Headlines

Powered by Blogger.
Showing posts with label Film. Show all posts
Showing posts with label Film. Show all posts

0 Ke Mana Royalti Michael Jackson Mengalir setelah Beliau Meninggal Dunia?

 


Michael Jackson boleh jadi sudah meninggal dunia, tapi itu bukan berarti penghasilannya terhenti. Nama besar Michael Jackson dan hasil karyanya terus mengeruk dollar hingga sekarang, dalam jumlah yang tidak sedikit. Apalagi baru-baru ini lagu-lagunya kembali memuncaki tangga lagu-lagu paling top di dunia, dan film biopic-nya yang berjudul Michael meledak di pasaran, dan menjadi film biopic terlaris sepanjang masa, menghasilkan uang yang berjumlah triliunan jika dirupiahkan.

Dan, tentu saja, Michael Jackson tidak bisa lagi menikmati semua itu. Lalu, kemanakan uang itu mengalir sekarang?

Semenjak Michael Jackson meninggal pada tahun 2009, semua penghasilan anumerta—termasuk royalti box office dan biaya lisensi dari film biografi Michael—langsung masuk ke The Michael Jackson Estate.

The Michael Jackson Estate adalah badan hukum korporasi yang menerima semua uang yang dihasilkan dari nama, citra, dan musiknya, dan kemudian mendistribusikan dana tersebut sesuai dengan ketentuan wasiatnya.

Uang tersebut mengalir melalui jalur khusus:

1.     1. Para Pelaksana (Para Manajer)

Estate tersebut dikelola oleh para pelaksana bersama John Branca (pengacara hiburan Jackson yang telah lama bekerja dengannya) dan estate John McClain (seorang eksekutif A&R yang meninggal pada Mei 2026). Karena film biografi ini merupakan proyek resmi yang disetujui oleh estate, Branca juga berperan sebagai produser dalam film tersebut. Para pelaksana mengambil persentase dari total pendapatan kotor estate sebagai kompensasi untuk mengelola bisnis, melunasi hutang-hutang lama, dan menyusun kesepakatan seperti film ini.

2.      2. Dana Perwalian Keluarga Michael Jackson (Para Penerima Manfaat)

Royalti film masuk ke estate kemudian dipotong biaya produksi/manajemen, dan sisanya disalurkan ke dana perwalian keluarga pribadi. Wasiat Michael Jackson menetapkan pembagian 40/40/20 yang ketat untuk kekayaan anumertanya:

·       40% untuk ketiga anaknya: Prince, Paris, dan Bigi (Blanket) Jackson.

·       40% untuk ibunya: Katherine Jackson (selama ibunya masih hidup), setelah itu bagiannya akan dialihkan dengan aman kepada anak-anaknya).

·       20% untuk amal: Dibagikan di antara berbagai organisasi amal yang tidak disebutkan namanya.

Konteks Saat Ini: Meskipun film biografi Michael ini telah menghasilkan pendapatan box office yang besar, film ini juga telah memperkuat gesekan hukum yang sedang berlangsung di balik layar. Putri Michael, Paris Jackson, mengajukan keberatan hukum yang mempertanyakan cara para pelaksana estate mengelola dana tersebut, dan menyatakan kekhawatiran atas kompensasi yang mereka terima yang jumlahnya cukup tinggi. Selain itu Paris juga mengkhawatirkan resiko kerugian dari pendanaan proyek-proyek besar Hollywood seperti film biografi Michael itu.

Read more

0 Thirteen Lives: Kisah Penyelamatan Nyawa Manusia yang Mengharu Biru

 


Human lives matters. Itulah pesan yang ingin disampaikan film ini. Nyawa manusia, betapapun, sangatlah berharga. Tak peduli pejabat tinggi, orang berpangkat, petani, pegawai, atau bahkan anak-anak sekalipun; jika nyawa mereka terancam, mereka harus diselamatkan. Untuk menyelamatkan nyawa manusia tak ada hitung-hitungan biaya. Berapapun jumlah uang yang diperlukan, dan apapun yang diperlukan, dikorbankan. Bahkan tidak jarang kita menyaksikan nyawa manusia pun dikorbankan untuk menyelamatkan nyawa lainnya.

Namun pada peristiwa penyelamatan berskala besar, yang menjadi sorotan nasional, bahkan internasional, seperti dalam film ini, reputasi para penyelamat, dan pejabat yang bertanggung jawab, pun dipertaruhkan, sehingga, kadang-kadang ambigu; sesungguhnya mereka sedang menyelamatkan korban atau menyelamatkan diri mereka sendiri.

Thirteen lives bercerita tentang kisah nyata penyelamatan 13 nyawa manusia yang terjebak dalam sebuah gua pada bulan Juni tahun 2018, di Thailand, yang terdiri dari 12 orang anak-anak dari sebuah klub sepak bola, beserta satu orang pelatih mereka. Ketigabelas orang tersebut tidak bisa keluar dari gua karena terkepung oleh air banjir yang memenuhi badan gua, yang pada sebagian tempat terutup sama sekali hingga langit-langit gua. Mereka terdampar di sebuah platform batu, yang berjarak empat kilometer dari mulut gua, tempat mereka masuk.

Penyelamatan berlangsung dalam skala besar, melibatkan para penyelam dari Angkatan Laut Thailand, para penyelam ahli dari Inggris, dan lebih dari 5.000 relawan yang bekerja tanpa lelah, siang dan malam.

Adegan pencarian dan penyelamatan keduabelas anak dan pelatihnya ini, yang secara ajaib bisa bertahan hidup tanpa makan dan minum selama 13 hari sebelum mereka ditemukan oleh dua orang penyelam Inggris, dalam kedaan, sehat, dan bisa berkomunikasi dengan para penyelamatnya, sungguh mencekam dan menegangkan.

Konon, anak-anak tersebut bisa bertahan hidup dan tetap sehat, meski tetap merasa lapar, karena mereka melakukan meditasi, yang dipimpin oleh si pelatih.

Aksi penyelamatan yang heroik, intens, dan menegangkan dari tim penyelam Inggris sungguh mengharu biru dan menggugah perasaan siapa saja yang menonton film ini. Dan fakta bahwa anak-anak terebut bisa bertahan hidup tanpa makan dan minum selama 13 hari, dan ketabahan mereka menjalani proses penyelamatan yang mempertaruhkan nyawa mereka, adalah hal lain yang membuat film ini menarik untuk ditonton.

