Headlines

Powered by Blogger.
Showing posts with label Buku. Show all posts
Showing posts with label Buku. Show all posts

0 Rasina; Satu dalam dua Sejarah Kelam Pendudukan Belanda di Indonesia

 


Judul : Rasina

Penulis : Iiksaka Banu

Penerbit : Kepustakaan Populer Gramedia,

Cetakan pertama Maret 2023.

Tebal : 613 halaman

Sejarah selalu hadir penuh makna, bahkan di masa yang paling kelam. Itu adalah kalimat yang ditulis Iksaka Banu, dengan tulisan tangan, di lembar kedua buku ini. Kalimat itu ditulis secara personal, ditujukan kepada masing-masing pembeli buku ini, jika mereka membeli secara pre-order, bulan Februari 2023.

Kalimat tersebut tentu saja merupakan cerminan dari isi buku ini, sebuah novel luar biasa yang menguak sisi kelam pendudukan Belanda di Indonesia, pada awal abad ke-17, dengan tujuan ingin menguasai rempah-rampah di Bumi Pertiwi ini, khususnya Kepulauan Banda.

Rasina adalah sebuah novel sejarah, atau setidaknya sebuah novel berdasarkan kisah nyata yang benar pernah terjadi, seluruhnya, atau sebagian. Istilah seluruhnya dalam hal ini tentu saja hanya merujuk pada plot novel ini, bukan pada rincian peristiwa, detil-detil kejadian, dan deskripsi tempat-tempat dan peristiwa dalam setiap adegan, yang oleh Iksaka Banu tergambarkan secara luar biasa dan sangat meyakinkan.

Menulis novel sejarah tentu saja tidak sama dengan menulis novel yang seratus persen fiksi.  Menulis novel sejarah perlu riset mendalam; harus berdasarkan data dan fakta. Dan Iksaka Banu telah berhasil mengumpulkan data-data dari abad ke-17 dan ke-18 yang berserakan di sana-sini itu, dan meramunya menjadi sebuah latar cerita fiksi berdasarkan sejarah yang sangat menarik.

Rasina bercerita tentang seorang landdrost Bernama Joost Borstveld serta atasannya seorang baljuw Bernama Jan Aldemaar Staalhart, sepasang penegak hukum dengan integritas tinggi yang mati-matian berjuang menegakkan keadilan di tengah-tengah para kriminal pribumi pencuri ternak dan pembunuh, dan pegawai pemerintah kolonial Belanda yang korup.

Dalam upaya menegakkan hukum yang seadil-adilnya tersebut, mereka harus berhadapan dengan Jacobus de Vries seorang vrijburgher kaya raya yang pekerjaannya menyelundupkan opium dan budak-budak pribumi dengan menggunakan dokumen palsu. Di samping itu, de Vries juga merupakan seorang masochist yang sering menyiksa dan melukai Rasina, seorang budak asal Banda miliknya, secara fisik, untuk mendapatkan kepuasan seks.

Dengan perjuangan yang keras penuh tantangan, yang nyaris merenggut nyawa keduanya, dan menelan korban jiwa yang tidak sedikit, baik di pihak pribumi maupun di pihak Belanda, akhirnya pasangan Joost dan tuan Staalhart berhasil menyeret de Vries ke pengadilan, meski akhirnya mereka harus kecewa dengan keputusan pengadilan yang korup, yang menjauhkan hukuman yang sangat rendah.

Uniknya, dalam novel ini, kisah sadis pendudukan Belanda di Kepulauan Banda, yang merupakan latar belakang Rasina, dan asal-muasal mengapa Rasina, seorang gadis terpelajar dari keluarga terpandang, terdampar di Batavia, dan dipekerjakan sebagai budak dan pemuas nafsu seks majikannya, ditulis dalam bagian terpisah, berselang-seling dengan plot utama, yang sekaligus berfungsi sebagai plot kedua; menjadikan novel ini sebagai dua kisah dalam satu.

Plot tentang latar belakang Rasina (plot kedua) sebagian besar merupakan catatan jurnal nyata yang ditulis oleh anonim, yang dikumpulkan dalam buku yang berjudul Qonquest.

Plot pertama (perjuangan penegakan hukum oleh Joost dan tuan Staalhart) dan plot kedua (latar belakang Rasina) sama-sama menegangkan dan mencekam, sekaligus mengerikan. Adegan hukuman mati dengan cara dipandung bagi para orang kaya Banda, dan penyerbuan ke rumah de Vries oleh Joost dan tuan Staalhart dan para kaffer-mereka yang menyebabkan tewasnya para centeng pribumi, digambarkan secara grafis.

Sebagai novel fiksi berlakang sejarah, sebagian dari kidah dalam novel ini, tak bisa dipungkiri, adalah fakta, dan bisa dijadikan referensi sejarah.

Angkat topi untuk mas Banu yang telah bekerja keras untuk mewujudkan novel yang luar biasa ini.***

 

Read more

0 Gagal Paham Semua Ikan di Langit


 Image result for semua ikan di langit
Absurd. Itulah kata yang terlintas di dalam benak saya ketika membaca buku ini. Sungguh. Buku ini menyajikan jalan cerita yang tidak mudah dipahami bagi orang awam karena plot dan gaya bahasa yang penuh perumpamaan dan kiasan. Jika Anda adalah tipe orang yang menyukai novel dengan jalan cerita yang linier, dengan konflik yang naik-turun, menikung, menajam, dan akhirnya mencapai klimaks, dan berakhir dengan happy ending, buku ini bukanlah pilihan yang tepat bagi Anda.

Perkara novel ini telah menjadi pemenang pertama dalam sayembara novel Dewan Kesenian Jakarta, itu adalah soal lain.

Tokoh utama dalam novel ini adalah sebuah bus. Ya, bus, bukan manusia atau binatang. Sebuah bus yang biasa kita naiki jika kita tinggal di sebuah kota besar. Bus yang biasa lalu-lalang dari tempat yang satu ke tempat yang satu lagi, yang tidak berganti-ganti semaunya, yang rutenya sudah ditentukan.

Sebagai gambaran, coba simak sinopsis cerita seperti yang tertulis di sampaul belakang buku ini: “Pekerjaan saya memang kedengaran membosankan—mengelilingi tempat yang itu-itu saja, diisi kaki-kaki berkeringat dan orang-orang berisik, diusik cica-cicak kurang ajar, mendengar lagu aneh tentang tahu berbentuk bulat dan digoreng tanpa persiapan sebelumnya—tapi saya menggemarinya. Saya senang mengetahui cerita manusia dan kecoa dan tikus dan serangga yang mampir. Saya senang melihat-lihat isi tas yang terbuka, membaca buku yang dibalik-balik di kursi belakang, turut mendengarkan musik yang dinyanyikan di kepala seorang penumpang ... bahkan kadang-kadang menyaksikan aksi pencurian.

Trayek saya memang hanya melewati Dipatiukur-Leuwipanjang, sebelum akhirnya ketemu Beliau, dan memulai trayek baru mengelilingi angkasa, melintasi dimensi ruang dan waktu.”

Siapakah yang dimaksud dengan si tokoh bus di dalam cerita ini. Kalau Anda bukan pembaca yang cerdas, seperti saya, Anda akan kesulitan menebak-nebak siapa yang dimaksud di pengarang dengan tokoh bus ini. Mulai dari halaman pertama sampai halaman terakhir, mungkin jawabannya tidak akan Anda temukan.

Lalu siapa pula Beliau dalam cerita ini, apakah dia Tuhan ataukah dia malaikat penolong yang baik hati juga tidak mudah ditebak. Beliau digambarkan sebagai seorang anak kecil yang bisa menciptakan apa saja yang dia mau, dan bisa mengatur dunia ini menurut kemauan dia. Dan yang paling menarik Beliau bisa mengubah trayek bus bukan hanya di dalam sebuah kota, tetapi juga membawanya hingga ke angkasa luar.

