Headlines

Powered by Blogger.
Showing posts with label lingkungan. Show all posts
Showing posts with label lingkungan. Show all posts

0 “Kimia Abadi" (Forever Chemicals) Bisa melemahkan Tulang Anak-anak, Kata Penelitian

 

(Mindklongdan/iStock/Getty Images Plus)
Ada kekhawatiran yang terus meningkat atas kerusakan yang diakibatkan oleh “penggunaan zat kimia jangka lama (forever chemicals)’. Dan penelitian kini telah menghubung-hubungkan zat-zat ini dengan melemahnya tulang pada anak-anak.

Masing-masing dan setiap zat polyfluoroalkyl (FPAS) telah diberi julukan sebagai kimia abadi (forever chemicals) karena zat-zat tersebut melekat dan membandel di lingkungan. Zat-zat tersebut telah digunakan dalam industri manufaktur dan industri lainnya selama puluhan tahun, dan sulit dihindari.

Dalam sebuah penelitian terbaru, para peneliti dari AS dan Kanada telah meneliti data kesehatan terhadap 218 anak-anak ketika mereka mengalami pertumbuhan, dan memperhatikan level beberapa PFAS di dalam darah mereka: perfluorohexane sulfonic acid (PFHxS), perfluoroctane sulfonic acid (PFOS), perfluorooctanoic acid (PFOA), dan perfluorononanoic acid (PFNA).

Para peneliti telah melakukan referensi silang tentang level beberapa PFAS pada anak-anak usia tertentu dengan mengukur kepadatan tulang pada masing-masing bagian berbeda dari kerangka anak-anak tersebut.

Data menunjukkan adanya hubugan antara PFOA dengan kepadatan tulang lengan bawah pada anak usia 12 tahun. Untuk bagian-bagian lain yang di-scan, hubungan pada kepadatan tulang bervariasi dengan waktu paparan, yang mengisyaratkan bahwa usia adalah sebuah faktor penting dalam bagaimana PFAS bisa menimbulkan kerusakan.

hubungan yang lebih kuat ditemukan di tulang lengan bawah pada anak perempuan berusia 12 tahun, dengan PFOA (Buckley et al., J. Endocr. Soc., 2026)
 

“Hasil-hasil temuan ini menambah bukti adanya eksposur PFAS pada usia dini bisa menimbulkan konsekuensi kesehatan jangka panjang, yang menjadi pengingat bagi kita akan pentingnya upaya-upaya kita untuk mengurangi kontaminasi dalam air minum dan produk makanan yang kita makan,” kata ahli epidemiologi Jessie Buckley dari University of North Carolina.

Di antara banyaknya temuan-temuan yang ditemukan oleh para peneliti adalah bahwa hubungan antara level PFAS yang lebih tinggi dengan kepadatan tulang yang lebih rendah ternyata lebih kuat pada wanita, sebuah temuan yang bisa diteliti secara lebih rinci oleh penelitian-penelitian di masa yang akan datang.

Ini adalah sebuah penelitian observasional—para peneliti tidak melakukan intervensi langsung—dan oleh karena itu tidaklah membuktikan adanya hubungan sebab akibat. Akan tetapi, hubungan-hubungan yang ditemukan di sini kiranya cukup berarti untuk mengisyaratkan adanya hubungan antara PFAS dan kepadatan tulang, yang perlu diteliti lebih lanjut.

Perbedaan antara level PFAS yang paling tinggi dengan yang paling rendah bisa berarti adanya peluang sebesar 30 persen untuk mengalami kerapuhan tulang, menurut perkiraan para peneliti.

Sebuah penelitian terdahulu tentang hal ini menggarisbawahi bahwa massa tulang yang lebih rendah pada usia dini berhubungan dengan adanya resiko yang lebih tinggi akan terjadinya kerapuhan tulang dan kondisi-kondisi seperti osteoporosis ketika seseorang tumbuh menjadi dewasa.

