Headlines

Powered by Blogger.
Showing posts with label Hijau. Show all posts
Showing posts with label Hijau. Show all posts

0 Menjadi Remaja Kembali Setelah Makan Buah-buahan dan Sayur-sayuran Mentah Selama 7 Tahun

Youthful: Susan Reynolds claims her raw food diet is the reason for her fresh-faced looks and healthy body
Merupakan bagian dari diet kacang-kacangan, biji-bijian yang spartan, buah-buahan dan sayur-sayuran boleh jadi tidak terlalu membangkitkan selera, namun Susan Reynolds, 29, mengatakan buah-buahan dan sayur-sayuran telah membuatnya tetap terlihat muda, sehingga dia sering kali dikira gadis berusia 16 tahun.

Susan, yang berasal dari Edinburg, terakhir kali makan makanan yang dimasak tujuh tahun lalu dan sekarang hanya mengkonsumsi buah-buahan, sayur-sayuran, padi-padian, biji-bijian, kacang-kacangan biji (nuts), dan kacang-kacangan buah (beans) mentah.

Wanita ramping berusia 29 tahun ini melahap lusinan porsi buah-buahan dan sayur-sayuran setiap hari, dan bahkan telah menciptakan sejumlah resep, termasuk sup dingin terbuat dari bayam (spinach), tumbuh-tumbuhan dan dan selada utuh, untuk membuat makanannya semakin menarik.

Makanan mentah yang menyehatkan yang menjadi santapannya sehari-hari ini jauh berbeda dari makanannya ketika kuliah, ketika itu, dia mengakui, dia terbiasa melahap masakan China. 

Dia juga menyukai McDonalds McChicken Sandwiches dan terbiasa menikmati menenggak vodka di malam hari.

Akan tetapi, semuanya berubah ketika dia mengenal dan mulai tertarik dengan yoga pada usia 21 selama melakukan perjalanan selama enam bulan ke India.

Setelah pulang Susan memutuskan menjadi seorang vegetarian dan berlatih untuk menjadi seorang guru yoga sebelum kecantol dengan makanan mentah.

‘Saya mencari sesuatu untuk dimakan di sebuah café yang bernama Red Sugar di Edinburg, yang menghidangkan makanan mentah,’ katanya.

‘Si pemilik café hanya mengatakan sedikit tentang menu makanan mentah mereka sehingga saya pulang, membaca buku tentang itu, dan memutuskan untuk mencoba. Perbedaan yang saya rasakan dalam sehari saja sungguh menakjubkan sehingga saya memutuskan untuk terus makan makakan mentah sejak saat itu. Saya tidak pernah lagi makanan makanan yang dimasak selama tujuh tahun terakhir ini.’

‘Dengan makan makanan mentah kita bisa menuai manfaat seperti kejernihan [mental], positivitas, kesehatan, energi, kulit yang bercahaya dan kemampuan menentukan pilihan.

‘Hal-hal lain yang telah dikomentari orang termasuk bau tubuh yang enak, kulit yang bagus dan awet muda. Orang-orang mengatakan saya kelihatan bagus untuk seusia saya. Saya juga seimbang secara emosional dan merasa bahagia.

Dan Susan kini telah mengalihkan kesenangannya akan makanan mentah menjadi bisnis yang diberi nama Twist and Sprout, yang menawarkan makanan sehat di mana para peserta diajarkan cara memperkenalkan makanan mentah dalam kehidupan mereka sendiri.

Meski makanan-makanan yang dia konsumsi kedengaran berat, namun Susan mengatakan dia tidak pernah punya keigninan untuk kembali makan makanan yang dimasak dan tetap mempertahankan makan makanan mentah setiap saat.

‘Saya rasa jika Anda membuang jauh-jauh keterikatan emosional Anda terhadap makanan yang dimasak, Anda tidak mengidamkan makanan-makanan itu lagi,’ katanya menjelaskan. 

‘Saya berfokus pada makanan-makanan yang banyak mengandung jus hijau, smoothies (semacam es buah), sup dan “elixirs” (tanaman obat). Saya mencoba makan sayuran hijau sebanyak mungkin dalam diet saya. 

Saya makan buah-buahan untuk mendapatkan energi dan makan lemak dari kacang-kacangan, biji-bijian dan kelapa secukupnya.  

Begitu setianya Susan pada pola makanan makanan mentah yang dia jalankan, hingga dia berusaha  meyakinkan kedua orang tuanya dan pacarnya Lourie, 22, untuk mencoba diet tersebut, dan pada hari Natal tahun lalu dia menyiapkan makanan mentah bagi hidangan mereka.

‘Saya menyajikan aneka buah sebagai hidangan pembuka—mereka menyukainya,’ katanya. ‘Kami makan mince pies (kue pastel berisi manisan) mentah yang terbuat dari kacang-kacangan dan biji-bijian sebagai pemanis. Saya makan selada (salad) raksasa dilengkapi dengan roti kecambah (sprouted breads) sebagai hidangan utama.’

Namun, Susan mengakui bahwa ayahnya David, yang besar di Glasgow, tampaknya tidak akan berhenti makan kue pastel (pies) meski dia melakukan olahraga secara teratur.

Sementara, ibunya Marion, yang sudah tidak asing dengan makanan yang aneh-aneh, menurut Susan, berhasil sembuh dari penyakit ME (sindrom kelelahan kronis) 14 tahun lalu dengan cara menghilangkan sama sekali gula dari makanannya.

‘Ibu biasanya hanya terbaring di tempat tidur tapi kini keadaannya berbalik hanya dengan makan makanan bebas gula,’ kata Susan mengenang.

‘Sekarang dia tidak menderita ME lagi. Saya kira pengalaman ibu saya tersebut adalah salah satu yang menginspirasi saya.’ (By Ruth Styles)

http://www.dailymail.co.uk/femail/article-2457571/Raw-food-diet-entrepreneur-Susan-Reynolds-mistaken-teenager.html
Read more

0 Kenalkan 'Tom Tato' Tanaman yang Bisa Menghasilkan Tomat Sekaligus Kentang



Sebuah tanaman yang bisa menghasilkan kentang dan tomat sekaligus, yang digambarkan sebagai sebuah “sayuran yang diplot di dalam pot”, telah diluncurkan di Inggris.