 

Read more

0 Decision to Leave: Kisah Misterius dengan Ending yang Membuat Bergidik

 


Jika Anda suka menonton film, apalagi jika Anda sudah menonton banyak film dari berbagai negara, tentu Anda tahu bahwa film Korea tidak boleh diremehkan. Nyatanya, film-film Korea adalah item yang banyak diperhitungkan dalam festival film, atau penghargaan film tingkat internasional, dan banyak yang berhasil meraih penghargaan. Bahkan, beberapa tahun lalu, film Korea yang berjudul Parasite dinobatkan sebagai film terbaik, atau best picture, dan meraih Piala Oscar dalam Academy Awards tahun 2019, sekaligus merupakan film pertama yang berhasil meraih Oscar sebagai best picture yang tidak berbahasa Inggris. Ini berarti, panitia dan dewan juri Academy Awards 2019 rela dan berani mendobrak kebiasaan, dan mungkin keluar dari peraturan, demi menggolkan hasil  penilaian mereka yang objektif tentang film terbaik, dan itu diraih oleh film Korea, bukan film dari negara-negara Eropa yang dikenal banyak mengeluarkan film bermutu, misalnya.

Decision to Leave adalah film Korea tahun 2022 yang diproduseri dan disutradarai oleh Park Chan-Wook, dibintangi oleh Tang Wei dan Park Hae-Il.

Pada tahun 2022, film ini masuk dalam seleksi Palme d'Or dalam Festival Film Cannes di mana Park berhasil keluar sebagai Best Director.

Film ini juga mendapat tanggapan positif dari para kritikus film dan masuk nominasi dalam berbagai acara penghargaan film, termasuk nominasi sebagai film terbaik yang bukan berbahasa Inggris dan penyutradaan terbaik dalam British Academi Film Awards ke-76.

Decision to Leave menceritakan tentang seorang polisi yang sedang menyelidiki kematian seorang pria karena terjatuh dari gunung batu yang akhirnya terjebak dalam permainan misterius dari istri si korban yang kemudian menyeret si polisi ke dalam sebuah proses penyidikan yang melelahkan.

Seperti film-film Korea umumnya, adegan demi adegan mengalir wajar seperti tanpa emosi, namun mendalam dan menghanyutkan. Tautan dari adegan ke adegan membuat kita penasaran dan tidak ingin melewatkan setia detik gambar dan percakapan yang sedang berlangsung. Sinematografi film ini, khususnya dalam adegan kecelakaan jatuh dari gunung, sangat memikat. Angle kamera dalam setiap adegan enak dilihat dan tidak membosankan.

Namun yang paling menarik adalah endingnya. Ending film adalah adegan kematian yang tak biasa, mengejutkan, kelam dan memilukan, yang merobek-robek relung hati Anda yang terdalam. Sebuah adegan yang mungkin tak pernah Anda bayangkan, dan tak Anda mengerti, juga saya.

 

Read more

0 Perubahan Wajah Ben Stiller dalam Film 'Secret Life'


(Photo: Aby Baker/Getty Images)
Saya yakin Anda bisa mengenali Kristen Wiig (kiri)—meski dia sedang diberi makeup sedemikian rupa agar kelihatan  tua.
Tapi siapakah orang yang di sebelah kanan itu? Percaya atau tidak itulah Ben Stiller. Ben sedang menggunakan masker kerutan dan tanda-tanda penuaan, kacamata, dan rambut berwarna perak dengan garis rambut yang surut ke belakang, sehingga membuatnya jadi sulit dikenali.
Meski juga diberi kerutan di wajahnya, namun Wiig, 38, masih bisa dikenali karena dia memakai mantel zamrud dan topi yang matching.
Kedua aktor komedi tersebut terlihat di dalam seting film "The Secret Life of Walter Mitty" ketika mereka sedang syuting di New York hari Rabu minggu lalu. Stiller, 46, juga menyutradarai film tersebut yang menceritakan tentang seorang foto editor yang pemalu dan  enigmatik yang dipaksa keluar dari mimpinya dan memasuki petualangan di dunia nyata ketika sebuah akhiran yang negatif ternyata tidak terjadi.

"The Secret Life," yang akan diputar di bioskop tahun depan ini, merupakan remake dari film yang berjudul  sama yang diproduksi pada tahun 1947, yang dibintangi oleh Virginia Mayo. Dan dari model pakaian mereka di dalam film ini, film ini juga akan mengambil seting tahun 40-an. (Ceritanya mulanya berasal dari sebuah cerpen karangan James Thurber).
"Secret Life" yang baru ini juga dibintangi oleh Shirley MacLaine, Patton Oswalt, Adam Scott dan Kathryn Hahn
Anda penggemar Ben Stiller? Dia memproduksi sebuah web series yang berjudul "Burning Love"  ekslusif untuk Yahoo! Nikmatilah sekarang juga!(Dengan muatan dewasa.) ( By Meriah Doty | Movie Talk – Fri, Jun 15, 2012 11:56 AM EDT)


Read more

0 Sang Penari


hot.detik.com

Saya tidak tahu banyak tentang film ini. Saya tidak pernah menontonnya di bioskop karena kota kecil di mana saya tinggal tidak mempunyai gedung bioskop. Saya hanya mengetahui informasi tentang film ini dari trailer-nya yang diputar di TV, dan dari berita-berita di surat khabar.

Tapi seandainya saya punya kesempatan untuk menonton film ini, itu belum tentu akan saya lakukan. Ada sesuatu yang mematikan hasrat saya, dan menyurutkan langkah saya untuk menonton film ini.

Saya dengar film ini merupakan adaptasi dari novel Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari. Ronggeng Dukuh Paruk adalah sebuah novel besar, bukan sembarang novel. Novel ini pernah mendapat penghargaan dari pelbagai negara, dan sudah diterjemahkan ke dalam beberapa bahasa.

Membaca novel ini adalah sebuah kenikmatan berimajinasi. Setting ceritanya sangat dekat dengan kehidupan nyata rakyat kecil. Deskripsinya memikat, cerdas, dan cermat sehingga alur ceritanya mudah dinikmati. Di samping itu, novel ini mempunyai bobot ilmu pengetahuan yang bermanfaat sebagai sebuah pelajaran. Membaca novel ini kita bisa memetik banyak hikmah, di samping sebagai sebuah kenikmatan sastrawi.

Tapi apakah sebuah film yang diangkat berdasarkan novel ini akan memberi kenikmatan yang serupa bagi yang menyaksikannya. Entahlah. Saya ragu apakah pembuat film ini bisa memfilmkan dengan sempurna adegan-adegan fenomena alam dan binatang yang dengan cermat digambarkan oleh Ahmad Tohari, juga kesahduan alam, dan suasana mistis yang ditimbulkannya. Kalaupun mereka bisa, hasilnya tentu tidak akan se-intens deskripsi dalam novelnya.

Menonton film dan membaca novel adalah dua hal yang berbeda. Keduanya tidak bisa saling menggantikan. Novel yang bagus tidak akan serta merta menjadi bagus pula ketika diangkat menjadi film.

Membaca novel sifatnya sangat subjektif. Setiap pembaca berjalan dengan imajinasinya masing-masing yang berbeda-beda dari satu orang ke orang lainnya. Setiap uraian dalam sebuah novel dinikmati dengan cara yang berbeda-beda oleh masing-masing pembaca.

