Headlines

Powered by Blogger.
Showing posts with label psikologi. Show all posts
Showing posts with label psikologi. Show all posts

0 Psikologi mengatakan bahwa tumbuh dengan ibu yang pencemas namun penh perhatian memiliki sisi negatif yang mengejutkan

shutterstock 
 Ibu saya mengkhawatirkan segala sesuatu tentang saya

Dia tidak khawatir berlebihan akan terjadi bencana atau meramal akan ada kecelakaan atau musibah yang menimpa saya. Caranya lebih tenang daripada itu.

Ketegangan yang khas setiap kali saya keluar dari rumah.

Kebiasaaan membayangkan hal-hal yang buruk dari keadaan yang sebenarnya biasa saja.

Sebuah kecenderungan memecahkan masalah sebelum saya sendiri menghadapi masalah itu, untuk memuluskan jalan yang sebenarnya belum saya tempuh.

Ia melakukan itu karena sayang. Saya mengerti itu bahkan sejak saya masih anak-anak, dan sekarang saya jadi lebih paham lagi.

Namun di satu titik di tengah jalan itu, saya mulai memperhatikan sesuatu—tentang bagaimana saya bergerak dalam dunia ini, tentang tekstur spesifik dari kekhawatiran yang saya rasakan, tentang refleks-refleks tertentu yang saya alami yang tidak sesuai benar dengan sosok diri saya yang saya impikan.

Dan semakin jauh saya memperhatikan hal-hal tersebut, semakin jelas saya bisa menapak tilas hal-hal itu kembali ke masa kanak-kanak saya.

Penelitian tentang hal ini ternyata lebih maju dari yang diketahui banyak orang.

Tumbuh dalam keluarga yang menjaga nilai-nilai yang baik tapi memliki orang tua yang cemas tidaklah memiliki tanda-tanda yang jelas terlihat—tak ada insiden dramatis, tak ada momen kerusakan yang jelas.

Namun efeknya lebih subtil, sehingga, lebih sulit dilihat dan lebih sulit disebutkan.

Bagi anak-anak yang memiliki ibu yang selalu khawatir atau cemas, di bawah ini adalah efek-efek yang mungkin timbul pada mereka.

Anak-anak merasakan kecemasan sebelum mereka mengetahui kata tentang itu

Anak-anak tak peru diberi tahu bahwa sesuatu itu berbahaya. Mereka bisa membaca para orang dewasa di sekitar mereka dengan presisi yang luar biasa—kedua mata yang tegang, napas yang ditahan sebelum memberi respon, cara tubuh berubah ketika sesuatu terasa tak pasti. Saya tidak tahu hingga saya menjadi dewasa bahwa tidak semua tubuh orang melakukan itu. Ketika orang dewasa utama yang ada dalam ruangan suka khawatir atau cemas, maka suasana lingkungan yang cemas itu akan menjadi pijakan si anak—bukan sebuah kepercayaan yang mereka bentuk secara sadar, tapi merupakan sebuah rasa yang merasuk ke dalam diri mereka sebelum mereka sendiri mampu mempertanyakannya.

Anak-anak akan belajar bahwa dunia ini lebih berbahaya dari yang sebenarnya

Seorang ibu yang pengkhawatir atau pencemas akan memancarkan pandangan khusus tentang dunia yang sebenarnya tanpa makna: bahwa sesuatu yang sebenarnya biasa menjadi penuh kepalsuan, bahwa sesuatu bisa menjadi celaka tanpa peringatan terlebih dahulu, bahwa kewaspadaan adalah respon yang seharusnya terhadap apa-apa yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Anak-anak menyerap hal ini bukan sebagai sebuah pendapat, tapi sebagai sebuah fakta dan begitulah realitas yang sebenarnya.

Dan, kemudian, anak-anak akan membawa anggapan tersebut—hingga usia mereka dewasa, ke dalam situasi-situasi baru, ke dalam momen-momen yang secara objektif baik-baik saja tapi terasa mengancam dengan cara-cara yang tidak bisa mereka jelaskan. Dunia sebenarnya tidak se-berbahaya seperti yang mereka cemaskan. Namun sistem syaraf tidak mengetahui hal itu. Sistem syaraf mempelajari apa yang dia pelajari, dan dia mempelajari itu lebih dini.

Anak-anak tidak akan bisa mengembangkan toleransi terhadap resiko

Ketika seorang ibu pengkhawatir mulai ikut campur untuk memuluskan jalan sebelum si anak menghadapi kesulitan, itu berarti si anak tidak pernah membangun bukti-bukti internal bahwa mereka bisa menangani hal-hal sulit. Cara Goodwin, Ph.D., menulis dalam Psychology Today, bahwa anak-anak yang memliki orang tua yang overprotektif menunjukkan lebih banyak ketitdakteraturan emosional dan kecemasan sosial—dan bahwa membiarkan anak-anak menangani situasi-situasi sulit sendiri adalah cara untuk membuat mereka membangun keterampilan regulasi (regulation skills) yang mereka butuhkan. Kepercayaan bahwa mereka tidak bisa menangani segala sesuatu akan secara diam-diam tertanam pada diri mereka semakin lama mereka tidak diberi kepercayaan.

