Headlines

Powered by Blogger.
Showing posts with label Pendidikan. Show all posts
Showing posts with label Pendidikan. Show all posts

0 Mengapa Harus Komcad? Apa Hubungan Latihan Komcad dengan Manajer Kopdes?

 

Di zaman pemerintahan Prabowo ini latihan bela negara Komponen Cadangan (Komcad) sangat digalakkan. Sejauh ini sudah banyak latihan Komcad diselenggarakan untuk PNS dalam jabatan dan kepala daerah yang akan menjabat. Dan yang sedang hangat-hangatnya dibahas sekarang adalah Latihan Komcad yang untuk para calon manajer Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDPMP).

Banyak yang bertanya-tanya apa hubungan antara Latihan militer seperti Komcad dengan pekerjaan atau profesi seperti PNS, PPPK, atau pegawai BUMN.

Latihan Komcad adalah salah satu jenis latihan bela negara bagi warga negara Indonesia. Pada dasarnya, setiap warga negara suatu negara wajib membela negaranya ketika negara mereka sedang terancam, atau dalam suasana perang.

Di beberapa negara, warganya diwajibkan mengikuti latihan militer selama beberapa bulan ketika mereka mencapai usia tertentu. Namun, di Indonesia hal ini tidak bisa dilakukan karena konsitusi kita tidak mengamanatkan hal itu.

Berikut adalah daftar negara di dunia yang mewajibkan wajib militer, dikelompokkan berdasarkan wilayahnya:

1. Asia & Timur Tengah

Kawasan ini memiliki beberapa sistem wajib militer paling ketat di dunia karena situasi keamanan regional.

  • Korea Selatan: Mewajibkan semua pria berbadan sehat berusia 18–35 tahun untuk bertugas selama 18 hingga 21 bulan (tergantung matra angkatan).
  • Korea Utara: Memiliki durasi wamil terlama di dunia. Pria diwajibkan bertugas hingga 10 tahun, sementara wanita wajib bertugas sekitar 5 hingga 7 tahun setelah lulus sekolah.
  • Israel: Salah satu dari sedikit negara yang mewajibkan pria dan wanita sekaligus sejak usia 18 tahun. Pria bertugas sekitar 32 bulan, sedangkan wanita sekitar 24 bulan.
  • Singapura: Dikenal dengan program National Service (NS). Semua pria warga negara dan penduduk tetap (permanent resident) generasi kedua wajib mengikuti pelatihan militer selama 22–24 bulan pada usia 18 tahun.
  • Thailand: Menggunakan sistem lotre unik setiap bulan April untuk pria berusia 21 tahun. Jika menarik kartu merah, mereka wajib militer selama 2 tahun; jika mendapat kartu hitam, mereka bebas.
  • Negara lain di Asia/Timur Tengah: Iran, Taiwan (12 bulan), Uni Emirat Arab, Turki, Vietnam, dan Myanmar.

2. Eropa

Meskipun banyak negara Eropa menghapus wamil setelah Perang Dingin berakhir, beberapa negara tetap mempertahankannya (atau bahkan menghidupkannya kembali karena meningkatnya ketegangan regional).

  • Rusia: Mewajibkan pria berusia 18–30 tahun untuk menjalani dinas militer selama 12 bulan.
  • Ukraina: Menjalankan wajib militer secara aktif, terutama untuk pertahanan nasional di tengah konflik yang berlangsung.
  • Finlandia: Pria di atas 18 tahun wajib mengikuti wamil selama 6 hingga 12 bulan, atau memilih opsi dinas sipil (non-militer).
  • Swiss: Semua pria berbadan sehat wajib menjalani pelatihan militer dasar dan tetap menjadi pasukan cadangan selama bertahun-tahun setelahnya. Bagi yang menolak atas dasar keyakinan, diwajibkan menjalani dinas sipil alternatif.
  • Norwegia & Swedia: Menerapkan wajib militer yang setara gender (pria dan wanita). Meskipun wajib di atas kertas, sistemnya sangat selektif. Militer hanya memilih warga yang memiliki skor bakat dan motivasi tertinggi untuk mengisi kuota yang dibutuhkan.
  • Negara lain di Eropa: Yunani, Austria, Siprus, dan Estonia.

3. Amerika & Afrika

  • Brasil: Semua pria berusia 18 tahun wajib mendaftar untuk dinas militer selama 10–12 bulan, meskipun dalam praktiknya banyak yang dibebaskan karena kelebihan kuota pendaftar.
  • Kolombia: Pria berusia 18–24 tahun wajib menjalani dinas militer hingga 18 bulan.
  • Mesir: Mewajibkan pria berusia 18–30 tahun bertugas selama 18 hingga 36 bulan, diikuti dengan kewajiban menjadi pasukan cadangan selama 9 tahun.
  • Eritrea: Negara di Afrika Timur yang mewajibkan wamil bagi pria dan wanita. Secara hukum durasinya 18 bulan, namun dalam praktiknya sering kali diperpanjang oleh pemerintah dalam waktu yang tidak ditentukan.

Catatan Tambahan: Beberapa negara besar seperti Amerika Serikat tidak menerapkan wajib militer aktif (semua tentaranya sukarelawan), namun pria berusia 18–25 tahun di sana tetap wajib mendaftarkan diri ke sistem database Selective Service sebagai langkah antisipasi darurat jika sewaktu-waktu negara membutuhkan mobilisasi massa.

Sejauh ini, hal bela negara di Indonesia dibebankan pada tentara nasional Indonesia (TNI) karena merekalah yang secara sukarela mendaftarkan diri, memenuhi syarat, dan terpilih untuk itu. Untuk itu para anggota TNI diberi gaji, dan pensiun ketika mereka mencapai usia tertentu dan dipandang tidak lagi fit sebagai individu andalan bela negara.

Karena para TNI digaji, dan sudah terlatih sebagai indivisu paling fit, maka merekalah yang paling bertanggung jawab membela negara. Namun, dalam suasana gawat darurat, ketika TNI sudah kehabisan daya upaya, semua rakyat Indonesia diwajibkan turun tangan membantu TNI. Dan yang paling wajib melakukan itu, sesuai urutan status kewarganegaraan Adalah polisi, PNS, PPPK, pegawai BUMN, dan yang terakhir rakyat jelata.

Jadi, untuk itulah Latihan Komcad dilakukan. Dan mengapa hanya para pegawai yang dilatih, karena merekalah yang digaji oleh negara.

Read more

0 Kesehatan Gigi Anak-Anak Memengaruhi Kesehatan Mental Mereka, Menurut Dokter Gigi

 

Credit: Getty Images
Memastikan anak-anak Anda menyikat gigi adalah penting bukan hanya untuk mencegah gigi berlubang.