Bagi bus dalam kota seperti saya, Beliau begitu misterius, dengan ikan julung-julung yang tak terhitung yang melayang di atas kepalanya, dan dirinya sendiri yang melayang di atas lantai. Untuk orang biasapun ini sudah misterius. Tapi, orang-orang yang melayang jauh lebih misterius lagi bagi bus dalam kota seperi saya. (halaman 32).

Lalu siapa pula yang dimaksud dengan ikan julung-julung yang melayang-layang di atas kepala Beliau tersebut. Ikan julung-julung yang selalu menemaninya, yang kalau tidak melayang-layang di atas kepalanya, mereka masuk ke dalam mulutnya.

Membaca novel ini, saya seperti mau menyerah dari halaman awal karena saya tidak cukup cerdas memahami makna kiasan dan lambang-lambang yang merupakan gaya bahasa novel ini dari awal sampai akhir.

Tapi karena penasaran saya teruskan membacanya hingga selesai, siapa tahu ada titik terang dalam memahami makna di baliknya. Tapi saya gagal.

Dan mungkin saya adalah satu-satunya pembaca yang gagal memahami pesan yang ingin disampaikan penulisnya melalui cerita ini.
Read more

2 'A long Way Home': Kisah Bocah India yang Hilang dan Kembali 25 Tahun Kemudian Berkat Google Earth


Magic moment: Mr Brierley pictured with his mother, Fatima Munshi, when they met for the first time in 25 years
Seorang laki-laki India yang hilang ketika sedang mengendarai KA ketika dia berusia empat tahun yang kemudian diadopsi oleh sebuah keluarga dan pindah ke Australia, yang kemudian berhasil kerkumpul kembali dengan orang tua kandungnya 25 tahun kemudian, telah menulis sebuah buku yang menceritakan kisahnya yang mengharukan tersebut.

Saroo Brierly dari Hobart, Australia, adalah salah satu anak malang yang tumbuh di wilayah pinggiran di India, hingga dia secara tidak sengaja menumpang kereta api yang kemudian membawanya sejauh ribuan mil menuju sebuah kota yang asing. 

Sendirian, tak bisa berbicara bahasa setempat, dan tidak punya pengetahuan tentang daerah asalnya, dia kemudian menjadi pengemis untuk bertahan hidup sampai kemudian dia diselamatkan oleh sebuah panti asuhan dan diadopsi oleh sebuah keluarga Austalia.

Semenjak saat itu, dia tumbuh di Australia dan menikmati sukses di negara yang mengadopsinya tersebut. Tapi dia tidak mampu—dan tak ingin—melupakan daerah kelahirannya.

Dengan tekad ingin menemukan kembali masa lalunya dia menempuh sebuah perjalanan virtual menuju kampung halamannya di India, dan setelah berjam-jam menjelajahi Google Earth, dia mulai mengenali kampung halamannya—dan melacak keberadaan ibunya. 

Reuni mereka pada tahun 2012 menjadi headlines di seluruh dunia, tapi sekarang dia telah menceritakan kisah selengkapnya dalam sebuah buku baru, A Long Way Home, yang diterbitkan minggu lalu.

Seperti kebanyakan anak-anak yang tumbuh di daerah pinggiran India, Saroo jarang makan cukup dan sering kali berpergian dengan KA untuk meminta-minta bersama kakak laki-lakinya.

Tapi dalam sebuah perjalanan yang malang dia berhenti untuk tidur di sebuah stasiun dengan kakaknya dan ketika dia terbangun dia menemukan kakaknya sudah tidak ada lagi bersamanya.

Saya membuka mata saya dan saya tidak melihat kakak saya, tapi saya melihat sebuah KA di depan saya dengan pintu terbuka dan saya kira kakak saya ada di dalamnya,’ katanya.

Saya berlari dan melompat ke atas KA sesaat sebelum pintunya tertutup dan berangkat meninggalkan stasiun tersebut, dan ketika itulah saya baru sadar bahwa kakak saya tidak ada di sana. Saya kira bisa dikatakan bahwa keputusan yang saya ambil dalam sepersekian detik itu telah mengubah kehidupan saya selamanya.

Tidak menemukan kakaknya di Atas KA, Saroo kemudian tinggal di dalam KA tersebut yang berjalan sejauh 1.000 mil melintasi negara itu dari Kwandha. Madhya Pradesh menuju Calcutta (sekarang Kolkaka). 

Sebelumnya dia telah bercerita bagaimana dia menghabiskan waktu selama sebulan untuk mencari jalan pulang, hampir tenggelam di Sungai Gangga dan hampir-hampir diculik oleh seroang laki-laki yang hendak menjualnya untuk dijadikan budak.

Akhirnya, Saroo diselamatkan dari jalan raya dan dimasukkan ke dalam rumah penampungan anak-anak. Tidak bisa menceritakan pada para perawatnya dari mana dia berasal, kemudian dia dipindahkan ke dalam sebuah panti asuhan, di mana kemudian dia diadopsi oleh sebuah pasangan dari Australia.

Akhirnya dia pindah ke Tasmania di mana dia memulai sebuah kehidupan baru dengan sebuah keluarga yang baik hati. Hingga akhirnya dia bisa lulus sarjana muda dalam bidang manajemen bisnis dan bergabung dalam sebuah perusahaan engineering milik keluarga adopsinya itu.

Tapi dia tidak pernah menyerah dan tetap berharap suatu saat nanti dia bisa bertemu kembali dengan asal muasalnya, tapi karena dia tidak tahu siapa nama keluarganya maka usahanya itu tampak sia-sia.

‘Saya masih menyimpan di dalam kepala saya bayangan-bayangan kota tempat saya dibesarkan, jalan-jalan yang biasa saya lewati dan wajah-wajah keluarga saya, saya menyimpan ingatan-ingatan itu,’ katanya pada Tasmania Mercury.

Dengan tekad bulat, dia menghabiskan waktu selama bertahun-tahun untuk meneliti peta-peta untuk mencari tanda-tanda landmark yang dia kenal ketika dia masih kanak-kanak dan pada akhirnya dia kembali ke Google Earth.

Saroo ingat ketika dia berpergian selama sekitar 14 jam dengan KA di Kolkata. Dengan perkiraan kecepatan KA sekitar 50 mil per jam, dia memperkirakan kampung halamannya bisa jadi sekitar 1.000 mil jauhnya dari Kolkata.

Saroo kemudian membuat sebuah lingkaran pada sebuah peta dengan Kolkata sebagai pusatnya. Dalam sebuah wawancara dengan NPR, Saroo menggambarkan bagaimana dia menentukan kota asalnya itu. 

Dia mengatakan: ‘Saya berkata pada diri saya sendiri, “Well, pertama-tama yang akan Anda lihat sebelum Anda tiba di kota Anda adalah sebuah sungai di mana Anda biasa bermain dengan kakak-kakak Anda, dan air terjun, dan arsitektur tempat khusus ini yang sering Anda kunjungi.” Itu harus benar-benar sama, karena kalau tidak, jika sebaliknya, saya bisa tersesat ke tempat lain.’ 

‘Ketika saya temukan kota itu, saya zoom dan byar, kota itu muncul begitu saja. Saya telusuri semua pelosok jalan menuju air terjun di mana saya biasa bermain,’ kata Saroo pada BBC.

Tapi meski dia telah melihat apa yang dia percaya sebagai kota asalnya di mana dia pernah menghabiskan masa kecilnya, diperlukan waktu berbulan-bulan bagi Saroo untuk mengorganisir sebuah perjalanan untuk menguji teorinya ini.