Anak-anak menjadi ahli dalam membaca ruangan

Anak yang tumbuh dengan orang tua yang mood-nya dibentuk dengan kecemasan berarti terbiasa membaca kecemasan atau kekhawatiran sejak dini dan secara akurat—mereka bisa melacak sinyal-sinyal, mengantisipasi reaksi, menyesuaikan tingkah laku dengan situasi. penyesuaian tersebut tampak seperti empati, dan dalam beberapa hal memang empati. Namun sikap seperti itu berkembang sebagai sebuah strategi survival pada awalnya. Si anak tidak belajar membaca di luar rasa ingin tahu dan koneksi. Melainkan, mereka belajar membaca orang lain demi untuk mengelola temperatur emosional ruangan tersebut.

Apa yang kita dapat ketika anak-anak tersebut dewasa adalah seseorang yang sering kali luar biasa perseptif tentang perasaan orang lain, namun mengalami kesulitan untuk berhenti membaca ruangan sebelum mereka bisa menyadari apa yang mereka sendiri rasakan.

Anak-anak jadi kesulitan mempercayai penilaian mereka sendiri

Eugene Berison, M.D., menulis dalam Psychology Today, mencatat bahwa orang tua yang overprotektif bisa secara tak disadari mengirim pesan bahwa si anak tidak mampu membuat keputusan yang baik—dan bahwa hal ini akan mengurangi rasa percaya diri si anak sedemikian rupa dan terbawa hingga mereka dewasa. Ketika orang dewasa di sekitar mereka selalu ikut campur, mengarahkan, dan menangani segala sesuatunya  terlebih dahulu, si anak akan menyadari bahwa instink mereka sendiri tidak bisa dipercaya. Bahwa impuls pertama mereka mungkin perlu diperiksa. Bahwa penilaian dari orang lain lebih terpercaya dari penilaian mereka sendiri.

Anak-anak membawa tanggung jawab yang bukan milik mereka

Ketika salah satu orang tua tampak cemas, seorang anak sering kali mencoba mengatasi kecemasan itu—mengurangi rasa khawatir, berpura-pura tidak ada apa-apa , untuk menghindari situasi-situasi yang tampak bisa menghilangkan rasa cemas itu. Seiring berjalannya waktu, hal ini menjadi sebuah pola: memonitor diri mereka sendiri bukan hanya untuk kepentingan mereka sendiri, tapi untuk mengelola keadaan emosional orang lain di sekitar mereka. Mereka menjadi para caretaker kecil tanpa diminta.

Saya merasakan ini dalam diri saya sendiri jauh lebih lambat dari yang seharusnya—editing reflektif (reflective editing) dari apa yang saya berikan, kebiasaan mengemas hal-hal sulit secara rapi sehingga tidak akan terlalu membebani siapa saja yang akan menerimanya.

Setting default anak-anak menjadi waspada, bukannya tenang

Sesuatu bisa jadi, secara teknis, baik-baik saja namun terasa tidak terasa baik-baik saja. Itulah warisan utama yang didapat anak yang tumbuh dalam keluarga yang dipenuhi kecemasan dan kekhawatiran—sebuah sistem syaraf yang dikalibrasi untuk mengantisipasi masalah-masalah yang sebemarnya tidak ada, untuk meraba-raba apa-apa yang bisa jadi salah meskipun sebenarnya tidak ada yang salah. Ketenangan, kalaupun timbul, bisa terasa mencurigakan. Seperti suasana tenang sebelum sesuatu terjadi. Sisanya adalah kecemasan, dan cemas, seiring berjalannya waktu, akan menjadi pijakan dasar di mana tubuh si anak akan kembali.

Anak-anak mengalami kesulitan mentoleransi ketidakpastian

Kecemasan, pada intinya, adalah sebuah upaya untuk mengatasi ketakpastian dengan cara membayangkan akibat yang mungkin timbul. Anak yang tumbuh dengan model begini akan akan belajar bahwa ketakpastian adalah sesuatu yang harus dilenyapkan bukannya ditolerir—bahwa tidak tahu apa akibat yang akan ditimbulkan sesuatu adalah sebuah masalah yang memerlukan manajemen aktif. Ketika mereka tumbuh dewasa, hal ini akan timbul dalam bentuk pikiran yang berlebihan, dalam bentuk kesulitan membuat keputusan, dalam bentuk kelelahan otak khusus yang tidak pernah tenang karena kepastian yang dibiasakan dicari oleh otak tak pernah cukup tersedia.

Ketakpastian tidak pernah menjadi bahaya yang nyata. Tapi pesan ini, yang diserap sejak usia dini, akan sulit di-update.

Anak-anak akan menginternalisasi memori menjadi milik mereka sendiri

Pada beberapa titik—dan ini terjadi secara gradual sehingga tidak ada momen yang bisa diidentifikiasi—kekhawatiran sang ibu tidak lagi menjadi sesuatu yang diamati si anak melainkan menjadi sesuatu yang dirasakan oleh si anak. Kekhawatiran sang ibu itu bukan lagi dipinjamkan pada si anak. Kekhawatiran itu sudah menjadi milik si anak. Saya selama bertahun-tahun mengira bahwa saya adalah seorang pencemas sejak lahir, sama halnya dengan seseoarang yang menjadi tinggi sejak lahir. Rasa takut yang spesifik boleh jadi akan bergeser, objek kekhawatiran bisa jadi berubah, namun orientasi terhadap dunia—berhati-hati, siaga, bersiap—menjadi begitu akrab sehingga tak lagi terasa seperti warisan yang didapat dan mulai terasa menjadi sifat pribadi.

