Headlines

Powered by Blogger.

0 Fundamentalisme Religius Ada Hubungannya dengan Kerusakan Otak

Mike Pence pointing
Mike Pence (Photo: Gage Skidmore/Flickr)

Sebuah penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Neuropsychologia menunjukkan bahwa fundamentalisme religius adalah, sebagian, merupakan akibat dari adanya gangguan di wilayah otak yang dikenal sebagai prefrontal cortex. Temuan tersebut mengisyaratkan bahwa kerusakan pada bagian tertentu dari prefrontal cortex secara tidak langsung bisa mengakibatkan fundamentalisme religius dengan cara melemahkan fleksibilitas kognitif dan keterbukaan—sebuah istilah psikologi yang menggambarkan sebuah sifat kepribadian yang melibatkan dimensi seperti rasa ingin tahu (curiosity), kreativitas, dan keterbukaan pikiran.

Kepercayaan religius bisa dianggap sebagai representasi mental yang ditransmisikan secara sosial yang mencakup peristiwa-peristiwa supernatural dan entitas-entitas yang dianggap merupakan kenyataan. Kepercayaan religius berbeda dari kepercayaan empiris, yang berdasarkan bagaimana keadaan dunia yang sebenarnya dan di-update  ketika ada bukti-bukti baru ditemukan atau ketika ada bermunculan teori-teori baru dengan kekuatan prediktif yang lebih baik. Di sisi lain, kepercayaan religius tidak biasanya di-update meski ada bukti-bukti baru atau ada penjelasan-penjelasan ilmiah baru, dan dengan demikian sangat erat dihubung-hubungkan dengan konservatisme. Kepercayaan religius bersifat tetap dan kaku (fixed and rigid), yang dengan demikian bisa semakin memperkuat prediktabilitas dan koherensi terhadap aturan masyarakat di antara masing-masing individu di dalam kelompok tersebut. 

Fundamentalisme religius merujuk pada sebuah ideologi yang menekankan pada teks-teks religius tradisional dan ritual-ritual dan mengabaikan pikiran progresif tentang agama dan isu-isu sosial. Kelompok-kelompok fundamentalis biasanya menentang segala sesuatu yang mempertanyakan dan menentang kepercayaan mereka atau cara hidup mereka. Oleh karena itu, mereka sering kali agresif terhadap orang lain yang tidak memiliki kepercayaan-kepercayaan supernatural yang sama, dan terhadap sains, karena hal-hal serupa itu dianggap merupakan ancaman berbahaya terhadap pandangan mereka secara keseluruhan.

Karena kepercayaan religius memainkan peran besar dalam mengarahkan dan memengaruhi tingkah laku manusia di seluruh dunia, maka adalah penting untuk memahami fenomena fundamentalisme religius ini dari persfektif psikologis dan neurologis.

Untuk meneliti sistem kognitif dan sistem neural (sistem saraf) yang memengaruhi fundamentalisme religius, satu tim peneliti—yang dipimpin oleh Jordan Grafman dari Northwestern University—melakukan sebuah penelitian yang mengggunakan data dari para Veteran Perang Vietnam yang telah dikumpulkan sebelumnya. Para veteran tersebut dipilih secara khusus karena sejumlah besar dari mereka mengalami kerusakan di wilayah otak yang dianggap memainkan peran penting dalam fungsi-fungsi yang berhubungan dengan fundamentalisme religius. Hasil-hasil CT-scan dianalisis dengan membandingkan 119 orang veteran yang mengalami trauma otak dengan 30 orang veteran sehat yang tidak mengalami kerusakan apa-apa. Mereka juga melakukan sebuah survei untuk menilai fundamentalisme religius. Meski mayoritas partisipan memeluk agama Kristen tertentu, namun 32,5% dari mereka tidak menyatakan memeluk agama apapun.

Berdasarkan penelitian sebelumnya, para peneliti memperkirakan bahwa prefrontal cortex memainkan peran dalam fundamentalisme religius, karena agama dikenal berhubungan dengan sesuatu yang disebut ‘fleksibilitas kognitif’. Istilah ini mengacu pada kemampuan otak untuk dengan mudah berpindah dari berpikir tentang salah satu konsep ke konsep lainnya, dan untuk berpikir tentang banyak hal secara bersamaan. Feksibilitas kognitif memungkinkan organisme meng-update kepercayaan mereka jika ada bukti-bukti baru, dan sifat ini muncul tampaknya karena adanya keuntungan survival (survival advantage) yang nyata dari skill tersebut. Fleksibilitas kognitif merupakan karakteristik mental yang krusial untuk beradaptasi terhadap lingkungan-lingkungan baru karena dia memungkinkan para individual untuk membuat prediksi lebih akurat tentang dunia di dalam kondisi yang baru dan berubah-ubah. 

Pencitraan otak (brain imaging) telah menunjukkan bahwa sebuah wilayah neural utama (major neural region) yang berhubungan dengan fleksibilitas kognitif adalah prefrontal cortex—khususnya dua wilayah yang dikenal sebagai dorsolateral prefrontal cortex (dlPFC) dan ventromedial prefrontal cortex (vmPFC). Sebagai tambahan, vmPFC menarik bagi para peneliti karena penelitian-penelitian terdahulu telah menunjukkan adanya hubungan vmPFC dengan kepercayaan-kepercayaan sejenis fundamentalis. Sebagai contoh,  sebuah penelitian menunjukkan bahwa individual yang mengalami kerusakan vmPFC menilai pernyataan-pernyataan politik yang radikal sebagai lebih moderat dibandingkan dengan orang yang otaknya normal, sedangkan penelitian yang lainnya menunjukkan adanya hubungan langsung antara kerusakan vmPFC dengan fundamentalisme religius. Karena alasan ini, dalam penelitian-penelitian terkini, para peneliti mengamati para pasien yang mengalami kerusakan baik di dalam vmPFC maupun dalam dlPFC, dan mencari korelasi antara kerusakan di dalam wilayah ini dengan jawaban-jawaban mereka terhadap pertanyaan-pertanyaan tentang fundamentalisme religius.