Apakah itu tentang kebanyakan main sosial media di Internet, malas bangun sebelum pukul 10 pagi di akhir pekan, dan suka melewatkan sarapan, para orang tua sekarang terus menerus diingatkan bahwa kebiasaan tak sehat anak-anak mereka itu berakibat pada kesehatan mereka secara keseluruhan. Namun menurut sebuah penelitian terbaru, masih ada lagi kebiasaan sehari-hari penting yang berpotensi menimbulkan kerusakan pada kesehatan fisik maupun kesehatan mental anak-anak—dan anak-anak bisa jadi melewatkan ini jika tidak diingatkan: merawat gigi mereka sendiri.

Polling kesehatan anak-anak yang dilakukan oleh RS Anak-anak C.S. Mott Children’s mengungkap bahwa lebih dari sepertiga anak-anak menderita masalah kesehatan gigi. Lebih dari itu, para orang tua yang berpartisipasi dalam polling tersebut melaporkan lebih banyak kasus kesehatan gigi pada anak-anak yang melakukan pembersihan mulut kurang dari dua kali sehari, seperti menyikat gigi atau membersihkan gigi dengan benang gigi. Sekarang ini, para ahli turut urun rembuk membahas mengapa para orang tua perlu lebih aktif mengawasi kesehatan mulut anak-anak mereka.

Masalah Kesehatan Mulut yang Paling Banyak Menimpa Anak-Anak

Untuk melakukan penelitian ini, para peneliti telah melakukan polling terhadap 1.801 orang tua dari anak-anak yang berusia antara 4-17 tahun tentang kesehatan mulut mereka dan kebiasaan mereka. Secara khusus, para peneliti meminta para orang tua untuk menilai masalah kesehatan gigi anak-anak mereka, dan juga berapa sering anak-anak mereka melakukan praktik-praktik kebersihan mulut di “semua atau kebanyakan” hari dalam seminggu. Setelah mengamati data yang didapat, di bawah ini adalah hasil temuan para peneliti:

  • 1 dari 3 anak menderita masalah kesehatan gigi. Lebih dari 36% orang tua melaporkan bahwa anak mereka telah mengalami masalah gigi yang berhubungan dengan kebiasaan rutin mereka menjaga kebersihan mulut mereka dalam dua tahun terkahir, termasuk lubang gigi dan gigi rusak (29%), gigi berubah warna atau bernoda (7%), sakit gigi dan/atau gigi sensitif (6%), dan masalah gusi (3%).
  • Anak-anak kurang perhatian jika menyangkut masalah perawatan kesehatan mulut. Hanya 3 dari 5 orang tua mengatakan bahwa anak mereka menyikat gigi secara teratur dua kali sehari. Para orang tua juga melaporkan lebih sedikit anak laki-laki yang menyikat dan membersihkan gigi mereka dengan benang gigi dibandingkan dengan anak perempuan.
  • Kesehatan mulut yang buruk mengakibatkan lebih banyak masalah gigi. Di antara para orang tua yang memiliki anak-anak yang hanya secara rutin membersihkan mulut mereka 0-1 kali sehari, 44% melaporkan adanya masalah gigi, dibandingkan dengan hanya 31% pada orang tua yang melaporkan bahwa anak-anak mereka melakukan itu sebanyak 2-3 kali sehari.
  • Bau mulut sering kali diabaikan. Lebih dari sepertiga orang tua memperhatikan bahwa anak-anak mereka mengalami bau mulut yang ditemukan lebih umum terjadi pada anak-anak yang melakukan praktik membersihkan mulut 0- kali sehari di setiap hari atau di kebanyakan hari dalam seminggu. Namun kebanyakan orang tua menyebut itu sebagai “napas pagi,” hanya 47% yang mengatakan itu sebagai akibat dari kurangnya menyikat gigi atau membersihkan gigi denagn benang gigi.

Bagaimana kesehatan mulut memengaruhi kesehatan secara keseluruhan

Ketika kesehatan mulut diabaikan, maka akan muncul masalah kesehatan yang lain. Ini merupakan masalah yang paling umum yang terpaksa menyeret anak-anak ke dokter gigi, kata Kami Hoss, DDS, dokter gigi dan pendiri Supermouth, sebuah sistem kesehatan mulut untuk anak-anak dan dewasa.

“Gigi berlubang (Cavities) adalah nomer satu, diikuti oleh gingivitis, erosi enamel, dan apa yang saya sebut sebagai ketidakseimbangan mikrobioma, yang timbul dalam bentuk bau mulut kronis, karies berlubang (cavities recurrent) yang timbul pada anak-anak yang meskipun menyikat gigi, dan penyakit gusi dini,” kata Dr. Hoss.

Bahkan yang lebih mengkhawatirkan adalah efek kesehatan mental akibat kesehatan mulut yang buruk—meski hal ini memakan waktu lebih lama untuk diketahui.

Bagaigama kesehatan mulut berhubungan dengan kesehatan mental

Penelitian yang diterbitkan dalam Jurnal Orthodontis Amerika menemukan bahwa gigi adalah fitur nomer satu yang menjadi target bullying pada anak-anak usia sekolah. Anak-anak yang dibulli karena senyuman mereka dilaporkan memiliki rasa percaya diri yang lebih rendah dan tidak menyukai sekolah, dan bullying secara keseluruhan telah terbukti menimbulkan isolasi sosial dan depresi pada anak-anak semua jenjang usia.

Rasa sakit yang berhubungan dengan masalah gigi juga bisa memicu timbulnya masalah sosial emosional pada anakanak.

Anak-anak yang giginya berlubang dan tak terawat bisa jadi mengalami sedikit rasa sakit setiap hari,” kata Dr. Hoss. “Mereka tidak bisa berkonsentrasi. Mereka mudah tersinggung. Saya telah melihat anak-anak yang salah diagnosis sebagai mengalami gangguan behavioral padahal masalah yang sebenarnya adalah rasa sakit  di gigi yang tak bisa diatasi.

Hubungan antara kesehatan mental dan kesehatan mulut bisa berjalan dua arah.

Mengapa Kesehatan Mulut yang Buruk Kini Jadi Lebih Berbahaya bagi Anak-Anak

Ketika menyangkut pemahaman orang dewasa tentang kesehatan mulut, Dr. Hoss secara nyata melihat adanya pergeseran positif dalam dekade terakhir ini. “Para orang tua kini menjadi lebih pintar,” katanya. “Mereka menanyakan tentang kandungan [produk], tentang mikrobioma, tentang bagaimana mulut berhubungan dengan bagian-bagian tubuh lainnya.”