Tumbuhan yang dinamakan Tom Tato tersebut bisa menghasilkan 500 buah tomat cheri dan sekaligus menghasilkan kentang pada saat yang sama.

Perusahaan hortikultura mail order Thompson & Morgan, yang menjual tanaman tersebut seharga £14.99 sebatang, mengatakan bahwa tanaman hibrid tersebut dicangkokkan dengan tangan secara individual dan bukanlah merupakan hasil rekayasa genetik.

Tanaman cangkokan dari kentang dan tomat telah pernah dibuat di Inggris, namun Thompson & Morgan mengatakan ini adalah pertama kalinya mereka berhasil memproduksi tanaman cangkokan ini secara komersial.

Perusahaan tersebut mengatakan tomat yang dihasilkan jauh lebih manis dibandingkan dengan tomat yang ada di supermarket.

Paul Hansord, direktur hortikultura di perusahaan tersebut, mengatakan dia pertama kali mempunyai ide mengembangkan tanaman tersebut 15 tahun lalu di AS, ketika dia mengunjungi sebuah kebun di mana seseorang menanam tomat di bawah tanaman tomat lainnya sebagai sebuah lelucon.

Dia mengatakan: “Tom Tato tersebut telah diujicobakan selama beberapa tahun dan hasil akhirnya jauh lebih sempurna daripada yang pernah saya bayangkan, sebuah batang yang penuh dengan buah tomat dengan cita rasa yang bisa membuat tomat warung tak lagi layak dimakan, dan sekaligus, sebuah tanaman kentang yang baik hati untuk akhir musim.

“Adalah sangat sulit untuk membuat Tom Tato seperti yang dihasilkan sekarang ini karena batang tanaman tomat dan batang tanaman kentang harus mempunyai ketebalan yang sama agar bisa dicangkok, sebuah pekerjaan yang membutuhkan kemahiran tingkat tinggi untuk.

“Kami pernah melihat produk yang serupa, akan tetapi setelah diamati lebih dekat ternyata hanya tanaman kentang dan tanaman tomat yang ditanam bersama-sama di dalam sebuah pot—sedangkan tanaman kami ini adalah satu tanaman dan tidak menumbuhkan daun kentang.”

Tanaman ini bisa ditanam baik di luar maupun di dalam gedung, asalkan ditanam di dalam sebuah pot atau kantung yang besar.

Sebuah produk serupa, yang disebut “Potato Tom”, diluncurkan di sentra perkebunan di Selandia Baru minggu ini. (By John Hall/Friday 27 september, 2013)

PA

http://www.independent.co.uk/news/uk/home-news/the-tomtato-plant-which-produces-both-potatoes-and-tomatoes-launched-in-uk-8839501.html
Read more

0 6 Kebiasaan Bersih-bersih yang Sering Kali Keliru

Jangan suka menumpuk perabotan dapur di mesin cuci
Kebiasaan bersih-bersih yang selama ini Anda lakukan boleh jadi tidaklah seefisien yang Anda kira. Perbaiki kesalahan-kesalahan ini dan dapatkan segala sesuatunya menjadi lebih bersih berdasarkan tips dari kami, plus saran dari Carolyn Forté, direktur GHRI Home Appliances dan Cleaning Products Department. 

Related: 8 Cleaners That Need Cleaning

1. Piring, gelas, dan perabotan makan lainnya
Jangan terbiasa menjejalkan barang-barang di dalam mesin pencuci piring seperti ketika Anda bermain  game Tetris. Peralatan dapur yang dijejalkan bersama-sama di dalam mesin cuci tidak akan menjadi benar-benar bersih, jadi selang-selingkan penempatan sendok makan dengan gagang di atas dan gagang di bawah, tapi bagian atas garpu harus selalu di atas supaya benar-benar bersih. Di samping itu, pastikan Anda tidak mencampur peralatan dapur flatware (piring ceper) yang terbuat dari silver dengan yang terbuat dari stainless, karena yang terbuat dari silver bisa menjadi berbintik-bintik jika keduanya bersentuhan. Jangan pernah pula menumpuk peralatan dapur, karena air tidak akan bisa mencapai peralatan yang ada di bagian atas. Letakkan barang-barang yang sangat kotor di rak bawah dengan posisi menghadap ke tengah-tengah, di dekat semprotan air. Dan jika Anda menggunakan pewadah deterjen, letakkan itu di dalam dispenser—jika dilemparkan begitu saja, deterjen tersebut  akan larut terlalu cepat.
 
2. Gorden kamar mandi
Tidak perlu untuk membuang gorden kamar mandi Anda jika sudah kotor, kata Forté. Masukkan saja ke dalam mesin cuci, gunakan air hangat dan putar mesin dengan kecepatan sedang (gentle), bersama dengan handuk-handuk lama dan satu dosis pemutih (bleach) untuk menghilangkan jamur. Gantung gorden tersebut untuk mengeringkan, atau masukkan ke dalam pengering selama satu menit atau dua menit untuk mempercepat proses pengeringan.

Related: 10 Hidden Germ Spots You Should Always Avoid

3. Noda pada karpet dan tempat duduk
Jika menuruti instink Anda boleh jadi akan segera menyemprotkan cairan pembersih tepat di mana noda tersebut berada, tapi tindakan ini bisa membuat karpet terlalu basah dan merusak karpet atau kain dan membuatnya menjadi lebih sulit dibersihkan. Sebaliknya, semprotkan pembersih pada sehelai kain dan kemudian usapkan kain tersebut secara perlahan di tempat yang terkena noda hingga noda tersebut bisa hilang. Basuh dengan cara yang sama dengan menggunakan kain bersih yang dicelupkan ke dalam air hangat.