Menurut Dr. Grafman dan timnya, karena fundamentalisme religius melibatkan kesetiaan yang kuat terhadap seperangkat kepercayaan yang kaku, maka fleksibiltas kognitif dan keterbukaan pikiran menjadi tantangan bagi kaum fundamentalis. Dengan demikian, mereka memprediksi bahwa para partisipan yang mengalami kerusakan pada vmPFC ataupun dlPFC akan mendapat nilai rendah dalam ukuran fleksibilitas kognitif dan sifat keterbukaan dan nilai yang tinggi dalam ukuran fundamentalisme religius.

Hasil-hasil tersebut menunjukkan bahwa, seperti yang diperkirakan, kerusakan pada vmPFC maupun pada dlPFC ada hubungannya dengan fundamentalisme religius. Uji tahap lanjut mengungkapkan  bahwa peningkatan dalam fundamentalisme religius ini disebabkan oleh adanya penurunan dalam fleksibilitas kognitif dan keterbukaan akibat adanya kerusakan prefrontal cortex. Fleksibilitas kognitif dinilai dengan menggunakan standar tes memilah kartu psikologis yang mencakupkan mengategorikan kartu-kartu yang berisikan kata-kata dan gambar-gambar sesuai aturan. Keterbukaan diukur dengan menggunakan sebuah survei kepribadian yang banyak digunakan yang dikenal asebagai NEO Personality Inventory. Data yang didapat mengisyaratkan bahwa kerusakan pada vmPFC secara tidak langsung bisa menimbulkan fundamentalisme religius dengan cara melemahkan fleksibiltas kognitif dan keterbukaan.

Temuan ini penting karena mengisyaratkan bahwa gangguan fungsi prefrontal cortex—apakah karena trauma otak, gangguan psikologis, kecanduan obat atau alkohol, atau karena profil genetik tertentu—bisa membuat seseorang terkena fundamentalisme religius. Dan mungkin dalam kasus-kasus lainnya, indoktrinasi religius yang esktrem akan merusak perkembangan atau fungsi wilayah prefrontal yang semestinya dengan cara menghambat fleksibiltas kognitif dan keterbukaan.

Para penulis dalam penelitian tersebut menekankan bahwa fleksibilitas kognitif dan keterbukaan bukanlah satu-satunya yang membuat otak menjadi rentan terhadap fundamentalisme religius. Nyatanya, analisis mereka menunjukkan bahwa faktor-faktor tersebut hanya seperlima dari variasi di dalam nilai-nilai fundamentalisme. Untuk mengetahui sebab-sebab lainnya, yang bisa jadi meliputi mulai dari predisposisi genetik hingga pengaruh-pengaruh sosial, adalah merupakan proyek riset masa depan yang dipercaya akan menyibukkan para peneliti di masa-masa yang akan datang, mengingat betapa kompleks dan luasnya fundamentalisme religius ini dan akan terus ada hingga beberapa lama.

Dengan meneliti  kognitif dan neural yang merupakan penopang fundamentalisme religius, kita bisa memahami dengan lebih baik bagaimana fenomena tersebut timbul di dalam konektivitas otak, yang bisa memungkinkan kita di suatu saat nanti bisa menangkal sistem-sistem kepercayaan yang radikal dan kaku melalui berbagai latihan kognitif dan mental. (By Bobby Azarian).

Bobby Azarian is a freelance writer with a PhD in neuroscience. His research has been published in journals such as Cognition & Emotion and Human Brain Mapping, and he has written for The Atlantic, The New York Times, BBC Future, Scientific American, Psychology Today, and others. Follow him @BobbyAzarian.

https://www.rawstory.com/2018/03/scientists-established-link-brain-damage-religious-fundamentalism/
Read more

0 Penyakit Mental; Psikolog, Psikiater, atau Terapis?


gSource: mydallascounselors.com 

Keputusan tentang jalur perawatan kesehatan mental yang akan diambil sering kali tergantung pada asuransi kesehatan orang yang bersangkutan, dan tampaknya ini berarti mencari mana yang murah. Pilihan perawatan yang tersedia adalah dengan pisikiater, psikolog, atau terapis (ahli terapi). Paling sering pilihannya adalah antara psikolog atau terapis. Akan tetapi, keputusan yang akan diambil hendaklah tidak berdasarkan biaya, tetapi lebih pada hakikat dari masalah yang dihadapi.

Apakah Psikolog itu?

Source: ktmc.info
Seorang psikolog adalah seorang dokter dengan gelar PhD atau Psy.D. Seorang PhD melakukan praktik baik sebagai ahli klinik, peneliti, atau keduanya. Seorang psikolog bisa mendiagnosis dan juga bisa mengobati gangguan mental, dan sering kali bekerja sama dengan seorang psikiater untuk menangani gangguan-gangguan tertentu yang berwujud sebagai simptom fisik dan neurologik. Dalam beberapa keadaan, para psikolog juga bisa meresepkan obat, namun jika mereka tidak bisa, psikiater yang akan membuatkan resep. Bagi kondisi-kondisi tertentu, ketika perawatan (treatment) telah sampai pada tingkat yang menentukan (prescribed level), si psikolog bisa merujuk pasien pada seorang terapis yang kemudian akan menyediakan serangkaian langkah-langkah strategis. Akan tetapi, tidak semua kondisi kesehatan mental bisa dirujuk pada terapis.

Apakah Terapis Itu?