Dan ketika dia pada akhirnya berhasil mencapai kampung halamannya itu di kota Ganesh Talai, kota itu telah kosong.

‘Saya berpikir yang terburuk ketika itu, saya kira semua orang telah pergi, seluruh keluarga saya telah meninggal dunia, mereka telah tiada,’ katanya pada NPR.

Pada saat itulah dia mendapat keberuntungan lainnya, ketika penduduk setempat mulai mendekati dia dan menanyakan urusannya.

Dia menyebutkan namanya, dan nama-nama ibu dan saudara-saudaranya, dan kemudian dia bertemu seseorang yang bisa membantu.

Saroo melanjutkan: ‘Pada saat orang keempat datang, mereka mengatakan, “Tunggu di sini sebentar,” dan dalam waktu 10 menit mereka kembali dan berkata, “Sekarang saya akan membawa Anda ke ibu Anda.”’

Dia mengkitui orang tersebut sejauh beberapa meter menuju sebuah sudut, ke tempat dimana ibu-ibu sedang berdiri di sebuah pintu masuk sebuah rumah. Salah satu dari mereka adalah ibu saya.

‘Saya melihat ibu yang kedua dan saya kira, ‘Ada sesuatu dengan ibu ini’—dan diperlukan waktu beberapa detik buat saya untuk mendekripsikan bagaimana rupanya ibu saya,’ katanya.

‘Dia tampat jauh lebih pendek daripada yang bisa saya ingat ketika saya masih bocah berusia empat tahun.

‘Tapi dia berjalan ke depan, dan saya juga berjalan ke depan, dan emosi saya dan air mata saya dan kimia di dalam otak saya, Anda tahu, itu seperti sebuah fusi nuklir.’

Buku Mr. Brierly yang berjudul A Long Way Home, diterbitkan minggu lalu oleh 
Penguin Australia. (By Damien Gayle/ |

http://www.dailymail.co.uk/news/article-2669552/A-long-way-home-Remarkable-tale-Indian-boy-accidentally-transported-1-000-miles-home-aged-four-way-25-years-later-thanks-Google-Earth.html
Read more

0 Cerita dari Laut, Cerita tentang Pesisir


Judul         :Cerita dari Laut
Penulis      :Muhamad Hasim Chikdung
Penerbit     :Bina Karya Utama, Bogor
Tebal         :152 halaman

“Menurut cerita dari mulut ke mulut, konon, ketika seluruh dunia ini sedang dilanda kemelut, pernah ada sebuah kapal perang, Belanda atau Jepang, Portugis, atau mungkin Inggris, yang datang mendekat hendak menyerbu kota itu. Penduduk kota kecil itu ketakutan. Panik. Berlarian ke sana kemari tak tahu hendak berbuat apa. Para petua hanya bisa berdo’a. Para pemuda bersiap, mengerahkan segala apa yang mereka punya, mengandalkan segala apa yang mereka bisa. Menghadapi segala kemungkinan terburuk yang mungkin mendekat. Tapi apa lacur, tidak dinyana tidak diduga, bukannya semakin mendekat, kapal itu malah menghilang bak ditelan laut. Tiada bekas dan tanda-tanda. Penduduk kota itu tak henti bersyukur. Penghuni gua telah menyelamatkan mereka.” Begitulah bunyi sinopsis yang tertulis di kover belakang buku ini.

Kutipan di atas adalah cuplikan dari salah satu cerpen yang ada dalam buku ini. Buku yang terbagi dalam dua bagian, cerpen asli dan cerpen terjemahan, ini seluruhnya memuat 17 cerpen; 12 cerpen asli dan 5 cerpen terjemahan.

Meski judulnya “Cerita dari Laut,” tapi tidak semua cerpen dalam buku ini memuat cerita tentang laut. Buku ini juga memuat cerpen-cerpen yang menggambarkan budaya lokal Lampung, khususnya Pesisir Barat, serta dinamika kehidupan masyarakat Krui sehari-hari. Sedangkan 5 cerpen terjemahan yang dimuat sebagai bagian kedua buku ini menceritakan berbagai tema kehidupan sosial sehari-hari masyarakat barat.

Penulis sengaja memuat cerpen-cerpen terjemahan dalam buku ini bukan hanya sebagai pendamping atau sebagai pembanding dengan cerpen-cerpen asli, tetapi juga untuk memperkaya tema, pandangan, serta menambah pengalaman membaca, dengan harapan apabila pembaca kecewa dengan cerpen-cerpen asli yang ada dalam buku ini, mereka akan terhibur oleh cerpen-cerpen terjemahan tersebut. :)

Jika Anda berminat, Anda bisa mendapatkan buku ini dengan harga Rp.50.000 sudah termasuk ongkos kirim di sekitar wilayah jawa dan Sumatera.

Read more

0 Murjangkung, Cinta yang Dungu, dan Hantu-hantu, dan Kembalinya Seni Bercerita


https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjqrfxFec3ZPnhPS72yb-BJYeNsUtZV2tcvbDjW6hq2iVAfz6cUlx0Sh3Ic-ffzKo4MXeTIN8oLOEUoO53vFiQPESr4GSL9wdlYyqbRTcry4nhN28Fnqyaja2UR0y9Arpb6tOvLM0bpu1I/s798/cover_ebook_murjangkung03.jpg
Menurut pengamatan saya, ada dua jenis cerpen yang utama; cerpen yang mengandalkan kekuatan bahasa dan cerpen yang mengandalkan kekuatan seni bercerita. Cerpen yang mengandalkan kekuatan bahasa menggunakan kata-kata dan ungkapan-ungkapan yang puitis. Penulisnya asyik masyuk dengan gaya bahasa yang dipuitis-puitiskan hingga hingga kadang-kadang membuat pembaca merasa jenuh, nek, dan merasa ingin  muntah dan mencampakkan cerita tersebut sebelum tamat. Membaca cerpen seperti ini sama dengan membaca puisi, atau ia adalah sebuah puisi itu sendiri, dan penulisnya menulis cerpen tersebut seperti menulis puisi.

Di sisi lain, cerpen yang mengandalkan kekuatan seni bercerita adalah cerpen yang mengutamakan kepintaran penulisnya dalam bercerita. Cerpen-cerpen seperti ini memukau pembaca dengan keasyikan mengikuti liku-liku cerita, yang sering kali tidak liner, berliku, mundur maju, melompat-lompat, dan menimbulkan teka-teki. Cerpen yang mengandalkan kekuatan cerita mempunyai daya tarik yang kuat pada cara bercerita itu sendiri daripada pada cerita yang ingin disampaikan. Cerpen seperti ini menggunakan kata-kata yang sederhana, lugas, dan apa danya. Cerpen-cerpen yang ditulis para sastrawan umumnya adalah cerpen yang mengandalkan kekuatan seni bercerita seperti ini. Kekuatan seni bercerita pulalah yang membuat novel-novel detektif dan film-film thriller ala Hollywood menjadi menarik.

Menurut majalah Tempo, yang ditulis dalam sampul belakang buku ini, kumpulan cerpen A.S. Laksana ini “mengembalikan kekuatan seni bercerita,” (mungkin menurut majalah ini kekuatan seni bercerita itu telah lama hilang dari khasanah sastra Indonesia). Dan itu memang terasa ketika saya membaca cerita-cerita yang ada dalam buku ini. Dari 20 cerpen yang ada dalam buku ini semuanya diceritakan dengan gaya yang menarik. Di samping itu, kekuatan seni bercerita dalam cerpen-cerpen dalam buku ini terlihat pada teka-teki yang ditimbulkannya di hati pembaca, yang membuat pembaca bertanya-tanya hingga tak bisa tidur setelah selesai membacanya.