Pertanyaan berikutnya adalah ada apa di balik adanya hubungan ini. Para peneliti merujuk pada penelitian terdahulu yang menghubungkan beberapa jenis PFAS berbeda dengan disrupsi vitamin D, yang boleh jadi menjelaskan adanya beberapa mekanisme ikut terlibat.

Vitamin D Adalah salah satu dari beberapa zat kimia dan zat-zat yang dibutuhkan tubuh untuk membanguan tulang dengan layak, dan meskipun penelitian ini hanya sampai pada anak berusia 12 tahun, namun ini merupakan usia yang krusial bagi pertumbuhan biologis dan perkembangan tubuh secara keseluruhan.

“Temuan kami ini mengisyaratkan bahwa berkurangnya eksposur PFAS selama masa developmental window utama (masa ketika otak anak sangat reseptif untuk mempelajari keterampilan baru seperti bahasa, pemrosesan sensorik, atau keterampilan motorik) bisa mendukung terbentuknya tulang yang lebih sehat selama usia hidup,” kata Buckley.

PFOA adalah sebuah PFAS yang umum karena telah banyak digunakan—pada produk tekstil, elektronik, dan pembersih. Sebagaimana telah banyak penelitian yang menghubungkan PFOA sebagai membahayakan kesehatan, maka penggunaan zat kimia ini sekarang dilarang di sekuruh dunia di bawah aturan Stockholm Convention, namun zat kimia ini masih banyak terdapat di lingkungan kita.

Dari lebih dari 10.000 PFAS yang ada untuk kita gunakan, hanya sedikit yang telah diteliti tentang keamanannya, dan Sebagian telah dihubungkan dengan timbulnya gangguan kesehatan pada konsentrasi tertentu.

PFOA, sebagai contoh, diberi label sebagai sebuah karsinogen oleh sebuah Badan Riset Internasional tentang kanker. PFOS berhubugan dengan kanker dan cacat lahir, dan PFNA telah dihubungkan dengan timbulnya penuaan dini pada sebagian orang.

Meski ada banyak usaha untuk menemukan cara untuk menghilangkan bagian yang paling membahayakan dari zat-zat kimia ini dari lingkungan, namun upaya ini masih dalam tahap awal. PFAS telah menyusup ke dalam makanan dan minuman kita, ke dalam siklus air, dan ke dalam tanah yang kita pijak, sehingga diperlukan kerja keras untuk membersihkannya.

Penelitian ini tidak meneliti bagaimana perkembangan kepadatan tulang anak-anak yang diteliti tersebut berlanjut hingga usia remaja dan dewasa. Yang ingin ditekankan oleh para peneliti adalah bahwa hal ini merupakan sesuatu yang perlu diperhatikan di masa yang akan datang guna lebih dapat memastikan lagi tentang adanya hubungan-hubungan yang disebutkan di sini.

“Penelitian lanjutan diperlukan untuk mengkaji apakah hubungan forever chemicals dengan kerapuhan tulang pada anak-anak ini masih bertahan atau berubah hingga usia dewasa,” tulis para peneliti di dalam sebah jurnal yang mereka terbitkan. (David Niels)

The research has been published in the Journal of the Endocrine Society.

https://www.yahoo.com/news/articles/forever-chemicals-may-weakening-bones-180002967.html

Read more

0 Habiskan Makanan di Piring Anda

 


Karena tinggal di daerah tujuan wisata, saya sering kali berinteraksi dengan para turis mancanegara yang berasal dari berbagai negara dari berbagai belahan benua. Dalam interaksi tersebut, tak jarang kami berada bersama-sama, satu meja, di rumah makan, baik secara disengaja, dengan janji, atau secara kebetulan karena berada di tempat yang sama, pada waktu yang sama.