Source: clipartpanda.com 
Seorang terapis umumnya memiliki pendidikan setingkat Master dalam bidang psikologi konseling, spikologi, atau kerja sosial (social work). Terapis tidak biasanya melakukan penelitian; akan tetapi, mereka bisa menulis publikasi berdasarkan riset. Tugas utama mereka adalah menyediakan intervensi terapeutik bagi para pasien yang mengalami gangguan atau masalah mood yang bisa diatasi atau bersifat situasional. Terapis setingkat Master tidak mendiagnosis atau “mengobati” pasien. Bagi kasus-kasus yang lebih berat, mereka sering kali bekerja sama dengan seorang psikolog atau psikiater.  Tipe-tipe pasien  atau klien yang mereka tangani adalah mereka yang kemungkinan besar membutuhkan penanganan terapi behavioral atau kognitif.

Kondisi-kondisi yang Paling Resisten terhadap Intervensi Terapeutik

Source: medbridgeeducation.com

Keberhasilan terapi tergantung pada keinginan klien atau pasien untuk menjadi partisipan yang aktif selama masa penanganan. Hubungan antara terapis dan klien sering kali disebut sebagai sebuah aliansi terapeutik, dan hasil yang positif tergantung pada hubungan ini. Oleh karena itu, penyakit-penyakit mental jenis tertentu tidaklah tepat ditangani terapis, atau terapi saja tanpa adanya pengawasan dari seorang psikolog atau psikiater. Sebagian dari penyakit-penyakit mental tersebut adalah:
  • Depresi klinis (clinical depression)
  • Skizofrenia
  • Gangguan panik (Panic disorders)
  • Gangguan bipolar
  • Gangguan kepribadian (Personality disorders)
  • Gangguan kecemasan (Anxiety disorders)
  • Gangguan stress pasca trauma (Post-traumatic stress disorders)
Kebanyakan, jika tidak semuanya, dari jenis-jenis gangguan di atas sering kali ditangani dengan kombinasi obat resep (prescription medication) dan terapi gangguan kognitif (CBT) atau DBT.

Kenapa Terapi?

Jenis-jenis kasus yang biasanya ditangani terapis berhubungan dengan gangguan situasional temporer, seperti depresi ringan atau nonspesifik, kecemasan, kedukaan (grief), konflik keluarga atau konflik perkawinan. Jenis-jenis gangguan ini bisa terjadi disertai oleh penyakit mental yang lebih serius, namun gangguan-gangguan tersebut umumnya lebih cocok ditangani terapis. Mereka yang mengalami gangguan ini lebih besar kemungkinannya akan berpartisipasi dalam sesi penganangan oleh terapis dan melakukan “pekerjaan rumah” yang diberikan oleh si terapis.

Source: students.usask.ca 
Sering kali, kerja sama dengan seorang psikiater atau psikolog bersifat pasif, khususnya jika melibatkan pengobatan medis. Para psikolog dan terapis adalah para profesional yang menggunakan strategi cognitive-behavioral dalam menangani pasien mereka, dan membantu mereka mendapatkan hasil pengobatan yang positif. Untuk mendapatkani ini, si pasien harus berada dalam kebaikan mental level tertentu.

Rekomendasi 

Source: sagewillow.com 
Kebanyakan orang yang mencari terapi adalah mereka yang perlu berbicara tentang masalah yang mereka hadapi, dan dalam melakukan ini, mereka boleh jadi mengalami insight (pandangan) ke dalam masalah mereka.

Ketika seseorang bekerja sama dengan terapis, dan dia mampu sampai pada kesadaran tentang bagaimana dia menciptakan konflik atau perselisihan di dalam hidupnya, atau paling tidak berkontribusi terhadap masalah yang telah mengganggu kemampuannya untuk melakukan fungsi dengan cara yang sehat dan produktif, maka dia akan mendapatkan kekuatan untuk sembuh.
Untuk mendapatkan informasi lebih lanjut tentang manfaat terapi online, kunjungi BetterHelp.

Belajar Menggambarkan Perasaan Anda.

Jika Anda mengunjungi seorang psikolog, maka yang terpenting bagi si spikolog adalah memahami perasaan Anda. Pekerjaan mereka adalah mengidentifikasi dan menjelaskan emosi Anda. Kemudian, mereka melakukan penagangan pasif dan/atau mengontrol emosi Anda.

Akan tetapi, ketika Anda mengunjungi seorang terapis, maka pekerjaan mereka adalah membimbing dan mendukung Anda untuk meneliti perasaan Anda sendiri. Mereka boleh jadi akan menyuruh Anda memikirkan tentang bagaimana perasaan Anda atau membantu Anda menggambarkan emosi Anda, tetapi Andalah satu-satunya yang bersentuhan dengan perasaan Anda sendiri. Terapis boleh jadi akan menyarankan Anda cara-cara bagi Anda untuk memahami dan memperbaiki perasaan sedih atau marah, sebagai contoh, namun Andalah satu-satunya yang menentukan pilihan apa yang akan Anda lakukan dan jika demikian, apa yang akan Anda lakukan itu.

Source: nymag.com 

Praktik Membuat Keputusan 

Seorang psikolog membuat semua keputusan tentang penanganan macam apa yang akan dilakukan. Akan tetapi, Anda tetap merupakan orang yang bertanggung jawab bagi hidup Anda kecuali dalam hal Anda bisa membahayakan diri Anda sendiri atau orang lain. Psikolog adalah seperti psikiater atau dokter medis lainnya dalam hal bahwa mereka menentukan apa yang perlu Anda lakukan untuk memperbaiki kesehatan mental Anda. Namun dengan pesikolog Anda kurang dilibatkan dalam menentukan keputusan dibandingkan dengan jika Anda ditangani seorang therapis. 

