
Showing posts with label art. Show all posts
Showing posts with label art. Show all posts
0 Lascaux’s Picassos: Ungkapan Seni Prasejarah tentang Evolusi Otak Manusia
By Hasim on Monday, October 22, 2012

Setiap orang pasti akan menjawab pertanyaan “Apa yang membuat
manusia menjadi manusia?” dengan cara mereka masing-masing, tapi jika Anda
pernah menjadi mahasiswa seni liberal, mungkin Anda menolak dorongan untuk memberi
jawaban yang biasa diberikan yaitu, “Kemanusiaan.” Mungkin Anda akan memberi
jawaban yang lebih spesifik, dengan mengutip perkataan kritikus Haldane McFall:
“Orang yang hidup tanpa seni hanya setingkat di atas hewan liar di hutan.”
OK, kedengarannya cukup pretensius, tapi apakah Anda salah? Tidak
juga.
Para ahli paleontologi cenderung menghubungkan perkembangan kognisi
manusia modern dengan meningkatnya kemampuan kita mengungkapkan diri kita
sendiri sebagai seniman dan sejarawan melalui lukisan-lukisan di dinding gua, pahatan-pahatan,
dan karya seni prasejarah lainnya. Merepresentasikan dunia dalam simbol-simbol
boleh jadi telah dianggap sebagai awal terbentuknya bahasa. Menciptakan lukisan
dari arang, oker yang mengandung besi, serpihan tulang-tulang hewan, dan urin menunjukkan
adanya pemahaman tentang bagaimana materi bisa digabungkan untuk membentuk hakekat-hakekat
dengan properti yang baru. Dan perbuatan menyimpan lukisan-lukisan
tersebut—mungkin di dalam kulit kerang yang akan ditemukan 100.000 tahun
kemudian di dalam sebuah gua besar di pesisir Afrika Selatan—tentu memerlukan
inovasi dan perencanaan ke depan.
Paling tidak semenjak tahun 1970-an, pertanyaan tentang kapan manusia
pertama kali memperoleh kemanusiaannya telah banyak dikait-kaitkan dengan upaya
pencarian tentang kapan manusia mulai menciptakan lukisan. Richard klein di
Stanford menggunakan ukiran-ukiran seperti Manusia Singa dari Hohlenstein
Stadel (Lion Man of
Hohlenstein Stadel) yang berusia 30.000 tahun untuk membuktikan
teorinya bahwa mutasi genetik telah menyebabkan berkembangnya mental secara tiba-tiba
pada nenek moyang kita sekira 40.000 tahun yang lalu. (Homo Sapiens telah ada sekitar 200.000, tapi tampaknya mereka telah
menghabiskan sebagian besar waktu mereka hanya untuk memutar-mutar ibu jari
mereka.)
Pada tahun 1991, dengan ditemukannya manik-manik yang berusia
77.000 tahun dan serpihan-serpihan oker berwarna merah yang berukir di Afrika
Selatan telah membalikkan hipotesis Klein. Temuan tersebut menunjukkan bahwa
pemikiran simbolis telah muncul jauh lebih awal dari yang diperkirakan
orang—boleh jadi pada saat yang sama dengan berevolusinya tubuh manusia modern
seperti kita. Pendapat yang mengatakan bahwa mutasi genetik telah menyebabkan
segalanya berubah kini tidak laku lagi seiring dengan semakin banyaknya
ditemukannya artefak purbakala.
Pada tahun 2012, Curtis Marean, seorang ahli paleoantropologi di Arizona State University, menyuarakan
kebijakan konvensional ketika dia berkata pada Erin Wayman dari Smithsonian: “Adalah masuk akal bahwa
asal-muasal tingkah laku manusia modern, gabungan penuh dari keunikan modern
yang ada saat ini, sudah ada sejak titik awal dari keberadaan manusia itu
sendiri.
Ada kemungkinan otak kita telah dilengkapi dengan kemampuan
melakukan abstraksi semenjak pertama kali kita menjadi manusia. Namun bagaimana
seni prasejarah membantu kita memahami adanya kapasitas ini—yang sekarang mengejawantah
di mana-mana mulai dari dinding MoMA hingga ikon-ikon yang ada di smartphone kita? Imej-imej yang ada di Lascaux, Nerja, dan gua Chauvet kelihatan jauh dari hiperealistik. Salah
satu penjelasan sederhana menunjukkan bahwa nenek moyang kita tidak mempunyai
waktu dan keahlian untuk menggambar hewan ternak dan kuda seperti apa adanya.
Namun para peneliti di dalam neuroaesthetics
kini mulai bertanya-tanya apakah abstraksi yang ada dalam seni Paleolitik
mencerminkan cara otak kita memproses dunia ini.
Seorang proponen terkemuka dari teori ini adalah V.S.