Setiap pembaca mempunyai gambaran tersendiri, yang hanya ada dalam imajinasinya, tentang setting, watak, dan perawakan para tokoh dalam cerita tersebut. Kenikmatan berimajinasi secara pribadi inilah yang menyertai setiap novel yang kita baca, dan yang membuat sebuah novel menjadi enak dibaca.

Dan ketika sebuah novel diangkat menjadi film, warna-warna imajinasi yang sifatnya subjektif tersebut hilang, berganti menjadi penggambaran dan warna-warna imajinasi versi pembuat film. Dan ini tidak bisa ditawar lagi. Ketika menonton sebuah film, penonton tidak mungkin menggunakan imajinasinya lagi. Mereka terpaku pada apa yang disuguhkan oleh pembuat film. Ketika duduk di dalam bioskop, imajinasi kita didikte oleh pembuat film.
Jika cerita film yang kita tonton tidak pernah kita baca sebelumnya tidaklah jadi soal benar karena kita tidak mempunyai imajinasi apa-apa tentang cerita film tersebut. Lain soal kalau kita menonton film yang ceritanya pernah kita baca sebelumnya. Dalam hal ini, kita pasti membanding-bandingkan penggambaran dalam film tersebut dengan imajinasi kita ketika membaca cerita tersebut. Dan kalau keduanya tidak bersesuaian, kita akan kecewa.

Itulah sebabnya saya jadi tidak tertarik untuk menonton film ini. Karakter tokoh utama—Srintil, si penari ronggeng –yang digambarkan dalam film ini tidak sesuai dengan imajinasi saya ketika membaca novel Ronggeng Dukuh Paruk. Dalam imajinasi saya, Srintil adalah seorang tokoh yang njawani, berwajah Jawa, ber-aura Jawa, berbahasa Jawa, dan beradat Jawa.

Dan dalam imajinasi saya pula, wajah Srintil sama sekali tidak seperti yang digambarkan dalam film ini. Bagi saya wajah pemeran utama dalam film ini tidak cocok untuk memerankan Srintil. Dia tidak memiliki kharisma Srintil dan aura Srintil. Dia adalah orang lain yang sama sekali bukan Srintil. Dan yang lebih mengecewakan saya, caranya menari, seperti yang saya lihat dalam trailer-nya di TV, sama sekali tidak luwes dan kenes seperti gaya Srintil yang digambarkan Ahmad Tohari.

Ini adalah pendapat saya pribadi, dan tentu saja tidak mutlak. Orang lain mungkin berpendapat berbeda. Orang lain mungkin setuju itulah Srintil. Orang lain mungkin mempunyai imajinasi yang sama tentang Srintil dengan pembuat film ini. Tapi ingat pula, mungkin ada orang lain yang berpendapat sama dengan saya.

Tapi terlepas dari semua subjektifitas yang seperti itu, saya ingin mengatakan bahwa membuat film yang berdasarkan cerita novel, apalagi novel besar seperti Ronggeng Dukuh Paruk tidaklah mudah karena orang sudah terkooptasi oleh imajinasi mereka masing-masing. Dan ketika mereka berjalan ke gedung bioskop, mereka mempunyai ekspektasi yang berbeda-beda, dan jika mereka menemukan sesuatu yang tidak sesuai dengan imajinasi mereka, tentu mereka akan kecewa.
Read more

0 Kentut

Kentut bukan hanya masalah kesehatan, bukan hanya masalah sosial budaya, bukan hanya masalah agama, bukan hanya masalah etika. Tapi, lebih kompleks dari itu, kentut juga merupakan senjata, alat politik, bahkan barang dagangan.

Dalam film ‘Sang Pencerah’, tokoh KH. Achmad Dahlan menjadikan kentut sebagai senjata untuk menaklukkan anak-anak kaum bangsawan. “Kita harus bersyukur Tuhan memberi kita kesehatan. Kita harus bersyukur Tuhan memberi kita lubang pembuangan yang terintegrasi sedemikian rupa dalam sistem tubuh kita. Bayangkan jika kita tidak punya lubang pembuangan. Bayangkan jika kita tidak bisa kentut …,” kata sang tokoh kepada anak-anak sekolah elit yang menganut aliran sekularisme.

Dan yang lebih kompleks lagi, dalam film yang berjudul ‘Kentut’, kentut dibahas secara saksama, dalam tempo yang tidak terlalu singkat, mendalam, mendetil, dan mengena oleh Deddy Mizwar, bekerja sama dengan Aria Kusumadewa yang bertindak selaku sutradara.  

Dalam film ini, kentut ditampilkan secara lengkap, mulai dari sisi kesehatan, sisi politik, hingga sisi yang belakangan ini menjadi spesialisasi Deddy Mizwar dalam film, yaitu parodi dan dagelan politik.

Masalah kesehatan, politik, dan sosial budaya tersebut dalam film ini berhasil diolah menjadi sebuah dagelan politik yang bukan saja menggelitik, tapi mengundang siapa saja untuk merenung ketika menonton film ini.

Tersebutlah Fatiwa, seorang wanita karier yang berpendidikan tinggi, yang mencalonkan diri menjadi bupati pada sebuah kabupaten. Saingan utamanya adalah Jasmera, seorang tokoh yang flamboyan, yang hedonis, yang berbicara blak-blakan, yang suka menelanjangi masalah-masalah sosial yang ada dalam masyarakat dengan tanpa tedeng aling-aling. Tokoh Fatiwa dan Jasmera adalah dua pribadi yang kontras; Fatiwa yang berpendidikan tinggi cenderung tertutup dan berhati-hati dalam setiap perkataannya. Sedangkan Jasmera yang berpendidikan ala kadarnya bersifat terbuka dan tidak pernah berhati-hati dalam pembicaraannya. Fatiwa merupakan tipe tokoh yang tertutup dan cenderung munafik. Sedangkan Jasmera meski agak kasar, namun bersifat jujur dan terbuka.

Malang menimpa Fatiwa, dalam sebuah kesempatan kampanye, dia tertembak di bagian punggungnya sehingga harus dilarikan ke rumah sakit, dan diopname.

Manajemen tim sukses Fatiwa panik. Kondisi kesehatan Fatiwa yang sedemikian rupa tentu merupakan ancaman bagi kesempatannya untuk ikut dalam pemilihan kepala daerah yang tidak lama lagi itu. Apalagi setelah dokter memutuskan bahwa dia harus menjalani operasi. Dan bukan hanya operasi itu yang menimbulkan kepanikan, tapi waktu untuk melakukan operasi itu, yang tidak bisa ditentukan sebelum beliau kentut.

Masa menunggu kentut inilah yang memicu sebagian besar konflik dalam film ini. manajer kampanye Fatiwa tak henti-hentinya mendesak kepala rumah sakit untuk memastikan kapan Fatiwa bisa kentut. Ketegangan timbul ketika sang dokter kepala rumah sakit tidak bisa menentukan kapan waktunya Fatiwa kentut, sedangkan sang manajer kampanye terus-menerus mendesak, karena jadwal pilkada semakin dekat. Kentut manjadi masalah krusial yang perlu penanganan segera. Bagi kubu Fatiwa, kentut adalah segala-galanya.