Namun anak-anak zaman sekarang menghadapi tantangan baru. Lebih banyak makanan olahan, makanan snack konstan, dan minuman-minuman mengandung asam (mulai dari soda hingga minuman berenergi) semuanya bisa berkontribusi dalam meningkatkan resiko timbulnya gigi berlubang dan kerusakan enamel gigi. Sementara dunia kita kini yang digerakkan secara online hanyalah memperburuk potensi efek kesehatan mental negatif dari masalah gigi—termasuk adanya ketidaknyamanan dan kecenderungan memiliki ekspektasi negatif akan tampilan mereka sendiri.

“Sosial media membuat anak-anak menjadi sangat tersadar akan penampilan mereka sejak usia dini,” kata Dr. Hoss. “Saya memiliki pasien seusia 8 tahun yang bertanya tentang pemutih gigi.

Sosial media memiliki pengaruh yang begitu kuat tentang bagaimana anak-anak mempersepsikan diri mereka sendiri dan membentuk ide-ide tentang bagaimana mereka seharusnya terlihat yang oleh Dr. Hoss disebut sebagai “kecemasan senyum” pada tahap yang mengkhawatirkan.

“Anak-anak yang memiliki kesehatan mulut yang sempurna menanyakan pada saya apakah ada yang “tidak beres” dengan gigi mereka karena gigi mereka tidak cocok dengan imej-imej terfilter yang mereka temukan di media sosial,” katanya. “Itu adalah masalah kesehatan mental yang menggunakan gigi sebagai topengnya, dan kini masalah seperti ini menjadi semakin banyak.

Bagaimana orang Tua Bisa Membantu

Di bawah ini, Dr. Hoss menawarkan tip-tip keren untuk mendapatkan kesehatan mulut bagi anak-anak Anda.

“Ketika Anda berinvestasi untuk kesehatan mulut anak-anak Anda sekarang, itu berarti Anda sedang berinvestasi dalam setiap dimensi masa depan mereka,” kata Dr. Hoss. “Ini benar-benar merupakan sesuatu yang besar pengaruhnya yang bisa dilakukan oleh orang tua untuk anak-anak mereka.

Mulai sejak dini

Dr. Hoss merekomendasikan agar para orang tua mengikuti aturan sederhana 1-4-7 jika menyangkut masalah kesehatan mulut: Buat jadwal kunjungan ke dokter gigi untuk anak-anak Anda mulai usia 1 tahun, lakukan evaluasi ortodontik pada usia 4 tahun untuk mengetahui pertumbuhan rahang, saluran udara, dan napas, dan lakukan evaluasi ortodontik komprehensif ketika usia anak Anda mencapai 7 tahun.

“Ini berdasarkan jendela perkembangan kritis di mana intervensi dini bisa mencegah timbulnya masalah yang lebih besar di masa yang akan datang,” katanya.

Berpikir rutin, bukan hanya produk tunggal

“Anak Anda butuh pendekatan kesehatan mulut terkoordinir yang disesuaikan dengan perkembangan usia mereka,” kata Dr. Hoss. “Setiap satuan dari produk di bawah ini harus bekerja secara bersama-sama untuk mendukung mikrobioma mulut, bukan malah merusaknya.”

Di bawah ini Adalah produk-produk yang dia rekomendasikan tersedia di dalam kamar mandi:

  • Alkaline, pasta gigi prebiotik dengan nano-hydroxyapatite dan vitamin D3 dan K2
  • Benang gigi PTFE-free floss
  • Sikat gigi ultra-lembut
  • Pembersih lidah
  • Setelah usia 6 tahun, bersihkan mulut dengan obat kumur yang tidak mengandung alkohol, pewarna buatan, dan pH alkaline

Beri contoh kebiasaan menjaga kesehatan mulut yang terbaik

“Penelitian menunjukkan anak-anak yang orang tuanya memprioritaskan kesehatan diri mereka sendiri lima kali lebih besar kemungkinannya akan menjadi pengunjung dokter gigi,” kata Dr. Hoss. “Dan hati-hati dengan tanda peringatan diam-diam ini: bernapas dengan mulut, bau mulut kronis, mendengkur, gigi menggeretak, atau enggan tersenyum.” (Liz Regalia)

Read the original article on Parents

https://www.yahoo.com/health/your-body/oral-health/articles/kids-oral-health-linked-mental-210000749.html

Read more

0 Pola Pikir Penyumbang Angka Kemiskinan

 


Dalam sebagian budaya di dunia ini, masyarakatnya berkeyakinan bahwa seseorang harus kawin, beranak, dan berbahagia, tidak peduli betapapun keadaan ekonomi mereka.

Ummat Islam meyakini bahwa kawin atau menikah adalah sunnah rasul; seseorang yang tidak kawin dianggap tidak mengikuti sunnah rasul. Kawin atau menikah dan punya anak dalam budaya Islam juga dianggap merupakan kewajiban seorang muslim untuk mengembangkan atau memperbanyak umat Islam di seluruh dunia. Makin banyak anak makin banyak umat Islam. Makin banyak umat Islam makin banyak kekuatan untuk menegakkan syariat Islam guna meraih cita-cita meraih kejayaan Islam di muka Bumi ini. Begitulah pikiran mereka.

Dalam masyarakat Islam, kawin dan beranak itu dilakukan tanpa perhitungan ekonomi; tanpa menghitung biaya yang harus dikeluarkan untuk merawat seorang anak. Sebuah keluarga kecil, miskin, yang punya satu anak, yang kepala keluarganya tak punya penghasilan tetap, akan kewalhan menghadapi betapa kerasnya himpitan biaya hidup yang harus dia tanggung, belum lagi jika anak mereka bertambah jadi satu, dua, atau tiga, bahkan empat dan seterusnya.

Bayangkan, orang tua dengan penghasilan tak menentu, misalnya, yang secara rata-rata berpenghasilan antara satu hingga dua juta rupiah sebulan, atau kurang dari itu, harus menghidupi tiga orang anak yang semuanya masih bersekolah. Jika dua di antara anak mereka itu harus menempuh jarak yang cukup jauh dari rumah mereka, maka setiap hari orang tua harus mengeluarkan minimal duapuluh ribu rupiah untuk satu orang anak, untuk bensin sepeda motor dan jajan mereka.

Tidak jarang, akibat kerasnya himpitan ekonomi, si orang tua menyerah. Anak-anak mereka terpaksa harus putus sekolah, atau dipaksa kawin dalam usia muda, dan kemudian mengulang kehidupan orang tua mereka pada anak-anak mereka.

Pada beberapa kasus, anak terpaksa menjadi nakal tau bertindak kriminal untuk memenuhi kebutuhan hidup.

Keadaan seperti ini akan terus berulang pada anak cucu mereka sehingga membuat angka kemiskinan semakin besar dari waktu ke waktu.

Di belahan dunia lain, masyarakatnya berpikir rasional. Banyak di antara mereka yang menolak kawin dengan alasan berat menanggung biaya hidup keluarga, dan memilih hidup menyendiri hingga akhir khayat mereka.

