itu terbakar.

Kerusakan yang timbul tidak bisa diperbaiki lagi. Khawatir cedera pada anak mereka akan menyebabkan si anak mengalami gangguan mental ketika dia dewasa, orang tua Reimer lalu berkonsultasi dengan pakar seksologi John Money setelah mereka melihat sang seksolog tersebut di TV.

Money kemudian menyarankan agar Reimer menjalani operasi pengubahan jenis kelamin dan kemudian dibesarkan sebagai anak perempuan. Tak tahu apa yang mesti dilakukan, orang tua Reimer mengikuti apa yang dikatakan si seksolog, dan mengubah nama si anak dari “Bruce” menjadi “Brenda.”

 David Reimer

Reimer tampaknya tak bermasalah dengan identitasnya sebagai perempuan, dan kasus ini ketika itu dianggap ssebagai sebuah kisah sukses bagi dokter seperti Money yang percaya bahwa jenis kelamin adalah sesuatu yang bisa dipelajari dan diajarkan, dan bukan sesuatu yang alami.

Tapi pada kenyataannya, Reimer bermasalah dengan identitas jenis kelaminnya sejak dia kanak-kanak. Begitu dia mengetahui kenyataan bahwa dia dilahirkan sebagai laki-laki ketika dia remaja, Reimer mengamali perjalanan yang menyakitkan untuk mengembalikan jenis kelamin biologisnya.

Kemudian, pada tahun 2004, eksperimen seksolog yang Bernama Money ini menimbulkan trageiy bagi keluarga Reimer secara keseluruhan. Waku usianya baru mencapai 38 tahun, Reimer melakukan bunuh diri.

Masa depan David Reimer diputuskan oleh seorang seksolog yang Bernama John Money

 David Reimer And Brian Reimer

David Reimer dilahirkan sebagai Bruce Reimer di Winnipeg, Kanada, pada tahun 1965. Dia mempunyai seorang saudara kembar Bernama Brian, dan keduanya merupakan anak pertama dari pasangan suami istri kampung, yaitu Janet dan Ron.

Kedua anak kembar ini sehat-sehat saja tapi, ketika keduanya berusia delapan bulan, mereka menunjukkan tanda-tanda kesulitan buang air kecil. Mereka berdua didagnosis mengalami phimosis, sebuah kondisi di mana kulup penis tidak bisa bereaksi.

Kedua orang tua mereka membawa mereka ke rumah sakit untuk disunat, namun setelah operasi yang dialami Bruce Reimer berjalan kacau karena si dokter menggunakan jarum elektro kauter, bukannya pisau, maka Brian tidak jadi dioperasi, dan phimosis yang dia alami sembuh secara alami.

Dalam keadaan putus asa, kedua orang tua David Reimer kemudian mencari solusi untuk mengatasi masalah itu hingga mereka melihat seorang psikolog yang Bernama John Money berbicara tentang pekerjaannya di TV.

Money dianggap sebagai salah satu dari peneliti tentang jenis kelamin di Amerika Serikat, dan dia memiliki spesialisasi dalam bidang pengalaman anak-anak interseks yang, menurut Komisis Hak Azazi Manusia PBB, “tidak sesuai dengan definisi khusus bagi laki-laki maupun perempuan.”

Ibunya Reimer menulis surat kepada Money yang isinya menjelaskan pengalaman mengerikan yang dialami anak mereka. Beberapa minggu kemudian, pasangan orang tua muda tersebut pergi menemui sang dokter di John Hopkins Hospital di Baltimore, Maryland.

Money percaya bahwa identitas gender seseorang adalah sebuah konstruksi sosial dan merupakan hasil dari pengasuhan mereka. Dengan demikian, dia beranggapan bahwa seseorang bisa “diajarkan” untuk memiliki identitas yang berbeda dengan jenis kelamin mereka sejak lahir.

Money berpikir bahwa anak-anak sesungguhnya “gender-netral” hingga mereka mencapai usia dua tahun dan dia berteori bahwa para orang tua mempunyai periode waktu yang dia sebut sebagai “gender-gate” yaitu masa di mana mereka bisa memberi pengaruh pada jenis kelamin anak mereka secara behavioral.

Sang dokter kemudian membuat usulan radikal untuk mengubah jenis kelamin Reimer dengan melakukan bedah, yang termasuk membuang penisnya dan menggantinya dengan vagina prostetik. Kemudian dia akan dibesarkan sebagai perempuan dan identitas lahirnya akan dirahasiakan. Orang tua Reimer setuju, dan transisi jenis kelamin itupun dimulai beberapa saat sebelum usianya genap dua tahun pada tahun 1967.