Dari pengalaman makan bersama tersebut, ada hal menarik yang selalu saya perhatikan, dan selalu mengganggu pikiran saya setelah keluar dari rumah makan, yaitu bahwa mereka, para turis mancanegara itu, selalu menghabiskan makanan yang ada di piring mereka, sampai tandas, tak tersisa remah-remah apapun kecuali sisa-sisa endapan kuah yang belum kering. Hal ini membuat saya kikuk, malu, dan merasa bersalah karena di piring saya selalu tersisa remah-remah; tulang ikan, sisa sambal, atau potongan sayur nangka yang tak bisa saya makan.

Tentang sayur nangka ini saya punya cerita tersendiri. Sejak saya kecil, saya perhatikan, jika ibu memasak sayur nangka, dia selalu membuang core-nya (bagian tengah seperti batang tempat biji nangka menempel), dan hanya biji dan jeraminya yang dimasak. Kata ibu saya, bagian itu tak baik dimakan. Hal ini juga selalu diingatkan ibu pada anak-anaknya jika memasak sayur nangka. Peringatan ini tertanam dalam jiwa saya. Itulah sebabnya jika makan sayur nangka yang tidak dibuang core-nya di rumah makan, dan celakanya memang selalu tidak dibuang, saya selalu menyisakan core tersebut di piring saya, sehingga piring saya tak bisa bersih seperti piringnya si bule. Apalagi jika saya makan ikan, yang tak mungkin saya makan sama tulang-tulangnya.

Tapi bukan itu saja yang membuat piring saya tak bisa bersih. Kadang-kadang, saya mengambil sambal terlalu banyak dan tak mampu menghabiskannya, juga kuah yang tak mampu saya habiskan karena saya lebih menyukai makanan tak berkuah.

Lalu, bagaimana piring si bule bisa bersih dan tandas, apakah dia memakan core sayur nangka yang ada di piringnya? Jawabnya tentu saja ‘ya.’ Tapi bagaimana dengan tulang dan kepala ikan? Tentu saja para turis tersebut tidak memakannya, apalagi jika ikan tersebut disayur, bukan digoreng.

Tapi yang ingin saya ceritakan di sini adalah makanan yang bisa dimakan sampai tuntas, bukan makanan bertulang, seperti ikan, ayam, atau daging.

Kita, orang Indonesia, sering kali menyisakan makanan yang kita masukkan di piring kita di rumah makan, padahal sisa makan tersebut masih bisa dimakan.

Mungkin kita berpikir itu adalah hak kita karena makanan itu sudah kita beli. Tapi bukan itu yang dipikirkan para bule.

Masalahnya adalah sumber daya alam.

Sumber daya alam berupa makanan adalah terbatas. Mungkin sampai saat ini, sumber daya makanan yang tersedia di alam masih cukup untuk memberi makan semua manusia di muka Bumi ini. Tapi siapa tahu apa yang akan terjadi nanti. Jika kita menggunakan sumber daya alam berupa makanan itu secara boros, bukannya tidak mungkin suatu saat nanti akan ada orang yang tidak kebagian makanan. Dan menyisakan makanan di piring, karena sudah kenyang, tidak mampu lagi menghabiskan makanan tersebut adalah bentuk pemborosan. Jika Anda tidak mampu menghabiskan makanan di pring Anda, jangan mengambil makanan berlebihan.

Pikirkan bahwa di luar sana mungkin ada yang tidak kebagian makanan. Bayangkan jika ada pengunjung rumah makan lain yang tidak kebagian makanan karena persediaan makanan di rumah makan tersebut sudah habis, padahal banyak sisa-sisa makanan pengunjung lain yang terbuang di tempat sampah.

Dalam hal ini pikiran si bule memang lebih maju. Ketika berada di rumah makan, mungkin kebanyakan kita masih berpikiran bahwa adalah hak kita untuk menghabiskan, atau tidak menghabiskan, makanan yang sudah kita beli, sedangkan mereka, para bule itu, sudah memikirkan tentang pentingnya mempertahankan sumber daya alam yang berkesinambungan.

Read more
 
© Hasim's Space | Design by Blog template in collaboration with Concert Tickets, and Menopause symptoms
Powered by Blogger