Seorang terapis mendorong Anda untuk memikirkan jawaban-jawaban terhadap masalah Anda sendiri. Mereka boleh jadi akan menawarkan ide-ide, tapi Andalah yang paling menentukan dalam mengambil keputusan dan mempertimbangkan pengananan macam apa yang akan Anda ambil. Karena masalah-masalah yang didiskusikan dengan seorang terapis biasanya berjangka pendek atau lunak, Anda mempunyai lebih banyak kelonggaran untuk memilih jalan yang Anda pikir terbaik.
Setelah Anda menjalani terapi selama beberapa waktu, Anda mungkin merasa bahwa membuat keputusan menjadi lebih mudah. Ini bisa terjadi mungkin karena proses terapeutik telah memberi Anda kesempatan yang cukup untuk praktik menjelajahi pilihan-pilihan, memikirkan apakah pilihan-pilihan tersebut akan berguna, membuat keputusan sendiri, melaksanakan keputusan tersebut, dan belajar dari pengalaman-pengalaman.

Apa Status Emosional Anda?

Para psikolog dan terapis disediakan untuk membantu Anda. Tapi Anda akan menemukan perbedaan dalam penganganan Anda. Seorang psikolog bertugas untuk mengawasi kondisi mental Anda, meresepkan cara-cara penanganan dan/atau pengobatan, dan dia bertanggung jawab memperbaiki Anda; sedangkan hubungan terapis-klien sedikit berbeda dengan hubungan psikolog-klien, dalam hal bahwa si psikolog lebih menentukan dibandingkan si klien.

Akan tetapi, dengan seorang terapis, Anda boleh jadi merasa bahwa status Anda hampir setara dengan si terapis itu. Anda bekerja sama dengannya untuk mengidentifikasi masalah yang Anda hadapi, menggambarkan perasaan Anda, dan menemukan solusi. Terapis ada di sana untuk membantu Anda, tetapi Anda akan terkesan bahwa Andalah yang lebih menentukan, khususnya dalam terapi interpersonal atau terapi yang berpusat pada klien. Banyak orang merasa lebih nyaman dengan seorang terapis karena hubungan mereka dengan si terapis tampak tidak berat sebelah. 
Source: bustle.com 

Seni dan Sains Terapi

Hampir dalam semua pekerjaan, ada seni dan sains-nya. Hal yang sama juga terdapat pada psikolog dan terapis. Seorang psikolog, akan tetapi, utama dan terutamanya adalah seorang ilmuwan. Mereka telah belajar tentang ilmu pikiran manusia dengan cara mempelajari/atau melaksanakan penelitian. Mereka lebih banyak berfokus pada metode ilmiah daripada sisi artistik, intuitif dari terapi. Sepertinya halnya dokter medis, mereka merujuk pada hasil-hasil penelitian telah terbukti cocok untuk menangani masalah klien yang serupa dengan Anda.

Seorang terapis berlisensi boleh jadi menggunakan hasil-hasil dari penelitian ilmiah sebagai basis bagi kebanyakan kerja mereka. Akan tetapi,  terapis lebih banyak melakukan pendekatan artistik terhadap terapi. Pikiran manusia merupakan sebuah sistem yang sangat kompleks, yang tidak selalu bisa dimengerti oleh sebuah penelitian yang hanya meneliti beberapa variabel yang terbatas. Seorang terapis memandang seseorang sebagai seorang manusia yang utuh. Tidak ada penelitian yang bisa memperhitungkan  setiap faktor dalam jiwa manusia dan banyak orang menemukan bahwa pendekatan yang artistik, intuitf ini lebih masuk akal bagi mereka.
 
Bagaimana Jika Saya Salah Memilih Spesialis?

Jadi, sekarang Anda bisa menebak mana yang terbaik Anda kunjungi, terapis atau psikolog. Lalu apa yang akan terjadi? Karena kedua ahli tersebut merupakan profesi pelayan, maka apakah itu psikolog ataukah terapis yang Anda pilih, mereka bisa saja merujuk Anda ke satu sama lain.

Terapis biasanya sesuai bagi kebutuhan orang yang mengalami penyakit mental serius yang  sedang ditangani oleh seorang psikolog dan/atau psikiater. Para psikolog kadang-kadang merujuk pasien ke terapis setelah sesi awal jika mereka meyakini bahwa masalahnya akan lebih baik jika ditangani dengan terapi bicara. Mereka juga boleh jadi akan mengirim Anda pada seorang terapis jika Anda menunjukkan keinginan bekerja dengan rajin untuk memperbaiki kesehatan mental Anda. Alasan lain seorang psikolog akan merujuk pada seorang terapis adalah jika kesehatan mental Anda telah membaik secara dramatis dan Anda siap menjadi lebih mandiri (self-directed).

Pada akhirnya, Anda selalu akan memilih seorang terapis. Kemampuan Anda memilih seorang psikolog boleh jadi dibatasi oleh asuransi Anda dan kondisi kesehatan mental Anda. Seorang terapis kenamaan yang berlisensi bisa secara efektif membuat pengobatan berjalan tidak peduli bagaimanapun kondisi Anda dan pastikan Anda ditangani oleh seorang profesional yang berkelayakan jika Anda perlu melakukan perubahan.

Periksalah Kredensial Mereka.

Tak peduli apakah Anda memutuskan untuk mengunjungi seorang psikolog atau seorang terapis, adalah sangat penting untuk mencari kepastian bahwa mereka adalah orang yang benar-benar memenuhi syarat. Meski asuransi Anda tampaknya akan menunjuk seorang psikolog yang cocok bagi Anda, tapi Anda juga perlu memastikan bahwa mereka telah menempuh pendidikan, pelatihan, dan sertifikasi yang diperlukan sesuai kebutuhan penanganan Anda—demi untuk kenyamanan Anda sendiri tentu saja.