Tidak ada satupun cerpen dalam buku ini yang asyik masyuk dengan eksplorasi kebahasaan; yang mabuk kepayang dengan gaya penulisan yang puitis. Semua kalimat-kalimat yang terangkai sambung menyambung hingga membentuk satu kesatuan yang utuh yang disebut cerpen dalam buku ini mempunyai kekuatannya sendiri-sendiri. Masing-masing kalimat adalah sebuah cerita, bukan untaian puisi.  

Dan kekuatan penceritaan dalam kumpulan cerpen ini juga didukung oleh pilihan kata-kata yang sederhana dan sehari-hari namun tegas. Dalam hal ini, A.S. Laksana lebih suka menggunakan kata ‘mati’ daripada ‘meninggal dunia,’ kata ‘berak’ daripada ‘buang air besar,’ ‘kuburan’ daripada ‘makam,’ misalnya.  

Namun teka-teki yang terkandung dalam cerpen-cerpen dalam buku ini tidak ada yang mudah dicerna. Masing-masing cerita meninggalkan tanda tanya di hati pembacanya. Misalnya, apakah isi surat Alit dalam cerpen ‘Ibu Tiri Bergigi Emas,’ yang dijadikan pembuka dan penutup cerpen ini. Tidak mudah menebak apa isi surat tersebut, dan dalam bagian penutup cerpen ini hanya disebutkan,….”Sampai bertahun-tahun nanti, isi surat itu akan tetap menjadi rahasia yang dipegang hanya oleh Alit dan ayahnya. Tak ada yang tahu selain mereka berdua.” Sayang, pembaca kebanyakan juga mungkin tidak tahu apa isi surat itu, padahal justru surat itu adalah daya tarik dari cerpen ini karena dalam surat itu tersimpan rahasia mengapa Alit sampai pergi meninggalkan rumah dari ayah dan ibu tirinya.

Juga, siapakah lelaki yang mati dalam cerpen ‘Seorang Lelaki Tertelungkup di Kuburan’ itu? Cerpen ini mengisahkan para korban tsunami Aceh tahun 2004. Dan sudut pandang cerita ini adalah dari laki-laki yang mati tertelungkup di kuburan itu sendiri, yang justru membuat pemahaman menjadi bertambah rumit. Bayangkan, si laki-laki yang mati itu sendiri yang menceritakan kematiannya untuk pembaca! Juga mengapa Fira dan atasannya di tempat kerja bisa bertukar tubuh, yang perempuan jadi lelaki, yang lelaki jadi perempuan, dalam cerpen ‘Dongeng Cinta yang Dungu,’ sehingga membuat orang terkecoh mengira atasannya sedang memeluk Fira, padahal Fira sedang memeluk dirinya sendiri.

Walhasil, semua cerpen dalam buku ini asyik dibaca namun masing-masing meninggalkan teka-teki yang sulit dijawab, yang menghendaki para pembaca memecahkannya sendiri. Diperlukan kecerdasan dan imajinasi yang luar biasa untuk memahami cerita-cerita dalam buku ini. Dan maafkan saya jika tidak cukup cerdas.***
Read more

0 'Pulang,' 'Lebay,' dan 'Too Much Drama'


 Pulang--LEILA S CHUDORI
Apa yang Anda ekspek ketika mendengar judul ‘pulang’. Tentu di dalam benak Anda tergambar sebuah perjalanan panjang. Sebuah perjalanan dari awal hingga akhir, yang di dalamnya penuh liku-liku, suka dan duka, dan berakhir dengan si tokoh utama menemukan nasipnya, baik atau buruk, suka atau duka, bahagia atau derita.

Pulang adalah sebuah simpul. Sebuah muara dari sebuah petualangan. Sebuah akhir dari jalan yang penuh liku. Sebuah tempat di mana segala suka dan duka, jatuh dan bangun, dan kepahitan dan kegetiran berakhir. Pulang menyimpan banyak sekali cerita di belakangnya. Cerita-cerita itulah yang diekspektasi orang ketika mendengar sebuah novel yang berjudul ‘pulang’. Oleh karena itu banyak sekali novel, cerita pendek, dan film yang diberi judul ‘pulang’. Karya Leila S Chudori ini adalah salah satunya.

Pulangnya Leila ini menceritakan petualangan sekelompok eksil politik yang terdampar di beberapa negara di luar negeri dan tidak bisa pulang lagi ke Indonesia setelah G 30 S/PKI meletus tahun 1965. Di dalam kelompok itu terdapat Dimas Suryo, Nugroho, Risjaf, dan Tjai. Dimas, Nugroho, dan Risjaf sedang berada di Santiago, Chili ketika G 30 S/PKI meletus. Sedangkan Tjai sedang berada di Singapura. Dinilai dari kegiatan yang sedang mereka ikuti waktu itu mereka diguga terlibat dalam PKI. Merasa ketakutan dan terancam, mereka tidak berani pulang. Apalagi berita-berita dari dalam negeri tentang anggota PKI sungguh mengerikan. 

Dari Chili mereka pergi ke Kuba, dan dari Kuba mereka pindah ke China. Setelah bertahan selama tiga tahun di China mereka memutuskan untuk pindah ke Prancis. Di Prancis-lah petualangan itu dimulai. Dan dari Prancis-lah mereka akhirnya pulang, meski salah satunya, Dimas Suryo, dalam keadaan tak bernyawa.

***

Di Paris, Prancis, mereka berempat mendirikan sebuah restoran Indonesia yang diberi nama Tanah Air. Di restoran inilah mereka menunjukkan eksistensinya sebagai eksil politik di negeri orang, yang meski berada jauh dari Indonesia namun mereka tetap dikucilkan dalam pergaulan sehari-hari. Restoran mereka disebut Restoran PKI dan para pejabat Orde Baru menolak makan di sana. Dalam acara-acara yang diselenggarakan KBRI mereka tidak pernah diundang, dan bahkan ditolak masuk.

Tekanan dari pemerintah RI terus mereka rasakan dalam kehidupan sehari-hari. Sering kali ada intel yang masuk ke restoran mereka dan menginterogasi, mencurigai kalau-kalau mereka melakukan kegiatan yang mengarah pada politik.

Tekanan itu tidak hanya dirasakan oleh mereka saja, keempat eksil politik yang disebut Pilar Tanah Air itu, tapi anak-anak mereka pun ikut merasakannya. Lintang, anak Dimas Suryo hasil perkawinannya dengan Vivienne perempuan Prancis yang dia temui di Universitas Sorbonne dan kemudian menjadi istrinya, pun merasakannya. Ketika menghadiri acara peringatan Hari Kartini di KBRI Paris, atas ajakan Narayana pacarnya yang juga berdarah Indonesia, Lintang merasa dipojokkan dan dikucilkan oleh ibu-ibu KBRI.

Namun tekanan yang paling berat dirasakan oleh sanak kerabat mereka yang masih tinggal di tanah air, yang dalam kehidupan mereka sehari-hari selalu dihina dan dilecehkan oleh teman-teman sekolah mereka. Alam, anak Hananto salah seorang kerabat dari Dimas Suryo terpaksa harus sering-sering berkelahi dengan teman-teman sekolahnya karena merasa dilecehkan. Rama, anak Aji adik Dimas Suryo,  adalah anak yang melankolis, yang menghadapi semua tekanan itu dengan sangat sensitif, dan berusaha menyimpan identitasnya sebagai anak orang yang terlibat PKI rapat-rapat.

