Headlines

Powered by Blogger.
Showing posts with label art. Show all posts
Showing posts with label art. Show all posts

0 Lascaux’s Picassos: Ungkapan Seni Prasejarah tentang Evolusi Otak Manusia


SS_121017_HEVO_LauncherCavePaintings
Setiap orang pasti akan menjawab pertanyaan “Apa yang membuat manusia menjadi manusia?” dengan cara mereka masing-masing, tapi jika Anda pernah menjadi mahasiswa seni liberal, mungkin Anda menolak dorongan untuk memberi jawaban yang biasa diberikan yaitu, “Kemanusiaan.” Mungkin Anda akan memberi jawaban yang lebih spesifik, dengan mengutip perkataan kritikus Haldane McFall: “Orang yang hidup tanpa seni hanya setingkat di atas hewan liar di hutan.”

OK, kedengarannya cukup pretensius, tapi apakah Anda salah? Tidak juga.

Para ahli paleontologi cenderung menghubungkan perkembangan kognisi manusia modern dengan meningkatnya kemampuan kita mengungkapkan diri kita sendiri sebagai seniman dan sejarawan melalui lukisan-lukisan di dinding gua, pahatan-pahatan, dan karya seni prasejarah lainnya. Merepresentasikan dunia dalam simbol-simbol boleh jadi telah dianggap sebagai awal terbentuknya bahasa. Menciptakan lukisan dari arang, oker yang mengandung besi, serpihan tulang-tulang hewan, dan urin menunjukkan adanya pemahaman tentang bagaimana materi bisa digabungkan untuk membentuk hakekat-hakekat dengan properti yang baru. Dan perbuatan menyimpan lukisan-lukisan tersebut—mungkin di dalam kulit kerang yang akan ditemukan 100.000 tahun kemudian di dalam sebuah gua besar di pesisir Afrika Selatan—tentu memerlukan inovasi dan perencanaan ke depan.

Paling tidak semenjak tahun 1970-an, pertanyaan tentang kapan manusia pertama kali memperoleh kemanusiaannya telah banyak dikait-kaitkan dengan upaya pencarian tentang kapan manusia mulai menciptakan lukisan. Richard klein di Stanford menggunakan ukiran-ukiran seperti Manusia Singa dari Hohlenstein Stadel (Lion Man of Hohlenstein Stadel) yang berusia 30.000 tahun untuk membuktikan teorinya bahwa mutasi genetik telah menyebabkan berkembangnya mental secara tiba-tiba pada nenek moyang kita sekira 40.000 tahun yang lalu. (Homo Sapiens telah ada sekitar 200.000, tapi tampaknya mereka telah menghabiskan sebagian besar waktu mereka hanya untuk memutar-mutar ibu jari mereka.)

Pada tahun 1991, dengan ditemukannya manik-manik yang berusia 77.000 tahun dan serpihan-serpihan oker berwarna merah yang berukir di Afrika Selatan telah membalikkan hipotesis Klein. Temuan tersebut menunjukkan bahwa pemikiran simbolis telah muncul jauh lebih awal dari yang diperkirakan orang—boleh jadi pada saat yang sama dengan berevolusinya tubuh manusia modern seperti kita. Pendapat yang mengatakan bahwa mutasi genetik telah menyebabkan segalanya berubah kini tidak laku lagi seiring dengan semakin banyaknya ditemukannya artefak purbakala.

Pada tahun 2012, Curtis Marean, seorang ahli paleoantropologi di Arizona State University, menyuarakan kebijakan konvensional ketika dia berkata pada Erin Wayman dari Smithsonian: “Adalah masuk akal bahwa asal-muasal tingkah laku manusia modern, gabungan penuh dari keunikan modern yang ada saat ini, sudah ada sejak titik awal dari keberadaan manusia itu sendiri.

Ada kemungkinan otak kita telah dilengkapi dengan kemampuan melakukan abstraksi semenjak pertama kali kita menjadi manusia. Namun bagaimana seni prasejarah membantu kita memahami adanya kapasitas ini—yang sekarang mengejawantah di mana-mana mulai dari dinding MoMA hingga ikon-ikon yang ada di smartphone kita? Imej-imej yang ada di Lascaux, Nerja, dan gua Chauvet kelihatan jauh dari hiperealistik. Salah satu penjelasan sederhana menunjukkan bahwa nenek moyang kita tidak mempunyai waktu dan keahlian untuk menggambar hewan ternak dan kuda seperti apa adanya. Namun para peneliti di dalam neuroaesthetics kini mulai bertanya-tanya apakah abstraksi yang ada dalam seni Paleolitik mencerminkan cara otak kita memproses dunia ini.