Lalu, apakah sang tokoh Jasmera berada di balik peristiwa penembakan itu? Mungkin tidak. Jasmera mungkin bukan model orang yang suka menohok dari belakang, dan tidak suka menempuh jalan kekerasan. Jasmera mungkin menyesali kejadian itu. Yang pasti,  dia menyempatkan diri menjenguk Fatiwa ke rumah sakit dan mengirim rangkaian bunga untuknya, dan mengucapkan semoga beliau lekas sembuh. 

Mungkin istilah ‘kentut’ dalam film ini tidak merujuk pada sesuatu yang naïf; bukan hanya terbatas pada persoalan angin yang keluar dari saluran pembuangan Fatiwa semata. Boleh jadi Fatiwa sendiri adalah kentut. Boleh jadi Jasmera adalah kentut juga. boleh jadi semua perkataan mereka adalah kentut. Boleh jadi semua tokoh dalam film ini sedang  kentut ketika mereka berbicara. Boleh jadi film ini adalah kentut juga. Dan boleh jadi ….

Konflik dalam film ini sengaja difokuskan pada masalah kentut. Tidak ada sedikitpun pembicaraan mengenai siapa pelaku penembakan itu. Tidak ada penyelidikan. Tidak ada pengusutan. Bahkan tidak ada polisi seperti yang biasanya terdapat dalam film-film yang ada adegan penembakan seperti ini.

 Kata ‘kentut’ bertebaran di sana sini, dalam berbagai kesempatan, diucapkan dan ditulis, diekspolitasi habis-habisan, namun tidak sampai membosankan, bahkan masih terasa segar dari adegan awal ditampilkan hingga adegan penutup, yaitu adegan pengumuman dari dokter kepala rumah sakit, yang mengatakan, “Fatiwa sudah kentuuuuuuttttttttttttttttt …..”. 
Read more

0 The Best of Daniel Craig


Dengan wajahnya yang merah, tampan namun keras, dan berambut pirang, Daniel Craig harus menghadapi banyak tantangan—penggemar James Bond adalah penggemar dalam arti yang sebenarnya, yang fanatik. Sehingga ketika si aktor berbakat, yang penampilannya mengesankan dalam “Sylvia,” “Enduring Love,” “Layer Cake,” dan “Munich,” ini diumumkan untuk pertama kalinya sebagai si 007 yang baru—para penggemar James Bond dan tabloid tidak terima dan mengumbar rasa benci mereka yang teramat sangat padanya. Mereka mempermasalahkan tampangnya, latar belakangnya dan ketidakmampuannya mengemudikan mobil dengan stick shift. Namun para pembenci tersebut akhirnya terbukti salah ketika film “Casino Royale” (disutradarai Martin Campbell) yang penuh aksi, dengan sentuhan yang intelijen itu diluncurkan. Film tersebut bukan hanya bagus, tetapi juga menjadi salah satu film terbaik pada tahun 2006, dan yang lebih penting, dengan mudahnya menjadi salah satu dari lima film James Bond yang paling hebat. Mulai saat itu, tidak ada lagi yang berani melecehkan si Mr. Craig ini.

Dengan film terbarunya, kisah terror rumah tangga karya Jim Sheridan “Dream House,” yang juga dibintangi oleh istrinya yang baru, Rachel Weisz, dia berhasil  membuktikan bahwa memainkan peran sebagai James Bond tidak berarti dirinya menjadi James Bond. Dia adalah seorang aktor yang sebenarnya, dan dia adalah seorang aktor yang baik. (Dan kita berharap yang sama pula dari film-nya yang lain, yaitu karya David Fincher yang banyak ditunggu-tunggu “The Girl with the Dragon Tattoo”). Sementara ini, mari kita runut sebagian dari peran-peran paling menarik yang pernah dimainkan Craig. Inilah delapan di antara yang terbaik:

©Paramount Vantage
Dalam film "Defiance" (2008)
Dalam film "Quantum of  Solace" (2008)
Dalam film "Casino Royale" (2006)
Dalam film "Munich" (2005)

Dalam 'The Mother (2004)
'Enduring Love" (2004)
"Layer Cake" (2005)
Dalam "Sylvia" (2003) bersama Gwyneth Paltrow

Read more

0 Film Indonesia, dari Percintaan hingga Horor

calvinms.web.id

Saya kira, puncak masa kejayaan film Indonesia itu ada pada era tahun 1970-an. Kala itu film Indonesia benar-benar berjaya menjadi tuan rumah di negerinya sendiri. Ribuan penonton berduyun-duyun menyerbu gedung bioskop, mulai dari kota hingga pelosok-pelosok desa. Khususnya di desa, tidak ada yang dinanti-nanti selain film Indonesia. Begitu malam tiba, film Indonesia berjaya. Gedung-gedung bioskop menjadi raja.

Ketika itu, produksi film Indonesia melimpah, dengan puncaknya pada tahun 1977, yaitu sebanyak 367 film. Hampir setiap film yang diprodukdi berjaya di gedung bioskop. Film percintaan, silat, hingga komedi semuanya diserbu penonton. Namun film percintaan nampak memimpin dengan bintang-bintang film kenamaan yang stereotype seperti Roy Martin, Robby Sugara, Yati Octavia, Yeny Rachman, dan Doris Callebaut yang ketika itu dikenal sebagai the Big Five. Kejayaan film percintaan ketika itu ditingkah oleh film musikal Rhoma Irama yang setiap kemunculannya selalu mencengangkan penonton dan masuk box office selama berminggu-minggu.

Pada akhir tahun 1970-an hingga awal tahun 1980-an yang berjaya adalah film-film percintaan remaja ala Rano Karno-Lydia Kandow, dengan meledaknya film Gita Cinta dari SMA pada tahun 1979. Jenis film percintaan remaja ini berjaya dengan bintang-bintang yang ketika itu juga remaja. Selain Rano Karno dan Lydia Kandow, tercatat pula Yessy Gusman, Herman Felani, Anita Carolina, Kiki Maria, dan lain-lain. Kejayaan film percintaan remaja ini ditingkahi oleh film-film komedi Warkop DKI dengan debutnya Mana Tahaan yang meledak dahsyat pada tahun 1977.  Awal tahun 1980-an adalah masa kejayaan film-film percintaan remaja dan komedi Warkop DKI.  

Mulai tengah tahun 1980-an film-film model Si Boy mengambil alih, dimulai dengan film Catatan Si Boy yang meledak pada tahun 1987. Film tersebut melejitkan bintang baru yang bernama Onky Alexander. Selanjutnya, Onky berjaya dengan film-film sekuel Catatan Si Boy. Onky bahkan sempat indentik dengan imej Si Boy. 