***

Secara keseluruhan, Leila berhasil memotret kehidupan keluarga mereka yang terlibat G 30 S/PKI dan keluarga eksil politik di luar negeri itu dengan sangat akurat. Berbekal bacaannya yang sangat luas, Leila berhasil menggambarkan suasana Beijing, Paris tahun 1968, dan Jakarta setelah G 30 S/PKI dengan meyakinkan.

Dan bukan Leila namanya jika menulis hanya memaparkan substansi—seperti menulis naskah pidato, katanya. Gaya bahasa dan metafora Leila sungguh menawan. Kalau karya sastra diukur dari bahasanya semata, novel ini adalah sebuah novel sastra.

Namun ada beberapa hal yang mengganggu ketika saya membaca novel ini. Beberapa hal tampak klise dan tidak masuk akal, selain kurun waktu yang melompat-lompat dari masa kini ke masa silam, yang mengganggu kenyamanan membaca, yang ditandai dengan cetak miring untuk menceritakan flashback ke masa silam, dan pengungkapan melalui surat yang terasa berlebih-lebihan hanya untuk memperkuat efek dramatisasi.

Beberapa hal yang saya maksud adalah:
  1. Setelah Narayana, pacar Lintang, mengundang Dimas Suryo, ayah Lintang, makan siang di sebuah restoran nan romantis di Brussel, Belgia, sebagai upacara pekenalan mereka, Dimas Suryo mencak-mencak. Pada Lintang dia mengatakan bahwa Narayana adalah seorang yang pretensius. “Dia anak orang kaya, borjuasi yang mudah mendapatkan apa saja tanpa perjuangan. Mengendarai mobil, makan di restoran atau bistro termahal di Eropa. Bayangkan, bertemu dengan Ayah saja kita harus jauh-jauh ke Brussel. Apa tidak pretensius?” (halaman 177). Duhai, kalau hal itu pretensius, kenapakah Dimas mau saja diajak pergi sejauh itu? Bukankah untuk menyetujui dan mengabulkan permintaan itu dia mesti berpikir dari jauh-jauh hari? Dan bukankah tempat acara makan siang, sebuah restoran yang romantis dan berjarak sekian jauh dari Paris, itu saja sudah cukup menunjukkan bahwa dia pretensius?
  1. Lintang yang lahir dan besar di Prancis dan belum pernah ke Indonesia satu kalipun ternyata sangat fasih berbahasa Indonesia. Apakah mungkin seorang anak yang tumbuh dan besar di Prancis dengan salah satu orang tua berasal dari Indonesia (hanya salah satu) bisa dengan sangat lancar berkomunikasi dengan bahasa Indonesia, dengan orang Indonesia pula. Kecuali anak-anak yang tumbuh di lingkungan yang eksklusif, yang kedua orang tuanya berbahasa asing yang sama, atau kedua orang tuanya semuanya berasal dari negara yang sama, anak diplomat asing, anak businessman asing, anak yang bersekolah di sekolah asing di Indonesia, saya banyak mengamati anak-anak blasteran yang lahir dan besar di Indonesia yang salah satu orang tua berasal dari luar negeri. Anak-anak tersebut hanya fasih berbahasa Indonesia, dengan hanya sedikit kemampuan berbahasa asing. Sedangkan Lintang bukanlah anak dengan lingkungan yang eksklusif seperti di atas. Dia anak orang biasa. Anak  orang kebanyakan yang hanya salah satu orang tuanya berbahasa Indonesia. Dan bahasa Indonesia Lintang dalam cerita ini bukanlah bahasa Prancis yang diterjemahkan, melainkan memang bahasa Indonesia asli. Terbukti, beberapa istilah tetap dipertahankan dalam bahasa Prancis dan Inggris, dalam kalimat langsung yang asli diucapkan Lintang. Dan terbukti dia ada mencatat beberapa istilah bahasa Indonesia yang belum pernah dia dengar, istilah-istilah yang bahkan untuk orang Indonesia-pun kadang-kadang asing, seperti koit, ngehe, nyokap.  
  1. Keberadaan surat-surat lama Dimas Suryo yang tetap utuh dan lengkap, yang demikian rapi tersimpan hingga puluhan tahun, setelah dibawa pindah ke sana ke mari, dari satu tempat ke tempat lain, dari satu negara ke negara lain, adalah sebuah realitas yang dipaksakan untuk kepentingan pengungkapan dan dramatisasi, sesuatu yang klise dan membosankan bagi mereka yang banyak membaca novel-novel petualangan. Apalagi jam tangan Titoni 12 jewels pemberian Hananto kepada Dimas ketika dia mau berangkat ke Santigo itu juga masih utuh, tidak hilang atau rusak setelah 30 tahun lebih melalui petualangan, melewati rintangan dan serba kekerasan yang nyaris tiap hari mereka temui.  
  1. Pada bagian awal, gaya bahasa dalam novel ini rasanya seperti gaya bahasa novel-novel terjemahan. Sepertinya Leila memang sengaja mengarahkan gayanya ke sana, ke novel-novel luar negeri, untuk memikat pembaca luar negeri, apalagi setting dan idiom-idiom yang digunakan dalam novel ini banyak yang asli luar negeri.
  1. Ending cerita ini terasa lebay dan too much drama. Pulang dan kematian adalah klimaks yang diinginkan Leila untuk mengakhiri cerita ini. Sebuah ending yang, lagi, klise dan membosankan. Kepulangan Dimas Suryo dalam peti mati sengaja dibuat untuk menggambarkan betapa pedihnya petualangan para eksil politik. Betapa kedukaan itu teramat dalam. Betapa dramatis. Apalagi sebelum kematiannya Dimas Suryo menulis sepucuk surat yang demikian menggugah, pilu, yang berisi pesan agar dia dimakamkan di Karet (daerahku y.a.d. mengutip Chairil Anwar). Duh, klise, klise …. Ending seperti ini mengingatkan saya pada sebuah novelette Leila yang berjudul Seorang Kawan yang dia tulis untuk majalah anak-anak Kawanku ketika dia masih remaja dahulu. Ending yang sama persis di mana sang tokoh utama menulis sepucuk surat yang pilu sesaat sebelum kematiannya akibat penyakit yang dideritanya. Tapi itu sudah sekian lama. Ternyata Leila masih menyukai ending seperti ini. Untunglah Lintang digambarkan kembali kepelukan Nara setelah jatuh cinta lokasi dengan Alam selama petualangannya di Jakarta. Kalau tidak benar-benar lebay dan too much drama.***
Read more

0 Orang Denmark Ini Mengaku Pernah Bekerjasama dengan Al-Qaeda


Dane claims he worked inside al-Qaida

Morten Storm/ Photograph by: The Associated Press , The Associated Press

Setelah memilih masuk Islam, seorang bekas anggota gang sepedamotor Denmark pergi ke Yaman untuk mempelajari Al-Qur’an dan tidak lama setelah itu di sana dia bertemu dengan para ustadz radikal yang tengah mengobarkan perang suci melawan Barat. 

Ketika hampir menjadi seorang anggota kelompok jihad, dia kemudian malah berbelok meninggalkan agama yang baru dianutnya itu dan ikut serta dalam sebuh misi rahasia yang berbahaya untuk membantu agen-agen intelijen Barat menangkap para teroris.

Kisah Morten Storm yang sulit dipercaya ini, yang diceritakan dalam sebuah buku dan wawancara dengan The Associated Press, mempunyai alur cerita drama dan intrik yang sama dengan sebuah episode dari serial TV Homeland. Namun si orang Denmark yang perkasa dan berjanggut merah ini bersikeras kisahnya tersebut bukanlah fiksi semata.