Ramachandran, direktur Pusat Otak dan Kognisi di UC-San Diego dan pengarang
buku The Tell-Tale Brain: A
Neuroscientist’s Quest for What Makes Us Human. Ramachandran menggarisbawahi 10
prinsip-prinsip estetis yang memicu atau merangsang neuron di dalam visual cortex di dalam otak kita. Salah
satunya, peak shift, yang menggambarkan
cara “kita menemukan distorsi-distorsi yang disengaja dari sebuah stimulus yang
bahkan lebih menarik dari stimulus itu sendiri.”
Peak shift pertama kali ditemukan
oleh ilmuwan Niko Tinbergen pada tahun 1950-an. Dengan memperhatikan bahwa anak
burung camar yang mengetuk-ngetuk paruh induknya supaya diberi makan ikan yang
telah dikunyah, Tinbergen memilih mengisolasi hal-hal mengenai paruh yang
memicu respon seperti ini. Dia menyodorkan paruh palsu pada anak-anak burung
camar—yang dibuat dari kayu yang dicat dengan titik warna merah di ujungnya,
menyerupai titik warna merah yang ada di ujung paruh seekor camar dewasa.
Anak-anak burung camar tersebut kemudian mematuk-matuk dengan bersemangat.
Lalu dia memperlihatkan kembali tongkat kayu yang sama tapi dengan menambah
tiga titik berwarna merah bukan hanya satu. Dan anak-anak burung camar tersebut
mematuk-matuk dengan dengan lebih semangat lagi. Percobaan tersebut menunjukkan
bahwa bayi burung camar mempunyai respon yang berlebihan terhadap stimulus yang
juga berlebihan. Tinbergen menamakan hal ini efek “peak shift” (karena bayi-bayi
burung camar tersebut mematuk-matuk setelah stimulusnya diubah (shifted).)
Pandangan Ramachandran menghubung-hubungkan ketukan-ketukan dari
bayi-bayi burung camar tersebut dengan cara manusia pertama memandang dunia di
sekitar mereka. Jika nenek moyang kita juga terprogram untuk merespon dengan
cara yang lebih intens terhadap stimulus yang diperbesar, maka masuk akal preferensi
serupa itu juga berlaku dalam karya seni mereka. Hampir pasti, lukisan-lukisan
yang ditemukan di dinding gua dari Spanyol hingga Australia memberi tekanan
pada bagian yang paling menonjol dari hewan yang mereka gambarkan; Bison digambarkan
dengan gumpalan daging dengan kaki yang kurus, badak mempunyai cula yang
panjang, beruang adalah binatang yang gemuk dengan rahang yang kuat.
Dan makhluk berbentuk manusia menerima perlakuan essentializing yang sama. Ambil contoh Venus of Willendorf, sebuah ukiran setinggi
11-cm yang ditemukan di Austria pada tahun 1908. Dadanya yang terjumbai,
perutnya yang bengkak, dan alat genitalnya yang menonjol cukup menggambarkan
bagaimana sesungguhnya seorang wanita 25.000 tahun yang lalu. Dia tidak
mempunyai lengan atau fitur-fitur wajah, namun dia tidak membutuhkan itu untuk
menunjukkan kesuburannya. Sebuah patung yang bahkan lebih kuno lagi, Venus of Hohle Fels,
hanya mempunyai tungkai dan kepala: Pesan dari patung tersebut—seks, prokreasi,
dan banyak lagi—ditunjukkan dengan pinggang yang lebar dan sabuk pinggang yang
dipahat secara hati-hati. Para antropolog masih berdebat tentang tujuan dari
pembuatan figur-figur ini.
Apakah benda-benda tersebut merupakan jimat keagamaan, karya seni,
mainan anak-anak, atau mungkin benda porno prasejarah? Satu tim peneliti di
Universitas Victoria di Wellington, Selandia Baru mengisyaratkan bahwa
patung-patung yang bahenol tersebut “melambangkan harapan akan sebuah
masyarakat yang berkecukupan makanan.” Dengan menerjemahkan hal ini ke dalam
istilah-istilah neurosains, Ramachandran berspekulasi bahwa nenek moyang kita suka
merespon tanda-tanda kesehatan dan reproduksi yang berhasil. Mereka hidup
menjelang akhir jaman es terakhir, menghadapi musim dingin yang suram dan
makanan yang langka. Maka tidaklah mengejutkan jika tanda-tanda seorang wanita bayak
atau hamil bisa menyebabkan otak mereka tecerahkan dengan rasa senang dan
perhatian.