Dalam ketiga era tersebut film-fim horror selalu membayang-bayangi dengan malu-malu. Akhir tahun 1970-an, fim horror Pembalasan Guna-Guna Istri Muda meledak, dan sekaligus mengawali kejayaan film-film jenis ini. Menyusul, pada tengah tahun 1980-an, Suzanna mencatat sukses dengan film-film horror Nyi Blorong dan sekuelnya.

Kejayaan film-film horor terus berlanjut hingga tahun 1990-an hingga sekarang. Dan kini, era tahun 2000-an, fim horor semakin menunjukkan giginya. Khususnya dekade kedua di abad ke-21 ini, film-film horor benar-benar mendapat tempat di gedung bioskop. Dari empat layer yang disediakan sebuah gedung bioskop tidak kurang dari dua adalah film horror.

Kejayaan film horor yang penuh kontroversi ini tampaknya didukung pula oleh kontroversi bintang-bintang pemainnya. Seperti film Arwah Goyang Karawang yang sempat menimbulkan kontroversi akibat tentangan masyarakat Karawang sehingga kemudian film tersebut berganti judul menjadi Arwah Goyang Jupe-Depe.

Kontroversi seperti itu tampaknya justru menguntungkan bagi film yang bersangkutan. Terbukti film Arwah Goyang Karawang (Arwah Goyang Jupe-Depe) kini menduduki puncak box office.

Kontroversi tampaknya sudah menjadi bagian dari promosi film-film Indonesia dewasa ini. Tak heran, jika muncul berita heboh tentang para pemain film, hal itu kerap dihubungkan dengan film yang sedang mereka produksi, sebagai upaya untuk lebih memperkenalkan film tersebut.

Sampai di manakah kebenaran sinyalemen tersebut mungkin tidak mudah membuktikannya. Tapi, tak ayal, kontroversi seputar pemain, atau tentang film itu sendiri menumbuhkan rasa ingin tahu orang semakin besar, dan tentu saja, akhirnya menggiring mereka ke gedung bioskop.

Beberapa dari film terlaris di bawah ini pernah menuai kontroversi, baik mengenai film itu sendiri maupun pemainnya.

Data Jumlah Penonton Film hingga April 2011;


1. Arwah Goyang Karawang 698.960
2. Pocong Ngesot 353.506
3. Kalung Jelangkung 286.878
4. Love Story 283.337
5. Pelukan Janda Hantu Gerondong 251.100
6. Virgin 3: Satu Malam Mengubah Segalanya 225.582
7. Jenglot Pantai Selatan 155.477
8. Dedemit Gunung Kidul 147.218
9. Baik Baik Sayang 100.000
10. Rumah Tanpa Jendela 84.451


(data dari filmindonesia.or.id)
Read more

0 Battle: Los Angeles

moviecarpet.com

Selama bertahun-tahun, telah banyak laporan mengenai penampakan UFO di seluruh dunia—Buenos Aires, Seoul, Perancis, Germany, China. Tapi di ahun 2011, apa yang dulu itu hanya merupakan penampakan, akan menjadi sebuah kenyataan yang menakutkan ketika Bumi diserang oleh pasukan-pasukan tak dikenal. Ketika orang di mana-mana menyaksikan kehancuran kota-kota besar di seluruh dunia, Los Angeles menjadi kota pertahanan terakhir bagi manusia dalam sebuah pertempuran yang tak pernah diperkirakan sebelumnya. Andalan kota Los Angeles adalah seorang sersan Marinir dan pasukannya yang baru untuk membuat garis di atas pasir menghadapi musuh yang tidak pernah mereka temui sebelumnya.


Read more

0 Kenalkan Si Conan (the Barbarian) Baru

Sebelum menjadi Terminator, Arnold Schwarzenegger adalah Conan the Barbarian. Film yang dibuat tahun 1982 tersebut tidak terlalu menyamai sukses film-film Ah-nold lainnya yang lebih berhasil, namun film itu berhasil menjadi film jagoan yang digemari. Sekarang, trailer pertama dari remake film ini, yang dibintangi oleh si dahsyat Jason Momoa sebagai bintang utamanya, tengah mengguncang Dunia Maya.
Momoa, yang akan menerima penghargaan CinemaCon's Rising Star of 2011 Award, mungkin lebih dikenal dalam perannya dalam film "Stargate: Atlantis" dan "Baywatch." Beberapa tahun yang lalu,  Momoa dan Lisa Bonet membuat berita setelah mereka berdua memberi nama anak mereka Nakoa-Wolf Manakauapo Namakaeha Momoa. Ibunya Momoa menerangkan bahwa Nakoa berarti "jagoan."
Jika "Conan the Barbarian" versi Momoa menjadi sebuah hit, tentu akan timbul rasa penasaran akan si aktor ini. Sejauh ini, peringkatnya sudah mulai menanjak di mesin pencari. Dalam tujuh hari terakhir ini, pencarian di Internet tentang "jason momoa" telah menunjukkan kekuatan ototnya, naik sebesar 44%.
Anda bisa saksikan trailer terbaru dari film "Conan the Barbarian" di bawah ini. Film ini dijadwalkan akan menyerbu bioskop pada bulan Agustus tahun ini.
Saksikan trailer eksklulif "Conan the Barbarian" di bawah ini:

by: Mike Krumboltz
Foto: LionsgateSource: http://blog.movies.yahoo.com/blog/885-meet-the-new-conan

Read more

0 Film-Film yang Seharusnya Menang Oscar

Penjurian dalam sebuah festival sering kali membuat orang kecewa. Penilaian dewan juri sering kali berbeda dengan penilaian orang lain. Sesuatu yang terpilih menjadi pemenang, seharusnya tidak menang. Sedangkan yang tidak terpilih menjadi pemenang, seharusnya menang. Begitulah menurut sebagian orang yang tidak setuju. Begitu juga dengan Academy Awards yang setiap tahunnya membagi-bagikan Piala Oscar. Banyak pendapat yang mengatakan film yang seharusnya menang (menjadi Best Picture) ternyata tidak menang. Piala Oscar yang diraih film The King's Speech kemarin dianggap tidak layak oleh sebagian orang, mereka menganggap film The social Network lebih pantas dinobatkan sebagai film terbaik.


Seperti film-fim yang ada dalam daftar di bawah ini. Film yang disebelah kiri adalah film yang menang menurut dewan juri ketika itu, sedangkan film yang di sebelah kanan adalah film yang seharusnya menang menurut sebagian orang lain. 