Storm, 37, mengklaim dia pernah bekerja selama enam tahun sebagai seorang informan untuk CIA, agen rahasia Inggris MI-5 dan MI-6 dan polisi rahasia Denmark, PET. Namun semua dinas rahasia tersebut menolak berkomentar.

“Mungkinkah semua dinas rahasia tersebut ingin mengatakan ‘dia tidak pernah bekerja untuk kami’? Kadang-kadang diam juga merupakan informasi,” kata Storm. “Saya tahu ini benar. Saya tahu apa yang telah saya lakukan.”

Buku tersebut, Storm, the Danish agent in al-Qaida, dirilis pada hari Senin minggu lalu di Denmark.  
Storm mengatakan dia memutuskan untuk membuka rahasianya sebagai agen mata-mata untuk media—dia pertama-tama berbicara dengan sebuah surat kabar Denmark pada bulan Oktober—karena dia merasa dikhianati oleh agen-agen yang mempekerjakannya. 

Terutama, dia kecewa karena perannya tidak diakui dalam sebuah serangan udara yang telah berhasil membunuh Anwar al-Awlaki, seorang tokoh senior dalam al-Qaeda, di Yaman pada tahun 2011.

Storm mengklaim bahwa CIA tidak mengakui bantuannya dalam usaha mereka mencari seorang kiai kelahiran AS, yang banyak dihubung-hubungkan dengan penembakan di Fort Hood, Texas dan usaha pengeboman pesawat jet yang sedang terbang mendekati Detroit tahun 2009. 

Storm juga mengklaim telah memainkan peran dalam serangkaian operasi anti-teror yang terdokumentasi dengan baik dalam enam tahun terakhir ini dengan cara menyusup ke dalam mesjid-mesjid kaum ekstrimis di Inggris dan kelompok-kelompok militan di Somalia. Dia sering bertemu dengan agen-agen rahasia lainnya di lokasi-lokasi yang eksotik dan memberikan sebuah foto tempat-tempat rendezvous serupa itu pada agen-agen PET yang dipercaya, di sebuah spa geothermal di Islandia. 

Sebuah foto lain menunjukkan sebuah koper yang penuh berisi uang tunai-$250.000 yang dia klaim dia terima dari CIA untuk sebuah operasi rahasia untuk melacak al-Awlaki meski usaha tersebut pada akhirnya gagal.

Bob Ayers, seorang bekas pejabat intelijen AS, meragukan pengakuan Storm.

“Hanya karena dia mengaku telah bekerja dengan agen-agen rahasia tersebut tidak berarti bahwa dia merupakan orang bayaran dan hampir bisa dipastikan dia tidak mempunyai akses terhadap informasi-informasi rahasia,” kata Ayers, yang sekarang tinggal di London.

“Juga meragukan bahwa dia pernah menjadi orang kepercayaan Awlaki. Satu-satu orang yang kurang bisa dipercaya daripada agen rahasia musuh adalah agen rahasia musuh yang membelot.”

Seorang pejabat kemanan Eropa yang tidak berafiliasi dengan keempat agen yang diklaim Storm telah mempekerjakannya tersebut mengatakan boleh jadi dia pernah menjadi seorang informan, namun dia mempertanyakan cara Storm menggambarkan perannya tersebut. 

“Saya punya dugaan kuat bahwa dia telah melebih-lebihkan perannya,” kata pejabat tersebut, yang tidak ingin disebutkan namanya karena dia tidak berwenang untuk membicarakan hal ini untuk publik.

Storm mengatakan dia telah memberi informasi yang kemudian menyebabkan tertangkapnya Hassan Tabbak, seorang kelahiran Syria yang dijatuhi hukuman tujuh tahun penjara karena mencoba membuat bom untuk persiapan serangan teroris.

Dalam bukunya tersebut, Storm juga mengatakan bahwa dia pernah terlibat dalam sebuah operasi yang ditujukan untuk membunuh Saleh Nabhan, seorang mata-mata senior al-Qaeda yang tewas oleh Navy SEALs dalam sebuah serangan helikopter di wilayah Somalia tahun 2010.

Operasi yang paling rumit melibatkan al-Awlaki. Pada tahun 2009, kata Storm, dia membantu si kiai penyendiri tersebut dalam usahanya untuk mencari seorang istri dari Eropa, dengan memberinya pasangan seorang wanita Krosia yang telah masuk Islam yang bernama Aminah. Storm mengatakan dia telah membantu membawa pesan-pesan video yang terinskripsi antara kedua pasangan tersebut di dalam flash drive, sebelum mereka memutuskan untuk bertemu di Yaman. Dia memberikan klip-klip video tersebut pada AP. 

Sebuah alat pelacak dipasang di dalam koper Aminah, namun rencana tersebut gagal ketika dia diminta memindahkan barang-barang miliknya ke dalam sebuah tas plastik setibanya di Yaman, kata Storm.

Akan tetapi, Storm dikirim kembali ke Yaman, untuk menyuplai berbagai item melalui seorang kurir kepada al-Awlaki, yang masih tidak curiga kalau dia sedang dikhianati.

Si orang Denmark ini percaya pekerjaannya tersebut telah membantu CIA menemukan tempat persembunyian al Aw-laki. 

Intelijen Amerika “merengek-rengek pada dinas intelijen Denmark untuk meminta saya kembali ke Yaman dan mencoba untuk menciptakan kembali atau membangun kembali kontak tersebut, komunikasi dengan Anwar,” kata Storm. “Dalam tempo empat minggu kontak tersebut terbangun kembali.”

Storm yang berasal dari Korsoer, 120 km barat daya Kopenhagen, pernah dihukum karena kasus  perkelahian di dalam bar, kekerasan, penyelundupan rokok dan pencurian kecil-kecilan pada masa remajanya.

Dia berencana akan bergabung dengan gang motor Bandidos sebelum seorang rekan satu selnya yang beragama Islam meyakinkan dia untuk masuk Islam pada tahun 1997.

Strom kemudian menghabiskan waktunya dengan orang-orang Islam radikal di Inggris dan Yaman, menikah dengan seorang wanita dari Moroko dan menamai anak pertama mereka Osama mengambil nama pemimpin al-Qaeda Osama bin-Laden.

Dia ingin bergabung dengan perjuangan kaum militan Islam di Somalia tahun 2006 namun mereka menolaknya.

Storm mengatakan kemarahanya atas penolakan tersebut telah menimbulkan keraguan atas agama barunya itu. Lalu dia berubah pikiran sama sekali, dan menawarkan diri membantu agen-agen PET, yang kemudian menghubungkannya dengan rekan-rekan mereka di AS dan Inggris.

Storm mengatakan hubungannya dengan CIA menjadi tidak harmonis setelah dia diberitahu bahwa al-Awlaki tewas dalam sebuah operasi berbeda, yang tidak melibatkan dia.

Dalam sebuah pertemuan di sebuah hotel pinggir laut di Denmark, dia secara diam-diam merekam sebuah percakapan tentang isu tersebut dengan seorang yang dia akui sebagai anggota CIA.

Orang tersebut, yang dikenal Storm sebagai Michael berterima kasih padanya atas usahanya membantu dalam pencarian al-Awlaki, namun dia menambahkan bahwa “ada beberapa proyek lain” yang ditujukan untuk melacak keberadaan al-Awlaki. Michael mengatakan hal itu seperti permainan sepakbola di mana beberapa pemain berada dalam posisi untuk mencetak gol. 

“Seorang pemain bisa mengoper bola pada Anda, tapi itu tidak dia lakukan. Dia menendangnya sendiri, dan dia berhasil,” kata Michael. “Itulah yang terjadi.”

Storm tidak puas dengan penjelasan itu.

Setelah membongkar semua rahasia-rahasianya, Storm mengatakan dia kini menjadi sasaran empuk bukan hanya bagi al-Qaeda, tapi juga bagi CIA.