Seorang proponen terkemuka dari teori ini adalah V.S. Ramachandran, direktur Pusat Otak dan Kognisi di UC-San Diego dan pengarang buku The Tell-Tale Brain: A Neuroscientist’s Quest for What Makes Us Human. Ramachandran menggarisbawahi 10 prinsip-prinsip estetis yang memicu atau merangsang neuron di dalam visual cortex di dalam otak kita. Salah satunya, peak shift, yang menggambarkan cara “kita menemukan distorsi-distorsi yang disengaja dari sebuah stimulus yang bahkan lebih menarik dari stimulus itu sendiri.”

Peak shift pertama kali ditemukan oleh ilmuwan Niko Tinbergen pada tahun 1950-an. Dengan memperhatikan bahwa anak burung camar yang mengetuk-ngetuk paruh induknya supaya diberi makan ikan yang telah dikunyah, Tinbergen memilih mengisolasi hal-hal mengenai paruh yang memicu respon seperti ini. Dia menyodorkan paruh palsu pada anak-anak burung camar—yang dibuat dari kayu yang dicat dengan titik warna merah di ujungnya, menyerupai titik warna merah yang ada di ujung paruh seekor camar dewasa. Anak-anak burung camar tersebut kemudian mematuk-matuk dengan bersemangat. Lalu dia memperlihatkan kembali tongkat kayu yang sama tapi dengan menambah tiga titik berwarna merah bukan hanya satu. Dan anak-anak burung camar tersebut mematuk-matuk dengan dengan lebih semangat lagi. Percobaan tersebut menunjukkan bahwa bayi burung camar mempunyai respon yang berlebihan terhadap stimulus yang juga berlebihan. Tinbergen menamakan hal ini efek “peak shift” (karena bayi-bayi burung camar tersebut mematuk-matuk setelah stimulusnya diubah (shifted).)

Pandangan Ramachandran menghubung-hubungkan ketukan-ketukan dari bayi-bayi burung camar tersebut dengan cara manusia pertama memandang dunia di sekitar mereka. Jika nenek moyang kita juga terprogram untuk merespon dengan cara yang lebih intens terhadap stimulus yang diperbesar, maka masuk akal preferensi serupa itu juga berlaku dalam karya seni mereka. Hampir pasti, lukisan-lukisan yang ditemukan di dinding gua dari Spanyol hingga Australia memberi tekanan pada bagian yang paling menonjol dari hewan yang mereka gambarkan; Bison digambarkan dengan gumpalan daging dengan kaki yang kurus, badak mempunyai cula yang panjang, beruang adalah binatang yang gemuk dengan rahang yang kuat.

Dan makhluk berbentuk manusia menerima perlakuan essentializing yang sama. Ambil contoh Venus of Willendorf, sebuah ukiran setinggi 11-cm yang ditemukan di Austria pada tahun 1908. Dadanya yang terjumbai, perutnya yang bengkak, dan alat genitalnya yang menonjol cukup menggambarkan bagaimana sesungguhnya seorang wanita 25.000 tahun yang lalu. Dia tidak mempunyai lengan atau fitur-fitur wajah, namun dia tidak membutuhkan itu untuk menunjukkan kesuburannya. Sebuah patung yang bahkan lebih kuno lagi, Venus of Hohle Fels, hanya mempunyai tungkai dan kepala: Pesan dari patung tersebut—seks, prokreasi, dan banyak lagi—ditunjukkan dengan pinggang yang lebar dan sabuk pinggang yang dipahat secara hati-hati. Para antropolog masih berdebat tentang tujuan dari pembuatan figur-figur ini.

Apakah benda-benda tersebut merupakan jimat keagamaan, karya seni, mainan anak-anak, atau mungkin benda porno prasejarah? Satu tim peneliti di Universitas Victoria di Wellington, Selandia Baru mengisyaratkan bahwa patung-patung yang bahenol tersebut “melambangkan harapan akan sebuah masyarakat yang berkecukupan makanan.” Dengan menerjemahkan hal ini ke dalam istilah-istilah neurosains, Ramachandran berspekulasi bahwa nenek moyang kita suka merespon tanda-tanda kesehatan dan reproduksi yang berhasil. Mereka hidup menjelang akhir jaman es terakhir, menghadapi musim dingin yang suram dan makanan yang langka. Maka tidaklah mengejutkan jika tanda-tanda seorang wanita bayak atau hamil bisa menyebabkan otak mereka tecerahkan dengan rasa senang dan perhatian.

Dalam sebuah artikel tentang peak shift dalam Psychology Today, Jonah Lehrer menggambarkan sebuah studi di mana subjeknya bisa lebih siap mengidentifikasi figur-figur yang lebih terkenal seperti Richard Nixon melalui karikatur kartun dibandingkan dengan foto. Bagian dari otak yang direkrut untuk mengenali wajah, yang disebut fusiform gyrus, mempunyai keunggulan dalam hal menginterpretasi kualitas-kualitas yang membedakan satu objek dengan objek lainnya, sampai titik di mana dia lebih menyukai representasi dari realitas yang agak dipelesetkan. Lehrer menghubungkan eksperimen Nixon dengan distorsi visioner dari Picasso, yang lukisannya yang berjudul portrait of Gertrude Stein “mengintensifkan realitas” melalui sebuah proses tentang abstraksi yang hati-hati. “Seni adalah kebohongan yang mengungkapkan kebenaran,” tulis Lehrer, mengutip sang master dalam hal kubisme tersebut.