Yang lebih penting adalah memeriksa credentials (ijazah dsb) dari si terapis. Alasannya adalah bahwa istilah “terapis,” tergantung masalah yang Anda hadapi, bisa digunakan untuk segala sesuatu mulai dari seorang konselor kesehatan mental hingga seorang pembimbing kehidupan (life coach) yang tak berpendidikan. Cari tahu tentang pendidikan mereka dan pengalaman mereka. Carilah orang yang spesialis dalam masalah yang sedang Anda hadapi atau dalam bidang terapi yang Anda inginkan. Pastikan bahwa mereka berlisensi sehingga Anda tahu bahwa mereka mempunyai ilmu pengetahuan untuk memberikan terapi yang layak.

Source: makeuseof.com 

Tak peduli apakah Anda mempercayakan perawatan Anda di tangan  seorang psikolog atau seorang terapis, Anda perlu mengetahui yang manakah mereka. Better Help telah memberi lisensi bagi para therapis online untuk membantu Anda melalui platform konseling online mereka. Jika Anda siap memulai therapi, maka tak ada alasan untuk menunggu.

Source: Better Help
Read more

0 Efek Samping Mariyuana yang Tidak Anda Ketahui


Dengan semakin banyaknya legalisasi mariyuana, maka kiranya penting untuk mencatat efek-efek samping dari obat ini. Meski daun ini mempunyai manfaat kesehatan dan manfaat ekonomi yang signifikan, namun jika nanti jadi dilegalisasi secara luas, masyarakat harus diberitahu tentang aspek-aspek negatif dari daun ini. Di bawah ini adalah efek-efek yang bisa jadi menakutkan dari mariyuana.

Kecanduan (Addiction)

Banyak orang memuja mariyuana karena kulaitas non-adiktifnya. Akan tetapi, pata dokter sangat tidak setuju dengan pernyataan tersebut. “Tidak ada keraguan lagi bahwa mariyuana it bersifat adiktif,” kata Dr. Sharon Levy, direktur Program Penyalahgunaan Obat Terlarang pada Remaja di Rumah Sakit Anak-Anak Boston, pada Boston Globe. Benar bahwa sekarang ini, hanya ada satu dari 11 orang dewasa muda yang merokok ganja (mariyuana) yang akan mengalami kecanduan. Akan tetapi, dengan semakin banyaknya potent products (produk ampuh) yang memasuki pasar, maka angka kecanduan akan semakin meningkat. Dan dengan sistem layanan kesehatan yang tidak memasukkan mariyuana sebagai kecanduan serius, maka orang tidak mempunyai tempat mengadu.

Resiko serangan jantung dan stroke

Meski mudah saja melihat seorang pengguna mariyuana mengalami ketenangan seperti yang mereka inginkan, namun mariyuana bisa meningkatkan resiko penyakit jantung sebanyak 20% hingga 100% segera setelah merokok daun ini, dan efek tersebut bisa bertahan hingga 3 jam, menururt Live Science dan National Institute on Drug Abuse. Hal ini bisa meningkatkan resiko terkena serangan jantung.

Sebuah studi tahun 2017 yang dilakukan oleh Einstein Medical Center di Philadelhia menyebutkan mereka yang menggunakan mariyuana 26 persen lebih besar kemungkinannya akan mengalami stroke dibandingkan dengan mereka yang tidak menggunakan mariyuana,” kata LiveScience. “Mereka yang diteliti juga mengalami 10 persen lebih besar kemungkinannya akan mengalami gagal jantung.”

Kehilangan memori

Pada tahun 2016, JAMA Internal Medicine menerbitkan sebuah penelitian yang mengonfirmasi bahwa mereka yang mengisap mariyuana dalam jangka lama, setiap hari, mengalami memori verbal yang lebih buruk di masa usia setengah baya mereka dibandingkan dengan mereka yang tidak merokok mariyuana. Penelitian tersebut menjelaskan istilah “jangka lama” berarti lima tahun atau lebih. Para peneliti meneliti 3.400 kebiasaan orang dalam periode lebih dari 25 tahun. Setiap orang di dalam kelompok tersebut menjalani ujian kemampuan kognitif di akhir masa penelitian, yang kemudian menentukan hasil dari penelitian tersebut. Legalisasi mariyuana di Amerika serikat boleh jadi akan membuat semakin banyak orang merokok mariyana setiap hari dalam jangka lama.

Iritasi paru-paru

Meski tidak ada bukti-bukti konklusif yang menunjukkan bahwa mariyuana bisa menyebabkan kanker paru-paru, namun tidak diragukan lagi mariyuana bisa menimbulkan serangkaian masalah respiratory (pernapasan) pada mereka yang sering menggunakannya, seperti batuk-batuk yang berkepanjangan, inflamasi saluran napas (airway inflammation), dan mengi (wheezing). Menurut Institut Obat-obatan dan Alkohol Universitas Washington, rokok ganja (mariyuana) mengandung zat-zat kimia berbahaya yang serupa dengan yang ada dalam rokok tembakau. Karena mariyuana menghendaki hisapan yang lebih dalam dibandingkan rokok sigaret, maka mariyuana menimbulkan konsenstrasi karbon monoksida lima kali lebih banyak dan konsenstrasi tar di dalam saluran pernapasan (respiratory) tiga kali lebih banyak dibandingkan dengan yang dtimimbulkan oleh sigaret.