Dalam sebuah artikel tentang peak
shift dalam Psychology
Today, Jonah Lehrer menggambarkan sebuah
studi di mana subjeknya bisa lebih siap mengidentifikasi figur-figur yang lebih
terkenal seperti Richard Nixon melalui karikatur kartun dibandingkan dengan
foto. Bagian dari otak yang direkrut untuk mengenali wajah, yang disebut fusiform gyrus, mempunyai keunggulan dalam hal menginterpretasi kualitas-kualitas
yang membedakan satu objek dengan objek lainnya, sampai titik di mana dia lebih
menyukai representasi dari realitas yang agak dipelesetkan. Lehrer
menghubungkan eksperimen Nixon dengan distorsi visioner dari
Picasso, yang lukisannya yang berjudul portrait of Gertrude Stein
“mengintensifkan realitas” melalui sebuah proses tentang abstraksi yang
hati-hati. “Seni adalah kebohongan yang mengungkapkan kebenaran,” tulis Lehrer,
mengutip sang master dalam hal kubisme tersebut.
(Tentu saja, di samping artikel tahun 2009 tersebut di atas lolos
pertimbangan keakuratan pada bulan Maret
tahun ini, Lehrer sendiri adalah seorang master dalam bidang pendistorsian
fakta untuk mendapatkan cerita yang lebih menyenangkan dan teratur. Untuk
alasan ini saja, dia dibahas dalam sebuah diskusi yang membahas kepalsuan yang
mempesona otak.)
Seni yang ditemukan di dalam gua memperjelas sebagian dari
kebenaran dari dunia prasejarah: bahwa daging kerbau merupakan bahan makanan
yang lezat; bahwa wanita tampaknya lebih prokreatif secara magis; bahwa
bagian-bagian dari singa yang perlu diperhatikan adalah kepala dan mulutnya.
(Itu juga mengingatkan kita bahwa nenek moyang kita adalah para pemburu yang bengis—sebagian
dari seni gua yang paling diburu menggambarkan hewan yang kini hampir punah
karena ulah manusia, termasuk beruang gua, auroch,
rusa Irlandia, dan badak wol.
Namun peak shift tidak
cukup menjelaskan tentang pola-pola yang aneh yang melapisi sebagian dari
gambar-gambar hewan di dalam Altamira
dan Lascaux—yang terdiri dari
titik-titik yang tersamar, garis-garis, dan kisi-kisi dengan tanpa titik
referensi yang bisa dibaca. Namun kita bisa mengamatinya dari sudut tata bahasa
perseptual yang mempengaruhi pandangan mata manusia, sintaksisnya tentang
bentuk-bentuk dan warna-warna dasar. Mungkin nenek moyang kita menemukan
stimulus ini menyenangkan secara estetis karena neuron mereka akan bangkit demi
melihat pemandangan serupa itu. Namun para peneliti trance states mempunyai teori yang berbeda. Mereka bersikukuh bahwa
pola-pola tersebut sama sekali tidak abstrak. Sebaliknya, pola-pola tersebut
adalah representasi literal dari halusinasi-halusinasi yang dialami oleh si
seniman jauh di dalam gua tersebut.
Pada tahun 2007, seorang psikiater dari London Dominic H. Fftche
mulai melakukan eksperimen dengan sebuah mainan baru ciptaannya. Alat tersebut
menggunakan dioda pemancar cahaya yang dipasangkan pada kacamata (goggles) yang tujuannya untuk memandikan
mata dalam kilatan cahaya yang bisa menciptakan sejenis “white noise” dan
mencegah orang melihat segala sesuatu yang bermakna. Dalam ketiadaan isyarat
visual (visual cues) dari saraf
optik, maka otak akan mengamplifikasikan kebisingan saraf (neural noise) yang ada di dalam otak, sehingga menciptakan
sinyal-sinyal di mana terdapat ketiadaan dan membangkitkan halusinasi. Bahkan
dengan mata tertutup sekalipun, orang masih bisa melihat titik-titik yang
berkilauan, garis-garis, dan garis-garis yang bersilangan—sama seperti yang
terlihat melayang di atas makhluk-makhluk yang ada dalam lukisan di dalam gua-gua
di Eropa.
Wawancara dengan para anggota suku San di Afrika Selatan yang dilakukan
pada abad ke-19 menguatkan dugaan adanya koneksi ini. Hanya 200 tahun lalu,
orang suku San pedalaman menghiasi dinding-dinding di pegunungan Drakensburg
dengan pola-pola abstrak yang menariknya serupa dengan yang ada di Perancis dan Spanyol. Orang-orang
suku tersebut menjelaskan pada pewawancara bahwa mereka memasuki keadaan tidak
sadar (trance) sebelum mereka bisa
menuangkan visi-visi mereka dalam lukisan.
Kisah-kisah mereka tersebut meluncurkan spekulasi bahwa semua titik-titik,
kisi-kisi, dan garis-garis yang berasal dari gua-gua Paleolitik merupakan gambar-gambar
yang dilihat oleh nenek moyang kita yang yang tinggal di gua-gua tersebut yang
kekurangan cahaya di bawah kondisi yang sama. Ironisnya, desain paling abstak
dari era prasejarah boleh jadi malah memerlukan pikiran simbolis yang paling
sedikit.
