Headlines

Powered by Blogger.
Showing posts with label Humaniora. Show all posts
Showing posts with label Humaniora. Show all posts

0 Salah Kaprah Rumah Duka dan Pemakanan Keluarga

 Kalau Anda hidup di kampung atau di kota kecil, mungkin Anda sering mendengar pengumuman tentang kematian seseorang mengumandang dari masjid. Dalam pengumuman seperti itu biasanya disebutkan bahwa “jenazah disemayamkan di rumah duka di ….” (menyebut nama kampung) padahal yang dimaksud adalah rumah keluarga almarhum. Selain itu juga disebutkan bahwa “jenazah akan dikebumikan di pemakaman keluarga di ….” (menyebut nama Lokasi pemakaman) padahal yang dimaksud Adalah pemakaman umum.

Penggunaan istilah "rumah duka" dan "pemakaman keluarga" dalam pengumuman kematian sering kali mengalami pergeseran makna antara bahasa formal dan kebiasaan masyarakat setempat.

Memahami Definisi Rumah Duka

Secara terminologi formal, rumah duka adalah fasilitas komersial atau publik yang dikelola secara profesional untuk merawat jenazah sebelum dimakamkan.

  • Fungsi Utama: Menyediakan ruang persemayaman, tempat pemandian jenazah, peti mati, hingga transportasi ambulans. Biasanya digunakan oleh masyarakat perkotaan yang memiliki keterbatasan lahan rumah pribadi.
  • Pergeseran di Kampung: Dalam pengumuman di masjid, penyebutan "rumah duka" sebenarnya merujuk pada kediaman pribadi keluarga almarhum.

Memahami Definisi Pemakaman Keluarga

Pemakaman keluarga secara harfiah merujuk pada tanah milik pribadi (privat) yang dikhususkan hanya untuk anggota keluarga atau silsilah keturunan tertentu.

  • Ciri Khas: Lokasinya bisa berada di halaman belakang rumah (lazim di beberapa daerah di Indonesia) atau di lahan perkebunan milik keluarga. Kepemilikannya tidak terbuka untuk masyarakat umum.
  • Pergeseran di Kampung: Ketika pengumuman menyebut "pemakaman keluarga", sering kali yang dimaksud adalah Tempat Pemakaman Umum (TPU) yang berada di wilayah tersebut.

Mengapa Salah Kaprah Ini Terjadi?

Fenomena penggunaan istilah ini biasanya dipicu oleh beberapa faktor sosial:

Istilah yang Digunakan

Maksud Sebenarnya

Alasan Penggunaan

Rumah Duka

Rumah Tinggal Pribadi

Memberikan kesan formalitas dan penghormatan pada acara duka.

Pemakaman Keluarga

Pemakaman Umum (TPU)

Menunjukkan kedekatan identitas bahwa almarhum dimakamkan di lingkungan asalnya.

Disemayamkan

Diletakkan/Disolatkan

Istilah "semayam" dianggap lebih halus daripada sekadar mengatakan "ditaruh" atau "ada di".

Kesimpulan

Ketidaktepatan penggunaan istilah ini sebenarnya adalah bentuk eufemisme (penghalusan bahasa). Di kota besar, rumah duka dan pemakaman keluarga adalah entitas bisnis atau privat yang sangat eksklusif. Namun, di kampung atau kota kecil, istilah tersebut menjadi simbol kebersamaan; bahwa setiap tetangga adalah keluarga, dan setiap rumah yang berduka adalah pusat perhatian seluruh warga.

Meskipun secara teknis kurang tepat, penggunaan istilah ini sudah menjadi bagian dari etika berkomunikasi (pragmatik) yang diterima luas oleh masyarakat kita.

 

Read more

0 Pola Pikir Penyumbang Angka Kemiskinan

 


Dalam sebagian budaya di dunia ini, masyarakatnya berkeyakinan bahwa seseorang harus kawin, beranak, dan berbahagia, tidak peduli betapapun keadaan ekonomi mereka.

Ummat Islam meyakini bahwa kawin atau menikah adalah sunnah rasul; seseorang yang tidak kawin dianggap tidak mengikuti sunnah rasul. Kawin atau menikah dan punya anak dalam budaya Islam juga dianggap merupakan kewajiban seorang muslim untuk mengembangkan atau memperbanyak umat Islam di seluruh dunia. Makin banyak anak makin banyak umat Islam. Makin banyak umat Islam makin banyak kekuatan untuk menegakkan syariat Islam guna meraih cita-cita meraih kejayaan Islam di muka Bumi ini. Begitulah pikiran mereka.

Dalam masyarakat Islam, kawin dan beranak itu dilakukan tanpa perhitungan ekonomi; tanpa menghitung biaya yang harus dikeluarkan untuk merawat seorang anak. Sebuah keluarga kecil, miskin, yang punya satu anak, yang kepala keluarganya tak punya penghasilan tetap, akan kewalhan menghadapi betapa kerasnya himpitan biaya hidup yang harus dia tanggung, belum lagi jika anak mereka bertambah jadi satu, dua, atau tiga, bahkan empat dan seterusnya.

Bayangkan, orang tua dengan penghasilan tak menentu, misalnya, yang secara rata-rata berpenghasilan antara satu hingga dua juta rupiah sebulan, atau kurang dari itu, harus menghidupi tiga orang anak yang semuanya masih bersekolah. Jika dua di antara anak mereka itu harus menempuh jarak yang cukup jauh dari rumah mereka, maka setiap hari orang tua harus mengeluarkan minimal duapuluh ribu rupiah untuk satu orang anak, untuk bensin sepeda motor dan jajan mereka.

Tidak jarang, akibat kerasnya himpitan ekonomi, si orang tua menyerah. Anak-anak mereka terpaksa harus putus sekolah, atau dipaksa kawin dalam usia muda, dan kemudian mengulang kehidupan orang tua mereka pada anak-anak mereka.

Pada beberapa kasus, anak terpaksa menjadi nakal tau bertindak kriminal untuk memenuhi kebutuhan hidup.

Keadaan seperti ini akan terus berulang pada anak cucu mereka sehingga membuat angka kemiskinan semakin besar dari waktu ke waktu.

Di belahan dunia lain, masyarakatnya berpikir rasional. Banyak di antara mereka yang menolak kawin dengan alasan berat menanggung biaya hidup keluarga, dan memilih hidup menyendiri hingga akhir khayat mereka.

Dalam masyarakat yang berpikir rasional seperti itu otomatis angka kemiskinan kian lama kian menurun seiring dengan menurunnya jumlah penduduk. Negara-negara maju seperti negara-negara di Eropa, Amerika Utara, dan Jepang umumnya berpikiran rasional seperti ini, dan angka kemiskinan dan pengangguran di negara-negara tersebut relatif kecil jika dibandingkan dengan negara-negara yang penduduknya berpikiran bahwa mereka harus punya anak.

Menurut data dari World Bank, sekitar 700 juta orang di dunia masih hidup dalam kemiskinan ekstrem, yaitu dengan penghasilan kurang dari 2,15 dolar AS per hari. Sebagian besar dari mereka tinggal di negara berkembang, di mana tingkat kelahiran juga relatif tinggi.