(Tentu saja, di samping artikel tahun 2009 tersebut di atas lolos pertimbangan  keakuratan pada bulan Maret tahun ini, Lehrer sendiri adalah seorang master dalam bidang pendistorsian fakta untuk mendapatkan cerita yang lebih menyenangkan dan teratur. Untuk alasan ini saja, dia dibahas dalam sebuah diskusi yang membahas kepalsuan yang mempesona otak.)

Seni yang ditemukan di dalam gua memperjelas sebagian dari kebenaran dari dunia prasejarah: bahwa daging kerbau merupakan bahan makanan yang lezat; bahwa wanita tampaknya lebih prokreatif secara magis; bahwa bagian-bagian dari singa yang perlu diperhatikan adalah kepala dan mulutnya. (Itu juga mengingatkan kita bahwa nenek moyang kita adalah para pemburu yang bengis—sebagian dari seni gua yang paling diburu menggambarkan hewan yang kini hampir punah karena ulah manusia, termasuk beruang gua, auroch, rusa Irlandia, dan badak wol.

Namun peak shift tidak cukup menjelaskan tentang pola-pola yang aneh yang melapisi sebagian dari gambar-gambar hewan di dalam Altamira dan Lascaux—yang terdiri dari titik-titik yang tersamar, garis-garis, dan kisi-kisi dengan tanpa titik referensi yang bisa dibaca. Namun kita bisa mengamatinya dari sudut tata bahasa perseptual yang mempengaruhi pandangan mata manusia, sintaksisnya tentang bentuk-bentuk dan warna-warna dasar. Mungkin nenek moyang kita menemukan stimulus ini menyenangkan secara estetis karena neuron mereka akan bangkit demi melihat pemandangan serupa itu. Namun para peneliti trance states mempunyai teori yang berbeda. Mereka bersikukuh bahwa pola-pola tersebut sama sekali tidak abstrak. Sebaliknya, pola-pola tersebut adalah representasi literal dari halusinasi-halusinasi yang dialami oleh si seniman jauh di dalam gua tersebut.

Pada tahun 2007, seorang psikiater dari London Dominic H. Fftche mulai melakukan eksperimen dengan sebuah mainan baru ciptaannya. Alat tersebut menggunakan dioda pemancar cahaya yang dipasangkan pada kacamata (goggles) yang tujuannya untuk memandikan mata dalam kilatan cahaya yang bisa menciptakan sejenis “white noise” dan mencegah orang melihat segala sesuatu yang bermakna. Dalam ketiadaan isyarat visual (visual cues) dari saraf optik, maka otak akan mengamplifikasikan kebisingan saraf (neural noise) yang ada di dalam otak, sehingga menciptakan sinyal-sinyal di mana terdapat ketiadaan dan membangkitkan halusinasi. Bahkan dengan mata tertutup sekalipun, orang masih bisa melihat titik-titik yang berkilauan, garis-garis, dan garis-garis yang bersilangan—sama seperti yang terlihat melayang di atas makhluk-makhluk yang ada dalam lukisan di dalam gua-gua di Eropa.

Wawancara dengan para anggota suku San di Afrika Selatan yang dilakukan pada abad ke-19 menguatkan dugaan adanya koneksi ini. Hanya 200 tahun lalu, orang suku San pedalaman menghiasi dinding-dinding di pegunungan Drakensburg dengan pola-pola abstrak yang menariknya serupa dengan  yang ada di Perancis dan Spanyol. Orang-orang suku tersebut menjelaskan pada pewawancara bahwa mereka memasuki keadaan tidak sadar (trance) sebelum mereka bisa menuangkan visi-visi mereka dalam lukisan.

Kisah-kisah mereka tersebut meluncurkan spekulasi bahwa semua titik-titik, kisi-kisi, dan garis-garis yang berasal dari gua-gua Paleolitik merupakan gambar-gambar yang dilihat oleh nenek moyang kita yang yang tinggal di gua-gua tersebut yang kekurangan cahaya di bawah kondisi yang sama. Ironisnya, desain paling abstak dari era prasejarah boleh jadi malah memerlukan pikiran simbolis yang paling sedikit.

Jadi apakah itu seni atau hanya sebuah artefak neurosains? Apakah pencapaian mereka kurang impresif jika manusia purba kala itu menghiasi dinding-dinding gua dengan bentuk-bentuk yang menggoda dan memperkuat respon otak? Hanya makhluk Neanderthal yang akan menjawab ya (dan mungkin dengan tanpa kecemburuan artistik).