4. Jendela
Jangan salah membersihkan jendela pada hari yang panas—karena jendela akan menjadi cepat kering dan meninggalkan bekas-bekas goresan. Ketika cuaca mendung, mulailah membersihkan jendela dengan menyapu daun jendela, rangka jendela, dan kaca jendela dengan menggunakan sikat; atau vacuum yang dilengkapi dengan sikat debu untuk menghilangkan kotoran dan menghindari debu menggumpal. Meski ada yang menyarankan menggunakan kertas koran, namun GHRI tidak menganjurkan hal ini karena bisa mengotori jendela. Tetaplah menggunakan kain mikrofiber untuk mendapatkan hasil yang paling bersih!

Related: 8 Things You Think Are Dirty - But Really Aren't

5. Pakaian
Kesalahan yang umum terjadi adalah membubuhkan deterjen atau pelembut terlalu banyak ke dalam mesin cuci pakaian—cairan yang terlalu banyak tidak akan membantu membersihkan pakaian, perabot, atau tubuh Anda. Tetaplah mengikuti ukuran seperti yang direkomendasikan sesuai dengan ukuran kain atau derajat kekotoran pakaian yang Anda cuci (kebanyakan ukuran pakaian adalah medium hingga besar), kata Forté. Jika cucian Anda adalah pakaian berukuran XL atau terlalu kotor, tambahkan sedikit lagi deterjen atau pelembut.

6. Peralatan elektronik
HP, iPod, dan perangkat genggam lainnya mudah menjadi lengket, tapi membersihkannya dengan menyemprotkan cairan pembersih bukanlah ide yang baik. Kain mikrofiber adakah yang terbaik untuk membersihkan layar LCD. Forté menyarankan menggunakan kain pengering Swiffer untuk membersihkan peralatan elektronik dan menghilangkan noda. (By Good Housekeeping | At Home – Fri, Aug 23, 2013 4:27 PM EDT)

More from Good Housekeeping:
http://shine.yahoo.com/at-home/6-things-youve-cleaning-wrong-161000671.html
Read more

0 Gempa Bumi Besar Bisa Membuat Gunung Api Terperosok

volcanos from space
Jeff William/International Space Station (ISS) Expedition

Gempa bumi yang besar bisa menggerakkan gunung.

Gempa bumi besar yang melanda Jepang dan Chili pada tahun 2011 dan 2010, masing-masing, telah menyebabkan beberapa gunung api besar terperosok hingga mencapai 6 inci (15 centimeter), menurut laporan dua studi terbaru.

Ini adalah kali pertama para ilmuwan menyaksikan serangkaian gunung berapi terperosok setelah terjadinya gempa bumi. Meski gunung-gunung tersebut berada di seberang Samudera Pasifik, namun terperosoknya kedua gunung tersebut tampak sangat serupa. Kedua tim tersebut mengemukakan penjelasan berbeda tentang mengapa gunung-gunung berapi tersebut bisa terpesosok, menurut studi yang mereka lakukan, yang diterbitkan dalam jurnal Nature Geoscience tanggal 30 Juni. Akan tetapi, kedua kelompok tersebut sepakat bahwa para ilmuwan tampaknya akan bisa menemukan lebih banyak contoh gunung api yang terperosok setelah terjadinya gempa bumi besar, dan menemukan sebuah mekanisme tunggal yang mengontrol proses tersebut.

“Kesamaan yang terdapat pada kedua gunung tersebut adalah sesuatu yang mengagumkan,” kata Matthew Pritchard, seorang ahli geofisika di Cornell University di Ithaca, N.Y., dan kepala pengarang dari salah satu studi. “Saya kira ini cukup membuktikan bahwa kasus serupa ini terjadi di mana-mana.”

Into the deep

Para peneliti terdahulu hingga Charles Darwin telah memperhatikan bahwa gunung berapi kadang-kadang menyemburkan puncaknya setelah gempa bumi. Dan gempa bumi kolosal, seperti gempa bumi Jepang yang bermagnitude 9,0 pada tahun 2012 dan gempa bumi temblor Chili yang bermagnitude 8,8 pada tahun 2010, bisa memicu guncangan kecil pada gunung-gunung berapi yang berjarak ribuan mil jauhnya. Namun kemungkinan adanya hubungan langsung antara gempa bumi dengan letusan gunung api luput dari perhatian para ilmuwan. [7 Craziest Ways Japan's Earthquake Affected Earth]

Setelah gempa Chili dan Jepang, tim riset di balik dua studi terbaru tersebut (masing-masing kelompok bekerja secara independen), ketika itu berencana melacak tanda-tanda akan terjadinya erupsi. Namun bukannya menemukan gunung api yang membuncit—sebuah pertanda bahwa magma sedang naik dari dalam perut bumi—tim tersebut hanya menemukan gunung-gunung yang melorot, atau tidak mengalami perubahan sama sekali. Tidak ada tanda-tanda akan terjadi erupsi ditemukan pada sejumlah gunung api di kedua negara tersebut.

Sebaliknya, gunung api dan kompleks-kompleks kaldera besar serupa dengan yang ada di Yellowstone National Park—sebuah area seluas 9 kali 18 mil (15 kali 30 kilometer)—melorot sedalam 2 hingga 6 inci (5 hingga 15 cm). Masing-masing area berbentuk seperti sebuah oval yang panjang, berbaris paralel menuju pusat gempa di tengah laut yang terletak antara 200 hingga 300 km (antara 125 hingga 185 mil) jauhnya.

Data satelit menunjukkan adanya perbubahan-perubahan tersebut pada kedua tim peneliti.
“Bahkan meski tanpa erupsi yang terlihat, gempa yang besar bisa mempengaruhi gunung api,” kata Youichiro Takada, seorang ahli geofisika di Kyoto University di Jepang dan pengarang kepala dari salah satu dari studi tersebut, dalam sebuah wawancara melalui email.

Berbagai penyebab

Pritchard dan para koleganya, yang meneliti gempa bumi Chili, menduga guncangan seismik telah membuka rekahan (fissures) dan patahan (fractures) yang kemudian memberi jalan keluar bagi cairan hidrotermal yang terpendam dalam gunung api, sama dengan mengguncang sebuah botol soda hingga membuat bagian atasnya terbuka. Begitu cairannya keluar, maka tanahnya terhempas dan terperosok.