Anak-anak menyayangi ibu mereka—dan hal ini membuat keadaan ini menjadi lebih sulit, bukannya lebih mudah

Ini adalah bagian yang sulit dibicarakan. Rasa khawatir itu berasal dari rasa sayang. Si ibu mencoba untuk melindungi, mencegah anak mereka menderita, mencoba melakukan sesuatu yang terasa seperti menjaga. Dan efeknya sangatlah nyata. Kedua hal itu adalah benar secara bersamaan, rasa menderita dan rasa kasih sayang itu tidaklah dalam posisi berlawanan—keduanya tiba secara bersamaan, saling merangkul satu sama lain, yang membuat warisan ini jadi sangat sulit dihilangkan. (Julie Brown)

https://www.yahoo.com/lifestyle/articles/psychology-says-growing-worrying-well-190031326.html

Read more

0 Fundamentalisme Religius Ada Hubungannya dengan Kerusakan Otak

Mike Pence pointing
Mike Pence (Photo: Gage Skidmore/Flickr)

Sebuah penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Neuropsychologia menunjukkan bahwa fundamentalisme religius adalah, sebagian, merupakan akibat dari adanya gangguan di wilayah otak yang dikenal sebagai prefrontal cortex. Temuan tersebut mengisyaratkan bahwa kerusakan pada bagian tertentu dari prefrontal cortex secara tidak langsung bisa mengakibatkan fundamentalisme religius dengan cara melemahkan fleksibilitas kognitif dan keterbukaan—sebuah istilah psikologi yang menggambarkan sebuah sifat kepribadian yang melibatkan dimensi seperti rasa ingin tahu (curiosity), kreativitas, dan keterbukaan pikiran.

Kepercayaan religius bisa dianggap sebagai representasi mental yang ditransmisikan secara sosial yang mencakup peristiwa-peristiwa supernatural dan entitas-entitas yang dianggap merupakan kenyataan. Kepercayaan religius berbeda dari kepercayaan empiris, yang berdasarkan bagaimana keadaan dunia yang sebenarnya dan di-update  ketika ada bukti-bukti baru ditemukan atau ketika ada bermunculan teori-teori baru dengan kekuatan prediktif yang lebih baik. Di sisi lain, kepercayaan religius tidak biasanya di-update meski ada bukti-bukti baru atau ada penjelasan-penjelasan ilmiah baru, dan dengan demikian sangat erat dihubung-hubungkan dengan konservatisme. Kepercayaan religius bersifat tetap dan kaku (fixed and rigid), yang dengan demikian bisa semakin memperkuat prediktabilitas dan koherensi terhadap aturan masyarakat di antara masing-masing individu di dalam kelompok tersebut. 

Fundamentalisme religius merujuk pada sebuah ideologi yang menekankan pada teks-teks religius tradisional dan ritual-ritual dan mengabaikan pikiran progresif tentang agama dan isu-isu sosial. Kelompok-kelompok fundamentalis biasanya menentang segala sesuatu yang mempertanyakan dan menentang kepercayaan mereka atau cara hidup mereka. Oleh karena itu, mereka sering kali agresif terhadap orang lain yang tidak memiliki kepercayaan-kepercayaan supernatural yang sama, dan terhadap sains, karena hal-hal serupa itu dianggap merupakan ancaman berbahaya terhadap pandangan mereka secara keseluruhan.

Karena kepercayaan religius memainkan peran besar dalam mengarahkan dan memengaruhi tingkah laku manusia di seluruh dunia, maka adalah penting untuk memahami fenomena fundamentalisme religius ini dari persfektif psikologis dan neurologis.

Untuk meneliti sistem kognitif dan sistem neural (sistem saraf) yang memengaruhi fundamentalisme religius, satu tim peneliti—yang dipimpin oleh Jordan Grafman dari Northwestern University—melakukan sebuah penelitian yang mengggunakan data dari para Veteran Perang Vietnam yang telah dikumpulkan sebelumnya. Para veteran tersebut dipilih secara khusus karena sejumlah besar dari mereka mengalami kerusakan di wilayah otak yang dianggap memainkan peran penting dalam fungsi-fungsi yang berhubungan dengan fundamentalisme religius. Hasil-hasil CT-scan dianalisis dengan membandingkan 119 orang veteran yang mengalami trauma otak dengan 30 orang veteran sehat yang tidak mengalami kerusakan apa-apa. Mereka juga melakukan sebuah survei untuk menilai fundamentalisme religius. Meski mayoritas partisipan memeluk agama Kristen tertentu, namun 32,5% dari mereka tidak menyatakan memeluk agama apapun.

Berdasarkan penelitian sebelumnya, para peneliti memperkirakan bahwa prefrontal cortex memainkan peran dalam fundamentalisme religius, karena agama dikenal berhubungan dengan sesuatu yang disebut ‘fleksibilitas kognitif’. Istilah ini mengacu pada kemampuan otak untuk dengan mudah berpindah dari berpikir tentang salah satu konsep ke konsep lainnya, dan untuk berpikir tentang banyak hal secara bersamaan. Feksibilitas kognitif memungkinkan organisme meng-update kepercayaan mereka jika ada bukti-bukti baru, dan sifat ini muncul tampaknya karena adanya keuntungan survival (survival advantage) yang nyata dari skill tersebut. Fleksibilitas kognitif merupakan karakteristik mental yang krusial untuk beradaptasi terhadap lingkungan-lingkungan baru karena dia memungkinkan para individual untuk membuat prediksi lebih akurat tentang dunia di dalam kondisi yang baru dan berubah-ubah. 