Bahwa nenek moyang kita sejak awal dahulu telah berintuisi tentang aturan-aturan persepsi visual dan secara kreatif menerapkan aturan-aturan tersebut semestinya bisa menambah kekaguman kita atas hasil karya mereka, bukannya malah menguranginya. Bagaimanapun juga Picasso tahu bahwa membubuhkan garis-garis kasar pada wajah Gertrude Stein, hidungnya yang panjang dan matanya yang cacat, bisa membuat kita terpesona. Sama halnya, apapun maksud dan tujuan mereka, seniman-seniman prasejarah tersebut telah pada akhirnya menciptakan keindahan di dalam konteks hukum penglihatan yang kita akui bersama. 

Hampir di setiap tempat yang ada seni gua (cave art)-nya di manapun di dunia ini terdapat satu simbol terakhir: gambar-gambar tangan (outlines of hands), milik pria, wanita dan anak-anak. Lagi, waktu telah mengaburkan makna. Apakah gambar-gambar tangan itu merupakan tandatangan? Bagian dari ritual di mana para cenayang atau pelukis menyatu dengan dinding batu? Mungkin gambar-gambar lima-jari tersebut hanyalah tanda yang mengatakan, “Saya dulu berada di sini.” Sekarang, karena lukisan-lukisan tersebut, kita jadi tahu bahwa nenek moyang kita dulu berada di sini, dan bahwa pikiran mereka tidak jauh berbeda dengan pikiran kita. (By Katy Waldman| Posted Thursday, Oct. 18, 2012, at 9:09 AM ET)

Read more

0 Patung Buddha Nazi Itu Berasal dari Angkasa Luar

http://news.yahoo.com/nazi-acquired-buddha-statue-came-space-172319961.html

Kedengarannya seperti cerita film Indiana Jones, namun para peneliti Jerman mengatakan sebuah patung buda yang berat yang dibawa ke Eropa oleh Nazi dibuat dari sebuah meteorit yang  tampaknya jatuh ke Bumi 10.000 tahun yang lalu di sekitar wilayah perbatasam Siberia-Mongolia.
Buddha dari ruang angkasa ini, yang juga dikenal sebagai “iron man” bagi para peneliti, usianya tidak diketahui dengan pasti, meski perkiraan terbaik menyebut bahwa patung tersebut dibuat pada sekitar antara abad ke delapan dan ke sepuluh. Pahatan tersebut menggambarkan seorang laki-laki, mungkin dewa Buddha, sedang duduk dengan kaki ditekuk, sambil memegang sesuatu di tangan kirinya. Di dadanya ada sebuah swastika Buddha, sebuah simbol peruntungan yang kemudian digunakan sebagai lambang partai Nazi di Jerman.
“Orang bisa saja berspekulasi bahwa lambang swastika yang ada pada patung tersebut telah mendorong orang untuk membawa artefak meteorit ‘iron man’ tersebut ke Jerman,” tulis para peneliti secara online pada tangga 14 September dalam jurnal Meteoritics & Planetary Science.
Petualangan si Iron Man
Si Iron Man tersebut pertama kali tiba di Jerman setelah ekspedisi Tibet yang dilakukan oleh ahli zoology Ernst Schäfer pada tahun 1938-1939, yang dikirim ke wilayah tersebut oleh partai Nazi untuk mencari asal muasal bangsa Arya. Patung tersebut kemudian jatuh ke tangan seorang pemilik swasta. [Fallen Stars: A Gallery of Famous Meteorites]
Peneliti dari Universitas Stuttgart Elmar Burcher dan para koleganya pertama kali menganalisis patung tersebut pada tahun 1987, ketika sang pemilik mengijinkan mereka untuk mengambil lima sampel yang serba sedikit dari patung tersebut. Pada tahun 2009, tim tersebut diijinkan untuk mengambil sampel yang lebih besar dari bagian dalam patung tersebut, yang cenderung kurang mengalami kontaminasi oleh cuaca atau tangan manusia dibandingkan dengan bagian luarnya tempat sampel pertama diambil.
Mereka menemukan bahwa patung tersebut ternyata dipahat dari bebatuan ruang angkasa yang langka yang dikenal sebagai meteorit ataksit (ataxite meteorites). Meteorit yang sebagian besar berupa besi ini mempunyai kandungan nikel yang tinggi. Meteorit yang terbesar yang pernah dikenal, meteorit Hola dari Namibia, adalah sebuah ataxite meteorite yang beratnya lebih dari 60 ton.
Berasal dari ruang angkasa luar
Analisis kimia tentang sampel dari Iron Man tersebut menunjukkan bahwa bahan patung tersebut menyerupai bebatuan ruang angkasa yang terkenal banyak berserakan yang ditemukan di perbatasan Siberia dan Mongolia. Ladang meteorit Chinga menampung sekurangnya 250 pecahan meteorit, yang kebanyakan berukuran relatif kecil, meski ada dua buah di antaranya yang mempunyai berat melebihi 22 pond (10 kg) yang pernah ditemukan di sana. Para ilmuwan memperkirakan meteorit Chinga jatuh antara 10.000 hingga 20.000 tahun yang lampau. Penemuan meteorit pertama di ladang tersebut tercatat pada tahun 1913, namun keberadaan patung tersebut mengisyaratkan bahwa orang mulai mencari benda-benda artistik  di ladang tersebut jauh sebelum masa itu, kata Buchner.
Identitas dari makhluk pahatan tersebut tidaklah jelas, namun para peneliti menduga dia adalah dewa Buddha Vaisvarana, yang juga dikenal sebgai Jambhala. Vaisvarana adalah dewa kesejahteraan atau perang, dan dia sering digambarkan sedang memegang sebuah lemon (lambang kesejahteraan) atau pundi-pundi uang di tangannya. Si Iron Man ini sedang memegang  sebuah benda tak dikenal di tangannya. Patung tersebut tingginya sekitar 9,5 inci (24 cm) dan beratnya sekitar 23 pond (10,6 kg).
Banyak kebudayaan yang menggunakan besi meteorit (meteorite iron) untuk membuat pedang dan bahkan perhiasan, tulis Buchner dan para koleganya, dan pemujaan terhadap meteorit banyak terdapat dalam kebudayaan-kebudayaan kuno. Namun patung Buddha tersebut mempunyai keunikan.
Patung Iron Man tersebut merupakan satu-satunya ilustrasi sosok manusia yang dipahat dari meteor, yang artinya kita tidak punya pembanding untuk menentukan harganya,” kata Buchner dalam sebuah pernyataannya. “Bahannya saja boleh jadi berharga $20.000; akan tetapi, jika perkiraan kita tentang usia patung tersebut benar, dan usianya hampir seribu tahun, maka harganya bisa jadi tak terhingga.” (By Stephanie Pappas, LiveScience Senior Writer | LiveScience.com – Wed, Sep 26, 2012)
Follow Stephanie Pappas on Twitter @sipappas or LiveScience @livescience. We're also onFacebook & Google+.