Dalam konteks pendidikan, biaya transportasi, seragam, buku, dan kebutuhan harian anak dapat menjadi beban berat. Jika satu anak membutuhkan biaya harian sekitar Rp20.000 untuk transportasi dan uang saku, maka tiga anak memerlukan sekitar Rp60.000 per hari atau hampir Rp1,8 juta per bulan—jumlah yang bahkan melebihi penghasilan banyak keluarga miskin.

Akibatnya, banyak keluarga harus membuat pilihan sulit. Tidak sedikit anak yang akhirnya putus sekolah karena keterbatasan biaya. Data dari UNESCO menunjukkan bahwa sekitar 244 juta anak dan remaja di seluruh dunia tidak bersekolah, dan faktor ekonomi menjadi salah satu penyebab utama.

Read more

0 Mengekspose Keburukan Seseorang di Internet, Apa Tindakan Pemerintah?

 


Di era Internet ini media sosial adalah sesuatu yang niscaya bagi para penggunanya. Berselancar di Internet tanpa menggunakan media sosial terasa ada yang kurang lengkap. Bahkan ada yang menjadikan media sosial sebagai tujuan utama membuka Internet. Media sosial telah menjadi ikon Internet. Hidup tanpa media sosial di zaman sekarang adalah tidak lengkap dan terasa ketinggalan zaman.

Berbagai manfaat media sosial telah dirasakan banyak orang, mulai dari terjalinnya persahabatan yang akrab dengan orang yang tidak kita kenal nun jauh di sana, menemukan kembali teman lama yang tak pernah kita jumpai lagi di kehidupan nyata, dan yang yang paling ekstrem, menemukan jodoh; mendapat suami atau istri dari media sosial.

Namun, di sisi lain, tak sedikit pula yang terpedaya oleh media sosial. Ada yang tertipu oleh orang yang tidak mereka kenal hingga mengalami kerugian hingga ratusan juta rupiah, dan ada juga yang terkecoh oleh realita dunia maya; mengira apa yang mereka lihat di Internet adalah sesuatu yang nyata, padahal itu merupakan produk teknologi AI semata.

Dan yang sering membuat keki adalah betapa media sosial sekarang sudah dijadikan alat kontrol perilaku oleh sebagian pengguna. Mereka mungkin bertujuan baik. Mereka ingin agar hidup ini tertata rapi, nyaman, aman, dan sempurna seperti yang mereka inginkan.

Kita sering menyaksikan video di Tiktok, atau YouTube, atau Facebook yang mengekspose keburukan seseorang dengan tanpa tedeng aling-aling. Wajah orang yang diduga telah melakukan tindakan kriminal diekspose dengan jelas, tanpa ditutupi sedikitpun, atau di-blur.

Dan narasi yang menjelaskan masalahnya dibuat secara sepihak dan sangat emosional; hanya mengatakan keburukan si orang tersebut, tanpa memberinya kesempatan untuk membela diri. Kata-kata yang dipilih kasar dan menohok seolah-olah orang yang diekspose tak punya kebaikan sedikipun, dan merupakan objek yang harus dicaci maki oleh orang di seluruh dunia.

Mungkin itu dibuat sebagai contoh shock therapy, sebagai peringatan agar orang-orang tak melakukan hal serupa. Tapi, di sisi lain, hal ini tentu saja membuat si pelaku malu, trauma, depresi, bahkan gila, hingga bunuh diri karena tak tahan.

Pertanyaan yang timbul di benak kita, sebandingkah derita yang dia dapat; hukuman itu, dengan perbuatan yang telah dia lakukan? Apakah orang yang telah berbuat salah harus menanggung konsekuensi yang sedemikian berat?

Hukum tentu saja harus berazas keadilan. Begitulah prinsip hukum di dunia yang beradab. Kalau tidak adil, itu bukan hukum, melainkan tindakan bar-bar yang tak pantas dilakukan oleh orang yang berpendidikan dan berkemajuan. Hukum itu bukan dibuat untuk mempermalukan, atau untuk mengekspose kesalahan seseorang di muka dunia. Hukum dibuat untuk menciptakan keamanan, kenyamanan, dan ketertiban sebagai cerminan dari tataan masyarakat yang menggunakan akal pikiran dalam kehidupan sehari-hari.

Orang yang menegakkan hukum harus orang yang bersih, yang tidak pernah melanggar hukum atau melakukan tindakan kriminal apapun baik yang kecil maupun yang besar.

Seseorang baru bisa dinyatakan bersalah jika telah diputuskan bersalah oleh penegak hukum melalui pengadilan. Sebelum itu, tidak ada yang berhak menghukum mereka, apalagi mengkespose kesalahan mereka di muka dunia, dengan tanpa diberi kesempatan sedikitpun untuk membela diri, atau menjelaskan masalah yang sebenarnya, apalagi jika orang yang mengekspose kesalahan mereka itu adalah orang yang tak lepas dari berbagai kesalahan atau pelanggaran hukum pula.

Dan, untuk kasus-kasus dalam video yang kita saksikan di Internet, sanggupkah si pembuat video membuktikan kesalahan mereka? Bagaimana jika tuduhan itu tidak benar? Bagaimana jika video itu sengaja dibuat sebagai fitnah untuk membunuh karakter seseorang? Bagaimama jika video itu dibuat sebagai alat balas dendam?

Kita sebagai penonton harus bijaksana. Ingat azas praduga tak bersalah. Seseorang tidak bisa dinyatakan bersalah sebelum ditetapkan oleh putusan pengadilan.

Mengekspose kesalahan seseorang di media sosial itu adalah tindakan main hakim sendiri yang tidak boleh terjadi. Dan dalam hal ini, Pemerintah semestinya berindak. Pemerintah tidak boleh hanya jadi penonton, dan membuat keadaan menjadi lebih buruk.

Read more

0 Psikologi mengatakan bahwa tumbuh dengan ibu yang pencemas namun penh perhatian memiliki sisi negatif yang mengejutkan

shutterstock 
 Ibu saya mengkhawatirkan segala sesuatu tentang saya

Dia tidak khawatir berlebihan akan terjadi bencana atau meramal akan ada kecelakaan atau musibah yang menimpa saya. Caranya lebih tenang daripada itu.

Ketegangan yang khas setiap kali saya keluar dari rumah.

Kebiasaaan membayangkan hal-hal yang buruk dari keadaan yang sebenarnya biasa saja.

Sebuah kecenderungan memecahkan masalah sebelum saya sendiri menghadapi masalah itu, untuk memuluskan jalan yang sebenarnya belum saya tempuh.

Ia melakukan itu karena sayang. Saya mengerti itu bahkan sejak saya masih anak-anak, dan sekarang saya jadi lebih paham lagi.

Namun di satu titik di tengah jalan itu, saya mulai memperhatikan sesuatu—tentang bagaimana saya bergerak dalam dunia ini, tentang tekstur spesifik dari kekhawatiran yang saya rasakan, tentang refleks-refleks tertentu yang saya alami yang tidak sesuai benar dengan sosok diri saya yang saya impikan.

Dan semakin jauh saya memperhatikan hal-hal tersebut, semakin jelas saya bisa menapak tilas hal-hal itu kembali ke masa kanak-kanak saya.