Pencitraan otak (brain imaging) telah menunjukkan bahwa sebuah wilayah neural utama (major neural region) yang berhubungan dengan fleksibilitas kognitif adalah prefrontal cortex—khususnya dua wilayah yang dikenal sebagai dorsolateral prefrontal cortex (dlPFC) dan ventromedial prefrontal cortex (vmPFC). Sebagai tambahan, vmPFC menarik bagi para peneliti karena penelitian-penelitian terdahulu telah menunjukkan adanya hubungan vmPFC dengan kepercayaan-kepercayaan sejenis fundamentalis. Sebagai contoh,  sebuah penelitian menunjukkan bahwa individual yang mengalami kerusakan vmPFC menilai pernyataan-pernyataan politik yang radikal sebagai lebih moderat dibandingkan dengan orang yang otaknya normal, sedangkan penelitian yang lainnya menunjukkan adanya hubungan langsung antara kerusakan vmPFC dengan fundamentalisme religius. Karena alasan ini, dalam penelitian-penelitian terkini, para peneliti mengamati para pasien yang mengalami kerusakan baik di dalam vmPFC maupun dalam dlPFC, dan mencari korelasi antara kerusakan di dalam wilayah ini dengan jawaban-jawaban mereka terhadap pertanyaan-pertanyaan tentang fundamentalisme religius.

Menurut Dr. Grafman dan timnya, karena fundamentalisme religius melibatkan kesetiaan yang kuat terhadap seperangkat kepercayaan yang kaku, maka fleksibiltas kognitif dan keterbukaan pikiran menjadi tantangan bagi kaum fundamentalis. Dengan demikian, mereka memprediksi bahwa para partisipan yang mengalami kerusakan pada vmPFC ataupun dlPFC akan mendapat nilai rendah dalam ukuran fleksibilitas kognitif dan sifat keterbukaan dan nilai yang tinggi dalam ukuran fundamentalisme religius.

Hasil-hasil tersebut menunjukkan bahwa, seperti yang diperkirakan, kerusakan pada vmPFC maupun pada dlPFC ada hubungannya dengan fundamentalisme religius. Uji tahap lanjut mengungkapkan  bahwa peningkatan dalam fundamentalisme religius ini disebabkan oleh adanya penurunan dalam fleksibilitas kognitif dan keterbukaan akibat adanya kerusakan prefrontal cortex. Fleksibilitas kognitif dinilai dengan menggunakan standar tes memilah kartu psikologis yang mencakupkan mengategorikan kartu-kartu yang berisikan kata-kata dan gambar-gambar sesuai aturan. Keterbukaan diukur dengan menggunakan sebuah survei kepribadian yang banyak digunakan yang dikenal asebagai NEO Personality Inventory. Data yang didapat mengisyaratkan bahwa kerusakan pada vmPFC secara tidak langsung bisa menimbulkan fundamentalisme religius dengan cara melemahkan fleksibiltas kognitif dan keterbukaan.

Temuan ini penting karena mengisyaratkan bahwa gangguan fungsi prefrontal cortex—apakah karena trauma otak, gangguan psikologis, kecanduan obat atau alkohol, atau karena profil genetik tertentu—bisa membuat seseorang terkena fundamentalisme religius. Dan mungkin dalam kasus-kasus lainnya, indoktrinasi religius yang esktrem akan merusak perkembangan atau fungsi wilayah prefrontal yang semestinya dengan cara menghambat fleksibiltas kognitif dan keterbukaan.

Para penulis dalam penelitian tersebut menekankan bahwa fleksibilitas kognitif dan keterbukaan bukanlah satu-satunya yang membuat otak menjadi rentan terhadap fundamentalisme religius. Nyatanya, analisis mereka menunjukkan bahwa faktor-faktor tersebut hanya seperlima dari variasi di dalam nilai-nilai fundamentalisme. Untuk mengetahui sebab-sebab lainnya, yang bisa jadi meliputi mulai dari predisposisi genetik hingga pengaruh-pengaruh sosial, adalah merupakan proyek riset masa depan yang dipercaya akan menyibukkan para peneliti di masa-masa yang akan datang, mengingat betapa kompleks dan luasnya fundamentalisme religius ini dan akan terus ada hingga beberapa lama.

Dengan meneliti  kognitif dan neural yang merupakan penopang fundamentalisme religius, kita bisa memahami dengan lebih baik bagaimana fenomena tersebut timbul di dalam konektivitas otak, yang bisa memungkinkan kita di suatu saat nanti bisa menangkal sistem-sistem kepercayaan yang radikal dan kaku melalui berbagai latihan kognitif dan mental. (By Bobby Azarian).