Jadi apakah itu seni atau hanya sebuah artefak neurosains? Apakah pencapaian
mereka kurang impresif jika manusia purba kala itu menghiasi dinding-dinding
gua dengan bentuk-bentuk yang menggoda dan memperkuat respon otak? Hanya
makhluk Neanderthal yang akan menjawab ya (dan mungkin dengan tanpa kecemburuan
artistik).
Bahwa nenek moyang kita sejak awal dahulu telah berintuisi tentang
aturan-aturan persepsi visual dan secara kreatif menerapkan aturan-aturan tersebut
semestinya bisa menambah kekaguman kita atas hasil karya mereka, bukannya malah
menguranginya. Bagaimanapun juga Picasso tahu bahwa membubuhkan garis-garis kasar
pada wajah Gertrude Stein, hidungnya yang panjang dan matanya yang cacat, bisa
membuat kita terpesona. Sama halnya, apapun maksud dan tujuan mereka,
seniman-seniman prasejarah tersebut telah pada akhirnya menciptakan keindahan
di dalam konteks hukum penglihatan yang kita akui bersama.
Hampir di setiap tempat yang ada seni gua (cave art)-nya di manapun di dunia ini terdapat satu simbol
terakhir: gambar-gambar tangan (outlines of hands),
milik pria, wanita dan anak-anak. Lagi, waktu telah mengaburkan makna. Apakah gambar-gambar
tangan itu merupakan tandatangan? Bagian dari ritual di mana para cenayang atau
pelukis menyatu dengan dinding batu? Mungkin gambar-gambar lima-jari tersebut hanyalah
tanda yang mengatakan, “Saya dulu berada di sini.” Sekarang, karena
lukisan-lukisan tersebut, kita jadi tahu bahwa nenek moyang kita dulu berada di
sini, dan bahwa pikiran mereka tidak jauh berbeda dengan pikiran kita. (By Katy Waldman| Posted Thursday, Oct. 18, 2012, at 9:09 AM ET)
0 Patung Buddha Nazi Itu Berasal dari Angkasa Luar
By Hasim on Friday, September 28, 2012
| http://news.yahoo.com/nazi-acquired-buddha-statue-came-space-172319961.html |
Kedengarannya seperti cerita
film Indiana Jones, namun para peneliti Jerman mengatakan sebuah patung buda
yang berat yang dibawa ke Eropa oleh Nazi dibuat dari sebuah meteorit yang tampaknya jatuh ke Bumi 10.000 tahun yang
lalu di sekitar wilayah perbatasam Siberia-Mongolia.
Buddha dari ruang angkasa
ini, yang juga dikenal sebagai “iron man” bagi para peneliti, usianya tidak
diketahui dengan pasti, meski perkiraan terbaik menyebut bahwa patung tersebut
dibuat pada sekitar antara abad ke delapan dan ke sepuluh. Pahatan tersebut
menggambarkan seorang laki-laki, mungkin dewa Buddha, sedang duduk dengan kaki ditekuk,
sambil memegang sesuatu di tangan kirinya. Di dadanya ada sebuah swastika
Buddha, sebuah simbol peruntungan yang kemudian digunakan sebagai lambang
partai Nazi di Jerman.
“Orang bisa saja berspekulasi
bahwa lambang swastika yang ada pada patung tersebut telah mendorong orang
untuk membawa artefak meteorit ‘iron man’ tersebut ke Jerman,” tulis para
peneliti secara online pada tangga 14
September dalam jurnal Meteoritics &
Planetary Science.
Petualangan si Iron Man
Si Iron Man tersebut pertama kali tiba di Jerman setelah ekspedisi Tibet
yang dilakukan oleh ahli zoology Ernst
Schäfer pada tahun 1938-1939, yang dikirim ke wilayah tersebut oleh partai Nazi
untuk mencari asal muasal bangsa Arya. Patung tersebut kemudian jatuh ke tangan
seorang pemilik swasta. [Fallen Stars: A
Gallery of Famous Meteorites]
Peneliti dari
Universitas Stuttgart Elmar Burcher dan para koleganya pertama kali
menganalisis patung tersebut pada tahun 1987, ketika sang pemilik mengijinkan
mereka untuk mengambil lima sampel yang serba sedikit dari patung tersebut.
Pada tahun 2009, tim tersebut diijinkan untuk mengambil sampel yang lebih besar
dari bagian dalam patung tersebut, yang cenderung kurang mengalami kontaminasi
oleh cuaca atau tangan manusia dibandingkan dengan bagian luarnya tempat sampel
pertama diambil.
Mereka menemukan bahwa
patung tersebut ternyata dipahat dari bebatuan ruang angkasa yang langka yang
dikenal sebagai meteorit ataksit (ataxite
meteorites). Meteorit yang sebagian besar berupa besi ini mempunyai
kandungan nikel yang tinggi. Meteorit yang terbesar yang pernah dikenal,
meteorit Hola dari Namibia, adalah sebuah ataxite
meteorite yang beratnya lebih dari 60 ton.
