Dalam sebagian budaya di dunia ini, masyarakatnya berkeyakinan bahwa seseorang harus kawin, beranak, dan berbahagia, tidak peduli betapapun keadaan ekonomi mereka.
Ummat Islam meyakini bahwa kawin atau menikah adalah sunnah rasul; seseorang yang tidak kawin dianggap tidak mengikuti sunnah rasul. Kawin atau menikah dan punya anak dalam budaya Islam juga dianggap merupakan kewajiban seorang muslim untuk mengembangkan atau memperbanyak umat Islam di seluruh dunia. Makin banyak anak makin banyak umat Islam. Makin banyak umat Islam makin banyak kekuatan untuk menegakkan syariat Islam guna meraih cita-cita meraih kejayaan Islam di muka Bumi ini. Begitulah pikiran mereka.
Dalam masyarakat Islam, kawin dan beranak itu dilakukan tanpa perhitungan ekonomi; tanpa menghitung biaya yang harus dikeluarkan untuk merawat seorang anak. Sebuah keluarga kecil, miskin, yang punya satu anak, yang kepala keluarganya tak punya penghasilan tetap, akan kewalhan menghadapi betapa kerasnya himpitan biaya hidup yang harus dia tanggung, belum lagi jika anak mereka bertambah jadi satu, dua, atau tiga, bahkan empat dan seterusnya.
Bayangkan, orang tua dengan penghasilan tak menentu, misalnya, yang secara rata-rata berpenghasilan antara satu hingga dua juta rupiah sebulan, atau kurang dari itu, harus menghidupi tiga orang anak yang semuanya masih bersekolah. Jika dua di antara anak mereka itu harus menempuh jarak yang cukup jauh dari rumah mereka, maka setiap hari orang tua harus mengeluarkan minimal duapuluh ribu rupiah untuk satu orang anak, untuk bensin sepeda motor dan jajan mereka.
Tidak jarang, akibat kerasnya himpitan ekonomi, si orang tua menyerah. Anak-anak mereka terpaksa harus putus sekolah, atau dipaksa kawin dalam usia muda, dan kemudian mengulang kehidupan orang tua mereka pada anak-anak mereka.
Pada beberapa kasus, anak terpaksa menjadi nakal tau bertindak kriminal untuk memenuhi kebutuhan hidup.
Keadaan seperti ini akan terus berulang pada anak cucu mereka sehingga membuat angka kemiskinan semakin besar dari waktu ke waktu.
Di belahan dunia lain, masyarakatnya berpikir rasional. Banyak di antara mereka yang menolak kawin dengan alasan berat menanggung biaya hidup keluarga, dan memilih hidup menyendiri hingga akhir khayat mereka.
Dalam masyarakat yang berpikir rasional seperti itu otomatis angka kemiskinan kian lama kian menurun seiring dengan menurunnya jumlah penduduk. Negara-negara maju seperti negara-negara di Eropa, Amerika Utara, dan Jepang umumnya berpikiran rasional seperti ini, dan angka kemiskinan dan pengangguran di negara-negara tersebut relatif kecil jika dibandingkan dengan negara-negara yang penduduknya berpikiran bahwa mereka harus punya anak.
Menurut data dari World Bank, sekitar 700 juta orang di dunia masih hidup dalam kemiskinan ekstrem, yaitu dengan penghasilan kurang dari 2,15 dolar AS per hari. Sebagian besar dari mereka tinggal di negara berkembang, di mana tingkat kelahiran juga relatif tinggi.
Dalam konteks pendidikan, biaya transportasi, seragam, buku, dan kebutuhan harian anak dapat menjadi beban berat. Jika satu anak membutuhkan biaya harian sekitar Rp20.000 untuk transportasi dan uang saku, maka tiga anak memerlukan sekitar Rp60.000 per hari atau hampir Rp1,8 juta per bulan—jumlah yang bahkan melebihi penghasilan banyak keluarga miskin.
Akibatnya, banyak keluarga harus membuat pilihan sulit. Tidak sedikit anak yang akhirnya putus sekolah karena keterbatasan biaya. Data dari UNESCO menunjukkan bahwa sekitar 244 juta anak dan remaja di seluruh dunia tidak bersekolah, dan faktor ekonomi menjadi salah satu penyebab utama.

Post a Comment