Bobby Azarian is a freelance writer with a PhD in neuroscience. His research has been published in journals such as Cognition & Emotion and Human Brain Mapping, and he has written for The Atlantic, The New York Times, BBC Future, Scientific American, Psychology Today, and others. Follow him @BobbyAzarian.

https://www.rawstory.com/2018/03/scientists-established-link-brain-damage-religious-fundamentalism/
Read more

0 Empat Jenis Ruh Pembimbing ('Spirit Guides') Menurut Seorang Medium Psikis


Saya menghabiskan sebagian besar hidup saya sebagai seorang wanita ilmiah, terlatih bahwa saya harus “melihat dulu baru percaya”, misalnya saya harus mengobservasi terlebih dahulu bukti-bukti empiris yang ada dari sebuah fenomena, baru kemudian saya bisa percaya. Secara alami, saya tidak punya kepercayaan akan kehidupan setelah mati atau akan adanya kehidupan apapun di luar tubuh saya secara fisik saat ini, karena saya tak mampu mengamatinya atau mendapatkan secuilpun bukti.

Tapi semua ini berubah empat tahun lalu, ketika saya menerima sebuah pembacaan dari salah seorang medium psikis paling berbakat di Amerika, Bill Philipps. Dengan tanpa bermodalkan informasi apa-apa mengenai saya, dia bisa menyampaikan dengan jelas hal-hal khusus dari keluarga saya yang telah meninggal dunia, orang-orang kesayangan saya, dan bahkan teman-teman lama dari anggota keluarga saya yang belum pernah saya jumpai dan saya tidak tahu keberadaan mereka ketika mereka masih hidup. Tidak ada jalan dia bisa mengetahui semua itu, tidak juga dengan Google. Saya terkesima. Dan shock! Ini adalah kejadian pertama di sepanjang hidup saya, menyaksikan sebuah ‘bukti’ akan adanya sesuatu yang lebih, yang lebih besar, dan hal itu menggema hingga jauh ke dalam lubuk hati saya sebagai sebuah kebenaran. Ini adalah sebuah pengalaman yang membuat mata saya terbuka lebar akan potensi bahwa ada lebih banyak kemungkinan dalam hidup kita dari yang sekadar kita bisa lihat dengan mata kepala kita. Untuk pertama kalinya dalam hidup saya, rasa skeptis yang ada pada diri saya berhadap-hadapan dengan sebuah pertanyaan menantang… mungkinkah medium psikis dan spirit guides (para ruh pembimbing) itu NYATA?

Untuk menjawab pertanyaan ini dan mengkaji lebih dalam, saya mengundang Bill dalam acara Lucid Planet Radio  untuk membicarakan tentang apa itu medium psikis, bagaimana dia mengembangkan skill-nya, bagaimana dia melakukan pekerjaannya dan jenis-jenis pesan apa yang biasanya disampaikan oleh para arwah. Anda bisa mendengarkan wawancara secara keseluruhannya di sini dan membaca lebih jauh tentang buku baru Bill Expect the Unexpected.
 
Bill menjelaskan bahwa banyak dari kita yang sebenarnya adalah makhluk psikis: Faktanya, indera psikis kita seperti intuisi kita dan firasat kita adalah bawaan yang kita dapat sejak lahir. Banyak dari kita yang bisa masuk ke dalam energi orang-orang lain yang sudah mati, benda-benda, atau situasi-situasi yang sudah terjadi, atau mengembangkan sebuah sense akan masa depan (meski masa depan itu tidak tertulis di batu karena kita semua punya free will (keinginan bebas)!). Menurut Bill, kunci untuk masuk ke dalam indera psikis kita sendiri adalah KELUAR (TUNE OUT) dari dunia luar dan mulai memperhatikan perasaan-perasaan dan sensasi-sensasi yang subtil jauh di dalam lubuk hati Anda yang mungkin tidak Anda sadari ada di sana. Kekuatan do’a dan meditasi untuk menenangkan pikiran bisa sangat berpengaruh dalam proses menghubungkan Anda dengan kemampuan-kemampuan psikis Anda dan memanggil para ruh pembimbing ke dalam ruang Anda.

Apakah Medium Psikis itu?
Yang membedakan seseorang sebagai seorang MEDIUM psikis adalah bahwa mereka mampu berhubungan langsung dengan para arwah dan menyampaikan informasi dari mereka pada kita. Bill menggambarkan dirinya sebagai saluran bagi informasi untuk masuk dari dunia lain. Ini bukanlah ilmu pasti, tapi lebih merupakan sebuah receiver radio yang menerima kesan-kesan subtil dari para arwah yang kemudian dipercaya untuk ditransmisikan kepada siapa aja yang datang menemuinya. Dia menjelaskan bahwa informasi itu selalu datang kepadanya, tapi dia mampu mengabaikannya hingga batas-batas tertentu kecuali ketika orang memintanya (dia mengumpamakan itu dengan menyetel omelan seseorang). Dia tidak bisa melihat orang yang sudah mati seperti dalam film The Sixth Sense, melainkan, dia bisa menyiarkan suara-suara mereka yang berbicara kepadanya (jenis mediumship ini biasanya disebut ‘clairaudience”).

Bill menemukan bakatnya sejak usia muda, ketika ibunya yang meninggal dunia sebelum waktunya mulai berkomunikasi dengan dia, ketika itu dia berusia 15 tahun. Waktu itu dia ‘menyembunyikan’ kelebihannya itu untuk jangka waktu lama. Dia mengira dia gila atau bahwa hali itu tidak nyata. Akhirnya dia belajar menerima kenyataan itu, dan bersedia menjadi penyampai pesan penyembuhan dari dunia lain sebagai sebuah panggilan baginya. Anda bisa belajar lebih banyak tentang perjalanan Bill yang menakjubkan dengan mendengarkan podcast-nya, dan dengan membaca buku barunya yang menakjubkan, Expect the Unexpected, yang sudah beredar.