Bagi Money, situasi ini juga memberi dia sebuah kesempatan untuk melanjutkan penelitiannya tentang identitas gender. Namun gagasan medis yang dia berikan terbukti salah fatal dalam kasus David Reimer ini.

Perjuangan menjadi David Reimer

 David Reimer And His Wife Jane

Atas rekomendasi dari John Money, Bruce Reimer kemudian menjalani hidup sebagai Brenda Reimer.

Sebagai tambahan dari bedah penyesuaian jenis kelamin tersebut, Reimer juga diberi suplemen estrogen untuk membantu “memfemininasi” tubuhnya. Orang tua Reimer Kembali menemui Money di kantornya setiap tahun sehingga si dokter bisa memonitor perkembangan Brian dan Brenda baik sebagai laki-laki maupun sebagai perempuan. Penelitian radikal tersebut kemudian dikenal sebagai kasus John/Joan.

Money memperhatikan bahwa si anak ‘gadis’ kembar tersebut (Si Brenda), ternyata “lebih rapi” daripada saudara kembarnya yang laki-laki, yaitu Brian. Money juga mencatat bahwa kepribadian Brenda ternyata lebih bandel dan dominan, yang dia anggap sebagai “sifat tomboy.

Pada tahun 1975, si kembar menginjak usia Sembilan tahun, Money menerbitkan hasil penelitiannya berupa sebuah buku yang berjudul Sexual Signatures di mana dia menggambarkan perubahan jenis kelamin Reimer menjadi Brenda sebagai berhasil.

“Si gadis Brenda lebih suka memakai gaun daripada celana panjang dan menyukai memakai pita di rambutnya, kalung, dan blus berenda, dan menikmati menjadi anak kesayangan ayahnya. Selama masa kanak-kanaknya, kebandelan dan energi fisik yang berlebihan yang dia miliki bersama-sama dengan saudara kembarnya terus bertumbuh dan menjadikan dia sebagai gadis tomboi, namun tetaplah seorang gadis,” begitu, antara lain, kutipan dari buku tersebut.

Namun tidak ada yang benar-benar bisa disembunyikan. Nyatanya, Reimer menyebut masa kanak-kanaknya sebagai jauh lebih menyedihkan.

“Saya tidak pernah benar-benar merasa pas,” kata David Reimer dalam sebuah wawancara pada tahun 2000 dalam acaranya Oprah. “Membuat benteng mainan dan terlibat dalam perkelahian yang aneh, memanjat pohon—itu adalah tingkah laku yang saya suka, namun itu tidak cocok dengan kenyataan bahwa saya adalah seroang gadis.”

Menurut penulis John Colapinto yang bekerja sama denganReimer dalam menulis bukunya yang berjudul As Nature Made Him: The Boy Who Was Raised as A Girl, seringnya Reimer melakukan kunjungan ke kantor Money juga menimbulkan trauma.

Reimer diperlihatkan gambar-gambar  orang dewasa telanjang untuk “memperkuat identitas gender Brenda pada dirinya” dan dipaksa oleh Money untuk menjalani bedah lebih banyak lagi untuk membuat tubuhnya menjadi lebih femimin. Reimer dan kembarannya kemudian menuduh Money telah memaksa mereka berpose dalam berbagai posisi seksual yang, menurut Money, hanya merupakan elemen lain dari teorinya yang melibatkan “permainan latihan seksual.”

Janet Reimer juga disebut-sebut tidaklah menutup mata atas ketidaknyamanan yang dirasakan Reimer atas jenis kelaminnya sebagai perempuan. Dia menceritakan bahwa pada waktu pertama kali dipakaikan pakaian perempuan, dia marah dan merobek pakaian tersebut. “Selalu timbul keraguan di sepanjang masa,” kata Janet dalam acaranya Oprah. “Namun saya tidak bisa memikirkan mereka terus menerus karena saya tidak bisa merasa salah.”

Masalah-masalah yang timbul di rumah berlanjut ke sekolah. Reimer sering diledek oleh teman-teman sekelasnya karena “cara berjalannya yang seperti laki-laki” dan karena dia buang air kecil dalam posisi berdiri di WC perempuan. Ketika Reimer mengeluh bahwa dia merasa sebagai laki-laki, kedua orang tuanya dan orang-orang dewasa di sekitarnya meyakinkan dia bahwa itu hanyalah salah satu tahap dalam perkembangan jiwanya.