Add caption











Source: http://oscars.movies.yahoo.com/photos/169-the-academy-got-it-wrong#OmgPhoid=11
Read more

0 "The King's Speech" Film Terbaik Oscar 2011

Photo: Steve Granitz, WireImage.com
Photo: Steve Granitz, WireImage.comAssociated Press


LOS ANGELES—“The King’s Speech” dinobatkan sebagai film terbaik dalam penganugerahan Academy Awards pagi tadi, laksana penganugerahan mahkota bagi sang raja, drama monarki tersebut memimpin seperti yang diperkirakan dengan empat piala Oscar dan seperti yang bisa ditebak, penghargaan bagi pemeran terbaik.
Colin Firth yang berperan sebagai raja Inggris yang gagap George VI dalam film “The King’s Speech” memenangkan penghargaan sebagai aktor terbaik, sedangkan Natalie Portman  menyabet penghargaan sebagai aktris terbaik untuk perannya sebagai seorang ballerina delusional dalam film “Black Swan”
Drama tinju “The Fighter” memenangkan dua penghargaan peran pembantu sekaligus, untuk Christian Bale yang berperan sebagai bekas petinju yang menjadi pecandu obat bius, dan untuk Melissa Leo yang berperan sebagai seorang ibu yang dominan dalam sebuah klan petinju.
“The King’s Speech” juga memenangkan penghargaan sutradara terbaik untuk Tom Hooper dan cerita asli terbaik untuk David Seidler, orang yang juga gagap berbicara ketika mudanya.
“I saya punya feeling karir saya sekarang sedang memuncak,” kata Firth. Sepertinya saya harus beritahu Anda bahwa saat ini perut bagian atas saya mengalami berguncang-guncang seolah-olah ingin menari.”
Di antara para pesaing Portman adalah Annette Bening dalam film “The Kids Are All Right.” Bening sejauh ini sudah mencatat empat kali masuk nominasi.
“Terima kasih banyak. Ini gila, dan sejujurnya, setulusnya saya berharap hadiah ini akan jatuh kepada teman-teman saya yang juga masuk nominasi. Saya mengagumi Anda semua,” kata Portman.
Sensor jaringan menangkap Leo mengeluarkan kata-F dalam pidatonya. Di belakang panggung, dia secara bercanda mengakui itu adalah “kata yang sangat tidak pantas dikeluarkan dalam situasi seperti itu.”
“Kata-kata tersebut, saya minta maaf bagi siapa saja yang merasa tersinggung. Ada banyak sekali kosa kata bahasa Inggris dalam logat saya,” kata Leo.
Bale bercanda bahwa dia menjaga bahasanya agar terdengar bersih. “Saya tidak akan mengatakan kata-F seperti yang dia lakukan,” katanya. “Saya sudah melakukannya ribuan kali.”
Namun piala Oscar, sebagai sebuah acara global, disiarkan ke seluruh dunia dengan kata-kata seperti yang diucapkan Leo tanpa sensor. Para pemirsa yang menonton acara tersebut lewat Star Movies, sebuah saluran utama yang tersedia di seluruh Asia, mendengar kata-F tersebut sangat jelas dan keras.
Hooper, seorang pendatang baru di dunia layar lebar yang lebih dikenal sebagai pembuat drama TV yang berkelas, menggondol hadiah tertinggi dalam industri film dengan mengungguli sutradara veteran Hollywood David Fincher, yang berpeluang besar dalam film drama Facebook yang disutradarainya “The Social Network.”
Penghargaan untuk sutradara terbaik dibawakan oleh pemenang tahun lalu, Kathryn Bigelow, sutradara wanita pertama yang berhasil memenangkan penghargaan sebagai sutradara terbaik.
“Terima kasih untuk para pemeran saya yang hebat-hebat, segitiga cinta pria Colin Firth, Geoffrey Rush dan saya sendiri. Saya berada di sini karena Anda semua,” kata Hooper, menunjuk pada bintang-bintang pria dalam filmnya.
Kemenangan Leo menandai sebuah perjalanan karir yang tak biasa di usia setengah baya bagi aktris yang berusia 50 tahun tersebut. Leo telah mengalami sukses moderat dalam film TV “Homicide: Life on the Street” ketika usianya 30-an dan melompat menggapai bintang pada akhir usia 40-an, sebuah masa di mana kebanyakan aktris sulit mendapatkan peran yang bagus.
Dengan diliputi perasaan tidak percaya ketika menaiki panggung, Leo berkata, “Cubit saya.” Bintang legendaris Hollywood Kirk Douglas, yang menyerahkan hadiahnya, menurut dengan memberi cubitan kecil di lengannya.
Bale mendapatkan penghargaan yang sama dengan yang diraih lawan mainnya dalam film Batman, almarhum Heath Ledger, yang menerima penghargaan secara posthumous dua tahun yang lalu untuk film “The Dark Knight.” Ketika itu, Bale merasa sedikit iri secara profesional ketika melihat Ledger berakting dengan setting angin puyuh sebagai Joker yang gila sedangkan dia sendiri sebagai bintang utama harus menggigil sebagai Batman yang terluka dan tabah. 
“The Fighter” memberi Bale kesempatan untuk berperan sebagai preman Diky Eklund, seorang petinju yang karirnya hancur karena kejahatan dan narkoba. Bale dalam film ini memainkan peran yang penuh dengan percakapan mabuk, mengomel dan menggerutu dengan bintang film dan produser, Mark Wahlberg, yang berperan sebagai kakak Eklund yang pendiam, Micky Ward.
Kemenangan sebagai penulis cerita asli terbaik mengakhiri mimpi lama si penulis cerita “The King’s Speech” Seidler, seorang yang gagap di masa kanak-kanaknya yang lahir di London pada tahun 1937, satu tahun setelah  Raja George dinobatkan. Seidler, yang akhirnya bisa mengatasi kegagapannya pada usia 16, telah lama bersumpah akan menulis cerita tentang raja yang ketabahannya menjadi contoh baginya ketika dia kanak-kanak tersebut.
Seidler berterimakasih pada Ratu Elizabeth II, puteri Raja George, “Karena tidak menggantung saya di menara London karena menggunakan kata-F-nya Melissa Leo.” Film ini terdapat dua adegan di mana sang raja mengeluarkan kata-kata tak senonoh karena merasa jengkel karena tidak bisa mengucapkan suku kata dengan lancar.
Piala Oscar untuk cerita adaptasi terbaik jatuh pada Aaron Soarkin untik fim “The Social Netwok,” sebuah cerita tentang kelahiran Facebook berdasarkan buku Ben Mezrich  “The accidental Billionaires.”  “The Social Network” juga memenangkan penghargaan musik terbaik bagi Trent Reznor dan Atticus Ross, dan untuk penyunting terbaik. 
Film fiksi ilmiah “Inception,” yang menggondol delapan nominasi, bersaing ketat dengan “The King’s Speech” dengan empat piala Oscar, yang semuanya untuk kategori teknik: visual effect, cinematography, sound editing dan sound mixing.
“Inside Job” sebuah eksplorasi tentang krisis ekonomi tahun 2008, memenangkan kategori sebagai fim dokumenter terbaik, sebuah kategori yang sangat menarik tahun ini.
Piala Oscar tahun ini berada di tengah-tengah spekulasi mengenai apakah Bansky, seorang yang misterius dari dunia seni jalanan, akan muncul menunjukkan daftar penghargaannya sendiri, “Exit Through the Gift Shop.” Jika dia ada di ajang Oscar, dia tidak akan mengumumkannya.
Tapi inilah topik yang ada dalam pikiran kebanykan orang dalam dua tahun terkahir ini, ekonomi, yang bergaung di antara pemilih piala Oscar. Sutradara “Inside Job” Charles Ferguson memaksa para pemain Wall Street, para ekonom dan birokrat untuk melakukan uji-silang yang tajam guna untuk menggambarkan krisis ekonomi sebagai sebuah kejahatan kolosal yang disulut oleh kelas pekerja dan diperbesar oleh segelintir orang yang serakah.
“Maafkan saya, saya harus mulai dengan mengatakan bahwa tiga tahun setelah krisis keuangan yang mengerikan yang melanda negeri kita yang disebabkan penipuan finansial, belum ada seorang eksekutif finansial pun yang dipenjara, dan itu adalah salah,” kata ferguson.
“Toy Story 3,” pada tahun lalu berhasil mengumpulkan pendapatan terbesar pada pemutaran pertamanya dan merupakan sebuah film penantang Oscar kali ini, memenangkan Oscar untuk kategori sebagai film animasi terbaik yang ke-empat kalinya bagi unit film animasi Disney’s Pixar. Pixar telah menggondol enam dari sepuluh penghargaan Oscar untuk kateogri film animasi terbaik semenjak kategori ini dimasukkan, termasuk “Finding Nemo,” “WALL-E” dan pemenang tahun lalu, “Up.”
Kemenangan Pixar diwarnai dengan kejadian yang ganjil. Acara penghargaan Oscar untuk Pixar ini menggunakan visual effects sebagai latar belakang dengan menampilkan film dari pesaingnya DreamWorks, Far Far Away, sebuah film dongeng serial “Shrek” buatan ulang milik perusahaan DreamWork.. “Shrek” yang pertama memenangkan kategori ini untuk pertama kalinya, tapi tidak sama dengan “Toy Story”, serial “Shrek” berakhir dengan sebuah seri yang kritis, “Shrek Forever After”, tahun lalu
Dengan me-reuni bintang-bintang suara kenamaan Tom Hanks dan Tim Allen, “Toy Story 3” adalah seri terbaru dari film buatan tahun 1995 yang menandai dimulainya era film cerita panjang animasi komputer saat ini.
Piala Oscar untuk kategori film asing terbaik jatuh pada pembuat film Denmark Susanne Bier’s untuk filmnya yang berjudul “In Better World,” sebuah film saga tentang dua keluarga yang hancur yang ceritanya berpusat pada dua orang anak lelaki yang terlibat kekerasan di sekolah dan merencanakan balas dendam.
Film Lewis Carrol “Alice in Wonderland” memenangkan penghargaan yang pertama tadi pagi, untuk kategori peñata artistik terbaik. Film ini juga memenangkan penghargaan busana terbaik.
Show dibuka dengan co-hosts Anne Hathaway dan James Franco menyelusup ke dalam potongan beberapa adegan dari nominasi film-film terbaik, yang dibuat sebagai sebuah rangkaian mimpi yang mengingatkan akan film “Inception.” Potongan-potongan adegan tersebut termasuk adegan yang menampilkan beberapa pembawa acara tamu malam itu asperti Morgan Freeman dan co-host Oscar tahun lalu Alec Baldwin.
Franco memulai dengan mengatakan pada Hathaway betapa cantiknya dia malam itu. Dan Hathaway membalas, “Anda juga terlihat sangat menarik bagi orang muda.”