Dalam masyarakat yang berpikir rasional seperti itu otomatis angka kemiskinan kian lama kian menurun seiring dengan menurunnya jumlah penduduk. Negara-negara maju seperti negara-negara di Eropa, Amerika Utara, dan Jepang umumnya berpikiran rasional seperti ini, dan angka kemiskinan dan pengangguran di negara-negara tersebut relatif kecil jika dibandingkan dengan negara-negara yang penduduknya berpikiran bahwa mereka harus punya anak.

Menurut data dari World Bank, sekitar 700 juta orang di dunia masih hidup dalam kemiskinan ekstrem, yaitu dengan penghasilan kurang dari 2,15 dolar AS per hari. Sebagian besar dari mereka tinggal di negara berkembang, di mana tingkat kelahiran juga relatif tinggi.

Dalam konteks pendidikan, biaya transportasi, seragam, buku, dan kebutuhan harian anak dapat menjadi beban berat. Jika satu anak membutuhkan biaya harian sekitar Rp20.000 untuk transportasi dan uang saku, maka tiga anak memerlukan sekitar Rp60.000 per hari atau hampir Rp1,8 juta per bulan—jumlah yang bahkan melebihi penghasilan banyak keluarga miskin.

Akibatnya, banyak keluarga harus membuat pilihan sulit. Tidak sedikit anak yang akhirnya putus sekolah karena keterbatasan biaya. Data dari UNESCO menunjukkan bahwa sekitar 244 juta anak dan remaja di seluruh dunia tidak bersekolah, dan faktor ekonomi menjadi salah satu penyebab utama.

Read more

0 Mengekspose Keburukan Seseorang di Internet, Apa Tindakan Pemerintah?

 


Di era Internet ini media sosial adalah sesuatu yang niscaya bagi para penggunanya. Berselancar di Internet tanpa menggunakan media sosial terasa ada yang kurang lengkap. Bahkan ada yang menjadikan media sosial sebagai tujuan utama membuka Internet. Media sosial telah menjadi ikon Internet. Hidup tanpa media sosial di zaman sekarang adalah tidak lengkap dan terasa ketinggalan zaman.

Berbagai manfaat media sosial telah dirasakan banyak orang, mulai dari terjalinnya persahabatan yang akrab dengan orang yang tidak kita kenal nun jauh di sana, menemukan kembali teman lama yang tak pernah kita jumpai lagi di kehidupan nyata, dan yang yang paling ekstrem, menemukan jodoh; mendapat suami atau istri dari media sosial.

Namun, di sisi lain, tak sedikit pula yang terpedaya oleh media sosial. Ada yang tertipu oleh orang yang tidak mereka kenal hingga mengalami kerugian hingga ratusan juta rupiah, dan ada juga yang terkecoh oleh realita dunia maya; mengira apa yang mereka lihat di Internet adalah sesuatu yang nyata, padahal itu merupakan produk teknologi AI semata.

Dan yang sering membuat keki adalah betapa media sosial sekarang sudah dijadikan alat kontrol perilaku oleh sebagian pengguna. Mereka mungkin bertujuan baik. Mereka ingin agar hidup ini tertata rapi, nyaman, aman, dan sempurna seperti yang mereka inginkan.

Kita sering menyaksikan video di Tiktok, atau YouTube, atau Facebook yang mengekspose keburukan seseorang dengan tanpa tedeng aling-aling. Wajah orang yang diduga telah melakukan tindakan kriminal diekspose dengan jelas, tanpa ditutupi sedikitpun, atau di-blur.

Dan narasi yang menjelaskan masalahnya dibuat secara sepihak dan sangat emosional; hanya mengatakan keburukan si orang tersebut, tanpa memberinya kesempatan untuk membela diri. Kata-kata yang dipilih kasar dan menohok seolah-olah orang yang diekspose tak punya kebaikan sedikipun, dan merupakan objek yang harus dicaci maki oleh orang di seluruh dunia.

Mungkin itu dibuat sebagai contoh shock therapy, sebagai peringatan agar orang-orang tak melakukan hal serupa. Tapi, di sisi lain, hal ini tentu saja membuat si pelaku malu, trauma, depresi, bahkan gila, hingga bunuh diri karena tak tahan.

Pertanyaan yang timbul di benak kita, sebandingkah derita yang dia dapat; hukuman itu, dengan perbuatan yang telah dia lakukan? Apakah orang yang telah berbuat salah harus menanggung konsekuensi yang sedemikian berat?

Hukum tentu saja harus berazas keadilan. Begitulah prinsip hukum di dunia yang beradab. Kalau tidak adil, itu bukan hukum, melainkan tindakan bar-bar yang tak pantas dilakukan oleh orang yang berpendidikan dan berkemajuan. Hukum itu bukan dibuat untuk mempermalukan, atau untuk mengekspose kesalahan seseorang di muka dunia. Hukum dibuat untuk menciptakan keamanan, kenyamanan, dan ketertiban sebagai cerminan dari tataan masyarakat yang menggunakan akal pikiran dalam kehidupan sehari-hari.

Orang yang menegakkan hukum harus orang yang bersih, yang tidak pernah melanggar hukum atau melakukan tindakan kriminal apapun baik yang kecil maupun yang besar.

Seseorang baru bisa dinyatakan bersalah jika telah diputuskan bersalah oleh penegak hukum melalui pengadilan. Sebelum itu, tidak ada yang berhak menghukum mereka, apalagi mengkespose kesalahan mereka di muka dunia, dengan tanpa diberi kesempatan sedikitpun untuk membela diri, atau menjelaskan masalah yang sebenarnya, apalagi jika orang yang mengekspose kesalahan mereka itu adalah orang yang tak lepas dari berbagai kesalahan atau pelanggaran hukum pula.

Dan, untuk kasus-kasus dalam video yang kita saksikan di Internet, sanggupkah si pembuat video membuktikan kesalahan mereka? Bagaimana jika tuduhan itu tidak benar? Bagaimana jika video itu sengaja dibuat sebagai fitnah untuk membunuh karakter seseorang? Bagaimama jika video itu dibuat sebagai alat balas dendam?

Kita sebagai penonton harus bijaksana. Ingat azas praduga tak bersalah. Seseorang tidak bisa dinyatakan bersalah sebelum ditetapkan oleh putusan pengadilan.

Mengekspose kesalahan seseorang di media sosial itu adalah tindakan main hakim sendiri yang tidak boleh terjadi. Dan dalam hal ini, Pemerintah semestinya berindak. Pemerintah tidak boleh hanya jadi penonton, dan membuat keadaan menjadi lebih buruk.