Rahasia Reimer mengganggu kehidupan keluarganya. Ayahnya mengengelamkan diri dalam minuman beralkohol dan ibunya berusaha melakukan bunuh diri. Saudara kembar Reimer, Brian, kemudian terlibat dalam penyalahgunaan obat dan melakukan tindak kriminal kecil-kecilan.

Hingga akhirnya si kembar menginjak remaja, barulah para dokter meyakinkan keluarga Reimer bahwa sudah saatnya membuka rahasia. Setelah menjemput Brenda dari ruang kerja psikolog pada tahun 1980, Ron Reimer membawa kedua anak kembarnya tersebut ke tempat penjual es krim, di mana dia menceritakan segalanya pada mereka.

“Tiba-tiba saya merasa menemukan alasan mengapa saya memiliki perasaan seperti yang saya rasakan,” kata Reimer dalam pengungkapannya. “Ternyata saya tidaklah aneh. Saya tidaklah gila.”

Setelah menemukan kebenaran, Reimer memilih hidup sebagai seorang laki-laki dan menggunakan nama “David.”

Kemudian dia menjalani berbagai bedah untuk mengembalikan jenis kelaminnya sebagai laki-laki, termasuk sebuah bedah double mastectomy untuk menghilangkan payudara yang telah tumbuh akibat bertahun-tahun menjalani terapi estrogen dan operasi memasang penis buatan di tempat yang dulu dipasang vagina buatan. Dia juga mengonsumsi suplemen testosterone.

Namun tekanan fisik memengaruhi keselahatan mentalnya. Pada waktu menginjak usia 20-an, Reimer telah melakukan dua kali percobaan bunuh diri dan terus mengalami depresi beberapa tahun kemudian.

Akan tetapi, meski menderita lahir batin, Reimer akhirnya menemukan kasih sayang dan menikahi seorang Wanita yang Bernama Jane. Mereka hidup bersama selama 14 tahun. Dia menjadi ayah tiri dari tiga anak dan mengembangkan hobinya seperti berkemah, memancing, dan mengumpulkan koin.

Reimer kemudian setuju bekerja sama dengan ahli seksologi yang kedua yang Bernama Milton Diamond dengan harapan bahwa pengalamannya tersebut akan bisa menjadi pelajaran guna mencegah kejadian serupa terulang lagi di masa yang akan datang.

Diamond mengkritik penelitian Money karena kurangnya bukti-bukti dan dia bekerja sama dengan Reimer untuk membantah teorinya Money yang berbunyi bahwa identitas gender bisa dipelajari atau diajarkan. Pada tahun 1997, pada waktu Reimer mulai berbicara di depan publik tentang penderitaannya semasa kanak-kanak, penelitian Diamond diterbitkan dalam jurnal Archives of Pediatrics and Adolescent Medicine.

Hasil penelitian terobosan tersebut telah meletakkan fondasi tentang bahayanya melakukan bedah penyesuaian jenis kelamin pada bayi interseks, yang semula dianggap “cocok’ bagi biologi mereka yang tidak sesuai dengan gender mereka.

Namun validasi dari penelitian tersebut tidaklah cukup bagi Reimer untuk mengatasi masa kanak-kanaknya yang traumatis. Pada bulan Mei tahun 2004, dua tahun setelah saudara kembarnya menyerah melawan overdosis obat-obatan, David Reimer melakukan bunuh diri. Usianya ketika itu 38 tahun.

Kasus Reimer ini kompleks. Perubahan jenis kelaminnya yang pertama dilakukan atas dasar kecelakaan medis dan teori ilmiah. Sebagai akibatnya, dia mengalami gender dysphoria, yaitu perasaan bahwa jenis kelami biologis berbeda dengan identitas gendernya. Orang yang merupakan transgender sering kali mengalami gender dysphoria sejak usia dini mereka.

Reimer boleh jadi telah mati, namun perjuangannya untuk mengembalikan identitas jenis kelaminnya telah memberi sumbangan dalam upaya pemahaman yang lebih dalam tentang hubungan antara jenis gender dengan jenis kelamin biologis.