Read more

0 The King's Speech

http://thefilmstage.com/2010/11/03/the-kings-speech-poster-revealed/


Film The King’s Speech yang disutradarai Tom Hooper  membuat kejutan besar awal tahun ini di Toronto International Film Festival, di mana film ini memenangkan kategori penghargaan People’s Choice yang mengundang rasa iri itu. Pengamat film dan juga  para audien yang hadir pada festival tersebut telah terpikat pada film ini sejak awal penayangannya. Dan poster di bawah ini akan membuat orang semakin tertarik.

http://thefilmstage.com/2010/11/03/the-kings-speech-poster-revealed/


The King’ Speech dibintangi oleh Colin Firth yang berperan sebagai Raja George IV, yang merupakan raja Inggris pada Perang Dunia II. King George adalah seorang yang gagap ketika berbicara yang sulit diatasi, dan setelah menyampaikan sebuah pidato yang memalukan dalam sebuah Eksibisi Kerajaan Inggris pada tahun 1925. Dengan bantuan istrinya, sang Ratu (Helena Bonham Carter) dan seorang terapis bicara yang tidak biasa (Geofffrey Rush), dia mulai bisa mengatasi kelemahannya tersebut.

Film ini telah meraup beberapa nominasi Oscar yang serius. Film ini memenangkan penghargaan Toronto International Film Festival (TIFF) seperti yang pernah dimenangkan oleh Slumdog Millionaire. Ternyata kita harus menunggu bumi berputar sampai tahun berganti untuk mengetahui apakah peristiwa serupa terulang lagi.

Bagaimana pendapat Anda mengenai posternya?


Source: http://thefilmstage.com/2010/11/03/the-kings-speech-poster-revealed/

Read more

0 Liz Taylor dukung 'The King's Speech'

Liz Taylor backs 'King's Speech,' from hospital bed
AFP/Getty Images/File – Film legend Elizabeth Taylor,
pictured in 2009, was rooting for British royal drama "The King's ....
LOS ANGELES—Seorang jurubicara wanita untuk Elizabeth Taylor mengatakan si aktris pemenang Oscar dua kali tersebut akan menghabiskan hari ulang tahunnya dengan menonton Academy Awards dari sebuah kamar di rumah sakit Los Angeles, di mana dia sedang dirawat karena menderita pnyakit gagal jantung kongestif.


Sally Morrison mengatakan Taylor akan mendukung film “The King’s Speech” untuk memenangkan penghargaan tertinggi Hollywood tersebut. Taylor akan genap berusia 79 pada hari Minggu depan.


Morriosn mengatakan perayaan hari ulang tahun yang layak menurut rencana akan diselenggarakan ketika si aktris tersebut telah pulang ke rumahnya. Taylor telah dirawat di Rumah sakit Cedars-Sinai Medical Center semenjak awal bulan ini. dia memberitahu penyakit yang jantung dideritanya pada bulan November 2004.


Dan film manakah yang kan berjaya di ajang Oscar tahun ini?