Berasal dari ruang
angkasa luar
Analisis kimia tentang
sampel dari Iron Man tersebut
menunjukkan bahwa bahan patung tersebut menyerupai bebatuan ruang angkasa yang
terkenal banyak berserakan yang ditemukan di perbatasan Siberia dan Mongolia.
Ladang meteorit Chinga menampung sekurangnya 250 pecahan meteorit, yang
kebanyakan berukuran relatif kecil, meski ada dua buah di antaranya yang mempunyai
berat melebihi 22 pond (10 kg) yang pernah ditemukan di sana. Para ilmuwan
memperkirakan meteorit Chinga jatuh antara 10.000 hingga 20.000 tahun yang
lampau. Penemuan meteorit pertama di ladang tersebut tercatat pada tahun 1913,
namun keberadaan patung tersebut mengisyaratkan bahwa orang mulai mencari
benda-benda artistik di ladang tersebut jauh
sebelum masa itu, kata Buchner.
Identitas dari makhluk
pahatan tersebut tidaklah jelas, namun para peneliti menduga dia adalah dewa
Buddha Vaisvarana, yang juga dikenal sebgai Jambhala. Vaisvarana adalah dewa
kesejahteraan atau perang, dan dia sering digambarkan sedang memegang sebuah
lemon (lambang kesejahteraan) atau pundi-pundi uang di tangannya. Si Iron Man ini sedang memegang sebuah benda tak dikenal di tangannya. Patung
tersebut tingginya sekitar 9,5 inci (24 cm) dan beratnya sekitar 23 pond (10,6
kg).
Banyak kebudayaan yang
menggunakan besi meteorit (meteorite iron)
untuk membuat pedang dan bahkan perhiasan, tulis Buchner dan para koleganya,
dan pemujaan terhadap meteorit banyak terdapat dalam kebudayaan-kebudayaan
kuno. Namun patung Buddha tersebut mempunyai keunikan.
Patung Iron Man tersebut merupakan satu-satunya
ilustrasi sosok manusia yang dipahat dari meteor, yang artinya kita tidak punya
pembanding untuk menentukan harganya,” kata Buchner dalam sebuah pernyataannya.
“Bahannya saja boleh jadi berharga $20.000; akan tetapi, jika perkiraan kita
tentang usia patung tersebut benar, dan usianya hampir seribu tahun, maka
harganya bisa jadi tak terhingga.” (By Stephanie Pappas, LiveScience
Senior Writer | LiveScience.com – Wed,
Sep 26, 2012)
Follow Stephanie Pappas
on Twitter @sipappas or
LiveScience @livescience.
We're also onFacebook & Google+.
Copyright 2012 LiveScience,
a TechMediaNetwork company. All rights reserved. This material may not be
published, broadcast, rewritten or redistributed.
0 10 Aturan Menulis dari Zadie Smith
By Hasim on Friday, September 21, 2012
“Berhentilah
menjadi orang yang bersedih seumur hidup karena tidak pernah merasa puas.”
Dalam
musim dingin tahun 2010, terinspirasi oleh 10 aturan menulis dari Elmore
Leonard yang terbit dalam The New York Times hampir satu dekade sebelumnya, The
Guardian menghubungi sebagian dari
beberapa penulis yang paling dikenal saat ini dan meminta mereka
masing-masing membuat 10 daftar aturan menulis. Yang paling saya sukai adalah daftar
yang dibuat Zadie Smith—sebuah perpaduan yang indah
dari yang praktis, yang filosofis, dan yang puitis:
- Pada waktu masih kanak-kanak pastikan Anda
membaca banyak buku. Meluangkan waktu lebih banyak untuk membaca
dibandingkan dengan kegiatan lainnya.
- Ketika dewasa cobalah membaca hasil karya Anda
sendiri sebagai orang asing, atau yang lebih baik, sebagai musuh Anda.
- Jangan meromantisasi ‘vokasi’ Anda. Anda bisa
menulis sebuah kalimat-kalimat yang baik atau tidak bisa sama sekali. Tidak ada yang disebut ‘gaya
hidup pengarang’. Semua yang pokok adalah apa yang Anda tinggalkan di
halaman buku yang Anda tulis.
- Hindari kelemahan-kelemahan Anda. Tapi lakukan
ini dengan tanpa mengatakan pada diri sendiri bahwa segala sesuatu yang
tidak bisa Anda lakukan sebenarnya memang tidak penting dilakukan. Jangan
tutupi keragu-raguan diri Anda dengan meremehkan.
- Sisakan ruang yang cukup untuk waktu antara
menulis dan mengedit tulisan.
- Hindari kelompok orang, geng, grup. Kehadiran kelompok
tidak akan membuat tulisan Anda lebih baik.
- Menulislah dengan komputer yang tidak
disambungkan ke Internet.