After this look at the story of David Reimer, meet Maryam Khatoon Molkara, the transgender Iranian activist who helped legalize gender-confirming surgeries in Iran. Then, learn about the hard realities faced by transgender people the world over.

https://allthatsinteresting.com/david-reimer

Read more

0 Mau Diapakan Lahan Kosong di depan Kantor DRPD Ini?

 


Mau diapakan lahan kosong di depan Gedung DPRD, yang juga di depan Kantor Bupati Pesisir Barat ini. Sampai sekarang, lahan ini masih dibiarkan kosong. Sedangkan Kantor Bupati Sementara yang dulu menempati lahan ini sudah di gusur sejak lama, yang membuat Kantor Bupati, dan kantor-kantor kedinasan lain, berpindah ke mana-mana.

Menurut kabar yang santer beredar di kalangan masyarakat Pesisir Barat, di lahan kosong, di antara Gedung DPRD dan Kantor Bupati, ini akan dibangun satu unit Gedung Islamic Center yang megah, yang akan menelan biaya ratusan miliar rupiah.

Konon pula, menurut desas-desus, ketua DPR RI Ibu Puan Maharani akan menyumbang Rp. 500 milliar (ya, lima ratus miliar Rupiah!) untuk membangun proyek ini, tapi hingga sekarang belum ada tanda-tanda proyek ini akan segera terlaksana. Mengeluarkan uang Rp. 500 miliar hanya untuk sebuah proyek di sebuah kabupaten terpencil di Provinsi Lampung ini tampaknya bukanlah sebuah prioritas bagi Puan, kalau tidak mau disebut omong kosong.

Lalu, yang terbaru, beredar pula kabar di media sosial Facebook bahwa Pemerintah Kabupaten Pesisir Barat berencana meminjam uang sebesar RP. 125 miliar dari Bank Lampung demi terwujudnya proyek ini. 


 

Kalau kabar ini benar, alangkah beratnya beban hutang kabupaten yang tergolong sebagai daerah 3T ini di masa yang akan datang, demi untuk mewujudkan proyek-proyek yang di masa Soekarno disebut sebagai Proyek Mercusuar. Apalagi, kabarnya pula, Pemkab Kabupaten ini sebelumnya telah meminjam uang dari bank sebesar Rp. 300 miliar untuk membangun kantor bupati, yang hingga sekarang tak kunjung selesai itu.

Visi Bupati Kabupaten Pesisir Barat ini mungkin adalah pembangunan yang serba mewah. Itu bisa kita lihat dari pembangunan Kantor Bupati berlantai lima yang luas dan megah, dan kantor-kantor Pemerintahan lain, yang untuk mewujudkannya terpaksa harus menggusur perkampungan penduduk, yang tentu saja menelan biaya yang tidak sedikit. Lalu, Gedung DRPD berlantai tiga yang juga mewah, yang mungkin over kapasitas karena anggota DPRD Kabupaten ini hanya 25 orang. Lalu, Gedung SMPN 1 Krui yang juga megah, berlantai tiga, tapi hingga sekarang juga belum selesai. Lalu, Gedung Islamic Center yang masih dalam angan-angan itu.

Membangun yang serba mewah tentu boleh-boleh saja, apalagi jika dana untuk itu tersedia dengan mudah. Tapi faktanya, Kabupaten Pesisir Barat ini tergolong kabupaten miskin, dengan PAD yang kecil, dan anggaran dari Pemerintah Pusat yang juga kecil. Dengan keadaan yang demikian, pembangunan gedung-gedung gedung-gedung mewah itu tentu akan membuat kas Pemkab kelimpungan, dan terpaksa harus pinjam sana-sini. Sementara, pembangunan di sektor lain, juga menunggu kucuran dana.

Akibatnya, terdengar pula desas-desus bahwa Pemkab Pesisir Barat berencana memotong honor pegawai kontrak sebesar 50%, yang, jika ini benar terjadi, tentu akan merupakan sebuah kegagalan pemerintahan yang paling konyol sepanjang sejarah Republik ini. Di mana-mana, yang namanya gaji itu naik atau bertambah, bukannya berkurang atau turun, apalagi hingga 50%. Apalagi di masa ekonomi sedang sulit-sulitnya karena Pendemi Covid-19 seperti saat ini.

Kembali ke lahan kosong di depan Gedung DPRD itu. Daripada meminjam uang lagi untuk membangun gedung mewah, apakah tidak lebih baik jika lahan itu tetap dibiarkan kosong, atau difungsikan sebagai ruang publik, atau alun-alun.