Meskipun Toy Story 3 merupakan film dengan penghasilan paling tinggi, namun tampaknya film ini tidak akan memenangkan Oscar sebagai film terbaik. Namun film ini mempunyai peluang yang lebih baik untuk memenangkan kategori sebagai Film Animasi Terbaik. Kepastiannya akan kita ketahui besok pagi, pada saat penghargaan Academy Awards yang ke-83 tersebut ditayangkan dari Kodak Theater, mulai pukul 8 besok pagi. Baik The King's Speech maupun The Social Network telah memenangkan beberapa penghargaan dalam perjalanannya menuju malam penghargaan Oscar nanti.; The King's Speech mendapat nominasi paling banyak untuk Oscar kali ini— 12. Sebagai seorang co-hosts untuk pertama kalinya, aktor James Franco dan aktris Anne Hathaway akan tampil sebagai pembuka acara; biasanya pembawa acara utamanya adalah seorang komedian. Pembawa acara lama yang akan tampil adalah Billy Crystal, Steve Martin, Johnny Carson, Bob Hope dan Whoopi Goldberg. Franco akan bersaing dalam piala Oscar kali ini untuk kategori sebagai pemeran utama terbaik untuk perannya sebagai seorang hiker yang mengalami krisis (a hiker in crisis) dalam film, 127 Hours. Hathaway adalah nonimasi pemeran utama wanita terbaik pada tahun 2008 untuk peran titular-nya dalam film Rachel Getting Married.


thefilmstage.com



Source: http://news.yahoo.com/s/ap/20110227/ap_on_en_mo/us_elizabeth_taylor;_ylt=AoeEK6PrQC0PFWRhxwSzMUMwFxkF;_ylu=X3oDMTJxcnAzaTFjBGFzc2V0A2FwLzIwMTEwMjI3L3VzX2VsaXphYmV0aF90YXlsb3IEcG9zAzE4BHNlYwN5bl9wYWdpbmF0ZV9zdW1tYXJ5X2xpc3QEc2xrA2xpenRheWxvcmNlbA--


http://www.answers.com/
Read more

0 Dengan 'Tweeting Moms' dan "Web Cams' Siaran Oscar Semakin Culun

LOS ANGELES (Reuters)—Ketika panitia Oscar membuka kampanye promosi mereka dengan, “You’re invited.” Sesungguhnya mereka tidak sedang bercanda—sekurangnya bagi pemirsa melalui Internet.
Tahun ini, beda dengan tahun-tahun sebelumnya, Academy of Motion Picture Arts and Sciences telah memenuhi halaman Facebook, Twitter dan website mereka dengan petunjuk cara-cara para pemirsa bisa menyaksikan penghargaan film paling top di dunia tersebut dan semua kemeriahan yang menyertainya.
Tujuannya, seperti yang dikatakan oleh anggota panitia Academy, adalah untuk membuat siaran Hollywood yang gemerlap itu terasa lebih inklusif bagi para penonton bioskop sehari-hari dan menyita perhatian para fan muda dengan HP di salah satu tangan mereka dan komputer laptop di tangan mereka yang lain.


Kami tahu bahwa, semakin banyak dan semakin banyak lagi, orang yang menonton TV sambil memainkan perangkat lainnya di tangan mereka. Kami ingin perangkat yang kedua itu juga mempunyai hubungan, konten yang komplementer di dalamnya,” kata Ric Robertson, seorang administrator eksekutif Academy tersebut yang juga merupakan orang yang berada di balik media outreach dari siaran Oscar.
“Idenya adalah untuk membuka layar, dan membuat pemirsa mendapat kesan yang nyata tentang bagaimana malam piala Oscar yang sebenarnya,” kata Robertson.
Bukanlah rahasia lagi bahwa dalam tahun-tahun terakhir ini, para pemirsa mulai berpaling dari siaran piala Oscar, yang merupakan siaran TV paling popular ke-dua di Amerika Serikat, dan juga film, secara general. Pemirsa muda kini mempunyai lebih banyak cara untuk menghibur diri—jejaring sosial, video games, SMS, dll—daripada pergi menonton bioskop.
Jumlah penjualan tiket total di bioskop-bioskop di AS dan Kanada jatuh 5 persen pada tahun 2010 hingga menjadi 1,34 miliar. Penghasilan dari box office tidak naik dibandingkan dengan tahun 2009 yang sebanyak $10,6 miliar, dan harga rata-rata tiket bioskop naik menjadi $7,89 dari $7,50.
Menyangkut siaran piala Oscar, siaran tahun lalu adalah siaran yang paling banyak ditonton dalam lima tahun terakhir ini yang hampir mencapai 42 juta pemirsa, namun ini disebabkan sebagian besar oleh popularitas nominasi film terbaik “Avatar,” sebuah hit box office terbesar yang pernah ada.
Pemirsa siaran Oscar biasanya bertambah jika ada film-film populer yang masuk nominasi penghargaan. Capaian pemirsa paling tinggi adalah pada tahun 1998 ketika 57 juta pemirsa tuned in di depan TV untuk menyaksikan film smash hit “Titanic” memenangkan penghargaan sebagai film terbaik. Sedangkan capaian pemirsa terendah adalah tahun 2008 ketika hanya tercatat 32 juta pemirsa tuned in untuk menyaksikan kemenangan film “No Country for Old Men.”
OSCAR ON THE WEB
Jadi, dalam rangka untuk mengundang lebih banyak pemirsa menyaksikan bintang-bintang Hollywood papan atas, panita Academy telah melakukan pendekatan agresif untuk menayangkan gambar-gambar bintang-bintang papan atas tersebut di red carpet, di belakang panggung setelah kamera TV tidak lagi membuntuti mereka, dan bahkan menyiarkan sekilas kehidupan pribadi mereka dengan menampilkan uraian singkat dari ibu mereka dalam siaran yang disebut Oscar's tweeting moms.
Di Twitter, bukan saja website milik Academy tersebut akan diaktifkan (@TheAcademy) dan berbagai nominasi akan di-tweet-kan, tetapi juga ibunya James Franco (@Francosmom) dan neneknya (@Grandmamitz), sutradara “The Fighter” David O. Russell (@Orussellsmom), ibunya sutradara “Toy Story” Lee Unkrich (@EmilieUnkrich) dan lain-lain, direncanakan akan men-tweet.
Di Facebook, Academy akan memposting foto-foto bintang-bintang Hollywood yang hadir dalam acara malam itu atau kejadian-kejadian tak terduga yang tidak tertangkap kamera, dan juga apa yang akan ditampilkan dalam siaran tersebut.
Untuk para fan yang ingin menyaksikan segala sesuatunya menyangkut piala Oscar, website siaran tersebut Oscar.com kini sedang menjual sebuah “tiket semua pintu” (“All Access Pass”) di mana orang bisa menyaksikan siaran langsung lewat Internet tentang apa yang terjadi yang tertangkap oleh 24 kamera di sepanjang red carpet, di belakang panggung, dalam di ruang konferensi pers dan di acara makan malam Governors Ball setelah show selesai. 
Akhirnya, ada pula tersedia sebuah applikasi untuk menonton Oscar yang bisa di-download untuk para pengguna iPads dan iPhone.
“Kami telah me-reboot Oscar.com dengan video streams pilihan para user ini,” kata Robertson.
“Kami telah memperbesarnya secara lengkap.”
(Editing by Jill Serjeant)


picture: http://www.listafterlist.com/tabid/161/Default.aspx

Read more
 
© Hasim's Space | Design by Blog template in collaboration with Concert Tickets, and Menopause symptoms
Powered by Blogger