- Lindungi ruang dan waktu di mana Anda menulis.
Jangan biarkan siapa saja mendekatinya, bahkan orang yang paling penting
bagi Anda sekalipun.
- Jangan keliru antara penghargaan dengan prestasi.
- Sampaikanlah
kebenaran dengan cara apapun yang Anda kuasai—katakan saja. Berhentilah
menjadi orang yang bersedih seumur hidup karena tidak pernah merasa puas.
Benar-benar
sebuah tambahan yang indah bagi petuah-petuah menulis lainnya, termasuk 8
aturan menulis hebat (8 rules for a
great story) dari Kurt Vonnegut, 10 tips meyakinkan (10 no-bullshit
tips) dari David Ogilvy, 11
petunjuk (11 commandments)
dari Henry Miller, 30 keyakinan dan teknik (30 beliefs and
techniques) dari Jack Kerouac, 6 pokok menulis (6 pointers)
dari John Steinbeck, dan belajar bersintesis (synthesized
learnings) dari Susan Sontag.
Novel
terbaru dari Smith, NW, yang sudah ditunggu-tunggu selama tujuh tahun, terbit
akhir bulan ini. (by Maria Popova)
Image
via The Guardian
0 Rumah Berhiaskan 30.000 Tutup Botol
By Hasim on Tuesday, September 18, 2012
Kebanyakan
dari kita cenderung membuang tutup botol yang kita punya ke tempat sampah,
namun wanita pensiunan dari Rusia Olga Kostina menemukan cara untuk
memanfaatkan benda sehari-hari ini dengan cara yang imajinatif dan menyenangkan
secara estetis. Selama bertahun-tahun, Kostina mengumpulkan tutup botol yang
berwarna-warni hingga dia kira cukup untuk memenuhi selera artistiknya. Kemudian
dia menempelkan 30.000 tutup botol yang berukuran sama dan memakukannya di
tempat-tempat yang cocok untuk membuat berbagai pola dan desain mosaik di dinding
depan rumahnya.
Kemudian
dia menutup sebagian celah di antara tutup-tutup botol tersebut dan menambah
tekstur dengan teknik menyulam macramé.
Hasil akhirnya adalah sebuah rumah yang mempesona yang berdiri mencolok di
sebuah desa Karmarchaga di wilayah yang sangat pelosok dan terisolasi di Rusia,
yang terletak sekitar 50 mil sebelah tenggara Krasnoyarsk, dan di Siberian
Taiga. Desain tersebut mencakup pola-pola geometrik repetitif dan juga potret
hewan yang lucu di hutan sekitarnya. Tidak hanya mendekorasi rumahnya sendiri,
namun dia juga menutupi beberapa bangunan lain di wilayah tersebut untuk
menambahkan sedikit kegembiraan di wilayah yang terpencil itu.
0 Lukisan Pensil yang Menawan Seperti Foto
By Hasim on Saturday, September 15, 2012
Mungkin sulit dipercaya namun apa yang sedang Anda lihat di atas
bukanlah sebuah foto vintage berwarna
hitam putih. Ini adalah sebuah lukisan dengan pensil. Dan, yang lebih sulit
dipercaya adalah lukisan tersebut sebenarnya adalah sebuah ilustrasi kecil yang
satu halamannya terdiri dari tidak lebih dari sekitar sekitar lima sentimeter persegi!
Seniman yang berbasis di Edinburg Paul Chiappe adalah orang ahli di balik
serangkaian lukisan fotorealistik ini yang saking kecilnya sehingga si artis
mengatakan "[Saya] mencoba tidak terlalu banyak bernapas ketika saya
sedang membuat gambar tersebut sehingga tangan saya tidak bergetar di
mana-mana.”
Selain ukurannya, daya pesona yang sangat realistis digabungkan
dengan pilihan subjek dari si artis telah menciptakan serangkaian gambar yang
sangat menawan yang sulit dilukiskan dengan kata-kata. Meski orang-orang yang
ada dalam gambar-gambar tersebut adalah asing bagi kebanyakan orang yang
melihatnya, namun ada hubungannya dengan mereka dan dengan estetika buram
mereka. Ada sensasi nostalgik yang diasosiasikan dengan sket-sket mini yang
menampilkan foto-foto keluarga yang candid
yang memudar dan potret-potret ruang kelas di sekolah. (Posted by Pinar on September 13, 2012 at 11:00am)
0 Mengenal Lukisan Pulpen yang Mempesona
By Hasim on Friday, August 31, 2012
Di bawah ini adalah gambar-gambar yang menggetarkan—seorang
wanita muda yang cantik berkepala merah,
seekor kucing rumah bermata hijau, sebuah kuil taman yang damai di Jepang.
Namun gambar-gambar tersebut bukanlah potret—gambar-gambar tersebut adalah
kopian dari potret yang dikerjakan dengan alat artistik yang sangat prosaik,
pulpen-pulpen yang sederhana.