Empat Tipe Utama Ruh Pembimbing (Spirit Guides)
Menurut Bill, ada empat jenis ruh pembimbing (spirit guides) yang sering berkomunikasi dengannnya dari dunia lain, yang berada di dunia ini untuk membantu manusia dan melindungi kehidupan mereka.
  1. Orang-orang Tersayang yang Telah Meninggal Dunia: Bill berkomunikasi kebanyakan dengan orang-orang kesayangan yang telah meninggal dunia, seperti anggota keluarga dan teman-teman yang mengenal orang tersebut ketika dia hidup. Sering kali, para individual ini merupakan bagian dari sebuah “kelompok jiwa” (soul group) yang lebih besar yang berinkarnasi secara bersama-sama dan kemudian saling menjaga satu sama lain dari dunia lain selama 2-3 generasi hingga tiba waktunya untuk inkarnasi kembali, dalam setiap inkarnasi mereka mendapat peran berbeda untuk membantu mengajar pelajaran baru yang membantu pertumbuhan jiwa tertinggi masing-masing mereka.
  2. Arwah yang Dikirim untuk Membantu: Ruh pembimbing ini tidaklah mesti orang yang kita kenal semasa hidupnya, namun,  boleh jadi para ruh lainnya yang dikirim untuk melindungi kita. Sebagai contoh, seseorang yang berada di dalam ‘kelompok jiwa’ Anda yang telah meninggal dunia sebelum Anda lahir boleh jadi masih mengawasi Anda untuk membimbing Anda.
  3. Para Master yang Naik Tingkat: Ini adalah orang-orang yang ketika hidupnya mengagungkan kehidupan sprititual yang tinggi dalam realm fisik (seperti Yesus, Buddha, Ghandi, dll) yang melanjutkan perjalanan mereka dalam bentuk arwah untuk membantu manusia. Vibrasi mereka ini secara energetik lebih tinggi dibandingkan dua kelompok sebelumnya, dan para master yang naik ke langit ini diperkirakan membantu banyak orang.
  4. Malaikat: menurut Bill, pembimbing vibrasional tertinggi dari semua yang ada adalah para malaikat, yang tidak pernah menempati tubuh fisik sebelumnya. Mereka boleh jadi adalah cahaya murni, energi murni, dan cinta murni.
Dalam hal apapun, masing-masing dari kita boleh jadi mempunyai gabungan dari ruh pembimbing ini yang mengawasi kita dan melindungi kita. Yang bisa kita lakukan adalah meminta bantuan mereka, dan mencari tanda-tanda kehadiran mereka, yang bisa berwujud dalam banyak cara; Mimpi-mimpi, lagu-lagu di radio, angka di jam (sperti 11:11), di dering telepon, di rasa hangat,  dan juga berupa penampakan dan suara yang sebenarnya. Do’a yang berarti hubungan individual Anda kepada Ilahi, adalah cara yang bagus untuk berkomunikasi dengan pembimbing Anda itu. Bill mengingatkan kita untuk selalu siap-siap Mendapatkan yang Tak Terduga dalam hal cara do’a-do’a kita akan dijawab.

Bill juga menjelaskan bahwa YA, makhluk halus yang lebih gelap/lebih padat memang ada, tapi dia dengan tegas dan lugas tidak mengijinkan vibrasi jenis ini memasuki ruangnya. Dia memilih fokus pada pesan-pesan penyembuhan dan energi vibrasional yang lebih tinggi. Apapun vibrasi kita, kita akan menarik lebih banyak makhluk spiritual, dan dengan demikian kita semua mutlak mempunyai kekuatan dan kemampuan untuk melindungi ruang spiritual kita dengan cara mempertahankan sebuah vibrasi yang lebih tinggi melalui meditasi dan do’a. Kita tidak perlu takut akan energi-energi yang gelap atau padat, kita hanya perlu menegaskan batas-batas kita bahwa mereka tidak diijinkan masuk ke wilayah kita.

Pesan-pesan Pengharapan dari Dunia Luar
Saya Tanya Bill tentang pesan yang paling sering dia dapat dari para ruh ketika dia membaca suratan takdir seseorang. Sangat banyak, ruh pembimbing kita berada di sini untuk menunjukkan pada kita bahwa kita BENAR-BENAR hidup setelah kita mati, dan bahwa mereka berada di sini untuk melindungi kita dan untuk menunjukkan kasih sayang mereka pada kita. Mereka ingin kita tahu bahwa mereka masih bersama kita, dan bahwa mereka baik-baik saja. Mendapat pesan-pesan dari ruh pembimbing seperti ini bisa jadi pengalaman yang benar-benar berarti dan bisa mengubah hidup. Sering kali, kita memerlukan bukti-bukti terlebih dahulu baru kita bisa mempercayai pesan-pesan ini, sehingga para ruh pembimbing itu biasanya memberi beberapa contoh-contoh bukti spesifik yang hanya si orang tersebut yang bisa mengetahui sehingga akan timbul semacam validasi dan kepastian bagi kita bahwa ya, ini NYATA. Inilah sebenarnya yang terjadi dalam pembacaan saya.