Penelitian tentang hal ini ternyata lebih maju dari yang diketahui banyak orang.

Tumbuh dalam keluarga yang menjaga nilai-nilai yang baik tapi memliki orang tua yang cemas tidaklah memiliki tanda-tanda yang jelas terlihat—tak ada insiden dramatis, tak ada momen kerusakan yang jelas.

Namun efeknya lebih subtil, sehingga, lebih sulit dilihat dan lebih sulit disebutkan.

Bagi anak-anak yang memiliki ibu yang selalu khawatir atau cemas, di bawah ini adalah efek-efek yang mungkin timbul pada mereka.

Anak-anak merasakan kecemasan sebelum mereka mengetahui kata tentang itu

Anak-anak tak peru diberi tahu bahwa sesuatu itu berbahaya. Mereka bisa membaca para orang dewasa di sekitar mereka dengan presisi yang luar biasa—kedua mata yang tegang, napas yang ditahan sebelum memberi respon, cara tubuh berubah ketika sesuatu terasa tak pasti. Saya tidak tahu hingga saya menjadi dewasa bahwa tidak semua tubuh orang melakukan itu. Ketika orang dewasa utama yang ada dalam ruangan suka khawatir atau cemas, maka suasana lingkungan yang cemas itu akan menjadi pijakan si anak—bukan sebuah kepercayaan yang mereka bentuk secara sadar, tapi merupakan sebuah rasa yang merasuk ke dalam diri mereka sebelum mereka sendiri mampu mempertanyakannya.

Anak-anak akan belajar bahwa dunia ini lebih berbahaya dari yang sebenarnya

Seorang ibu yang pengkhawatir atau pencemas akan memancarkan pandangan khusus tentang dunia yang sebenarnya tanpa makna: bahwa sesuatu yang sebenarnya biasa menjadi penuh kepalsuan, bahwa sesuatu bisa menjadi celaka tanpa peringatan terlebih dahulu, bahwa kewaspadaan adalah respon yang seharusnya terhadap apa-apa yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Anak-anak menyerap hal ini bukan sebagai sebuah pendapat, tapi sebagai sebuah fakta dan begitulah realitas yang sebenarnya.

Dan, kemudian, anak-anak akan membawa anggapan tersebut—hingga usia mereka dewasa, ke dalam situasi-situasi baru, ke dalam momen-momen yang secara objektif baik-baik saja tapi terasa mengancam dengan cara-cara yang tidak bisa mereka jelaskan. Dunia sebenarnya tidak se-berbahaya seperti yang mereka cemaskan. Namun sistem syaraf tidak mengetahui hal itu. Sistem syaraf mempelajari apa yang dia pelajari, dan dia mempelajari itu lebih dini.

Anak-anak tidak akan bisa mengembangkan toleransi terhadap resiko

Ketika seorang ibu pengkhawatir mulai ikut campur untuk memuluskan jalan sebelum si anak menghadapi kesulitan, itu berarti si anak tidak pernah membangun bukti-bukti internal bahwa mereka bisa menangani hal-hal sulit. Cara Goodwin, Ph.D., menulis dalam Psychology Today, bahwa anak-anak yang memliki orang tua yang overprotektif menunjukkan lebih banyak ketitdakteraturan emosional dan kecemasan sosial—dan bahwa membiarkan anak-anak menangani situasi-situasi sulit sendiri adalah cara untuk membuat mereka membangun keterampilan regulasi (regulation skills) yang mereka butuhkan. Kepercayaan bahwa mereka tidak bisa menangani segala sesuatu akan secara diam-diam tertanam pada diri mereka semakin lama mereka tidak diberi kepercayaan.

Anak-anak menjadi ahli dalam membaca ruangan

Anak yang tumbuh dengan orang tua yang mood-nya dibentuk dengan kecemasan berarti terbiasa membaca kecemasan atau kekhawatiran sejak dini dan secara akurat—mereka bisa melacak sinyal-sinyal, mengantisipasi reaksi, menyesuaikan tingkah laku dengan situasi. penyesuaian tersebut tampak seperti empati, dan dalam beberapa hal memang empati. Namun sikap seperti itu berkembang sebagai sebuah strategi survival pada awalnya. Si anak tidak belajar membaca di luar rasa ingin tahu dan koneksi. Melainkan, mereka belajar membaca orang lain demi untuk mengelola temperatur emosional ruangan tersebut.

Apa yang kita dapat ketika anak-anak tersebut dewasa adalah seseorang yang sering kali luar biasa perseptif tentang perasaan orang lain, namun mengalami kesulitan untuk berhenti membaca ruangan sebelum mereka bisa menyadari apa yang mereka sendiri rasakan.

Anak-anak jadi kesulitan mempercayai penilaian mereka sendiri

Eugene Berison, M.D., menulis dalam Psychology Today, mencatat bahwa orang tua yang overprotektif bisa secara tak disadari mengirim pesan bahwa si anak tidak mampu membuat keputusan yang baik—dan bahwa hal ini akan mengurangi rasa percaya diri si anak sedemikian rupa dan terbawa hingga mereka dewasa. Ketika orang dewasa di sekitar mereka selalu ikut campur, mengarahkan, dan menangani segala sesuatunya  terlebih dahulu, si anak akan menyadari bahwa instink mereka sendiri tidak bisa dipercaya. Bahwa impuls pertama mereka mungkin perlu diperiksa. Bahwa penilaian dari orang lain lebih terpercaya dari penilaian mereka sendiri.

Anak-anak membawa tanggung jawab yang bukan milik mereka

Ketika salah satu orang tua tampak cemas, seorang anak sering kali mencoba mengatasi kecemasan itu—mengurangi rasa khawatir, berpura-pura tidak ada apa-apa , untuk menghindari situasi-situasi yang tampak bisa menghilangkan rasa cemas itu. Seiring berjalannya waktu, hal ini menjadi sebuah pola: memonitor diri mereka sendiri bukan hanya untuk kepentingan mereka sendiri, tapi untuk mengelola keadaan emosional orang lain di sekitar mereka. Mereka menjadi para caretaker kecil tanpa diminta.

Saya merasakan ini dalam diri saya sendiri jauh lebih lambat dari yang seharusnya—editing reflektif (reflective editing) dari apa yang saya berikan, kebiasaan mengemas hal-hal sulit secara rapi sehingga tidak akan terlalu membebani siapa saja yang akan menerimanya.

Setting default anak-anak menjadi waspada, bukannya tenang

Sesuatu bisa jadi, secara teknis, baik-baik saja namun terasa tidak terasa baik-baik saja. Itulah warisan utama yang didapat anak yang tumbuh dalam keluarga yang dipenuhi kecemasan dan kekhawatiran—sebuah sistem syaraf yang dikalibrasi untuk mengantisipasi masalah-masalah yang sebemarnya tidak ada, untuk meraba-raba apa-apa yang bisa jadi salah meskipun sebenarnya tidak ada yang salah. Ketenangan, kalaupun timbul, bisa terasa mencurigakan. Seperti suasana tenang sebelum sesuatu terjadi. Sisanya adalah kecemasan, dan cemas, seiring berjalannya waktu, akan menjadi pijakan dasar di mana tubuh si anak akan kembali.