Namun kelompok Takada, yang meneliti gempa bumi Jepang, mengira bilik-bilik magma di bawah gunung api terprosok lebih dalam daripada tanah si sekitarnya. Bebatuan panas tersebut lebih lemah dan lebih banyak berubah bentuk sebagai reaksi dari perubahan pada kerak bumi yang disebabkan oleh gempa yang besar.

Data mereka, yang lebih tepat waktu daripada kelompok Chili didapat berkat adanya jaringan monitoring GPS yang padat di Jepang, yang juga menunjukkan gunung-gunung api tersebut terperosok segera setelah gempa bumi terjadi.

Penelitian lebih lanjut akan bisa mengungkap model mana yang benar, atau mungkin keduanya salah, kata Sigurjon Jonsson, seorang ahli geofisika pada King Abdullah University of Science and Technology di Saudi Arabia yang tidak terlibat dalam penelitian tersebut.

“Kedua observasi di Jepang dan Chili tersebut sangat serupa sehingga saya yakin bahwa keduanya  disebabkan oleh mekanisme yang sama (dan boleh jadi lebih dari satu), bukannya dua mekanisme yang berbeda di dua negara yang berbeda,” kata Jonsson dalam sebuah wawancara melalui email.

Kedua tim tersebut berencana meneliti catatan satelit untuk mendapatkan bukti-bukti terperosoknya gunung di masa lampau setelah terjadinya gempa bumi dengan berbagai ukuran, dan mengamati gunung api jika terjadi gempa bumi di masa yang akan datang dan menangkap setiap perubahan yang terjadi.

Studi-studi tersebut menawarkan bukti-bukti lanjutan tentang mengapa sebagian gempa bumi bisa memicu erupsi gunung api dan sebagian lainnya tidak, kata Pritchard.

“Pada dasarnya, sistem gunung api harus handal dan siap menghadapi gempa bumi yang akan membuatnya terperosok,” kata Pritchard. “Jika, kebetulan, tidak ada gunung api yang berada dekat dengan pusat gempa, maka tidak akan ada erupsi gunung api yang dipicu oleh gempa bumi (setelah gempa bumi),” katanya. (Becky Oskin July 1, 2013)

Email Becky Oskin or follow her @beckyoskin. Follow us @OAPlanet, Facebook & Google+. Original article on LiveScience's OurAmazingPlanet.

http://news.yahoo.com/massive-earthquakes-volcanoes-sink-123652503.html
Read more

0 Mengapa Lebah Madu Menghilang

FILE - This April 25, 2007 file photo shows a colony of honeybees at the Agriculture Department's Bee Research Laboratory in Beltsville, Md. A new federal report blames a combination of problems for a mysterious and dramatic disappearance of U.S. honeybees since 2006. The factors cited include a parasitic mite, multiple viruses, bacteria, poor nutrition and pesticides. Experts say having so many causes makes it harder to do something about what's called colony collapse disorder. The disorder has caused as much as one-third of the nation's bees to just disappear over the winter each year since 2006. The report was issued Thursday by the Agriculture Department and the Environmental Protection Agency.  (AP Photo/Haraz N. Ghanbari, File)
(AP Photo/Haraz N. Ghanbari, File)

WASHINGTON (AP) —Sebuah laporan federal terbaru menuding sejumlah masalah sebagai penyebab punahnya lebah madu di AS secara misterius dan dramatis semenjak tahun 2006.

Faktor-faktor yang kait mengkait tersebut dikutip termasuk tungau parasit, berbagai virus, bakteria, kekurangan nutrisi, genetik, kehilangan habitat dan penggunaan pestisida.

Adanya berbagai penyebab tersebut membuat sulit untuk melakukan sesuatu untuk mengatasi apa yang disebut sebagai gangguan kolaps koloni ini, kata para ahli. Gangguan tersebut telah menyebabkan sebanyak sepertiga dari lebah di AS menghilang setiap kali musim dingin semenjak tahun 2006.

Lebah, khususnya lebah madu, dibutuhkan untuk menyerbuk tanaman.

Laporan federal, yang diterbitkan pada hari Kamis lalu oleh Departemen Pertanian dan Dinas Pelrindungan Tanaman AS, mengatakan penyebab terbesar adalah tungau parasit pemusnah varroa, dan menyebutnya sebagai hama tunggal yang paling detrimental bagi lebah madu.”

Masalah tersebut juga telah menyerang koloni lebah di Eropa, di mana para regulator tengah mempertimbangkan pelarangan sejenis pestisida yang dikenal sebagai neonicotinoids yang oleh sebagian kelompok lingkungan dianggap sebagai penyebab punahnya lebah. Laporan dari AS juga menyebut-nyebut pestisida, namun hampir berada di urutan bawah sebagai penyebab. Dan para pejabat federal dan para peneliti yang menasehati mereka mengatakan bahwa sains belum mennentukan pestisida sebagai penyebab.

May Berenbaum, seorang peneliti lebah terkemuka dari Universitas Illinois, mengatakan dalam sebuah wawancara bahwa dia “sangat meragukan” bahwa melarang penggunaan pestisida akan berpengaruh terhadap kesehatan lebah. Dia ikut serta dalam sebuah konferensi besar ilmuwan yang diselenggarakan tahun lalu untuk mencari tahu apa yang sebenarnya sedang terjadi, dan laporan terbaru tersebut adalah hasil dari konferensi tersebut.

Berenbaum mengatakan lebih dari 100 zat kimia berbeda—bukan hanya pestisida yang mungkin dilarang di Eropa—telah ditemukan di dalam koloni lebah. Para ilmuwan menemukan kesulitan dalam  menghitung bagaimana lebah-lebah itu bereaksi dalam dosis-dosis yang berbeda dan kombinasi-kombinasi pestisida yang berbeda, katanya.