Skizofrenia

Berbagai penelitian tentang efek mariyuana telah dilaksanakan dari tahun ke tahun, namun NBC baru-baru ini melaporkan bahwa  salah satu resiko dari mariyuana adalah bersifat serius—penyakit mental. Mariyuana bisa meningkatkan resiko seseorang terkena skizofrenia. Penyakit ini menyebabkan delusi, halusinasi, dan pikiran yang tidak jelas, dan sangat mempengaruhi kemampuan seseorang untuk berfungsi dengan baik. Mariyuana juga bisa meningkatkan depresi dan kecemasan sosial, menurut penelitan ini. Mereka yang menggunakan mariyuana dalam jumlah banyak juga lebih besar kemungkinannya akan melakukan bunuh diri.

Level testosteron yang rendah

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa penggunaan kanabis (ganja) secara kronis bisa menyebabkan level testosteron rendah, dan bahkan jumlah sperma yang rendah. Para dokter setuju bahwa sangatlah memungkinkan bahwa penggunaan mariyana secara kronis bisa menyebabkan testosteron rendah. Akan tetapi, para peneliti tidak bisa memberi kesimpulan faktual  yang lengkap sebelum mereka menyelesaikan beberapa penelitian lagi. Level testosteron yang rendah juga bisa menyebabkan sesuatu yang disebut gynecomastia, yang disebabkan oleh ketidakseimbangan hormon antara level testosteron dan estrogen pada pria.

Memperlambat waktu reaksi

Mengemudi kendaraan ketika sedang mabuk tentu saja tidak boleh, namun gangguan reaksi yang timbul akibat mabuk bisa berlangsung lebih lama daripada mabuk itu sendiri. “Persepsi visual dan kecepatan motor boleh jadi akan mengalami gangguan tidak saja ketika Anda sedang merokok mariyuana, namun juga hingga 28 hari setelahnya,” kata Marina Goldman, seorang ahli adiksi Pusat Penanggulangan Adiksi Universitas Pennsylvania, pada Philadelphia magazine. Melambatnya reaksi berarti bahwa kendaraan yang sedang dikemudikan bisa menimbulkan bahaya; boleh jadi akan terjadi delay antara waktu persepsi dan waktu reaksi yang seharusnya.  

Eksposur terhadap bahaya

Sekarang ini, produk-produk mariyuana lebih kuat daripada yang pernah ada dahulu. Produk-produk mariyuana yang bisa dimakan cenderung memiliki potensi yang bisa mencapai 10 kali lebih tinggi dibandingkan dengan rokok ganja tradisonal, menurut Steven Wright, seorang spesialis obat penghilang rasa sakit dan kecanduan di Denver. Wright mengatakan pada USA Today bahwa karena efek-efek dari produk mariyuana yang dimakan memerlukan waktu hingga satu jam untuk masuk ke otak—tak seperti rokok ganja, yang bisa mencapai otak hanya dalam beberapa detik—orang akhirnya mengonsumsi produk mariyuana makanan jauh lebih banyak dari yang mereka inginkan, yang bisa menyebabkan lebih banyak kerusakan dibandingkan mariyuana dalam bentuk tradisional (rokok ganja).

Kehilangan nafsu makan

Setiap orang mengetahui bahwa mariyuana bisa meningkatkan nafsu makan, namun sebagian pengguna mengeluh bahwa nafsu makan mereka hilang ketika mereka menggunakan mariyuana.

“Saya temukan bahwa nafsu makan saya menurun kecuali jika saya sedang mabuk,” tulis seorang pengguna Reddit oz24. “Berpikir tentang makan dalam keadaan tidak mabuk membuat saya mengalami nausea. Mungkin ini adalah bagian terburuk dari semua efek samping yang ada,” kata pengguna newmilwaukee.

Para ilmuwan yang mempelajari hubungan antara mariyuana dan nafsu makan menemukan bahwa sebuah komponen dari mariyuana tampaknya bisa mengaktivasi hormon yang memproduksi rasa lapar, namun tidak jelas efek apa yang bisa ditimbulkan pada nafsu makan seseorang ketika mereka tidak sedang mabuk. Sebuah penelitian terpisah menemukan bahwa orang yang merokok ganja sekurangnya tiga kali seminggu lebih kurus dibandingkan dengan mereka yang tidak merokok mariyuana, namun mengapa hal ini terjadi tidaklah begitu jelas.

Paranoia

Cerita-verita tentang ganja yang bisa menyebabkan paranoia bukannya tidak sering kita dengar. “Saya menghisap ganja selama 6-7 tahun dan akhirnya saya berhenti sama sekali karena itu menyebabkan saya menjadi SUPER cemas, paranoid, dan sering khawatir (self-conscious),” kata seorang pengguna Reddit. Setelah sekitar ¾ tahun mengisap ganja dalam takaran semi-berat,  mabuk itu berubah, kini saya menjadi loopy (bego) dengan kecenderungan menjadi cemas dan paranoia dan over thinking (terlalu banyak memikirkan) tentang setiap aspek dari kehiduan saya hingga saya bisa menemukan sisi negatif dari aspek tersebut,” tulis blue-skies.

Sains mengatakan bahwa hubungan antara penggunaan mariyuana dengan paranoia bukanlah omong kosong semata. Sebuah penelitian tentang 121 orang yang dilakukan di University of Oxford menemukan bahwa orang lebih cenderung mengalami pikiran-pikiran paranoid setelah menghisap THC, kandungan adiktif yang terdapat di dalam kanabis (ganja, mariyuana), dibandingkan dengan mereka yang mengggunakan placebo. Obat tersebut juga bisa memicu timbulnya pikiran-pikiran negatif tentang diri sendiri dan bisa menurunkan mood.