Anak-anak mengalami kesulitan mentoleransi ketidakpastian

Kecemasan, pada intinya, adalah sebuah upaya untuk mengatasi ketakpastian dengan cara membayangkan akibat yang mungkin timbul. Anak yang tumbuh dengan model begini akan akan belajar bahwa ketakpastian adalah sesuatu yang harus dilenyapkan bukannya ditolerir—bahwa tidak tahu apa akibat yang akan ditimbulkan sesuatu adalah sebuah masalah yang memerlukan manajemen aktif. Ketika mereka tumbuh dewasa, hal ini akan timbul dalam bentuk pikiran yang berlebihan, dalam bentuk kesulitan membuat keputusan, dalam bentuk kelelahan otak khusus yang tidak pernah tenang karena kepastian yang dibiasakan dicari oleh otak tak pernah cukup tersedia.

Ketakpastian tidak pernah menjadi bahaya yang nyata. Tapi pesan ini, yang diserap sejak usia dini, akan sulit di-update.

Anak-anak akan menginternalisasi memori menjadi milik mereka sendiri

Pada beberapa titik—dan ini terjadi secara gradual sehingga tidak ada momen yang bisa diidentifikiasi—kekhawatiran sang ibu tidak lagi menjadi sesuatu yang diamati si anak melainkan menjadi sesuatu yang dirasakan oleh si anak. Kekhawatiran sang ibu itu bukan lagi dipinjamkan pada si anak. Kekhawatiran itu sudah menjadi milik si anak. Saya selama bertahun-tahun mengira bahwa saya adalah seorang pencemas sejak lahir, sama halnya dengan seseoarang yang menjadi tinggi sejak lahir. Rasa takut yang spesifik boleh jadi akan bergeser, objek kekhawatiran bisa jadi berubah, namun orientasi terhadap dunia—berhati-hati, siaga, bersiap—menjadi begitu akrab sehingga tak lagi terasa seperti warisan yang didapat dan mulai terasa menjadi sifat pribadi.

Anak-anak menyayangi ibu mereka—dan hal ini membuat keadaan ini menjadi lebih sulit, bukannya lebih mudah

Ini adalah bagian yang sulit dibicarakan. Rasa khawatir itu berasal dari rasa sayang. Si ibu mencoba untuk melindungi, mencegah anak mereka menderita, mencoba melakukan sesuatu yang terasa seperti menjaga. Dan efeknya sangatlah nyata. Kedua hal itu adalah benar secara bersamaan, rasa menderita dan rasa kasih sayang itu tidaklah dalam posisi berlawanan—keduanya tiba secara bersamaan, saling merangkul satu sama lain, yang membuat warisan ini jadi sangat sulit dihilangkan. (Julie Brown)

https://www.yahoo.com/lifestyle/articles/psychology-says-growing-worrying-well-190031326.html

Read more

0 Menjadi Orang Baik untuk Hari tua


Pensiunan guru SD itu berusia lebih kurang 73 tahun. Itu berarti sudah sekitar 13 tahun dia pensiun, tak lagi bekerja sebagai guru, bahkan tak pula mengerjakan apa-apa lagi. Kegiatannya sehari-hari hanyalah menjalankan fungsi sosialnya sebagai anggota masyarakat; menghadiri acara pernikahan, kematian, dan kegiatan sosial lainnya serupa itu.

Tapi dalam tiga atau empat tahun terakhir ini dia tak lagi sering terlihat di masyarakat. Paling-paling, jika ada tetangga sebelah rumahnya, atau beberapa rumah lagi, mengadakan acara barulah dia muncul. Itupun belum tentu. Kabarnya dia sakit, tapi bukan sakit keras. Cerita yang banyak terdengar, dia mengalami himpitan ekonomi yang parah. Sedemikian parahnya sehingga, jika ada orang yang lewat di depan rumahnya, dia sapa dan dia ajak mampir, sekedar untuk meminta sumbangan ala kadarnya.

Ketika masih aktif sebagai guru PNS, dia mengalami beberapa kali pindah sekolah, semua itu  bukan karena keinginannya. Dia dipindahkan karena sering ribut dengan rekan kerjanya. Di tempat manapun dia bekerja, dia sulit menyesuaikan diri. Dalam satu perselisihan, dia pernah menampar kepala sekolahnya.

Dia pernah dipindahkan ke sebuah sekolah terpencil yang memakan waktu berhari-hari untuk mencapainya, dan harus ditempuh melalui laut. Untunglah dia di sana bertugas sebagai kepala sekolah, sehingga dia tidak harus masuk setiap hari. Menurut para tetangganya, dia hanya beberapa hari saja masuk sekolah dalam sebulan. Selebihnya, dia diam di rumah. Entah apa yang dia kerjakan.

Namun, tak lama kemudian, menjelang pensiun, dia dipindahkan lagi ke sekolah di kotanya, tak jauh dari rumahnya. Kepala sekolah terpaksa harus menerima, dengan berat hati. Kabarnya, baik kepala sekolah, maupun guru-guru di sekolah yang terakhir ini pusing tujuh keliling melihat tingkah lakunya. Berkali-kali mereka memberi usulan ke Dinas Pendidikan Kabupaten agar dia dipindahkan ke sekolah lain, tapi tak ada tanggapan.

Dia seharusnya hidup tenang di hari tuanya sekarang, dengan gaji pensiun yang seharusnya cukup untuk menghidupi dirinya sendiri. Namun dia berhadapan dengan masalah keluarga yang tak pernah selesai, yang terus menggerogoti jiwaya.

Beberapa tahun setelah dia pensiun, istinya yang tak bekerja apa-apa untuk menyokong kehidupan keluarga meninggal dunia, meninggalkan empat orang anak mereka yang semuanya laki-laki.

Anaknya yang tertua, yang pernikahannya dulu dirayakan besar-besaran, dengan uang pinjaman dari bank, sudah duluan meninggal dunia, meninggalkan seorang anak Perempuan yang kini tinggal bersama mereka. Si anak sulung ini semasa hidupnya tak bekerja apa-apa karena memang tak bisa bekerja. Kematiannya meninggalkan banyak utang yang harus dilunasi.

Anaknya yang kedua yang bekerja sebagai tukang servis elektronik meninggal dunia baru-baru ini akibat penyakit lambung. Semasa hidupnya, anak yang kedua ini juga lebih merupakan beban daripada membantu, meski mereka tinggal terpisah.

Anaknya yang ketiga, yang sudah menikah dan memiliki seorang bayi, yang juga bekerja sebagai tukang servis elektronik, kini tinggal bersama dirinya. Tapi dengan semakin banyaknya orang yang bekerja sebagai tukang servis elektronik sekarang ini, pekerjaan inipun tidak cukup membantu mengangkat perekonomian mereka.

Adapun si anak bungsu, kini kabur entah ke mana, meninggalkan utang yang tidak sedikit dan menyebar ke mana-mana.

Menurut cerita desas-desus, gaji pensiun bekas guru SD ini habis untuk membayar utang-anak-anaknya, tak termasuk si anak bungsu yang kabur itu.