Sebagian dari zat kimia ini bisa merusak sistem imun lebah atau memperkuat virus, kata ahli dari Universitas Pennsylvania Diana Cox-Foster.

Dalam sebuah konferensi pers pada hari Kamis lalu, Sonny Ramaswamy, seorang pejabat tingkat tinggi USDA, mengatakan konsensus ilmiahnya adalah bahwa ada banyak faktor penyebab “dan Anda tidak bisa menunjuk salah satunya sebagai tak terbantahkan.”

Peneliti lebah dari USDA Jeff Pettis juga mengatakan bahwa pertanian modern sering kali mempersempit wilayah lebah mencari makan.

Dave Gaulson dari Universitas Stirling di Skotlandia, yang melakukan sebuah penelitian tahun lalu yang melibatkan zat kimia yang dianggap sebagai penyebab musnahnya lebah tersebut, mengatakan bahwa dia tidak setuju dengan kesimpulan menyeluruh yang diambil dalam laporan pemerintah AS. Akan tetapi, dia mengatakan laporan tersebut semestinya lebih menekankan pada pestisida sebagai penyebab.

Kelompok pecinta lingkungan, Jaringan Aksi Pesitisida Amerika Utara menyalahkan pemerintah federal karena tidak mengikuti jejak Eropa dalam menentukan larangan pestisida tertentu.

Serangga penyerbuk, seperti halnya lebah madu, krusial terhadap suplai makanan di AS. Sekitar $30 miliar setahun dalam pertanian tergantung pada kesehatan serangga penyerbuk tersebut, kata Ramaswamy.

Di samping membuat madu, lebah madu menyerbuk lebih dari 90 tanaman bunga. Di antara tanaman tersebut adalah berbagai buah-buahan dan sayur-sayuran: apel, alpukat, kedelai, asparagus, brokoli, buah sitrus dan kranberi. Sekitar sepertiga makanan manusia berasal dari tumbuhan yang diserbuk oleh serangga, dan lebah madu bertanggung jawab menyerbuk 80 persen di antaranya.

“Masalah ini menyangkut semua orang Amerika disadari atau tidak,” kata penjabat administrator EDPA Bob Perciasepe.

Zac Browning seorang peternak lebah komersial generasi keempat yang mengelola sarang lebah di Idaho, Dakota Utara dan Kalifornia, mengatakan AS berada “di ambang” kekurangan lebah untuk melakukan penyerbukan pada tanaman mereka.

Ahli ilmu serangga dari Universitas Maryland David Inouye, yang tidak terlibat dalam laporan federal tersebut, mengatakan bahwa dia setuju ada berbagai penyebab.

“Ini bukan situasi mudah. Jika hanya ada satu faktor penyebab, tentu kita sudah bisa mengetahuinya sekarang,” katanya.

Inouye, presiden terpilih Masyarakat Ekologi Amerika, mengatakan masalah di Eropa dan Amerika Serikat boleh jadi agak berbeda. Di Amerika, sarang lebah diangkut dengan truk dari lahan pertanian yang satu ke lahan pertanian lain untuk melakukan penyerbukan terhadap lahan yang luas dan hal itu boleh jadi membantu menyebarkan parasit dan penyakit, di samping membuat koloni lebah menjadi stress, sedangkan di Eropa sarang-sarang lebah tersebut tetap berada di tempatnya sehingga isu-isu di atas boleh jadi bukan merupakan sebuah faktor utama.

Dalam konferensi pers tersebut, Berenbaum mengatakan tidak ada solusi tunggal bagi masalah lebah di AS: “Kita tidak dilengkapi dengan peralatan yang cukup atau terbiasa bertempur di berbagai front.” (By SETH BORENSTEIN | Associated Press – Thu, May 2, 2013 3:43 PM EDT)
___
Online:
The report: http://www.usda.gov/documents/ReportHoneyBeeHealth.pdf
___
Seth Borenstein can be followed at http://twitter.com/borenbears
http://weather.yahoo.com/feds-many-causes-dramatic-bee-disappearance-152605922.html
Read more

0 Global Forest Watch 2,0 Inisiatif baru dalam Mencegah Kerusakan Hutan

Photo: UN Forum on Forests/Fendi Aspara

Ada sebuah inisiatif baru yang terungkap dalam Forum Hutan PBB (United Nations Forum on Forests) beberapa hari yang lalu dalam hal penyediaan informasi yang jelas dan tepat waktu sehingga pemerintah di berbagai  negara, perusahaan-perusahaan, dan masyarakat bisa lebih mudah dalam memerangi kerusakan hutan.

Global Forest Watch 2,0 adalah sebuah sistem monitor hutan yang real-time, interaktif dan independen yang menggabungkan teknologi satelit, data sharing dan jaringan manusia di seluruh dunia untuk menyediakan informasi yang penting untuk pengelolaan hutan yang lebih baik.

Sistem ini dikembangkan oleh World Resources Institute dan sejumlah partner—termasuk Google, Universitas Maryland dan Program Lingkungan PBB (UNEP)—dan telah di-previewed untuk para peserta dalam sesi pertemuan Forum tersebut baru-baru ini di Istanbul, Turki.

“Global Forest Watch 2,0, yang baru saja diluncurkan ini, muncul pada saat yang tepat,” kata Wakil Sekretaris Jenderal bidang Ekonomi dan Sosial Wu Hong dalam pertemuan tersebut.

“Dalam melaksanakan pengelolaan hutan yang berkesinambungan, terpercaya, up-to-date dan dan mudah diakses, data dan informasi adalah esensial untuk pemantauan, assessment dan intervensi efektif,” katanya.

Alat baru yang “luar biasa” ini merepresentasikan sebuah langkah penting dalam memberdayakan 
 pemerintahan dan masyarakat di berbagai negara untuk mengambil keputusan yang berdasarkan informasi dan bukti dalam upaya memajukan manajemen hutan yang berkesinambungan, katanya menambahkan. 