“Gadis berkeala merah karya Samuel Silva
digambar dengan pulpen dan berdasarkan sebuah potret seorang model Love Ansimov
yang dipotret oleh potografer Rusia Kristina Tararina. ( VianaArts)
Jaksa
Samuel Silva, 29, yang tinggal di Portugal, kini sedang menarik perhatian dunia atas
hasil-hasil karyanya yang mengagumkan hanya dengan menggunakan pulpen, yang
dipertunjukkan secara online. Dia
menggunakan beberapa pena BIC dengan delapan warna berbeda untuk membuat
gambar-gambar tersebut, yang sedemikian mempesona hingga sebagian pengunjung website-nya tidak percaya kalau dia
benar-benar mengerjakannya, dan mereka memintanya memuat sebuah video yang
menggambarkan cara dia melakukannya.
Catatan Silva tentang
“Wajah Kucing” berbunyi “ukuran aslinya adalah kira-kira sama dengan ukuran dua
lembar kartu kredit, sebuah gambar yang sangat kecil. Namun saya selalu mencoba
membuatnya dengan kualitas tinggi.”
Ketika
orang meragukan sesuatu atau tidak menyukainya, maka yang akan mereka lakukan
adalah pergi dan melupakan hal itu, melanjutkan kehidupan mereka, itulah yang
saya lakukan,” kata Silva pada TODAY. “Kalau kita bisa menciptakan gambar dan
lukisan yang menyerupai potret dengan media lain, mengapa dengan pulpen tidak
bisa?”
Silva berkata “Bald Eagle” memakan waktu delapan jam untuk
menyelesaikannya, dan dia meneyebutnya “sebuah goresan cepat lainnya.”
Silva
menulis dalam webpage-nya bahwa dia
tidak mencampur warna, tapi membuat garis-garis (meng-cross-hatches) warna yang berlapis-lapis “untuk menciptakan ilusi pencampuran
warna (blending) dan ilusi tentang
warna yang sebenarnya saya tidak punya.”
Dia
bercanda di dalam webpage-nya bahwa
membuat gambar-gambar tersebut memakan waktu “selamanya,” dan berkata pada
TODAY bahwa “bagi saya, ‘selamanya’ adalah 50 jam dalam waktu dua bulan. Itu
adalah waktu yang lama!”
Gambar
kucing rumah dan kucing liar adalah beberapa di antara gambar-gambar pilihan
Silva, dan dia mengakui sebuah gambar yang dia namakan “Tiger” adalah gambar
kesukaannya. “Saya mencintai semua jenis kucing-kucingan,” katanya.
Silva mengatakan “Tiger” boleh jadi adalah gambar kesukaannya, dan bahwa
dia menyukai hewan jenis kucing dan selalu ingin menggambar seekor macan. “Yang
ini adalah kucing liar, itulah sebabnya saya menyukainya,” katanya. “Kucing
besar tidak diperuntukkan bagi kebun binatang.” Dia memerlukan waktu 20 jam
untuk menggambarnya.
Silva
mengatakan pada TODAY bahwa pihak perusahaan pembuat BIC belum mengontaknya,
namun jika mereka melakukan itu, “Saya akan meminta mereka untuk membuat
perangkat warna yang lebih besar, karena seniman pulpen dan penggemar pulpen di
seluruh dunia tentu akan membelinya. By Gael Fashingbauer Cooper, TODAY
What do you think of Silva's work? Can you
believe he only uses ballpoints? Tell us on
Facebook.
Related content:
0 "Potret Genetik" Menyatukan Dua Wajah Jadi Satu
By Hasim on Friday, August 26, 2011

Ini adalah Ulric Collette …
… dan saudara lelakinya, Christophe. Collette, 29, seorang jenius fotografi dan desain grafik membelah separuh wajahnya dan menggantinya dengan wajah kakaknya yang berusia 30 tahun untuk sebuah proyek yang disebut “Potret Genetik.” Sang fotografer jenius itu juga menyuruh saudara sekandung lainnya, orang tua, dan anak-anak untuk berpose guna pembuatan sensasi foto keluarga bauran. Sekarang hasil karyanya yang cemerlang telah menempatkan Manbabies sebagai sensasi foto viral berikutnya. Jangan takut dengan web, potret genetik adalah sesuatu yang mesti di digunakan dalam praktik therapi keluarga di mana saja. Dua wajah samping menyamping, bisa disatukan dengan rapi dan tanpa jejak dengan menggunakan teknik Photoshop clay, yang dengan demikian memperlihatkan sekian banyak perbedaan antara anggota keluarga dan cara sebuah individu mengenali bentuk fisiknya. Bedah plastik menggunakan teknologi jenis ini setiap kali mereka berusaha meyakinkan seseorang untuk melakukan operasi pengangkatan wajah (facelift). Bangaimana kalau teknik ini digunakan untuk melakukan latihan penyatuan antara ibu dengan puterinya? Hanya saran, psikoterapis.