“Tentu saja ada bukti-bukti bahwa jika Anda menggunakan kanabis—khususnya ketika Anda masih muda—dan Anda menggunakannya dalam jangka panjang, Anda akan menanggung berbagai resiko di kemudian hari,” kata profesor Daniel Freeman, yang mengepalai penelitian tersebut, pada WebMD. Namun paranoia bukanlah merupakan efek samping yang tak bisa dihindari dari mengisap ganja, katanya. “Jika Anda mempunyai rasa percaya diri yang lebih besar, maka Anda akan bisa memperbaiki self-esteem Anda, dan jika Anda coba untuk tidak khawatir atau ambil pusing tentang potensi-potensi ancaman di dunia ini ... maka efek dari THC diharapkan bisa lebih kecil kemungkinan akan menyebabkan paranoia.

Pembuatan keputusan yang benar-benar buruk

Meski mariyuana bukanlah satu-satunya zat yang bisa membantu menimbulkan keputusan yang jelek (bad decision making), namun mariyuana mengingatkan kita akan pentingnya self-control dan tanggung jawab.

Para ahli medis dan Badan Narkotika Nasional setuju bahwa mariyuana tidak pernah menimbulkan overdosis toksik yang fatal. Akan tetapi, ada beberapa laporan tentang penggunaan mariyuana secara berlebihan bisa menyebabkan pembuatan keputusan yang fatal (fatal decisions) sebagaimana kasus pada bulan Maret 2014 ketika seorang mahasiswa berusia 19 tahun melompat dari sebuah balkon gedung setelah menelan mariyuana dengan dosis lima kali lebih banyak dari yang direkomendasikan.
(By Julia Mulianey)

https://www.cheatsheet.com/health-fitness/horrible-side-effects-marijuana-people-never-talk.html/11/
Read more

0 Bagaimana Mengurangi Resiko Terkena Stroke

Red and white wine
iStock.com/TSchon

Kita semua sudah ketahui bahwa otak kita merupakan salah satu organ di dalam tubuh kita yang paling penting (otak mengontrol fungsi tubuh dan memori, bagaimanapun juga), namun jarang kita mengetahui betapa seriusnya stroke bisa jadi. Mungkin karena kebanyakan kita tidak benar-benar memahami apa sebenarnya kejadian ini. Kini waktunya untuk memperhatikan hal yang primer.

Menurut National Stroke Association, stroke terjadi ketika darah yang mengalir ke salah satu area otak terputus. Hal ini menyebabkan aliran oksigen terhenti, sehingga menyebabkan kematian sel. Tergantung dari bagian otak mana yang terkena pengaruh, seseorang boleh jadi akan kehilangan kontrol atas otot-otot tertentu dan boleh jadi akan mengalami kesulitan dalam mengingat sesuatu. Karena stroke merupakan penyebab kematian nomer 5 di AS, maka Anda harus melakukan segala sesuatu yang Anda bisa untuk mengurangi resiko Anda terkena stroke. Pastikan Anda mengikuti tips di bawah ini untuk mengurangi resiko Anda mengalami stroke.

1.Tingkatkan asupan buah-buahan dan sayur-sayuran

Menurut sebuah analisis, makan lebih banyak buah-buahan dan sayur-sayuran bisa mengurangi resiko terkena stroke. Analisis tersebut meliputi 20 penelitian berbeda, yang mengumpulkan data dari lebih dari 700.000 orang dan hampir 17.000 kasus stroke. Artikel tersebut menyebutkan bahwa untuk setiap 200 gram buah-buahan yang dimakan dalam sehari, resiko terkena stroke akan menurun sebesar32%. Untuk setiap 200 gram sayur-sayuran yang dimakan dalam sehari, bisa menurunkan resiko terkena stroke sebesar 11%. Temuan tersebut konsisten baik bagi wanita maupun pria dari segala umur. Dengan kata lain, makanlah.

2. Hindari makanan kaya kolesterol

National Stroke Association menyebutkan ahwa kolesterol tinggi bisa menyebabkan stroke. Ketika ada banyak zat lemak di dalam darah, bisa timbul plak di dalam arteri. Kita sering menghubungkan hal ini dengan serangan jantung, tapi juga hal ini bisa menimbulkan stroke. Untuk mengurangi zat lemak berbahaya di dalam darah, American Heart Association menganjurkan untuk menghindari makanan-makanan seperti produk-produk dairy yang penuh lemak (full-fat), daging merah, dan makanan-makanan yang kaya akan lemak jenuh, yang bisa menyebabkan level kolesterol tinggi di dalam tubuh. Genetika juga memainkan peran penting, jadi pastikan Anda menceritakan riwayat kolesterol tinggi di dalam keluarga Anda dengan dokter.

3. Bergeraklah

Kebanyakan kita menganggap olahraga sebagai sebuah cara untuk menjaga berat badan, tapi itu hanyalah salah satu bagian dari gambar. Mayo Clinic mengatakan berolahraga secara teratur bisa memberi manfaat kesehatan dengan cara membuat jantung menjadi lebih kuat. Dan untuk itu diperlukan latihan selama hingga tiga bulan, jadi hal ini perlu dijadikan kebiasaan. Usahakan melakukan aktivitas aerobik moderat selama 150 menit per minggu, ditambah beberapa latihan kekuatan.

Dari mana Anda harus mulai? Ini sebenarnya tergantung pada preferensi Anda. Jika Anda tidak suka lari, sebagai contoh, jangan coba berlatih marathon. Sebaliknya, fokus saja pada sesuatu yang benar-benar Anda nikmati. Mungkin itu tennis atau mungkin renang. Memilih sesuatu yang benar-benar Anda suka lakukan berarti lebih besar kemungkinannya Anda akan menjadikan itu kebiasaan.

4. Turunkan tekanan darah Anda

Dengan menurunkan tekanan darah tinggi, Anda bisa mengurangi resiko terkena stroke dan masalah-masalah yang mengancam kehidupan lainnya seperti gagal ginjal atau serangan jantung. Menurut National Stroke Association, tekanan darah tinggi menyebabkan jantung Anda bekerja lebih keras memompa darah ke seluruh tubuh Anda. Ketika ini terjadi, organ tubuh utama seperti otak menjadi rusak karena pembuluh darah melemah. Jika tekanan darah tinggi tidak diatur (regulated), maka resiko terkena stroke bisa meningkat sebanyak empat hingga enam kali lipat. Beberapa cara untuk menurunkan tekanan darah termasuk menjalani diet rendah lemak dan sodium dan membatasi asupan alkohol.