Hingga usianya yang ke-73 tahun itu, tak ada satupun anaknya yang memiliki pekerjaan yang mapan dan bisa membuat rumah sendiri. Satu-satunya rumah yang mereka miliki Adalah rumah yang sekarang mereka tempati. Sebuah rumah sederhana yang terbuat dari kayu, berlantai beton.

Pernikahan anak pertamanya yang diselenggararakan besar-besaran itu tak diikuti oleh anak-anaknya yang lain. Bahkan tetanggapun tak ada tahu ketika ketiga anak-anaknya yang lain menikah.

Di sisi lain, ada seorang pensiunan guru SD juga yang hidup mapan dengan harta berlimpah, tanah di mana-mana, dan memiliki usaha kecil-kecilan yang mapan. Empat orang anaknya sudah dia bangunkan rumah masing-masing, meski sebagian dari mereka belum memiliki pekerjaan yang mantap. Berbeda dengan pensiunan guru SD yang pertama, pensiunan guru SD yang satu ini memiliki karier yang berkembang, maju. Dalam hal pendidikan, pensiunan yang pertama yang hanya lulusan SPG, sedangkan pensiunan yang kedua ini melanjutkan pendidikannya hingga mencapai gelar sarjana Pendidikan. 

Setelah mendapat ijazah sarjana, dia mengajukan pindah mengajar ke sebuah sekolah menengah kejuruan (SMK). Kebetulan waktu itu ada SMK yang baru dibuka yang membutuhkan guru.

Tak hanya berhenti sebagai guru sekolah SMK, kariernya berlanjut hingga menjadi kepala sekolah. Mulanya, di sebuah SMK kecil yang baru didirikan. Beberapa tahun kemudian, dia pindah ke SMK asalnya. Istrinya yang juga semula guru SD, juga memiliki karier yang berkembang. Dia meningkat menjadi kepala sekolah. Dan di akhir masa tugasnya dia menjadi pejabat struktural dengan jabatan terakhir camat.

Pensiunan yang kedua ini berhasil menyekolahkan anak-anaknya hingga mencapai gelar sarjana semua, bahkan ada yang bergelar master. Sedangkan anak-anak pensiunan guru yang pertama, yang semuanya laki-laki itu, tak ada satupun yang melanjutkan ke perguruan tinggi hingga sarjana. Bahkan, ada yang cuma sampai SMP.

Membandingkan Nasib kedua pensiunan ini, kadang membuat kita berpikir, dosa apa yang telah diperbuat si pensiunan pertama hingga mengalami nasib yang begitu memprihatinkan di hari tuanya.

Mungkin ada yang tak setuju jika itu dikaitkan dengan dosa dan kepercayaan lainnya.

Namun pikiran seperti ini bisa dimaklumi mengingat perbandingan keadaan mereka di hari tua seperti bumi dengan langit. Taruhlah, si pensiunan pertama tak mungkin sekaya pensiunan yang kedua karena istrinya hanyalah seorang ibu rumah tangga yang tak punya penghasilan. Tapi, semestinya, dia memiliki kekayaan separuh dari kekayaan pensiunan yang kedua. Namun, kenyataannya, separuh pun tidak, bahkan mungkin sepersepuluhnyapun tidak.

Orang yang berpikir rasional akan mengatakan bahwa nasib mengenaskan yang dialami pensiunan pertama ini tak lain karena kesalahan manajemen di masa mudanya, ketika dia masih aktif sebagai guru PNS. Meski istrinya bukan pegawai, dan tidak memiliki pekerjaan apa-apa untuk menyokong keluarga, namun, sekurangnya, dia bisa mengatur keuangan keluarga, dan merencanakan masa depan anak-anak mereka.

Di sisi lain, mereka yang berpikiran klenik percaya bahwa apa yang dialami oleh guru pensiunan yang pertama itu adalah kualat. Dia kualat pada orang-orang yang pernah disakitinya. Orang-orang itu menyimpan dendam, tapi mereka tak berani melampiaskan dendam itu sehingga Tuhanlah yang membalaskannya. Pikiran seperti ini memang sulit dipercaya dan tak bisa dinalar, tapi dia tetap ada dan terus tumbuh subur di tengah-tengah masyarakat kita.

Apapun itu, mungkin kita bisa menarik hikmah dari cerita ini bahwa tidak ada salahnya menjadi orang baik karena takut akan kutukan di hari tua kita. Dan meski kutukan itu tidak ada, menjadi orang baik juga tidak merugikan kita apa-apa.

 

 

Read more

0 Jika Kata Bodoh dan Gila Terlalu Halus


 

Entah kata apa yang paling tepat untuk menggambarkan orang-orang seperti ini. Mungkin bodoh dan gila terlalu kasar. Tapi, sungguh, saya tak bisa menemukan kata yang layak yang bisa diterima semua orang.

Ketika seorang kerabat meninggal dunia secara mendadak dan mengejutkan, kaum kerabat, dekat dan jauh, seperti biasa, datang berkumpul melayat. Mungkin kata mendadak di sini kurang tepat. Tapi kejadiannya memang datang tiba-tiba. Pagi itu almarhum tiba-tiba jatuh terkulai, lemas tak berdaya. Oleh anak istrinya dia dilarikan ke Puskesmas terdekat. Tapi Puskesmas tak sanggup dan memberi rujukan menuju sebuah rumah sakit di kota yang berjarak sekitar empat jam perjalanan. Tapi, malang, hanya sehari berada di rumah sakit tersebut, beliau menghembuskan napasnya yang terakhir.

Setibanya kembali di rumah dari rumah sakit, putra tertua almarhum mendapati rumah sudah ramai dengan kaum kerabat yang melayat. Dia perhatikan ada satu kotak plastik ikan, dan bumbu-bumbu dapur yang siap digunakan untuk dimasak. Sesuai adat di kampung tersebut, apabila ada sanak saudara yang meninggal dunia, maka para pelayat yang datang dari jauh harus diberi makan terlebih dahulu ketika mereka tiba, sebelum mereka dapat membantu apa yang mereka bisa.

Melihat itu, si putra almarhum merasa lega. Tapi, belum lagi rasa lelahnya reda akibat perjalanan jauh, dan pikirannya yang masih dalam keadaan berduka, datanglah kakak sepupunya; anak dari kakak almarhum.

Si kakak sepupu tersebut langsung menemuinya dan menagih harga ikan tersebut. “Ini harus segera dibayar. Ditunggu yang punya sekarang,” katanya. Putra almarhum terkejut. Dia mengira ikan itu diberikan gratis oleh kakak sepupunya itu. Dan karena begitulah layaknya ketika seseorang meninggal dunia; kaum kerabat menyumbang secara ikhlas, apalagi yang masih tergolong kerabat dekat seperti keponakan almarhum ini.

Mau tak mau si putra almarhum merogoh sakunya dan memberikan uang sebanyak harga yang diminta.

Namun, belum lagi hilang rasa terkejutnya, datang pula bibinya; kakak perempuan dari almarhum. “Ini barang yang saya bawa juga harus dibayar,” katanya. “Harganya total Rp.200 ribu.” Namun di putra almarhum tak bisa lagi menahan sabar. “Serius bibi menjual ini dengan kami?,” hardiknya dengan mimik muka terkejut. “Iya, nak. Kamu kan tahu bibi juga dalam keadaan kesulitan,” kata si bibi. Karena tak ingin berdebat lebih lanjut si putra almarhum membayar sebanyak yang diminta.