“Bagi kebijakan yang didasarkan atas sains dan fakta, data dan informasi harus bisa diakses secara luas dan mudah. Data dan informasi tersebut harus pula dalam format-format yang bisa digunakan untuk pembuatan keputusan dalam domain publik,” kata Mr. Wu. “Global Forest Watch 2,0 akan membantu mencapai tujuan tersebut.”

Dengan memperkenalkan alat baru tersebut, Nigel Sizer, Direktur, Global Forest Initiative, World Resources Institute, mengemukakan bahwa banyak negara telah membuat kemajuan besar dalam hal memperbaiki kualitas informasi yang dikumpulkan tentang hutan dan dalam hal membuat informasi tersebut bisa diakses.  

Salah satu contoh adalah Brasil, dengan sistem pemantauan hutannya yang mendekati real-time yang sangat membantu dalam memperkuat upaya-upaya penegakan hukum tentang hutan di negara tersebut.

“Laju penggundulan hutan di wilayah Amazon Brazil telah menurun sebanyak 80 persen semenjak tahun 2004,” kata Mr. Sizer. “Menurut pejabat senior Brazil, hal ini sebagian disebabkan oleh usaha-usaha mereka untuk memperbaiki kualitas dan ketersediaan informasi tentang apa yang sedang terjadi pada hutan-hutan mereka dan untuk membuat informasi tersebut tersedia dengan cepat bagi mereka yang berwenang mengambil tindakan.” 

Contoh lainnya adalah Gabon, yang kini sedang menginvestaikan jutaan dolar dalam upaya memperbaiki akses bagi pencitraan satelit di sekitar wilayah tersebut dan penginderaan jarak jauh untuk program infrastruktur yang baru yang sedang dikembangkan di darat. 

“Namun kita perlu melakukan lebih banyak lagi,” kata Mr. Sizer menekankan, dengan menambahkan bahwa para pengelola hutan dan mereka yang bertanggung jawab terhadap hutan di banyak negara masih kekurangan akses terhadap informasi tepat waktu tentang apa yang sedang terjadi di hutan mereka. Hal ini menjadi masalah baik di negara-negara berkembang maupun di negara-negara maju. 

Ada sejumlah masalah di dalam wilayah ini, termasuk fakta bahwa informasi tidak up-to-date; adalah sangat mahal untuk mengumpulkan informasi; dan proses pengumpulan informasi tersebut sangat teknis. 

“Banyak negara yang kini mengeluarkan biaya jutaan dolar hanya untuk mengumpulkan dan mencoba menganalisis data satelit daripada membelanjakan dana tersebut untuk membahas masalah-masalah yang timbul dari adanya informasi satelit tersebut.

Menurut World Resources Institute, inisiatif baru ini dimungkinkan berkat adanya sebuah konvergensi dari teknologi dan jaringan manusia, termasuk kemajuan-kemajuan dalam teknologi satelit dan penginderaan jarak jauh.

Juga, cloud computing (Internet) dan open source software sekarang bisa digunakan untuk memproses dan menginterpretasikan dengan cepat data satelit dalam jumlah besar dengan biaya murah dengan cara memanfaatkan rangkaian server yang tersebar di seluruh dunia. Tim Google Earth Engine bekerja sama dengan Global Forest 2,0 untuk mengoptimalkan akses yang mudah bagi pencarian informasi tentang hutan berbasis cloud computing. 

Sementara itu, koneksi Internet yang berkecepatan tinggi telah memungkinkan pengiriman data dan proses pemetaan hutan yang dilakukan di Amerika Utara, Eropa atau Singapura untuk dikirim ke laptop-laptop dan HP di Jakarta, Kinshasa, Lima, Vladivostok, dan sudut-sudut dunia lainnya. Juga, smartphone, yang kini semakin banyak dan banyak lagi, bisa digunakan oleh siapa saja yang ada di lapangan untuk men-download peta-peta dan gambar-gambar satelit, dan juga meng-upload koordinat-koordinat GPS dan foto-foto dari darat.

Sebagai tambahan, crowdsourcing (sebuah proses di mana produk dan jasa dan penyebaran dan perawatannya dilakukan oleh banyak penyedia) dengan menggunakan berbagai interface web yang sederhana bisa menggerakkan orang dalam jumlah besar untuk mengumpulkan dan membagi informasi, berpartisipasi dalam memantau hutan, dan membuat para pembuat keputusan bisa dipercaya. Ditambah dengan adanya berbagai outlet media sosial yang bisa menyebarkan informasi dengan cepat, yang bisa membantu masyarakat dalam mengorganisir, dan memobilisasi orang untuk bertindak.



News Tracker: past stories on this issue

http://www.un.org/apps/news/story.asp?NewsID=44600&Cr=forests&Cr1#.UWfVO0pLlDt
Read more

0 Biro Intelijen AS Ingatkan Perubahan Iklim Bisa Timbulkan Ancaman Keamanan


Perubahan iklim bisa memicu timbulnya instabilitas regional dan menyulut ketegangan internasional, menurut sebuah laporan utama dari Biro Intelijen Nasional AS baru-baru ini.
Dirilis kemarin, Global Trends 2030 report berusaha memetakan trend keamanan yang akan membentuk hubungan-hubungan internasional selama dua dekade mendatang. Laporan tersebut adalah seri terakhir dari serangkaian studi dari biro-biro keamanan nasional di seluruh dunia untuk mengakui bahwa perubahan iklim dan kemungkinan dampaknya terhadap makanan, air, dan suplai sumber daya alam dapat menimbulkan ancaman keamanan.