“Saya kira jika seseorang berpotensi membuat malu institusi, maka paling mudah bagi biro-biro intelijen untuk menyingkirkan agen-agen mereka dan terutama orang-orang seperti saya,” kata Storm pada AP.

Namun dia tidak mempunyai bukti-bukti yang mengisyaratkan bahwa CIA, atau agensi lain, berencana untuk menyakitinya. (By Jan M. Olsen, The Associated Press)

© Copyright (c) The StarPhoenix

http://www.thestarphoenix.com/news/Dane+claims+worked+inside+Qaida/7815187/story.html
Read more

0 'Anak Sejuta Bintang' Perjalanan Panjang yang Teramat Panjang


Judul : Anak Sejuta Bintang
Penulis : Akmal Nasery Basral
Penerbit : Expose
Cetakan : I, Januari 2012
Tebal : 403 hlm
Membaca Anak Sejuta Bintang mengingatkan saya akan masa-masa ketika masih duduk di sekolah dasar dahulu, ketika buku cerita anak-anak merupakan satu-satunya sumber bacaan yang menarik yang ada di perpustakaan kami. Ketika itu, kami murid-murid sangat antusias meminjam buku-buku cerita dari perpustakaan yang kebanyakan merupakan cerita-cerita fiksi.

Beberapa kisah di dalam buku-buku tersebut merupakan cerita dongeng, seperti Cinderella, Sinbad, Robinhood, dll, tapi banyak pula yang merupakan cerita fiksi buatan si pengarang belaka. Entah ada atau tidak pelajaran yang bisa kami petik dari membaca buku-buku tersebut, yang jelas membaca buku-buku tersebut merupakan hiburan yang sangat menyenangkan bagi kami.

Namun sebuah buku cerita anak-anak tentu ditulis bukan untuk tujuan kesenangan semata, melainkan sebagai media untuk menyampaikan pesan-pesan moral, sebagai pelengkap dari pelajaran yang diterima di dalam kelas. Tanpa pesan-pesan moral yang bisa ditangkap oleh anak, sebuah buku cerita akan terasa hambar, kering, dan kurang bermanfaat.

Anak Sejuta Bintang tentu ditulis dengan tujuan seperti itu. Buku yang menceritakan kisah masa kecil Aburizal Bakrie ini memang melulu menceritakan kisah masa kecil beliau ketika bersekolah, mulai dari memasuki TK pada awal tahun 1951, hingga lulus SD pada tahun 1958. Kisah suka duka Ical, nama panggilan Abrurizal, semasa bersekolah di TK hingga SD Perwari tersebut diceritakan dengan rinci, panjang, dan cenderung bertele-tele. Saking panjang dan bertele-telenya, diperlukan 400 halaman luntuk menceritakannya.

Bayangkan, untuk menceritakan soal main kasti saja diperlukan satu bab penuh yang terdiri dari 24 halaman. Begitu pula dengan cerita-cerita yang lain seperti cerita tentang pertandingan bola kaki anak-anak Perwari dengan anak-anak gang Ampiun, juga cerita tentang latihan Judo dengan Sensei Ferry Sonneville, yang  masing-masing memerlukan satu bab tersendiri.

Anak Sejuta Bintang memang syarat akan pesan-pesan moral yang bermanfaat bagi anak-anak—juga bagi orang dewasa—,misalnya tentang keikhlasan berbagi dengan orang tak mampu seperti yang ditunjukkan Ical ketika dia membagi-bagikan apel dengan anak-anak kampung yang datang bertamu ke rumahnya, tapi jumlah halaman dalam buku ini sungguh berlebihan bagi pembaca anak-anak, mengingat anak-anak mudah bosan dalam membaca. Jarang anak-anak yang betah berlama-lama hanya untuk menyelesaikan sebuah buku. Apalagi jika penampilan fisik buku tersebut demikian tebal seperti buku ini, tentu tidak banyak anak-anak yang akan tertarik membacanya. Saya ingat, buku-buku cerita yang saya baca dari perpustakaan sekolah dasar kami dahulu tidak lebih dari 200 halaman.

Tapi, terlepas dari semua itu, buku ini ditulis dengan sangat menarik, dengan gaya bercerita yang mengalir, yang mudah dicerna oleh anak-anak. Dinamika kisah anak-anak yang membentuk cerita dalam buku ini mengingatkan kita akan kisah Laskar Pelangi-nya Andrea Hirata. Sama seperti Laskar Pelangi, buku ini dilengkapi pula dengan banyak catatan kaki yang informatif yang diletakkan di bagian bawah halaman, yang memperkaya wawasan pembaca tentang kisah yang diceritakan.
Read more

0 Di Balik Kitab Hikayat Orang-orang yang Berjalan di Atas Air


Buku Kumpulan Cerpen "Kitab Hikayat Orang-orang
Yang Berjalan di Atas Air", Muhammad Harya Ramdhoni,
 Koekoesan April 2012.

Dengan diterbitkannya novelnya yang berjudul “Perempuan Penunggang Harimau’ tahun lalu, Muhammad Harya Ramdhoni telah membuka mata dunia tentang sejarah orang Lampung, khususnya sejarah kerajaan Skala Bgha, khususnya lagi sejarah masuknya agama  Islam di Lampung. Tidak sedikit mata orang Lampung yang baru terbelalak setelah membaca novel ini. Sebelumnya, mereka tidak tahu apa-apa tentang sejarah orang Lampung. Meski isi novel tersebut tidak lepas dari unsur fiksi, namun sebagian besar adalah fakta sejarah yang benar-benar pernah terjadi.

Dalam novelnya tersebut, HMR menjelaskan bahwa masuknya Islam di Lampung konon dibawa oleh sebuah keluarga yang terdiri dari ayah dan empat orang anak laki-lakinya—yang kemudian dikenal sebagai paksi pak (empat kepaksian) di Lampung Barat kini—yang berasal dari Perlak, Aceh sekitar abad ke-12. Konon keluarga tersebut merupakan keturunan langsung dari Ustman bin Affan dengan Ruqayah, puteri tertua Nabi Allah (hal. 4).

Penyebaran Islam yang dilakukan oleh keluarga tersebut tentu bukan dengan cara persuasif semata, melainkan juga dengan kekerasan senjata. Bisa dibayangkan betapa sulitnya menyebar sebuah ajaran baru pada masa ketika orang pribumi masih memegang teguh kepercayaan primitif seperti menyembah berhala dan melakukan ritual yang serba aneh dan tak masuk akal ketika itu, termasuk menyembelih manusia sebagai sesembahan kepada sang Dewa.

Mungkin bisa disimpulkan, berdasarkan cerita dalam novelnya HMR tersebut, penyebaran agama Islam di Lampung sama heroiknya dengan kisah-kisah penyebaran agama Islam di jaman Nabi, meski dengan latar belakang yang berbeda. Mungkin pula keliru jika dikatakan bahwa Islam ditegakkan dengan kekuatan senjata. Akan tetapi tidak bisa pula dipungkiri bahwa penyebaran agama Islam tidak lepas dari peperangan fisik bersenjata yang serba frontal. Dan tidak bisa dipungkiri pula bahwa peperangan-peperangan tersebut telah menyebabkan sebuah kaum terbelah, terpecah, berhadap-hadapan sebagai musuh.