Pesan utama yang lain dari dunia lain itu berkisar di sekitar kita, meninggalkan segala sesuatu yang bersifat fisik di belakangnya, termasuk uang, kekuasaan atau nama besar. TIDAK ADA UANG di dunia lain itu. Di sana juga tidak ada yang namanya waktu, dan tidak ada selebriti atau orang kaya. Kita semua satu, dan semua orang SETARA. Mengingat betapa mudahnya kita bisa kehilangan semua ini di dunia kita ini, maka ini adalah pesan yang sangat berguna. Ungkapan yang berbunyi “Harta tak bisa dibawa mati” benar-benar tepat dalam hal ini. Meski kita boleh jadi membutuhkan uang untuk bertahan hidup di dunia ini, namun CINTA benar-benar merupakan mata uang yang berguna dan berlaku di mana-mana.

Jadi, apakah medium psikis dan para ruh pembimbing (spirit guides) itu benar-benar ada? Bagi saya, Bill Philipps adalah bukti nyata, dan pembacaannya telah membawa begitu banyak keyakinan dan spiritualitas di dalam hidup saya. Tapi apakah mereka benar-benar ada bagi Anda? Anda harus menggambarkannya untuk diri Anda sendiri. 

Untuk mendengar lebih banyak tentang apa dan bagaimana medium psikis itu dan penyalurannya dari Bill Philipps, Anda bisa mendengarkan podcast selengkapnya, baca buku barunya yang mengagumkan, Expect the Unexpected dan kunjungi website-nya untuk mengikuti audience reading di dekat Anda atau untuk mengatur jadwal untuk bertemu secara pribadi. (by  Dr Kelly | The Lucid Planet | Artwork by Edgar Gomez)

LIGHT AND LOCE—Dr Kelly

http://www.the-open-mind.com/the-four-types-of-spirit-guides-according-to-a-psychic-medium/
Read more

0 Lima Hal yang Tak Dilakukan Orang yang Bermental Kuat


Sebagai seorang ahli psikoterapi saya selalu menaruh minat pada kekuatan mental, tapi ketertarikan saya akan hal ini menjadi personal ketika saya mengalami serangkaian peristiwa kehilangan. Pada tahun 2003, ibu saya meninggal dunia secara mendadak akibat aneurisma otak. Kemudian, pada ulang tahun ketiga kematian ibu saya, suami saya yang berusia 26 tahun meninggal dunia akibat serangan jantung.

Beberapa tahun kemudian, ayah mertua saya didiagnosa mengalami kanker terminal dan dalam pikiran saya mulai terlintas hal-hal seperti, “Mengapa saya selalu harus kehilangan seseorang yang saya kasihi? Ini tidak fair. “ tapi akhirnya, saya sadar cara berpikir seperti itu tidak ada gunanya.

Saya tahu kebiasaan melakukan hal-hal yang tak sehat, seperti menyesali diri, hanya akan menghilangkan secara sementara kepedihan yang kita alami. Jadi saya duduk dan menulis daftar “13 Hal yang Tidak Dilakukan Orang yang Sehat Secara Mental” sebagai sebuah pengingat bagi diri saya sendiri akan segala sesuatu yang perlu saya hindari jika akan menghadapi kehilangan-kehilangan lain dengan kekuatan sebesar yang saya bisa himpun.

Sebelumnya saya tidak pernah membayangkan daftar yang saya buat ini akan menjadi viral, atau bahwa saya akan mendapat kesempatan untuk mengembangkan artikel saya ini menjadi sebuah buku. Saya bahagia ini terjadi, tapi pada awalnya, daftar tersebut hanya diperuntukkan buat saya sendiri. Dan saya senang saya telah berhasil menyusun daftar tersebut karena hanya dalam tempo beberapa minggu setelah memulai menulis, ayah mertua aya meninggal dunia.

Di bawah ini adalah 5 dari 13 hal yang tidak dilakukan oleh orang yang kuat secara mental;

1. Membuang-buang waktu menyesali diri sendiri
Meski adalah sehat untuk merasa sedih sekali-sekali, namun terus-menerus meratapi kemalangan dan meremehkan kemampuan kita untuk mengatasi rasa duka adalah sesuatu yang destruktif. Meratapi diri membuat kita tetap fokus akan masalah-masalah yang membuat kita sedih, dan bisa mencegah kita memulai kehidupan baru. Bersyukur adalah salah satu cara paling efektif untuk menghilangkan rasa penyesalan yang mendalam.

2. Menanggalkan  kekuatan mereka
Menyalahkan orang lain akan cara kita berpikir, cara kita merasa, atau cara kita bertingkah laku bisa menyebabkan kita dengan mudah melarikan diri dari tanggung jawab pribadi kita. Tapi yang sebenarnya, tak ada seorang pun yang punya kekuatan untuk membuat Anda gila. Anda punya kuasa mengontrol emosi Anda dan bagaimana Anda merespon emosi orang lain. Sama halnya, boss Anda tak bisa membuat Anda bekerja hingga melewati waktu. Ada konsekuensi yang akan Anda hadapi jika Anda tidak bekerja hingga melewati waktu, tetapi itu adalah sebuah pilihan. Dapatkan kembali kekuatan Anda dengan cara mengenali pilihan-pilihan Anda.