“Permintaan akan makanan, air, dan energi akan bertumbuh mencapai 35, 40 hingga 50 persen secara berturut-turut, berkat adanya peningkatan penduduk dunia dan pola konsumsi dari kelas menengah yang kian bertumbuh,” kata laporan tersebut. “Perubahan iklim akan memperburuk prospek ketersediaan sumber daya alam penting ini.
Laporan tersebut berusaha meyakinkan bahwa kelangkaan makanan dan air bisa dihindari, hanya jika ada langkah-langkah yang terkoordinasi untuk memperbaiki produktivitas dan efisiensi dalam bidang industri dan ekonomi.
“Kita tidak benar-benar sedang menuju ke dalam dunia yang penuh dengan kelangkaan, namun para pembuat kebijakan dan partner mereka dalam sektor swasta perlu proaktif untuk menghindari timbulnya masa depan yang seperi itu,” kata laporan tersebut. “Banyak negara yang mungkin tidak akan mampu mengatasi kelangkaan makanan dan air tanpa adanya bantuan besar-besaran dari negara lain.”
Laporan tersebut juga mengakui bahwa serangkaian terobosan teknologi akan diperlukan untuk menangani resiko-resiko yang berhubungan dengan perubahan iklim. “Teknologi-teknologi kunci yang tampaknya akan berada di garis depan dalam mengelola dan mempertahankan sumber daya alam [energi, makanan dan air] dalam tempo 15-20 tahun mendatang akan mencakup teknologi tanaman yang dimodifikasi secara genetis,teknologi  pertanian yang saksama (precision agriculture), teknik-teknik irigasi air, energi matahari, bahan bakar berbasis bio yang mutakhir, dan ekstraksi gas dan minyak yang disempurnakan  melalui teknik fracturing (perekahan Bumi),” kata laporan tersebut.
“Mengingat pengembangan ekonomi bisa menimbulkan resiko terhadap suplai dan harga sumber daya alam utama dan terhadap dampak awal dari perubahan iklim, negara-negara berkembang utama boleh jadi menyadari pentingnya mendahulukan komersialisasi teknologi sumber daya alam generasi yang akan datang terlebih dahulu.
“Di samping biaya yang kompetitif, ekspansi atau adopsi teknologi pengelolaan sumber daya alam dalam tempo lebih dari 20 tahun ke depan akan banyak tergantung pada penerimaan sosial dan arah dan resolusi dari isu-isu politik mendatang. 
Di samping membahas tentang keamanan sumber daya alam, laporan tersebut juga mengingatkan perubahan iklim tampaknya akan mengarah pada meningkatnya migrasi, khususnya di Asia dan Afrika pada tahun 2020-an, yang akhirnya bisa mengarah pada meningkatnya ketegangan regional yang sudah ada sebelumnya.
Laporan tersebut juga memprediksi bahwa kemungkinan meningkatnya peristiwa-peristiwa iklim “black swan” yang mengganggu, seperti banjir yang baru –baru ini terjadi di Pakistan atau Badai Sandy di AS, bisa menimbulkan resiko keamanan di beberapa wilayah.
“Perubahan-perubahan yang dramatis dan tak terduga kini terjadi lebih cepat dari yang kita perkirakan,” kata laporan tersebut mengingatkan. “Kebanyakan ilmuwan tidak yakin dalam memprediksi peristiwa-peristiwa seperti itu. Perubahan-perubahan yang serba cepat dalam pola-pola curah hujan—seperti musim hujan di India dan di bagian Asia lainnya—bisa sangat mengganggu kemampuan wilayah-wilayah tersebut dalam memenuhi makanan bagi pendudknya.
·         Akan tetapi, laporan tersebut mencatat satu perkembangan keamanan yang “positif” dari sektor energi, dengan menunjukkan bahwa peristiwa booming serpihan gas di AS adalah  representasi dari adanya sebuah “pergeseran tektonik” yang akan memungkinkan negara tersebut menjadi independen dalam bidang energi. Namun laporan itu juga mengakui bahwa “debat soal lingkungan tentang perekahan Bumi (fracturing), terutama soal polusi sumber daya air, bisa menggagalkan pembangunan energi dengan cara seperti itu. (James Murray for BusinessGreen, part of the Guardian Environment Network guardian.co.uk, Tuesday 11 December 2012 12.39 GMT)
http://www.guardian.co.uk/environment/2012/dec/11/intelligence-community-climate-security-threat?intcmp=122
Read more

0 Polusi Karbon Capai 2 Juta Pond Per Detik


(WASHINGTON) —Jumlah polusi yang menimbulkan panas di seluruh dunia kini meningkat lagi sebanyak 3 persen dibandingkan tahun lalu. Sehingga para ilmuwan mengatakan kini  tampaknya kecil kemungkinan pemasan global bisa dibatasi hingga beberapa derajat, sebagaimana yang dicita-citakan dunia internasional.
Sebagian besar peningkatan ini berasal dari China, negara pembuat polusi karbon dioksida terbesar di dunia. Dari 10 besar negara pembuat polusi di planet ini, AS dan Jerman adalah satu-satunya negara yang emisi karbon dioksida-nya menurun.
Tahun lalu, seluruh negara di dunia memompakan hampir 38,2 miliar ton karbon dioksida ke udara dari pembakaran bahan bakar fosil seperti batu bara dan minyak, menurut kalkulasi internasional terbaru tentang emisi global yang terbit pada hari Minggu dalam jurnal Nature Climate Change. Jumlah tersebut satu ton lebih banyak dibandingkan tahun lalu.
Sejumlah total lebih dari 2,4 juta pond karbon dioksida dilepas ke udara setiap detiknya.
Karena emisi dari gas rumah kaca utama telah naik secara terus menerus dan kebanyakan karbon tetap berada di udara selama satu abad, maka tidak hanya kecil kemungkinan namun kiranya “agak berlebihan” untuk berpikir bahwa dunia bisa membatasi peningkatan temperatur hingga 2 derajat, kata kepala pengarang peneliti, Glen Peters di Pusat Riset Internasional tentang Iklim dan Lingkungan di Oslo, Norwegia.
Tiga tahun lalu, hampir 200 negara di dunia telah menetapkan temperatur 2 derajat sebagai sebuah tujuan bersama dalam sebuah kesepakatan yang tidak mengikat. Para negosiator kini sedang menyelenggarakan konferensi di Doha, Qatar, untuk mencari jalan mencapai tujuan tersebut.
Satu-satunya jalan, kata Peters, adalah dengan memulai mengurangi emisi dunia sekarang juga dan “membuang segala sesuatu yang tidak kita perlukan untuk memecahkan masalah tersebut.”
Andrew Weaver, seorang ahli iklim di Universitas Victoria di Kanada yang tidak ikut ambil bagian dalam studi tersebut, mengatakan: “Kita sekarang tengah kehilangan kontrol akan kemampuan kita dalam menangani masalah pemanasan global.”
Pada tahun 1977, sebagian besar negara di dunia menyetujui sebuah perjanjian internasional, yang dikenal sebagai Protokol Kyoto, yang meminta negara-negara maju seperti AS mengurangi emisi gas rumah kaca sebanyak 5 persen dari patokan pada tahun 1990. Namun negara-negara berkembang, termasuk China dan India, jumlah buangan karbon dioksida-nya tidak dibatasi. AS tidak pernah meratifikasi perjanjian tersebut.
Angka polusi terakhir, yang dihitung oleh Proyek Karbon Global, sebuah kerja sama antara  Departemen Energi dan Badan Riset Norwegia, menunjukkan bahwa level karbon dioksida dunia sekarang adalah 54 persen lebih tinggi dibandingkan dengan patokan pada tahun 1990.
Negara-negara pembuat polusi terbesar tahun 2011:
1. China, naik 10 persen hingga mencapai 10 miliar ton.
2. Amerika Serikat, turun 2 persen hingga mencapai 5.9 miliar ton.
3. India, naik 7 persen hingga mencapai 2.5 miliar ton.
4. Rusia, naik 3 persen hingga mencapai 1.8 miliar ton.
5. Jepang, naik 0.4 persen hingga mencapai 1.3 miliar ton.
6. Jerman, turun 4 persen hingga mencapai 0.8 miliar ton.
7. Iran, naik 2 persen hingga mencapai 0.7 miliar ton.
8. Korea Selatan, naik 4 persen hingga mencapai 0.6 miliar ton.
9. Kanada, naik 2 persen hingga mencapai 0.6 miliar ton.
10. Afrika Selatan, naik 2 persen hingga mencapai 0.6 miliar ton.
 