Copyright 2012 LiveScience, a TechMediaNetwork company. All rights reserved. This material may not be published, broadcast, rewritten or redistributed.

Read more

0 10 Aturan Menulis dari Zadie Smith


 “Berhentilah menjadi orang yang bersedih seumur hidup karena tidak pernah merasa puas.”
Dalam musim dingin tahun 2010, terinspirasi oleh 10 aturan menulis dari Elmore Leonard yang terbit dalam The New York Times hampir satu dekade sebelumnya, The Guardian menghubungi sebagian dari beberapa penulis yang paling dikenal saat ini dan meminta mereka masing-masing membuat 10 daftar aturan menulis. Yang paling saya sukai adalah daftar yang dibuat Zadie Smith—sebuah perpaduan yang indah dari yang praktis, yang filosofis, dan yang puitis:
  1. Pada waktu masih kanak-kanak pastikan Anda membaca banyak buku. Meluangkan waktu lebih banyak untuk membaca dibandingkan dengan kegiatan lainnya.
  2. Ketika dewasa cobalah membaca hasil karya Anda sendiri sebagai orang asing, atau yang lebih baik, sebagai musuh Anda.
  3. Jangan meromantisasi ‘vokasi’ Anda. Anda bisa menulis sebuah kalimat-kalimat yang baik atau tidak bisa sama sekali. Tidak ada yang disebut ‘gaya hidup pengarang’. Semua yang pokok adalah apa yang Anda tinggalkan di halaman buku yang Anda tulis.
  4. Hindari kelemahan-kelemahan Anda. Tapi lakukan ini dengan tanpa mengatakan pada diri sendiri bahwa segala sesuatu yang tidak bisa Anda lakukan sebenarnya memang tidak penting dilakukan. Jangan tutupi keragu-raguan diri Anda dengan meremehkan.
  5. Sisakan ruang yang cukup untuk waktu antara menulis dan mengedit tulisan.
  6. Hindari kelompok orang, geng, grup. Kehadiran kelompok tidak akan membuat tulisan Anda lebih baik.
  7. Menulislah dengan komputer yang tidak disambungkan ke Internet.
  8. Lindungi ruang dan waktu di mana Anda menulis. Jangan biarkan siapa saja mendekatinya, bahkan orang yang paling penting bagi Anda sekalipun.
  9. Jangan keliru antara penghargaan dengan prestasi.
  10. Sampaikanlah kebenaran dengan cara apapun yang Anda kuasai—katakan saja. Berhentilah menjadi orang yang bersedih seumur hidup karena tidak pernah merasa puas.