Anda harus selalu memulai dengan diet dan olahraga, yang sudah kita bicarakan di atas, tapi itu saja mungkin belum cukup bagi sebagian orang. Jika usaha-usaha untuk makan dengan benar dan berolahraga secara teratur tidak cukup membantu menurunkan tekanan darah Anda, maka saatnya membicarakan opsi lain dengan dokter. Dokter mungkin akan memberi resep obat-obatan untuk membantu, perhatikan opsi-opsi berbeda dan beberapa contoh masing-masing pada over at Healthline.

5. Jangan merokok

National Institute of Neurological Disorders and Stroke mengatakan bahwa merokok bisa meningkatkan peluang terkena stroke iskemik sebanyak dua kali lipat dan meningkatkan resiko terkena stroke hemoragik sebanyak empat kali lipat. Hal ini mungkin terjadi karena merokok bisa menimbulkan plak-plak pada arteri yang menyalurkan darah dari jantung ke otak. Jika aliran darah tersebut tersumbat, maka Anda akan mengalami bahaya. Bahkan meski Anda hanya merokok sekali-sekali saja, sebaiknya hentikan sama sekali. Dan bonusnya, Anda bisa menghemat uang.

6. Hindari alkohol

Meski ada cukup banyak perdebatan tentang bagaimana alkohol bisa memengaruhi kesehatan Anda selama bertahun-tahun, tapi tidak ada yang membantah bahwa minum alkohol berlebihan adalah sesuatu yang buruk. Salah satu meta-analisis tahun 2016, yang mencakup 27 penelitian, menemukan bahwa minum berlebihan ada berhubungan dengan meningkatnya resiko terkena stroke hemoragik dan stroke iskemik. Ini tidak berarti Anda tidak boleh minum segelas anggur sama sekali, tapi Anda harus memastikan bahwa Anda aman untuk itu. (By Sarah Kaye Santos)

https://www.cheatsheet.com/health-fitness/reduce-risk-suffering-stroke.html/6/

Read more

0 Penelitian Menunjukkan Pria dan Wanita Mengalami Depresi dengan Cara Berbeda

Photo credit: Emma Kim / Getty


Kita sudah sama-sama ketahui bahwa wanita lebih cenderung mengalami depresi dibandingkan pria—faktanya pada usia 15 tahun, anak gadis dua kali lebih besar kemungkinannya akan mengalami penyakit mental.

Tapi kini penelitian dari ahli neurosains di University of Cambridge telah menemukan bahwa kaum wanita tidak hanya meningkat kemungkinannya mengalami depresi tetapi juga cara bagaimana depresi itu timbul.

Stylist.co.uk melaporkan bahwa jenis kelamin pria atau wanita juga bisa memengaruhi bagaimana gangguan tersebut timbul dan konsekuensinya.

“Pria lebih cenderung mengalami depresi berkepanjangan, sedangkan pada wanita depresi cenderung lebih episodik,” kata Jie-Yu Chuang, seorang peneliti di University of Cambridge, dan seorang penulis dalam penelitian tersebut, yang diterbitkan dalam Frontiers in Psychiatry. “Dibandingkan dengan wanita, pria yang mengalami depresi juga lebih cenderung menderita konsekuensi serius dari depresi yang mereka alami, seperti penggunaan obat-obat terlarang dan bunuh diri.

Chuang dan para koleganya meneliti sekitar 150 adolesen selama penelitian mereka, 106 di antara mereka adalah wanita. Relawan mencakup 82 pasien wanita dan 24 pasien pria yang menderita depresi, dan 24 wanita sehat dan 10 pria sehat.

Para peneliti mengambil gambar otak para adolesen dengan menggunakan pencitraan resonansi, sambil memancarkan kata-kata bahagia, sedih atau kata-kata netral di layar menurut urutan yang spesifik.
Para partisipan diminta memberi respons terhadap seperangkat kata-kata dengan cara menekan tombol, sementara tim memonior bagaimana otak mereka bereaksi terhadap aktivitas tersebut. Mereka memperhatikan bahwa depresi memengaruhi aktivitas otak pada anak laki-laki maupun anak perempuan dengan cara berbeda.

“Temuan kami mengisyaratkan bahwa pada masa awal adolesen, depresi boleh jadi memengaruhi otak dengan cara berbeda pada anak laki-laki dan anak perempuan,” kata Chuang. “Penanganan spesifik menurut jenis kelamin dan strategi-strategi pencegahan depresi harus dipertimbangkan sejak awal masa adolesen. Dengan harapan, intervensi lebih awal ini bisa mengubah trayektori penyakit tersebut sebelum segala sesuatunya menjadi lebih buruk.”

Diperlukan penelitian lebih lanjut, tapi Chuang dan tim-nya berharap penelitian awal ini akan mengubah cara para profesional kesehatan menangani penyakit mental pada jenis kelamin berbeda, dengan harapan hal ini akan lebih efektif.

Jika Anda pikir Anda mungkin sedang “menderita depresi, hubungilah dokter di tempat Anda, atau cari tahu di mana Anda bisa menemukan dukungan dan nasihat dari badan-badan amal kesehatan mental.

You Might Also Like
https://www.yahoo.com/style/research-shows-men-women-experience-085909181.html
Read more
 
© Hasim's Space | Design by Blog template in collaboration with Concert Tickets, and Menopause symptoms
Powered by Blogger