Read more

0 Pendidikan Karakter, Apa Itu?


 

Pendidikan karakter didefinisikan sebagai usaha menanamkan kebiasaan-kebiasaan (habituation) yang baik sehingga peserta didik mampu bersikap dan bertindak bersandarkan nilai-nilai yang telah menjadi kepribadiannya. Pendidikan Karakter harus selalu diajarkan, dijadikan kebiasaan, dilatih secara konsisten dan kemudian barulah menjadi karakter bagi peserta didik.

Guru sangat berperan dalam penguatan pendidikan karakter bagi anak didiknya, dimana guru harus mencontohkan apa yang disampaikan dan akan ditiru oleh anak didiknya (dikutip dari situs kemdikbud.go.id).

Undang-Undang nomor 20 tahun 2003 tentang Sistim Pendidikan Nasional (Sisdiknas), pasal 1 ayat 1 yang menyebutkan bahwa guru harus dapat melaksanakan pembelajaran yang mengarahkan peserta didiknya secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia serta ketrampilan lainnya yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.

Dalam Kurikulum Merdeka, Pendidikan karakter dimanifestasikan dalam penerapan nilai-nilai Pancasila, dengan harapan, di akhir masa pendidikan, para alumni sudah memiliki kepribadian yang sesuai dengan nilai-nilai Pancasila sesuai dengan jenjang satuan pendidikannya.

Namun, pada praktiknya di lapangan, di sekolah, apakah para insan pendidikan, terutama guru, dan peserta didik memahami, dan berusaha menerapkan kebiasaan-kebiasaan yang baik, memiliki kekuatan spiritual keagamaan, mempunyai kemampuan mengendalikan diri yang baik, berakhlak mulia seperti yang kita harapkan? Jawabannya sudah kita ketahui bersama melaui sosial media.

Di media sosial, sehari-hari, kita sering menyaksikan anak-anak sekolah tawuran antargeng, melakukan perundungan terhadap teman sekolah mereka, bahkan terlibat dalam tindak pidana kriminal, dan para insan pendidik kewalahan mengatasi mereka. Jumlah kenakalan seperti ini bukannya berkurang, kalau tidak mau dikatakan meningkat, dibandingkan dengan zaman dahulu, ketika pendidikan karakter belum diperkenalkan di sekolah.

Hal ini terjadi tentu bukan karena para insan pendidikan, guru dan tenaga kependidikan tidak, atau belum, menerapkan pendidikan karakter seperti yang diharapkan oleh Pemerintah melalui Kementerian Pendidkan dan Kebudayaan, tapi, mungkin, karena mereka belum benar-benar memahami karakter yang baik, dan memberi contoh karakter yang baik yang patut diteladani oleh para peserta didik.

Dalam sebuah upacara bendera di satuan pendidikan, yang rutin dilaksanakan setiap Senin pagi, seekor kumbang terbang mengitari kepala para ibu guru yang sedang berbaris khidmat mengikuti jalannya upacara. Kehadiran kumbang yang berdengung-dengung di atas kepala tersebut tentu saja mengganggu ibu-ibu yang kepalanya dikitari oleh serangga hitam besar tersebut. Seorang ibu guru tampak ketakutan dan merundukkan kepala ketika sang kumbang hampir menyentuh jilbabnya. Ketika si guru hampir panik, dan berteriak, seorang siswi yang berada di dekatnya dengan tangkas melibas hewan tersebut hingga jatuh ke tanah. “Injak!” seru seorang guru yang lain. Si siswi, dengan tanpa ragu, menginjak dan melumat sang kumbang hingga mati dan hancur lebur.

Saya tidak ingin menggeneralisasi, tapi dalam kondisi seperti inilah pendidikan karakter itu berlangsung di sebagian satuan Pendidikan.

Read more

0 Palsu: Klaim Bahwa Penampakan Bulan di Siang Hari adalah Bukti Bahwa Bumi Datar

  The full moon rises near the summit of Mount Diablo before the lighting of the beacon as photographed from Moraga, Calif., on Wednesday, Dec. 7, 2022. Tonight's full moon is also called the Cold Moon. The lighting of the beacon pays tribute to the lives that were lost at Pearl Harbor and also honors the surviving veterans of that day. (Jose Carlos Fajardo/) ORG XMIT: CAJOS601

Cek fakta: Klaim palsu bahwa penampakan bulan di siang hari adalah bukti bahwa Bumi ini datar.

Video di Instagram tanggal 3 Januari (Jan. 3 Instagram video) menunjukkan sesuatu yang tampaknya merupakan video yang diambil melalui HP yang menggambarkan matahari dan bulan di langit yang bersih tak berawan di siang hari.

“Matahari tidak menyinari bulan. Bulan mempunyai cahayanya sendiri, keduanya berada di atas di ketinggian yang sama, di atas level plane kita,” begitu bunyi keterangannya. “(Bulan) yang semestinya berada di di sisi Bumi yang lain, di tempat yang tampak gelap itu, tapi seperti yang bisa kita lihat, bulan ternyata berada di sini di dekat matahari.”

Start the day smarter. Get all the news you need in your inbox each morning.

Video tersebut kemudian berpindah ke beberapa diagram yang menunjukkan bagaimana matahari berputar mengelilngi bagian selatan khatulistiwa pada bulan Januari dan bagian baratnya pada bulan Juni, di bawah teks yang berbunyi, “Bumi bukanlah bola yang berputar.”

Caption dari video tersebut berbunyi, “Ayo Kembali ke AKAL SEHAT di tahun 2023 ini. BANGUNLAH DARI TIDUR!”

Penilaian kami: Palsu

Bumi tidak datar, tapi berbentuk bulat, seperti yang diperlihatkan dalam foto ruang angkasa dan sejumlah observsi dan kalkulasi yang bisa dilakukan dari Bumi. Para ilmuwan planet mengatakan bahwa penampakan bulan dan matahari di siang hari tidaklah membuktikan bahwa Bumi ini datar—tapi hanyalah merupakan sebuah refleksi dari gerakan matahari, bulan dan Bumi di ruang angkasa, bersama-sama dengan rotasi Bumi. Bulan juga tidak memancarkan cahayanya sendiri.

Penampakan bulan di siang hari adalah konsisten dengan Bumi bulat.

Ada banyak bukti bahwa Bumi ini berbentuk bulat, termasuk foto-foto Bumi yang diambil dari ruang angkasa. (photographs of the planet taken from space.) 

Namun kalim bahwa Bumi ini datar terus menyebar di sosial media. Klaim ini, seperti klaim-klaim lain yang pernah dimentahkan oleh USA Today, (others USA TODAY has previously debunked,) tidak menunjukkan bukti-bukti cukup bahwa Bumi ini datar.

Sebaliknya, pola penyinaran dari matahari secara nyata dijelaskan oleh pergerakan matahari, bulan dan Bumi.

Ada kalanya ketika bulan – dan, dengan teleskop, benda-benda langit lainnya – bisa dilihat di siang hari, kata Mark Sykes, direktur Planetary Science Institute, sebuah Lembaga riset nonprofit yang berbasis di Tucson, Arizona pada USA TODAY.