Benar-benar sebuah tambahan yang indah bagi petuah-petuah menulis lainnya, termasuk 8 aturan menulis hebat (8 rules for a great story) dari Kurt Vonnegut, 10 tips meyakinkan (10 no-bullshit tips) dari David Ogilvy, 11 petunjuk (11 commandments) dari Henry Miller, 30 keyakinan dan teknik (30 beliefs and techniques) dari Jack Kerouac, 6 pokok menulis (6 pointers) dari John Steinbeck, dan belajar bersintesis (synthesized learnings) dari Susan Sontag.
Novel terbaru dari Smith, NW, yang sudah ditunggu-tunggu selama tujuh tahun, terbit akhir bulan ini. (by Maria Popova)
Image via The Guardian
Read more

0 Rumah Berhiaskan 30.000 Tutup Botol


Kebanyakan dari kita cenderung membuang tutup botol yang kita punya ke tempat sampah, namun wanita pensiunan dari Rusia Olga Kostina menemukan cara untuk memanfaatkan benda sehari-hari ini dengan cara yang imajinatif dan menyenangkan secara estetis. Selama bertahun-tahun, Kostina mengumpulkan tutup botol yang berwarna-warni hingga dia kira cukup untuk memenuhi selera artistiknya. Kemudian dia menempelkan 30.000 tutup botol yang berukuran sama dan memakukannya di tempat-tempat yang cocok untuk membuat berbagai pola dan desain mosaik di dinding depan rumahnya.
Kemudian dia menutup sebagian celah di antara tutup-tutup botol tersebut dan menambah tekstur dengan teknik menyulam macramé. Hasil akhirnya adalah sebuah rumah yang mempesona yang berdiri mencolok di sebuah desa Karmarchaga di wilayah yang sangat pelosok dan terisolasi di Rusia, yang terletak sekitar 50 mil sebelah tenggara Krasnoyarsk, dan di Siberian Taiga. Desain tersebut mencakup pola-pola geometrik repetitif dan juga potret hewan yang lucu di hutan sekitarnya. Tidak hanya mendekorasi rumahnya sendiri, namun dia juga menutupi beberapa bangunan lain di wilayah tersebut untuk menambahkan sedikit kegembiraan di wilayah yang terpencil itu.
·       Posted by Katie Hosmer on September 14, 2012 at 9:58pm
·       View Blog

Read more

0 Lukisan Pensil yang Menawan Seperti Foto


Mungkin sulit dipercaya namun apa yang sedang Anda lihat di atas bukanlah sebuah foto vintage berwarna hitam putih. Ini adalah sebuah lukisan dengan pensil. Dan, yang lebih sulit dipercaya adalah lukisan tersebut sebenarnya adalah sebuah ilustrasi kecil yang satu halamannya terdiri dari tidak lebih dari sekitar sekitar lima sentimeter persegi! Seniman yang berbasis di Edinburg Paul Chiappe adalah orang ahli di balik serangkaian lukisan fotorealistik ini yang saking kecilnya sehingga si artis mengatakan "[Saya] mencoba tidak terlalu banyak bernapas ketika saya sedang membuat gambar tersebut sehingga tangan saya tidak bergetar di mana-mana.”
Selain ukurannya, daya pesona yang sangat realistis digabungkan dengan pilihan subjek dari si artis telah menciptakan serangkaian gambar yang sangat menawan yang sulit dilukiskan dengan kata-kata. Meski orang-orang yang ada dalam gambar-gambar tersebut adalah asing bagi kebanyakan orang yang melihatnya, namun ada hubungannya dengan mereka dan dengan estetika buram mereka. Ada sensasi nostalgik yang diasosiasikan dengan sket-sket mini yang menampilkan foto-foto keluarga yang candid yang memudar dan potret-potret ruang kelas di sekolah. (Posted by Pinar on September 13, 2012 at 11:00am)
Read more