http://science.time.com/2012/12/02/carbon-pollution-up-to-2-million-pounds-a-second/#ixzz2DvRrjQ6W
Read more

0 Apakah Lapisan Ozone Itu


ozone layer
Image credit: Flickr NASA Earth Observatory
Apakah Ozon itu?
Ozon adalah salah satu dari trace gas (sebuah gas yang membentuk kurang dari 1% dari volume atmosfer Bumi) yang terdapat  secara alami, yang juga dikenal sebagas Gas-gas Rumah Kaca, yang membentuk atmosfer kita.
Di mana Ozon ditemukan?
Ozon secara alami berwujud sebagai sebuah lapisan (lapisan ozon) di dalam Stratosfer (salah satu dari lima lapisan atmosfer). Pentingnya lapisan ozon di dalam atmosfer Bumi dibuktikan oleh fakta bahwa lapisan ozon tersebut bertugas menghalangi sebagian besar dari Sinar Ulta-Violet (UV) yang berbahaya  dari mencapai Bumi, yang kalau tidak akan menimbulkan banyak penyakit termasuk kerusakan mata dan kanker kulit. Peran penting dari lapisan ozon yang lain adalah di dalam atmosfer yang rendah lapisan ozon bertugas menjebak panas dari matahari dan me-radiasi ulang sinar matahari tersebut ke segala arah (yang dikenal sebagai efek rumah kaca). Hal ini bisa menjaga Bumi tetap hangat dan tanpa ini temperatur Bumi bisa mencapai level sub-nol setiap malamnya. Selain berbentuk alami Ozon juga tercipta melalui aktifitas manusia (ditemukan di Troposfer, lapisan yang terdekat dengan Bumi) dan bisa menimbulkan bahaya bagi semua bentuk kehidupan di Bumi.
ozone layer
Image credit: Flickr NASA Goddard Photo and Video
Bahaya Ozon:
Karena perannya yang berbeda, maka ozon alami yang ditemukan di dalam Stratosfer disebut ozon yang “baik” dan ozon yang terdapat di dalam Troposfer (buatan manusia) dinamakan ozon yang “jahat”. Ancaman terhadap kehidupan yang terbesar di Bumi adalah ketidakseimbangan (akibat perkembangan teknologi dari manusia) antara ozon yang baik dan ozon yang jahat, di mana ozon yang baik menjadi kekurangan sedangkan ozon yang “jahat” meningkat jumlahnya di dalam udara yang kita hirup. Kekurangan  ozon yang “baik” juga diakibatkan oleh induistrialisasi, ketika banyak industri menggunakan bahan-bahan kimia buatan pabrik yang mengandung klorin dan/atau bromine (disebut ODS atau ozone-depleting substances (zat perusak ozon). Zat-zat kimia ini mengambang di dalam Stratosfer dan kini menyebabkan menipisnya lapisan ozon.
Tindakan apa yang diambil dalam level internasional untuk melindungi Ozone
Pemerintah berbagai negara telah menandatangani sebuah perjanjian internasional yang melarang produksi sejumlah besar zat-zat yang dipercaya sebagai bisa menyebabkan menipisnya lapisan ozon (Protokol Montreal) dan banyak sekali prakarsa lainnya yang kini diajukan dan diimplementasikan oleh masyarakat industri global untuk mencegah kerusakan lebih lanjut.
Bagaimana cara kita berpartisipasi?
Pada level individual kita bisa memberi kontribusi dengan cara:
·  Mengunakan produk-produk yang diberi label “Ramah-ozon”
·  Memilih membeli AC dan kulkas yang bebas CFC
·  Memastikan bahwa AC rumah, kantor, dan mobil kita terawat dengan baik, dan digunakan secara bijak 
·  Tidak menggunakan/ mengganti pemadam api yang menggunakan halon dengan yang lain (karbon dioksida atau foam)
·  Menyadarkan dan meningkatkan kesadaran masyarakat di sekitar kita.

Read more
 
© Hasim's Space | Design by Blog template in collaboration with Concert Tickets, and Menopause symptoms
Powered by Blogger