Penampakan bulan di siang hari adalah konsisten dengan “Bumi yang relatif berbentuk bulat berputar pada porosnya,” katanya.

Alasan mengapa ada malam dan siang itu dikarenakan  Bumi berputar pada porosnya setiap 24 jam sekali, kata Jaahnavee Venkatraman, seorang peneliti pasca sarjana pada jurusan Bumi, planet dan sains ruang angkasa UCLA. Bulan hanya berputar mengelilingi Bumi sebulan sekali.

“Ini berarti bahwa setiap harinya, bulan tidak pernah terlihat oleh mata kita berada di langit pada saat yang sama dengan hari sebelumnya,” kata Venkatraman.

Fact check: NASA says Earth is a globe, uses 'flat and non-rotating' model in equations

Penampakan bulan tidak ada hubungannya dengan waktu tertentu di siang hari karena waktu selama bulan muncul dan menghilang terus menerus berubah, kata Venkatraman. Dan karena bulan tidak mengeluarkan cahayanya sendiri, maka dia hanya bisa dilihat ketika dia berada di atas horizon dan sedang disinari oleh matahari.

“Peristiwa ini wajar terjadi kapan saja di siang atau malam hari, dan itu berarti kita sering kali melihat bulan yang cantik di atas horizon di langit di siang hari ketika ada matahari yang menyinarinya,” katanya. “Itu juga berarti bahwa kita sering kehilangan bulan di siang hari karena keadaannya kabur oleh cahaya matahari.”

Bulan bisa terlihat di siang hari dalam berbagai tahap kecuali masih berusia sehari dua hari, karena sisi bulan yang terkena cahaya matahari membelakangi Bumi, dan bulan purnama, ketika dia berada di bawah horizon di siang hari, menurut NASA.

Video tersebut juga mendapat tantangan logis lainnya.

Jim Lattis, direktur Space Place University of Wisconsin, menegaskan bahwa hanya sebagian dari bulan yang terlihat dalam video tersebut. Ini bertetangan dengan klaim si narator video yang mengatakan bulan mempunyai cahayanya sendiri, karena, kalau menurut skenario yang demikian, bulan akan selalu muncul sebagai sebuah lingkaran penuh seperti halnya matahari.

Lattis juga mengatakan bahwa tidaklah jelas bagaimana mungkin penampakan bulan di siang hari adalah bukti bahwa Bumi ini datar.

“’Argumen’ tersebut menurut pemahaman saya tidaklah relevan dengan apakah Bumi ini bulat atau datar,” katanya.

USA TODAY menggapai para pengguna media sosial yang men-share postingan tersebut untuk mendapatkan komen.

Reuters juga membantah klaim tersebut.

https://www.msn.com/en-us/news/technology/fact-check-false-claim-moon-visible-during-daytime-is-proof-of-flat-earth/ar-AA16kmd6?ocid=EMMX&cvid=6c61d698217a471dbd5765a4e8f2493d

Read more

0 Ego Sektarian dalam Kasus Prof. Budi

Ego sektarian adalah perasaan bahwa sebuah kelompok keagamaan (sekte) lebih unggul atau lebih benar, atau lebih penting dari kelompok lainnya. Orang yang memiliki ego sektarian selalu merasa bahwa kelompok mereka paling benar, dan yang lain salah semua. Mereka biasanya tidak bisa menerima pendapat orang lain, dan tidak menerima kenyataan bahwa kelompok lain benar dalam satu hal. Untuk itu mereka selalu mencari-cari alsan pembenar yang bisa mendukung pendapat mereka.

Dan ego sektarian ini kembali muncul dalam bentuknya yang ekstrem setelah kasus hebohnya pernyataan Prof. Budi santoso Purwokartiko Rektor ITK yang juga merupakan Guru Besar di Institut Teknologi Surabaya (ITS).

Dalam sebuah statusnya di Facebook, Prof. Budi mengatakan, “... Dan kebetulan dari 16 orang yang saya wawancarai, hanya ada dua cowok, dan sisanya cewek. Dari 14 (cewek tersebut) ada dua yang tidak hadir. Jadi, 12 mahasiswi yang saya wawancarai, tidak ada satupun menutup kepala ala manusia gurun. Otaknya benar-nbenar open mind. Mereka mencari Tuhan ke negara-negara maju seperti Korea, Eropa Barat, dan US, bukan ke negara-negara yang orang-orangnya pandai bercerita tanpa karya teknologi.”

Yang dimaksud Prof. Budi sebagai orang yang dia wawancarai itu adalah para peserta program beasiswa LPDP, di mana beliau bertindak sebagai salah seorang reviewer, yang memiliki andil dalam menentukan lulus tidaknya seorang peserta, dalam program tersebut.

Pernyataan tersebut tak ayal menjadi gorengan bagi para penganut ego sektarian. Mereka menilai pernyataan tersebut sebagai bermuatan SARA, bersifat rasis, dan merupakan ungkapan tidak suka pada mereka yang berjilbab.

Berbagai reaksi tidak suka pun bermunculan di sana sini. Bukan saja tidak suka pada pernyataan tersebut, tapi juga tidak suka pada diri Prof. Budi secara pribadi. Mereka menyerbu dari berbagai penjuru, dengan menggunakan berbagai media. Dan bukan itu saja, bahkan situs ITK-pun menjadi sasaran serangan para hacker yang juga hater. Bukan saja netizen kaum awam, bahkan pejabat negara pun ada yang menyatakan rasa tidak mereka.

Dan konsekuensi dari semua itu, Prof. Budi terancam diberhentikan dari kedudukannya sebagai reviewer dalam Program Beasisw LPDP, bahkan dari kedudukannya sebagai Rektor ITK.

Namun benarkan pernyataan Prof. Budi tersebut mengandung unsur SARA dan berbau rasis?

Prof. Budi sendiri tentu membantah tuduhan tersebut. Dalam sebuah wawancara dengan media online dia mengatakan bahwa dia tidak bermaksud merendahkan orang berjilbab, atau melakukan diskriminasi terhadap mereka. Dalam hal itu dia hanya menceritakan bahwa kebetulan ke-12 orang yang dia wawancarai tersebut tidak memakai jilbab, seperti yang dikutip oleh detikSulsel, Sabtu (30/4/2022).

Dan, memang, jika kita berpikir jernih, pernyataan Prof, budi tersebut tentu bukan cerminan sebuah sikap rasis atau mengandung unsur SARA. Frasa “manusia guru’ seperti yang dia katakan hanyalah merujuk pada mereka yang hidup di gurun, dengan ciri-ciri mengenakan jilbab karena iklim dan kondisi padang pasir di sana menghendaki mereka mengenakan itu. Frasa “manusia gurun’ dalam hal ini sama saja dengan istilah “orang gunung’ yang berarti mereka yang tinggal di gunung, yang juga memiliki ciri khas yang berbeda dengan mereka yang tinggal di gurun, atau ‘orang kota’ yang berarti mereka yang tinggal dikota, yang juga memiliki ciri khas yang berbeda.