0 Mengenal Lukisan Pulpen yang Mempesona


Di bawah ini adalah gambar-gambar yang menggetarkan—seorang wanita muda yang cantik  berkepala merah, seekor kucing rumah bermata hijau, sebuah kuil taman yang damai di Jepang. Namun gambar-gambar tersebut bukanlah potret—gambar-gambar tersebut adalah kopian dari potret yang dikerjakan dengan alat artistik yang sangat prosaik, pulpen-pulpen yang sederhana.
 “Gadis berkeala merah karya Samuel Silva digambar dengan pulpen dan berdasarkan sebuah potret seorang model Love Ansimov yang dipotret oleh potografer Rusia Kristina Tararina. (VianaArts)
Jaksa Samuel Silva, 29, yang tinggal di Portugal, kini sedang menarik perhatian dunia atas hasil-hasil karyanya yang mengagumkan hanya dengan menggunakan pulpen, yang dipertunjukkan secara online. Dia menggunakan beberapa pena BIC dengan delapan warna berbeda untuk membuat gambar-gambar tersebut, yang sedemikian mempesona hingga sebagian pengunjung website-nya tidak percaya kalau dia benar-benar mengerjakannya, dan mereka memintanya memuat sebuah video yang menggambarkan cara dia melakukannya.
Catatan Silva tentang “Wajah Kucing” berbunyi “ukuran aslinya adalah kira-kira sama dengan ukuran dua lembar kartu kredit, sebuah gambar yang sangat kecil. Namun saya selalu mencoba membuatnya dengan kualitas tinggi.”
Ketika orang meragukan sesuatu atau tidak menyukainya, maka yang akan mereka lakukan adalah pergi dan melupakan hal itu, melanjutkan kehidupan mereka, itulah yang saya lakukan,” kata Silva pada TODAY. “Kalau kita bisa menciptakan gambar dan lukisan yang menyerupai potret dengan media lain, mengapa dengan pulpen tidak bisa?”

Silva berkata “Bald Eagle” memakan waktu delapan jam untuk menyelesaikannya, dan dia meneyebutnya “sebuah goresan cepat lainnya.”

Silva menulis dalam webpage-nya bahwa dia tidak mencampur warna, tapi membuat garis-garis (meng-cross-hatches) warna yang berlapis-lapis “untuk menciptakan ilusi pencampuran warna (blending) dan ilusi tentang warna yang sebenarnya saya tidak punya.”

Dia bercanda di dalam webpage-nya bahwa membuat gambar-gambar tersebut memakan waktu “selamanya,” dan berkata pada TODAY bahwa “bagi saya, ‘selamanya’ adalah 50 jam dalam waktu dua bulan. Itu adalah waktu yang lama!”

Gambar kucing rumah dan kucing liar adalah beberapa di antara gambar-gambar pilihan Silva, dan dia mengakui sebuah gambar yang dia namakan “Tiger” adalah gambar kesukaannya. “Saya mencintai semua jenis kucing-kucingan,” katanya.
Silva mengatakan “Tiger” boleh jadi adalah gambar kesukaannya, dan bahwa dia menyukai hewan jenis kucing dan selalu ingin menggambar seekor macan. “Yang ini adalah kucing liar, itulah sebabnya saya menyukainya,” katanya. “Kucing besar tidak diperuntukkan bagi kebun binatang.” Dia memerlukan waktu 20 jam untuk menggambarnya.
Silva mengatakan pada TODAY bahwa pihak perusahaan pembuat BIC belum mengontaknya, namun jika mereka melakukan itu, “Saya akan meminta mereka untuk membuat perangkat warna yang lebih besar, karena seniman pulpen dan penggemar pulpen di seluruh dunia tentu akan membelinya. By Gael Fashingbauer Cooper, TODAY

What do you think of Silva's work? Can you believe he only uses ballpoints? Tell us on Facebook.
Related content:

Read more

0 "Potret Genetik" Menyatukan Dua Wajah Jadi Satu

This is Ulric Collette...
Ini adalah Ulric Collette …
… dan saudara lelakinya, Christophe. Collette, 29, seorang jenius fotografi dan desain grafik membelah separuh wajahnya dan menggantinya dengan wajah kakaknya yang berusia 30 tahun untuk sebuah proyek yang disebut “Potret Genetik.” Sang fotografer jenius itu juga menyuruh saudara sekandung lainnya, orang tua, dan anak-anak untuk berpose guna pembuatan sensasi foto keluarga bauran. Sekarang hasil karyanya yang cemerlang telah menempatkan Manbabies sebagai sensasi foto viral berikutnya. Jangan takut dengan web, potret genetik adalah sesuatu yang mesti di digunakan dalam praktik therapi keluarga di mana saja. Dua wajah samping menyamping, bisa disatukan dengan rapi dan tanpa jejak dengan menggunakan teknik Photoshop clay, yang dengan demikian memperlihatkan sekian banyak perbedaan antara anggota keluarga dan cara sebuah individu mengenali bentuk fisiknya. Bedah plastik menggunakan teknologi jenis ini setiap kali mereka berusaha meyakinkan seseorang untuk melakukan operasi pengangkatan wajah  (facelift). Bangaimana kalau teknik ini digunakan untuk melakukan latihan penyatuan antara ibu dengan puterinya? Hanya saran, psikoterapis.

Photo by: photo by Ulric Collette via ulriccollette.com

http://shine.yahoo.com/channel/health/the-ultimate-family-therapy-photographer-turns-two-relatives-into-one-person-2529081/;_ylt=AiPw_NIM4PEJrWkU_nGF7oxrbqU5#photoViewer=1
Read more

0 "American Girl in Italy", Diatur atau Tidak?