Masih terbayang di benak si putra almarhum kerjadian ketika putra tertua bibinya itu menikah beberpa bulan yang lalu. Waktu itu bibinya tersebut menyuruh dia meminjam mobil untuk keperluan pengantin. Dengan berat hati si putra almarhum meminjam mobil bosnya. Untunglah si bos memberi izin. Namun, perjalanan menggunakan mobil tersebut tidak mulus karena salah satu bannya pecah, kempes. Si putra almarhum turun tangan sendiri mengatasi ban bocor tersebut, bibinya, dan kerabat lainnya yang ada di dalam mobil, menunggu dan menyaksikan saja. Untuk mengganti ban bocor itu, dia mengeluarkan uang sebanyak Rp. 1 juta. Dan, dari Rp. 1 juta tersebut, tak sepeserpun bibinya ikut menyumbang. Dan, kini, ketika bapaknya meninggal dunia, si bibi datang untuk menjual sembako.

Mungkin ada yang mengatakan bahwa tindakan si kakak sepupu dan si bibi tersebut wajar karena mereka juga dalam keadaan kesulitan. Mungkin memang wajar. Tapi, ingat, dalam keadaan berduka, keluarga dekat seperti bibi, dan kakak sepupu semestinya datang membantu, bukan berjualan, apalagi kalau mengambil untung dari itu. Kalau tidak mampu memberi sesuatu atau menyumbang uang, datanglah dengan tangan kosong untuk menyumbangkan tenaga, atau sekedar menunjukkan rasa duka cita. Begitulah selayaknya Tindakan orang yang bisa berfungsi secara normal.

 

Read more

0 Nasib Aborsi di AS Setelah Pembalikan UU Roe

 


Pada tanggal 24 Juni 2022, Mahkamah Agung AS membalikkan (overturned) UU Roe v. Wade, UU landmark yang membuat aborsi di AS legal bagi semua orang (dengan demikian, aborsi yang dulu legal di AS, kini jadi tidak legal). Peraturan yang mulai berlaku setahun lalu ini telah memancing protes dan keluhan publik yang masif. Mengingat, keputusan tersebut tidak mencerminkan opini publik—enam dari sepuluh orang Amerika mengatakan aborsi seharusnya legal dalam semua atau sebagian besar kasus.

Sebagai respons, sekelompok wanita buka suara dan mengemukakan pendapat dan membagi kisah aborsi mereka di sosial media. Aktris Busy Philips meluncurkan kampanye #YouKnowMe, yang bertujuan menunjukkan kepada publik bahwa banyak orang—termasuk beberapa yang mereka kenal—telah melakukan aborsi.

“Statistik menunjukkan bahwa satu dari empat wanita akan melakukan aborsi sebelum usia 40,’ katanya dalam acara Busy Tonight. “Statistik tersebut kadang-kadang mengejutkan banyak orang, dan mungkin Anda yang duduk di sana berpikir: Saya tidak tahu seorang pun wanita yang telah melaksanakan aborsi. Baik, sekarang kamu tahu saya,” katanya pula.

Philips, yang melakukan aborsi di usia 15 tahun, kemudian urun suara di Twitter. “Ayo kita lakukan ini: Jika Anda juga merupakan satu dari empat wanita tersebut, ayo kita berbagi dan mulai menghilangkan rasa malu. Gunakan #youknowme dan silakan share kebenaran kisahmu di situ,” tulisnya.

Dan cerita-cerita pun bermunculan.

“Waktu itu saya 21 tahun dan sangat ketakutan. Namun, setelah selesai, saya merasa lega. Dan waktu itu saya mengonsumsi pil. Tidak ada keberhasilan yang 100%. Itulah sebabnya kita harus memiliki akses pada perawatan aborsi yang aman,” tulis salah seorang Wanita.

“Saya berusia 19 tahun ketika itu dan sedang kuliah tahun kedua. Saya sadar saya harus selesai kuliah. Saya melakukan aborsi,” tulis wanita yang lain. “Saya adalah seorang guru sekolah negeri di Bronx. Pekerjaan saya dan aktivitas saya mungkin tidak akan berjalan jika saya tidak aborsi. Saya senang saya tinggal di New York dan memiliki akses untuk itu.”

Yang lain menuliskan kisah sebagai berikut: Waktu itu saya berusia 23 tahun ketika saya melakukan aborsi. Saya single, dan punya banyak utang dan kesulitan bahkan untuk merawat diri saya sendiri. Saya akan jadi kejam dan abusif jika saya memaksakan diri untuk memiliki bayi pada waktu itu. Wanita harus membuat keputusan sendiri tentang apa yang akan mereka lakukan pada tubuh mereka.”

Philips bukanlah satu-satunya seleb yang telah membagi kisah aborsi yang mereka lakukan. Paris Hilton dan Halsey juga telah membeberkan pengalaman aborsi mereka di depan publik. “Saya waktu itu masih anak-anak dan belum siap untuk itu,” kata Hilton pada Glamour UK merujuk pada peristiwa aborsi yang dia lakukan ketika dia berusia awal 20-an. Halsey menulis sebuah surat terbuka kepada Vogue, yang isinya mengatakan bahwa aborsi telah “menyelamatkan hidup saya” setelah dia mengalami keguguran tak lengkap (incomplete miscarriage).

“Aborsi yang saya lakukan telah menyelamatkan jiwa saya dan telah memungkinkan saya melahirkan anak laki-laki saya ini,” tulis Halsey, merujuk pada anak mereka, yang hampir berusia dua tahun. Setiap orang memunyai hak untuk menentukan kapan, jika, dan bagaimana mereka melakukan hal yang berbahaya dan mengubah kehidupan ini. Saya akan merangkul anak saya di salah satu lengan, dan berjuang sekuat tenaga dengan lengan yang satu lagi.”

Satu tahun setelah Undang-Undang Roe dibalikkan (overturned), orang-orang di media sosial terus bermunculan dan menceritakan pengalaman mereka, termasuk salah seorang pengguna Twitter yang baru-baru ini berbagi cerita bahwa dia telah melakukan aborsi ketika berusia 18 tahun ”karena saya belum siap menjadi orang tua.” Dia menambahkan: “Saya tidak menyesali keputusan saya itu. Saya melakukan apa yang bagi saya benar ketika itu. Setiap orang hamil seharusnya memilki hak untuk memilih yang dia pikir terbaik baginya.

Bagaimana bercerita menjadi alat ‘penghancur stigma’

Para ahli menekankan bahwa adalah penting bahwa wanita berbicara terus terang tentang pengalaman mereka. “Banyak organisasi dan individual telah bekerja selama bertahun-tahun untuk mengakhiri stigma seputar aborsi, dan menciptakan akses yang aman bagi orang-orang untuk berbagi cerita adalah bagian inti dari pekerjaan mereka itu,” kata Megan N. Freeland  direktur komunikasi kesehatan di Planned Parenthood Federation of America pada Yahoo Life. “Meski menceritakan kisah-kisah dan pengalaman tentang aborsi bukanlah hal baru, namun pembalikan UU Roe telah memicu timbulnya urgensi baru tentang betapa bercerita bisa merupakan sebuah alat untuk menghancurkan stigma yang ada.”