Hal ini pulalah yang mengganggu pikiran saya ketika membaca ‘Perempuan Penunggang Harimau’. Betapa orang Lampung ketika itu terbelah antara yang pro dengan agama Islam (yang berpihak pada pasukan Syahadat, seperti yang disebutkan dalam novel tersebut) dan yang kontra (yang berpihak dan berpegang teguh  pada ratu mereka, ratu kerajaan Skala Bgha, Sekeghumong). Dan ketika perpecahan itu mencapai puncaknya, sesama orang Lampung (penduduk kerajaan Skala Bgha ketika itu) berhadap-hadapan sebagai musuh. Meski Sekeghumong ketika itu digambarkan sangat kejam terhadap rakyatnya, namun dia tetaplah nenek moyang orang Lampung asli, yang tentu mempunyai ikatan emosional dengan orang Lampung saat ini.

Ikatan emosional seperti inilah yang melatarbelakangi saya ketika membaca novel ‘Perempuan Penunggang Harimau’ tersebut, yang membuat saya, mau tidak mau, berpihak pada sang ratu. Mungkin bukan hanya saya yang mempunyai perasaan seperti ini. Mungkin pula sentimen perpecahan itu masih ada hingga kini, tersimpan rapi di hati masing-masing orang Lampung pribumi, namun karena waktu yang terpaut sangat jauh, kini sangat sulit mengidentifikasi pihak yang satu dengan pihak yang lain. Tapi bagi mereka yang masih menyimpan catatan tentang itu, tambo, kadang-kadang perpecahan itu terkuak, terungkap, dan tak jarang menjadi seperti api dalam sekam yang bisa membakar dari dalam, seperti yang diceritakan HMR dalam cerpennya dalam buku ini yang berjudul Kitab Hikayat Orang-orang yang Berjalan di Atas Air. Juga dalam cerpennya lain yang menceritakan tentang sepasang suami istri yang masing-masing berasal dari keturunan dua pihak yang dulu berhadap-hadapan sebagai musuh itu yang berjudul, Tambo Kuno dalam Lemari Tua.

Kitab Hikayat Orang-orang yang Berjalan di Atas Air, dan Tambo Kuno Dalam Lemari Tua bukan satu-satunya cerpen dalam buku ini yang berlatar belakang sejarah orang Lampung. Ada beberapa cerpen lagi yang semuanya semakin memperkokoh keberadaan HMR sebagai ahli sejarah orang Lampung, khususnya kerajaan Skala Bgha. Cerpen-cerpen lain tersebut adalah Kitab Nyeghupa, Sesiah Terakhir, Ikhau, dan Riwayat yang Dituturkan Oleh Hembusan Angin yang sebenarnya adalah ringkasan dari novel ‘Perempuan Penunggang Harimau. Cerpen lainnya, Firasat Bu Lik Koem, Penembak Misterius di Seberang Front Kemelak-Sepancar, dan Tentang Seorang Lelaki yang Mati Tertimpa Tembok, adalah cerpen lain yang sama sekali berbeda latar belakang namun tak kalah menarik.



                                                                                           
Read more

0 Neil deGrasse Tyson tentang Ruang Angkasa, Politik, dan Hal yang Paling Penting untuk Diketahui Tentang Alam Semesta


 
Apa hubungan antara keterkaitan indera kita dengan anggaran NASA dan osmosis dari rasionalitas dan institusi.

Neil deGrasse Tyson  boleh jadi merupakan salah seorang astrofisis terkemuka saat ini, tapi dia juga merupakan seorang filsup eksistensial, yang mengemukakan pandangannya mulai dari sains hingga ke realm yang lebih luas dari kondisi manusia—semacam Carl Sagan jaman modern dengan bakat yang langka dalam meramu sains dan storytelling untuk menggelitik saraf dari teman-teman ilmuwannya dan sekaligus menarik audiens yang tertarik dengan hal-hal yang popular.
Namun tidak tempat bagi bakat seperti ini untuk bersinar lebih cemerlang daripada video di bawah ini yang diramu oleh Max Schlickenmeyeryang isinya menggabungkan kembali imej alam yang paling menawan dengan narasi dari jawaban Tyson bagi pembaca majalah TIME, yang bertanya, “Apa fakta yang paling mengejutkan yang bisa Anda bagi dengan kami tentang alam semesta ini?”

Ketika saya menengadah ke langit  dan saya tahu bahwa, ya, kita merupakan bagian dari Alam Semesta ini, Kita berada di dalam Alam semesta ini, tapi mungkin yang lebih penting daripada kebanyakan fakta-fakta adalah bahwa Alam semesta ini berada di dalam diri kita. Ketika saya berkaca pada kenyataan tersebut, saya melihat ke langit—banyak orang merasa kecil, karena memang mereka kecil, sedangkan alam Semesta ini besar—tapi saya merasa besar, karena atom-atom yang ada pada diri saya berasal dari bintang-bintang di atas langit itu. Ada tingkat keterhubungan—yaitu apa yang sebenarnya Anda inginkan di dalam kehidupan ini. Anda ingin merasa terhubung (connected), Anda ingin merasa terkait, Anda ingin merasa relevan. Anda ingin merasa seperti seorang peserta dari apa yang sedang terjadi dan di dalam aktifitas-aktifitas dan peristiwa-peristiwa di sekitar Anda. Itulah gambaran dari kita yang sebenarnya, hanya karena kita hidup.
Buku Tyson yang baru, Space Chronicles: Facing the Ultimate Frontier, membahas masa depan dari petualangan ke ruang angkasa sehubungan dengan kebijakan NASA yang menunda penerbangan pesawat ruang angkasa berawak manusia, dengan menggunakan kecerdasan dan keunggulan-keunggulan saintifik-nya dalam menjabarkan sebuah manifesto yang penting bagi ekonomi, sosial, moral, dan kepentingan-kepentingan kultural dari eksplorasi ruang angkasa. Kutipan dari pengantar buku tersebut memuat ethos dasar Tyson dan menggemakan ide-ide dari para pemikir besar tentang intuisi dan rasionalitas (about intuition and rationality), yang menggabungkan psikososial dengan politik.
"Sebagian dari lompatan yang paling kreatif  yang pernah dicapai oleh pikiran manusia adalah benar-benar irasional, bahkan bersifat primitif (primal). Kekuatan-kekuatan emotif adalah penggerak ekspresi inventif dan artistik yang paling besar dari spesies manusia. Bagaimana lagi cara kalimat ‘Dia adalah orang sinting dan sekaligus jenius’ bisa dipahami?
Boleh-boleh saja menjadi rasional sama sekali, mengingat semua orang juga begitu. Namun tampaknya keadaan eksistensi ini hanya ada di dalam cerita fiksi (di mana) keputusan-keputusan yang menyangkut kemasyarakatan (societal) dibuat secara efisien dan cepat, tidak  digembar-gemborkan, tidak menggebu-gebu, dan tanpa pretensi apa-apa.
Untuk memerintah sebuah masyarakat yang terdiri dari orang-orang yang dipenuhi emosi, orang yang berakal sehat, dan orang yang berada di tengah-tengah keduanya—dan juga orang yang mengira perbuatan-perbuatan mereka dibentuk oleh logika tapi nyatanya dibentuk oleh perasaan dan landasan-landasan nonempiris—Anda membutuhkan politik. Dalam keadaannya yang terbaik,  politik  menyalurkan  (menavigasi) semua keadaan pikiran (mind-states) demi untuk mencapai sesuatu yang lebih baik, mengingatkan keadaan, identitas, dan ekonomi masyarakat yang di ambang krisis. Dalam keadaannya yang terjelek, politik mengembangkan cara pengungkapan yang ditutp-tutupi atau memberikan data  yang tidak benar untuk para pemilih dalam menentukan pilihan, baik pilihan  yang dibuat secara logis maupun yang emosional." (by  Maria  Popova)
Read more
 
© Hasim's Space | Design by Blog template in collaboration with Concert Tickets, and Menopause symptoms
Powered by Blogger