Photo by: photo by Ulric Collette via ulriccollette.com
0 "American Girl in Italy", Diatur atau Tidak?
By Hasim on Tuesday, August 23, 2011
![]() |
| ‘American Girl’ photo: American Girl in Italy, 1951 © 1952, 1980 Ruth Orkin / Courtesy of … |
Seorang wanita yang anggun mempesona tengah berjalan di jalan raya di Florence , kepalanya tegak menengadah. Di sekitarnya, para pria berdecak kagum dan menggoda keanggunan dan kecantikannya. Lalu kamera klik. "American Girl in Italy” adalah salah satu foto snap shot yang paling terkenal sepanjang masa, dan kini usia foto itu sudah mencapai 60 tahun.
Foto tersebut, yang dibidik pada tahun 1951, menangkap dengan sempurna keceriaan dan romantika seorang wanita ketika sedang berada di luar negeri. Untuk merayakan ulang tahun foto tersebut, Ninalee Craig, wanita yang ada dalam foto tersebut berbicara dengan “Today” show tentang kisah di balik layar dan tentang apa yang direpresentasikan oleh foto tersebut sebenarnya.
Dalam penampilannya dalam “Today”, Craig berbicara tentang betapa, meski ada yang mungkin mengatakan demikian, foto tersebut bukanlah sebuah “simbol pelecehan.” Craig meyakinkan bahwa imej dalam foto tersebut adalah “melambangkan seorang wanita yang benar-benar sedang bersenang-senang.”
Craig tentu tahu—ketika foto tersebut diambil, dia hanyalah seorang wanita 23 tahun yang berjalan-jalan keliling Eropa. Ketika sedang tinggal di sebuah hotel murah, Craig bertemu dengan fotografer Ruth Orkin, yang juga sedang melakukan tur keliling Eropa seorang diri. Keduanya kemudian berbicara tentang kesenangan dan tantangan berjalan-jalan sendirian di jalan-jalan raya di Itali—dan berencana untuk merekam pengalaman tersebut dalam foto-foto.
Selama dua jam, sang fotografer dan si model amatir tersebut berjalan-jalan di jalan raya kota Florence . Orkin mengambil foto-foto di pasar-pasar dan di café-café. Adegan foto-foto di jalan raya tersebut adalah alami. Menurut Craig, Orkin hanya menjepret dua gambar dirinya sedang berjalan di macho street. Salah satunya kemudian menjadi foto yang ikonik yang dirayakan ulang tahunnya hari ini.
Tentang apakah foto tersebut diatur atau tidak, Craig mengatakan tidak sama sekali. “Perdebatan besar mengenai foto tersebut, yang ingin diketahui oleh semua orang, adalah: Apakah foto tersebut diatur? No! No, no, no! Anda tidak mungkin meminta 15 orang pria berdiri di jalan raya dan hanya mengambil dua foto. Para pria itu memang berada di sana …. Satu-satunya yang terjadi adalah Ruth Orkin dengan cukup bijaksana menyuruh saya berbalik ke belakang dan kembali dan mengulangi” berjalan di jalan raya tersebut.
Dalam wawancara tersebut, Craig juga mengatakan bahwa dia tidak pernah merasa takut berjalan di tengah-tengah para pria yang terkagum-kagum tersebut. “Tidak ada satu pun dari mereka yang berani jahil,” katanya.
Craig sekarang adalah seorang nenek yang tinggal di Toronto . Orkin, yang meninggal dunia pada tahun 1985, pernah menjadi co-writer dan co-director film nominasi Oscar pada tahun 1956, "Little Fugitive." Tentu saja, kedua wanita tersebut akan paling dikenang karena salah satu gambar tak terlupakan itu yang, diatur atau tidak, telah mencuri perhatian publik dan tidak pernah pudar. (By Mike Krumboltz | The Lookout – Thu, Aug 18, 201)
0 Ini Bukan Lukisan
By Hasim on Monday, August 15, 2011
Beberapa bulan yang lalu, pada bulan Maret, saya memperlihatkan beberapa karya #Alexa Meade yang mengagumkan (jika Anda melihat tanda # di depan sebuah kata, itu adalah tag yang nge-link ke kata tersebut). Banyak di antara Anda tidak percaya bahwa lukisannya adalah benar-benar manusia yang hidup, yang tubuhnya dicat sedemikian rupa sehingga terlihat seperti acrylic masterpiece. Ilusi ini menunjukkan hasilnya yang terbaik ketika Anda melihat instalasinya dari dekat. Jika Anda tidak percaya apa yang saya katakan, di sini saya muat fotonya dari kejauhan. Sekarang saya orang baik bukan ….;) (Vurdlak on June 14, 2010, with 84 Comments)



Beaches in Krui
Pulau Pisang