Berbagi cerita tentang aborsi adalah “memanusiakan isu-isu tentang aborsi itu sendiri” kata Dr. Jennifer Wider salah seorang ahli kesehatan pada Yahoo Life. Dia menambahkan, “Hal ini berarti mengeluarkan isu ini dari politik dan memberi gambaran tentang situasi kehidupan yang nyata.”

“Berbagi cerita benar-benar memberi tekanan bahwa semua orang tahu siapa saja yang pernah melakukan aborsi, apakah dia seorang ibu, saudara perempuan, teman, atau anak perempuan mereka—mereka selama ini mungkin tidak tahu masalahnya, karena orang-orang malu tentang hal itu,” kata Dr. Lauren Streicher seorang profesor klinis obstetrisk dan ginekologi di Northwestern University Feinberg School of Medicine pada Yahoo Life. Streicher mengatakan bahwa ada efek domino dari hal ini, mengingat dia baru-baru ini mengikuti sebuah acara di mana seorang wanita berusia 80 tahun menceritakan kisah aborsi yang dia lakukan. “Wanita itu berkata: Waktu itu saya sangat malu, tapi akhirnya sekarang saya berani bicara,” kata Streicher.

Streicher mengatakan kegiatan berbagi cerita ini “benar-benar simbolis” bahwa para wanita mulai berbicara tentang pengalaman mereka sendiri dan dampak dari melakukan aborsi terhadap mereka. “Orang-orang tidak paham betapa luas pengaruh kebutuhan bagi wanita untuk membuat keputusan ini—untuk melindungi hidup dan tubuh mereka sendiri dan … keluarga mereka,” katanya.

Freeland mengatakan bahwa dia berharap kisah-kisah seperti ini akan membantu mendukung para wanita merasa bahwa mereka tidak sendiri jika mereka membutuhkan layanan aborsi. “Tidak ada pasien yang boleh menunda meminta pelayanan aborsi karena mereka takut mereka akan dihakimi, dan penyedia layanan kesehatan juga tidak boleh sungkan-sungkan atau merasa malu memberi layanan yang dibutuhkan pasien,” katanya.

Namun, menyangkut masa depan aborsi di AS sendiri, para ahli belum bisa memastikan.

Streicher menekankan bahwa undang-undang antiaborsi memiliki dampak yang lebih besar dari sekedar masalah layanan aborsi. Dia mengutip sebuah jajak pendapat terbaru tentang mahasiswa fakultas kedokteran yang berminat ambil spesialisasi dalam bidang ob-gyn (kebidanan) yang menemukan bahwa hampir 58% responden mngatakan mereka tidak mungkin akan, dan sangat tidak mungkin akan menjalankan program residensi di negara bagian yang membatasi soal aborsi. Lebih dari 75% responden mengatakan bahwa akses terhadap layanan aborsi akan memengaruhi di mana mereka akan melaksanakan residensi mereka.

“Efek hilir dari semua ini adalah bahwa negara-negara bagian melakukan kriminalisasi terhadap para dokter dan ob-gyn mengatakan: Saya tidak akan melakukan praktik di negara bagian tersebut,” kata Streicher. “Para Wanita tidak akan mampu menemukan seseorang yang akan membantu mereka melahirkan atau untuk melakukan test Pap smear. Hal itu akan memberi dampak pada pelayanan kesehatan bagi wanita lebih dari sekedar layanan aborsi.”

Wider mengatakan bahwa mereka hidup di dalam sebuah masa yang “sangat penuh tantangan” bagi layanan kesehatan terhadap wanita. “Banyak orang tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi jika UU Roe dibatalkan,” katanya. “Jika keadaannya tetap seperti ini, saya kira jaringan Internet akan terus mendukung wanita yang membutuhkan layanan aborsi antarnegara bagian dan mendapatkan sanksi hukum yang aman secara medis.” (Korin Miller)

https://www.yahoo.com/lifestyle/women-abortion-stories-roe-204404743.html

Read more

0 Habiskan Makanan di Piring Anda

 


Karena tinggal di daerah tujuan wisata, saya sering kali berinteraksi dengan para turis mancanegara yang berasal dari berbagai negara dari berbagai belahan benua. Dalam interaksi tersebut, tak jarang kami berada bersama-sama, satu meja, di rumah makan, baik secara disengaja, dengan janji, atau secara kebetulan karena berada di tempat yang sama, pada waktu yang sama.

Dari pengalaman makan bersama tersebut, ada hal menarik yang selalu saya perhatikan, dan selalu mengganggu pikiran saya setelah keluar dari rumah makan, yaitu bahwa mereka, para turis mancanegara itu, selalu menghabiskan makanan yang ada di piring mereka, sampai tandas, tak tersisa remah-remah apapun kecuali sisa-sisa endapan kuah yang belum kering. Hal ini membuat saya kikuk, malu, dan merasa bersalah karena di piring saya selalu tersisa remah-remah; tulang ikan, sisa sambal, atau potongan sayur nangka yang tak bisa saya makan.

Tentang sayur nangka ini saya punya cerita tersendiri. Sejak saya kecil, saya perhatikan, jika ibu memasak sayur nangka, dia selalu membuang core-nya (bagian tengah seperti batang tempat biji nangka menempel), dan hanya biji dan jeraminya yang dimasak. Kata ibu saya, bagian itu tak baik dimakan. Hal ini juga selalu diingatkan ibu pada anak-anaknya jika memasak sayur nangka. Peringatan ini tertanam dalam jiwa saya. Itulah sebabnya jika makan sayur nangka yang tidak dibuang core-nya di rumah makan, dan celakanya memang selalu tidak dibuang, saya selalu menyisakan core tersebut di piring saya, sehingga piring saya tak bisa bersih seperti piringnya si bule. Apalagi jika saya makan ikan, yang tak mungkin saya makan sama tulang-tulangnya.

Tapi bukan itu saja yang membuat piring saya tak bisa bersih. Kadang-kadang, saya mengambil sambal terlalu banyak dan tak mampu menghabiskannya, juga kuah yang tak mampu saya habiskan karena saya lebih menyukai makanan tak berkuah.

Lalu, bagaimana piring si bule bisa bersih dan tandas, apakah dia memakan core sayur nangka yang ada di piringnya? Jawabnya tentu saja ‘ya.’ Tapi bagaimana dengan tulang dan kepala ikan? Tentu saja para turis tersebut tidak memakannya, apalagi jika ikan tersebut disayur, bukan digoreng.

Tapi yang ingin saya ceritakan di sini adalah makanan yang bisa dimakan sampai tuntas, bukan makanan bertulang, seperti ikan, ayam, atau daging.

Kita, orang Indonesia, sering kali menyisakan makanan yang kita masukkan di piring kita di rumah makan, padahal sisa makan tersebut masih bisa dimakan.

Mungkin kita berpikir itu adalah hak kita karena makanan itu sudah kita beli. Tapi bukan itu yang dipikirkan para bule.