Alun-alun, atau ruang publik di sebuah kota sangat dibutuhkan sebagai tempat masyarakat berinteraksi atau rekreasi.

Di samping itu, adanya ruang kosong di depan Gedung DPRD dan Kantor Bupati itu akan membuat kedua gedung itu lebih terekspos, dan tampak lebih menawan bagi kendaraan yang melintas karena tidak ada yang menutupinya.

Read more

0 Semboyan yang Tidak Produktif

Ada satu yang menjadi unek-unek dan menganjal dalam pikiran saya sehubungan dengan visi dan misi Kabupaten Pesisir Barat, Provinsi Lampung, yang saya cintai ini, yaitu penggunaan tag line atau semboyan Negeri Para Sai Batin dan Ulama. Semboyan atau tag line ini pasif alias tidak produktif, dan bisa menimbulkan interpretasi yang tidak menguntungkan bagi perkembangan kabupaten ini ke depannya.

Entah apa yang terjadi. Ketika saya search di Google, kabupaten ini masih menggunakan semboyan lama yaitu, Helauni Kik Baghong (Lebih indah jika bersama). Tapi, tiba-tiba, dalam promosi dan propagandanya di media sosial dan media cetak belakangan ini, mereka menggunakan semboyan Negeri Para Sai batin dan Ulama seperti di atas.

Jika dibandingkan dengan semboyan Kabupaten Lampung Barat, induk dari kabupaten ini, yang berbunyi Beguwai Jejama (Bekerja bersama), jelas perbedaannya seratus delapan puluh derajat. Semboyan Kabupaten Lampung Barat jelas mencerminkan filosopi kerja, cara bekerja atau semangat kerja bagi masyarakatnya, sedangkan semboyan  Kabupaten Pesisir Barat sama sekali tidak mencerminkan semangat kerja. Alih-alih menimbulkan semangat kerja, semboyan Kabupaten Pesisir Barat seolah-olah merupakan sebuah peringatan, atau wanti-wanti, atau hanya label, atau pemberitahuan semata tentang karakter masyarakat derah ini, yang taat beribadah. Bagi masyarakat luar Pesisir Barat, semboyan ini bisa jadi merupakan sebuah peringatan.

Dalam perspektif Pemerintah Jokowi, semboyan Kabupatn Pesisir Barat ini jelas kontraproduktif. Dengan tag line yang sangat terkenal, Kerja, Kerja, Kerja, Pemerintah Jokowi jelas-jelas ingin membangkitkan semangat rakyat untuk bekerja, jangan hanya ngomong semata, sedangkan semboyan Kabupaten Pesisir Barat ini terkesan sebaliknya.

Semboyan sebuah kabupaten semestinya merupakan sesuatu yang memberi inspirasi atau semangat kerja bagi penduduknya, bukan hanya menunjukkan ciri khas wilayah tersebut karena sebuah semboyan sekalipun bisa menimbulkan dampak yang luas jika dibaca dan dihayati secara terus menerus (negeri kita bisa merdeka dari penjajah tentunya sedikit banyak tercapai berkat semboyan Merdeka atau Mati yang mengebu-gebu itu), apalagi Kabupaten Pesisir Barat masih tergolong  sebagai daerah  tertinggal, yang tentunya masih memerlukan penyemangat, pendorong, dan pemantik untuk kerja keras.

Selain itu, semboyan  Negeri Para Sai Batin dan Ulama ini juga bisa jadi kurang menguntungkan bagi pengembangan industri wisata kabupaten ini—wisata merupakan salah satu sektor andalan Kabupaten Pesisir Barat. Sektor wisata, jika dikelola dengan benar, bisa mendatangkan revenue yang yang tidak sedikit, yang bisa dijadikan andalan bagi pendapatan asli daerah ini. Namun semboyan tersebut bisa menimbulkan kesan bahwa kabupaten ini memperlakukan wisatawan dengan cara yang sama dengan yang dilaksanakan di Aceh. Semboyan Negeri Para Sai Batin dan Ulama ini, mau tidak mau, memberi kesan bahwa ulama turut serta mengendalikan pemerintahan di kabupaten ini, dan mengawasi setiap gerak-gerik wisatawan yang masuk ke wilayah ini. Tabik.

 

Read more
 
© Hasim's Space | Design by Blog template in collaboration with Concert Tickets, and Menopause symptoms
Powered by Blogger