Jadi frasa “manusia gurun’ dalam hal ini hanya merujuk pada identitas etnis semata, dan tidak melibatkan identitas keagamaan, karena jilbab bukanlah identitas agama tertentu saja. Faktanya, jilbab (penutup kepala) bukan hanya dikenakan oleh perempuan Muslim saja, tetapi juga oleh kaum Yahudi, dan Nasrani.

Dan jilbab sejatinya bukanlah esensi beragama karena masih ada pro dan kontra soal kewajiban mengenakan jilbab bagi perempuan Muslim, dan fakta bahwa perempuan Muslim juga banyak yang tidak berjilbab.

Jadi kiranya reaksi berlebihan terhadap pernyataan Prof. Budi itu tidak diperlukan, dan tidak ada gunanya sama sekali, apalagi menuduh bahwa Prof. Budi membenci orang berjilbab, dan tidak akan meloloskan peserta program basiswa LPDP yang mengenakan jilbab.

Dalam statusnya di Facebook  yang dia tulis tanggal 6 Mei 2022, prof. Budi mengatakan bahwa dia sudah meloloskan puluhan orang berkerudung dalam Program Beasiswa LPDP, dan memberi rekomendasi dosen berkerudung untuk kuliah lanjut.

Berikut adalah kutipan salah satu paragraf dari tulisan tersebut: Berapa puluh orang berkerudung saya loloskan mendapat beasiswa LPDP, berapa dosen berkerudung saya beri surat rekomendasi untuk kuliah lanjut,berapa puluh mahasiswi berkerudung saya bimbing Tugas akhir/thesis/disertasi, berapa banyak duafa/janda berkerudung saya bantu tiap bulan. Apa mereka mau melihat fakta ini?

Kiranya tidak berlebihan jika saya katakan bahwa Prof. Budi adalah salah satu aset pembangunan negeri ini. Dan jangan biarkan salah satu aset berharga ini hilang hanya karena sentimen keagamaan yang salah kaprah.

Sudah saatnya menggunakan logika, dan keluar dari kungkungan ego sektarian yang selalu mau menang sendiri dan tertutup terhadap perbedaan pendapat.*

Read more

0 Guru Honorer Pantaskah Mengeluh?

Setiap kali mendengar tentang guru honorer menuntut, guru honorer melakukan demo, guru honorer merasa dianaktirikan, dan menganggap pemerintah telah memperlakukan mereka secara  tidak adil, sisi jahat dalam diri saya berkata, emangnya siapa yang suruh Anda jadi guru honorer. Anda jadi guru honorer kan karena kemauan Anda sendiri, tidak ada paksaan. Waktu melamar pekerjaan sebagai guru honorer di sekolah, Anda kan sudah tahu konsekuensi yang akan Anda dapat. Anda melamar pekerjaan tersebut karena Anda membutuhkannya, Tidak ada perjanjian tentang gaji dan tunjangan gaji di sana. Dan kalau ada perjanjian tentang gaji, maka itulah rejeki Anda. Anda tak berhak menyamakannya dengan yang didapat guru PNS.

Kalau Anda dipanggil oleh pihak sekolah untuk menjadi guru, bukannya melamar, kenapa Anda tidak menuntut bayaran yang layak, apalagi kalau di waktu itu Anda sedang memiliki pekerjaan lain yang gajinya lebih besar.

Tapi, di sisi lain, di sisi baik dalam diriku, memaklumi. Betapa kecilnya pendapatan guru honorer dibandingkan dengan guru PNS, karyawan swasta. Guru honorer, kecuali guru tetap yayasan, umumnya mendapat gaji di bawah UMR, sedangkan beban kerja dan kompetensi yang mereka miliki tidak kalah dengan guru PNS. Wajar kalau mereka mengeluh.

Tapi yang saya sayangkan adalah betapa demo-demo, tuntutan-tuntutan tersebut telah disertai dengan jargon-jargon politis, seperti perasaan dianaktirikan, diperlakukan tidak adil, dan yang lebih keras, dizalimi, yang terkesan mengadili pemerintah, dan bahkan mengarah pada tuntutan ganti presiden.

Ini penting dikemukakan untuk menghindari fitnah atau atau dugaan bahwa demo-demo guru itu ditunggangi.

Duh, adil tidak adil itu kan ada normanya sendiri. Anda tidak bisa mengatakan tidak adil jika gaji guru PNS lebih besar dari guru honorer sedangkan beban kerja mereka sama. Juga jika guru PNS dapat THR dan gaji ke-13 sedangkan guru honorer tidak, atau mendapat THR tapi jumlahnya lebih kecil. Guru PNS memegang SK yang memuat jumlah gaji, yang dinaikkan secara berkala setiap dua tahun sekali, di samping kenaikan menurut jenjang kepangkatan dan golongan, dari pemerintah, sedangkan guru honorer tidak, terutama guru honorer yang diangkat oleh kepala sekolah. SK guru honorer yang diangkat oleh sekolah biasanya tidak memuat jumlah gaji.

Jadi kalau guru honorer merasa diperlakukan tidak adil, hal itu tidak ada dasarnya. Pemerintah tidak mungkin memberi pendapatan guru honorer sama dengan guru PNS.

Dalam hal ini, saya bukannya tidak bersimpati pada guru honorer, tapi begitulah logika yang semestinya. 

Saya sendiri pernah menjadi guru honorer, selama 5 tahun, sebelum saya diangkat jadi PNS pada tahun 1999, melalui test, bukan diangkat secara gratis. Waktu itu pendapatan saya, dan guru honorer lainnya kurang dari Rp.200.000, tapi kami tidak pernah mengeluh, apalagi menuntut pendapatan lebih pada pemerintah, atau menuntut diangkat jadi PNS.

Guru honorer sekarang sebenarnya enak. Perhatian pemerintah terhadap mereka kian hari kian besar. Di beberapa provinsi ada yang mendapat tunjangan setiap bulan dari pemerintah, meski jumlahnya kecil. Ada pula yang terikat kontrak dengan pemerintah, dengan gaji yang cukup besar. Kini mereka bahkan diberi kesempatan mengikuti sertifikasi guru, sama dengan guru PNS. Dulu, di tahun 90-an ke bawah, hal sepert itu tidak ada.