Masalahnya adalah sumber daya alam.

Sumber daya alam berupa makanan adalah terbatas. Mungkin sampai saat ini, sumber daya makanan yang tersedia di alam masih cukup untuk memberi makan semua manusia di muka Bumi ini. Tapi siapa tahu apa yang akan terjadi nanti. Jika kita menggunakan sumber daya alam berupa makanan itu secara boros, bukannya tidak mungkin suatu saat nanti akan ada orang yang tidak kebagian makanan. Dan menyisakan makanan di piring, karena sudah kenyang, tidak mampu lagi menghabiskan makanan tersebut adalah bentuk pemborosan. Jika Anda tidak mampu menghabiskan makanan di pring Anda, jangan mengambil makanan berlebihan.

Pikirkan bahwa di luar sana mungkin ada yang tidak kebagian makanan. Bayangkan jika ada pengunjung rumah makan lain yang tidak kebagian makanan karena persediaan makanan di rumah makan tersebut sudah habis, padahal banyak sisa-sisa makanan pengunjung lain yang terbuang di tempat sampah.

Dalam hal ini pikiran si bule memang lebih maju. Ketika berada di rumah makan, mungkin kebanyakan kita masih berpikiran bahwa adalah hak kita untuk menghabiskan, atau tidak menghabiskan, makanan yang sudah kita beli, sedangkan mereka, para bule itu, sudah memikirkan tentang pentingnya mempertahankan sumber daya alam yang berkesinambungan.

Read more

0 Kuras Uang Tabungan untuk Membayar Biaya Pengobatan Anaknya, Ibu Ini Kemudian Memenangkan Lotere Rp.29 Miliar

 


·       Geraldine Gimblet menggunakan tabungannya untuk membayar biaya pengobatan anak perempuannya yang terkena kanker.

·       Tak lama kemudian, dia memenangkan undian kupon gosok sebesar $2 juta (kalau dirupiahkan sekitar Rp.29 miliar), kata pejabat lotere di negara bagiannya.

·       Kata puteri Gimblet, hari ketika ibunya memenangkan undian tersebut adalah hari terakhir dia dirawat di rumah sakit.

Seorang ibu di Florida yang telah menguras uang tabungannya untuk membantu biaya pengobatan anak perempuannya yang terkena kanker payudara menjadi miliarder setelah memenangkan undian kupon gosok.

Geraldine Gimblet, penduduk Lakeland, Florida, sekitar 36 mil dari Tampa, membeli kupon Bonus Cashword yang kemudian membawanya memenangkat hadiah $2 juta tersebut di sebuah stasiun pengisian bahan bakar di kota di Lakeland, menurut Dewan Lotere Florida. Gimblet  mengatakan ketika dia mencoba membeli kupon gosok yang spesial, si pelayan mengatakan bahwa kupon yang dia maksud itu sudah habis terjual.

“Saya minta dia memeriksa kembali karena saya paling menyukai teka teki silang (TTS). Akhirnya dia menemukan ada satu yang tersisa” kata Gimblet pada petugas lotere.

Gimblet mengambil hadiahnya dari kantor pusat lotere di Tallahasse pada hari Jumat bersama puteri dan cucu perempuannya. Dia memutuskan mengambil uang tersebut sekaligus sebesar $1,6 juta (setelah dipotong pajak). Kemenangan ini sungguh merupakan titik balik bagi Gimblet dan keluarganya karena anak perempuannya baru saja selesai menjalani perawatan di rumah sakit karena kanker, sehari sebelum kemenangan besar tersebut.

“Di hari sebelum ibu saya membeli kupon undian ini, saya menelepon dan berjalan keluar dari rumah sakit setelah menyelesaikan perawatan terakhir atas kanker payudara yang saya derita,” kata anak perempuan Gimblet, yang namanya tidak disebutkan, pada petugas lotere.”Ibu saya telah menguras tabungannya untuk merawat saya ketika saya sakit. Saya sangat bahagia padanya!”

Pipkin Road Beverage Castle, yang menjual tiket tersebut pada Gimblet, mendapat bonus $2.000, menurut Dewan Lotere Florida.

Read the original article on Insider

https://www.yahoo.com/news/mother-used-her-life-savings-195512289.html

Read more

0 Decision to Leave: Kisah Misterius dengan Ending yang Membuat Bergidik

 


Jika Anda suka menonton film, apalagi jika Anda sudah menonton banyak film dari berbagai negara, tentu Anda tahu bahwa film Korea tidak boleh diremehkan. Nyatanya, film-film Korea adalah item yang banyak diperhitungkan dalam festival film, atau penghargaan film tingkat internasional, dan banyak yang berhasil meraih penghargaan. Bahkan, beberapa tahun lalu, film Korea yang berjudul Parasite dinobatkan sebagai film terbaik, atau best picture, dan meraih Piala Oscar dalam Academy Awards tahun 2019, sekaligus merupakan film pertama yang berhasil meraih Oscar sebagai best picture yang tidak berbahasa Inggris. Ini berarti, panitia dan dewan juri Academy Awards 2019 rela dan berani mendobrak kebiasaan, dan mungkin keluar dari peraturan, demi menggolkan hasil  penilaian mereka yang objektif tentang film terbaik, dan itu diraih oleh film Korea, bukan film dari negara-negara Eropa yang dikenal banyak mengeluarkan film bermutu, misalnya.

Decision to Leave adalah film Korea tahun 2022 yang diproduseri dan disutradarai oleh Park Chan-Wook, dibintangi oleh Tang Wei dan Park Hae-Il.

Pada tahun 2022, film ini masuk dalam seleksi Palme d'Or dalam Festival Film Cannes di mana Park berhasil keluar sebagai Best Director.

Film ini juga mendapat tanggapan positif dari para kritikus film dan masuk nominasi dalam berbagai acara penghargaan film, termasuk nominasi sebagai film terbaik yang bukan berbahasa Inggris dan penyutradaan terbaik dalam British Academi Film Awards ke-76.

Decision to Leave menceritakan tentang seorang polisi yang sedang menyelidiki kematian seorang pria karena terjatuh dari gunung batu yang akhirnya terjebak dalam permainan misterius dari istri si korban yang kemudian menyeret si polisi ke dalam sebuah proses penyidikan yang melelahkan.

Seperti film-film Korea umumnya, adegan demi adegan mengalir wajar seperti tanpa emosi, namun mendalam dan menghanyutkan. Tautan dari adegan ke adegan membuat kita penasaran dan tidak ingin melewatkan setia detik gambar dan percakapan yang sedang berlangsung. Sinematografi film ini, khususnya dalam adegan kecelakaan jatuh dari gunung, sangat memikat. Angle kamera dalam setiap adegan enak dilihat dan tidak membosankan.

Namun yang paling menarik adalah endingnya. Ending film adalah adegan kematian yang tak biasa, mengejutkan, kelam dan memilukan, yang merobek-robek relung hati Anda yang terdalam. Sebuah adegan yang mungkin tak pernah Anda bayangkan, dan tak Anda mengerti, juga saya.

 

Read more
 
© Hasim's Space | Design by Blog template in collaboration with Concert Tickets, and Menopause symptoms
Powered by Blogger