‘American Girl’ photo: American Girl in Italy, 1951 © 1952, 1980 Ruth Orkin / Courtesy of …
Seorang wanita yang anggun mempesona tengah berjalan di jalan raya di Florence, kepalanya tegak menengadah. Di sekitarnya, para pria berdecak kagum dan menggoda keanggunan dan kecantikannya. Lalu kamera klik. "American Girl in Italy” adalah salah satu foto snap shot yang paling terkenal sepanjang masa, dan kini usia foto itu sudah mencapai 60 tahun.
Foto tersebut, yang dibidik pada tahun 1951, menangkap dengan sempurna keceriaan dan romantika seorang wanita ketika sedang berada di luar negeri. Untuk merayakan ulang tahun foto tersebut, Ninalee Craig, wanita yang ada dalam foto tersebut berbicara dengan “Today” show tentang kisah di balik layar dan tentang apa yang direpresentasikan oleh foto tersebut sebenarnya.
Dalam penampilannya dalam “Today”, Craig berbicara tentang betapa, meski ada yang mungkin mengatakan demikian, foto tersebut bukanlah sebuah “simbol pelecehan.” Craig meyakinkan bahwa imej dalam foto tersebut adalah “melambangkan seorang wanita yang benar-benar sedang bersenang-senang.”
Craig tentu tahu—ketika foto tersebut diambil, dia hanyalah seorang wanita 23 tahun yang berjalan-jalan keliling Eropa. Ketika sedang tinggal di sebuah hotel murah, Craig bertemu dengan fotografer Ruth Orkin, yang juga sedang melakukan tur keliling Eropa seorang diri. Keduanya kemudian berbicara tentang kesenangan dan tantangan berjalan-jalan sendirian di jalan-jalan raya di Itali—dan berencana untuk merekam pengalaman tersebut dalam foto-foto.
Selama dua jam, sang fotografer dan si model amatir tersebut berjalan-jalan di jalan raya kota Florence. Orkin mengambil foto-foto di pasar-pasar dan di café-café. Adegan foto-foto di jalan raya tersebut adalah alami. Menurut Craig, Orkin hanya menjepret dua gambar dirinya sedang berjalan di macho street. Salah satunya kemudian menjadi foto yang ikonik yang dirayakan ulang tahunnya hari ini.
Tentang apakah foto tersebut diatur atau tidak, Craig mengatakan tidak sama sekali. “Perdebatan besar mengenai foto tersebut, yang ingin diketahui oleh semua orang, adalah: Apakah foto tersebut diatur? No! No, no, no! Anda tidak mungkin meminta 15 orang pria berdiri di jalan raya dan hanya mengambil dua foto. Para pria itu memang berada di sana …. Satu-satunya yang terjadi adalah Ruth Orkin dengan cukup bijaksana menyuruh saya berbalik ke belakang dan kembali dan mengulangi” berjalan di jalan raya tersebut.
Dalam wawancara tersebut, Craig juga mengatakan bahwa dia tidak pernah merasa takut berjalan di tengah-tengah para pria yang terkagum-kagum tersebut. “Tidak ada satu pun dari mereka yang berani jahil,” katanya.
Craig sekarang adalah seorang nenek yang tinggal di Toronto. Orkin, yang meninggal dunia pada tahun 1985, pernah menjadi co-writer dan co-director film nominasi Oscar pada tahun 1956, "Little Fugitive." Tentu saja, kedua wanita tersebut akan paling dikenang karena salah satu gambar tak terlupakan itu yang, diatur atau tidak, telah mencuri perhatian publik dan tidak pernah pudar. (By Mike Krumboltz | The Lookout – Thu, Aug 18, 201)

Read more

0 Ini Bukan Lukisan

Beberapa bulan yang lalu, pada bulan Maret, saya memperlihatkan beberapa karya #Alexa Meade yang mengagumkan (jika Anda melihat tanda # di depan sebuah kata, itu adalah tag yang nge-link ke kata tersebut). Banyak di antara Anda tidak percaya bahwa lukisannya adalah benar-benar manusia yang hidup, yang tubuhnya dicat sedemikian rupa sehingga terlihat seperti acrylic masterpiece. Ilusi ini menunjukkan hasilnya yang terbaik ketika Anda melihat instalasinya dari dekat. Jika Anda tidak percaya apa yang saya katakan, di sini saya muat fotonya dari kejauhan. Sekarang saya orang baik bukan ….;) (Vurdlak on June 14, 2010, with 84 Comments)

AlexaMeade Body Paint Painting Optical Illusion 1
Alexa Meade Body Paint Painting Optical Illusion 2
Alexa Meade Body Paint Painting Optical Illusion 3
Read more
 
© Hasim's Space | Design by Blog template in collaboration with Concert Tickets, and Menopause symptoms
Powered by Blogger