Tulisan ini tak hendak mengecam guru honorer, sama sekali tidak, karena saya juga pernah menjadi guru honorer, melainkan hanya ingin mengingatkan konsekuensi dari langkah yang telah mereka ambil. Sekali mereka memutuskan menjadi guru honorer, maka mereka harus siap menanggung resikonya, apapun itu, bukannya mengeluh berkepanjangan, karena itu merupakan kemauan mereka sendiri.

Tabik pun.
Read more

0 Lima Hal yang Membedakan Anak Cerdas dengan Anak Biasa




Apa yang Membedakan anak-anak cerdas (gifted) dengan anak-anak lain? Pertanyaan ini telah menjadi perdebatan panjang. Akan tetapi, sebagai pendidik, memahami bagaimana anak gifted belajar dibandingkan dengan teman-teman mereka adalah perlu untuk keberhasilan belajar mengajar dan kemampuan Anda berhubungan dengan mereka melalui pembelajaran. 

Selama sebagian besar abad ke-20, kecerdasan (giftedness) ditentukan dengan menguji IQ seorang murid. Ketika program pendidikan khusus menjadi lebih maju, test-test untuk mengukur ketidakmampuan tertentu berkembang, metode-metode alternatif untuk mengidentifikasi giftedness bermunculan. Sebagian psikolog pendidikan percaya bahwa giftedness berbeda secara mencolok dengan bakat (talent); mereka mendefinisikan giftedness sebagai kecakapan yang tinggi dalam belajar dalam bidang tertentu dan mendefinisikan talent sebagai sebuah level penguasaan yang tinggi dalam sebuah bidang atau skill.

Yang lain mengklaim ada dua jenis giftedness: murid-murid yang mempertunjukkan kemampuan akademik alami tingkat tinggi, dan mereka yang menunjukkan motivasi dan kreativitas tingkat tinggi. Definisi giftedness ini memberi murid-murid lebih banyak tanggung jawab untuk membuktikan bahwa mereka benar-benar berminat dalam hal mengembangkan kemampuan mereka dan akan memanfaatkan setiap kesempatan yang diberikan pada mereka jika mereka terplih untuk sebuah gifted program (semacam kelas unggulan). Karena keterbatasn finansial dalam kebanyakan sekolah negeri, gifted program ini seringkali sangat kompettif.

Pemerintah federal AS mendeinisikan murid gifted (cerdas) dan talented (berbakat) sebagai mereka yang berhasil mencapai tingkat tinggi dalam bidang-bidang tertentu, termasuk matematika, kepemimpinan, menulis, atau pencapaian-pencapaian kreatif. Murid gifted juga harus menunjukkan kebutuhan akan program khusus dan layanan khusus yang akan membantu mereka mewujudkan cita-cita mereka di dalam bidang atau bidang-bidang yang mereka minati. Ketika menyeleksi murid-murid untuk dimasukkan dalam layanan khusus giftedness, kriteria kelayakannya biasanya termasuk nilai test, rekomendasi guru, kecepatan si murid dalam belajar, dan atribut-atribut lain yang khas anak gifted. Bahkan Persatuan Anak Gifted Amerika ((NAGC) mengalami kesulitan mendefinisikan giftedness. NAGC mengisyaratkan bahwa individual yang gifted menunjukkan atau memiliki potensi untuk menunjukkan performa luar biasa di dalam satu atau sering kali lebih area giftedness.

Ada lima cara bagaimana anak gifted cenderung belajar dengan cara berbeda dengan teman-teman mereka:
  1.  Mereka belajar materi baru dengan lebih cepat.
  2. Mereka mempunyai kemampuan mengingat yang lebih baik tentang apa yang pernah mereka pelajari, yang  dengan demikian mengurangi atau tidak memerlukan review.
  3. Mereka mempunyai kemampuan mengabstraksi pikiran kompleks yang tidak dipunyai oleh teman-teman mereka
  4.   Mereka fokus pada topik-topik tertentu dan sangat tertarik pada topik-topik tersebut hingga cenderung mengabaikan topik-topik dan subjek-subjek lainnya.
  5. Mereka bisa menerima banyak stimuli dalam satu kesempatan, mengetahui apa yang sedang terjadi di sekitar mereka ketika sedang berkonsentrasi pada tugas-tugas yang khusus.

Dengan menggunakan karakteristik-karakteristik di atas sebagai guideline, maka mendekati 6%, atau 3 juta, murid di AS bisa digolongkan sebag gifted. Meski ada sedikit argumen bahwa anak gifted dan talented harus dihadapkan dengan tantangan-tantangan yang bisa memenuhi kebutuhan akademik mereka, tidak ada aturan pemerintah federal AS yang secara khusus mengamanatkan layanan-layanan khsus untuk anak G dan T.

Adalah tantangan bagi para guru untuk mencari jalan untuk menstimulasi anak-anak gifted dan menyediakan bagi mereka sumber-sumber dan instruksi yang akan membuat mereka menguji kemampuan mereka dan tumbuh secara intelektual. Para guru juga tidak mempunyai dukungan berupa bantuan ruang kelas tambahan untuk melayani anak-anak gifted. Banyak guru menggunakan aktivitas pengayaan seperti memberi proyek-proyek independen, investigasi kelompok kecil, dan kompetisi-komptetisi akademik untuk menjawab kebutuhan-kebutuhan anak-anak gifted yang terdapat di dalam kelas reguler, dan para guru bisa mendesain area-area khusus di dalam ruang kelas untuk memberi kesempatan pada mereka untuk belajar lebih lanjut.

Anak-anak gifted boleh jadi dipisahkan dari kelas reguler dalam jam-jam tertentu untuk belajar pada jenjang yang lebih tinggi, sama dengan cara anak-anak yang kurang mampu dalam belajar dipisahkan dari kelas reguler untuk belajar pada level yang sesuai dengan mereka. Layanan-layanan yang diberikan pada anak-anak gifted pada sekolah menengah atas (seconday school) biasanya adalah berupa kelas pengayaan atau kelas akselerasi. Kedua pendekatan ini berbeda. Kelas pengayaan terjadi di dalam ruang kelas reguler (kelas umum), dengan kurikulum yang diadaptasi untuk menampung minat dan cara-cara belajar dalam jangkauan yang lebih luas. Kelas akselerasi adalah kelas yang memberi kesempatan pada anak-anak untuk melaksanakan pembelajaran yang lebih banyak tuntutan di luar kelas reguler (kelas umum).

Jadi berapa banyak anak gifted yang duduk di dalam ruang kelas kita sekarang? Apakah kita mengajar mereka dengan selayaknya? (By Matthew Lynch Juni 13, 2016)

http://mobile.edweek.org/c.jsp?cid=25920011&item=http%3A%2F%2Fapi.edweek.org%2Fv1%2Fblog%2F155%2F%3Fuuid%3D58754
Read more
 
© Hasim's Space | Design by Blog template in collaboration with Concert Tickets, and Menopause symptoms
Powered by Blogger