3. Takut Menghadapi rsiko

Emosi sering kali mengaburkan akal sehat kita. Ketika kita bersemangat menghadapi sebuah kesempatan, kita merendahkan resiko dari kesempatan tersebut. Akan tetapi ketika kita merasa was-was, kita akan melebih-lebihkan bahaya yang mungkin ditimbulkannya. Seimbangkan emosi dengan logika sehingga Anda bisa memperhitungkan resiko-resiko mana saja yang boleh diambil, dan melangkah dengan percaya diri.

4. Iri atas keberhasilan orang lain
Melihat orang lain mencapai tujuan yang mereka cita-citakan bisa menimbulkan rasa iri. Tapi setiap kali Anda menghabiskan waktu dengan rasa tidak senang akan keberhasilan orang lain, Anda akan menjauhkan diri dari bekerja mencapai tujuan Anda sendiri. Tulis definisi sukses menurut Anda dan fokus pada bekerjasama—bukannya bersaing—dengan orang-orang di sekitar Anda.

5. Membuat kesalahan yang sama berulang-ulang
Kadang-kadang, kita terlalu fokus pada upaya menutupi kesalahan-kesalahan kita sehingga kita tidak belajar dari kesalahan-kesalahan kita tersebut. Daripada membuat berbagai alasan atas kesalahan kita, lebih baik mengakui kesalahan-kelsahan kita tersebut. Investasikan energi Anda untuk belajar dari kesalahan-kesalahan Anda sehingga Anda bisa menghindari kesalahan serupa terulang. (By Amy Morin)

Amy Morin is a psychotherapist, keynote speaker and the author of 13 Things Mentally Strong People Don’t Do, a best-selling book that is being translated into more than 20 languages.

http://www.foxnews.com/health/2015/07/19/5-ways-to-be-mentally-strong/
Read more

0 5 Hal Orang Introvert Bisa Menjengkelkan


 
Jadi dengar…

Anda tahu ungkapan seperti “Orang Intovert Lebih Unggul!” yang sering Anda dengar di Internet? (Introvertnet?) Karena saya merasa sedikit banyak bertanggung jawab dalam hal ini—mari kita ambil napas dulu. Pesan yang ingin saya sampaikan di sini dan di dalam buku saya adalah bahwa introversi (introversion) adalah baik-baik saja, tidak ada yang salah dengan introversi, ada banyak sekali hal-hal yang baik tentang introversi. Dan saya akan mencari cara-cara untuk memiliki dan menghormati introversi kita, untuk membuat introversi tersebut bermanfaat bagi kita di dunia lain di luar kepala kita. 

Namun banyak hal yang terjadi di luar sana ternyata selangkah lebih jauh, yang berkeras bahwa introversi lebih unggul dibandingkan ekstroversi (extroversion), bahwa mereka yang ekstrovert adalah sekelompok orang tolol yang berisik dibandingkan dengan orang introvert yang berpikiran  mendalam, cerdas, dan kreatif.

Dan lebih-lebih lagi, apapun yang kita kaum introvert lakukan adalah baik-baik saja dan jika Anda tidak suka dalam bentuk apapun itu karena Anda tidak paham! Jadi kenapa jika saya mengingkari janji ketemuan pada saat-saat akhir karena saya tidak sedang mood? Saya kan seorang introvert! Itulah yang saya lakukan! Jadi kenapa jika saya bermuka masam dalam sebuah acara kumpul keluarga? Saya seorang introvert! Anda tak bisa membuat saya bicara!

Mungkin saya hanya merasa jengkel karena cuaca terlalu panas di Texas ini dan alergi saya kambuh dan saya harus menghadapi masalah air ledeng yang mahal akhir-akhir ini dan saya agak stress tentang keuangan, terus terang, saya terlalu banyak menyendiri, tapi… stop it!

Percaya atau tidak, orang introvert bisa jadi menjengkelkan juga. Saya telah mengumpulkan beberapa pikiran dari berbagai sumber dan saya ingin membagi-bagikannya dengan Anda beberapa hal yang sangat menjengkelkan yang bisa dilakukan orang introvert, seperti di bawah ini.
  • Tidak mempunyai tanggung jawab dalam kehidupan sosial mereka. Saya bersalah atas yang satu ini. Saya melimpahkan terlalu banyak tanggung jawab kehidupan sosial kepada suami saya, kemudian merasa dongkol karena kami tidak melakukan sesuatu seperti yang saya inginkan. Dan salah seorang anggota Dewan Extrovert di mana saya bergabung mengatakan, “Saya sering merasa tidak yakin apakah dia ingin ketemu orang atau tidak. Jika ada sesuatu yang benar-benar ingin saya lakukan saya akan berencana melakukannya sendiri, karena menurut saya dia lebih suka tinggal di rumah.” Tahukah Anda jika hal ini termasuk menyebalkan?  “Saya kadang-kadang menyerah dan pergi ke suatu tempat sendirian jika pasangan introvert saya tak mau ikut. Tidak terlalu menyenangkan tapi saya perlu stimulasi dari luar,” kata teman saya Scott, juga anggota dewan ekstrovert. (Yang setuju namanya disebut. Saya meminta para anggota memilih apakah namanya boleh disebut atau tidak, supaya tidak menimbulkan kesulitan dalam hubungan sesama anggota). Jika Anda tidak pernah, tidak sekalipun punya keinginan pergi ke suatu tempat bersama seseorang, mungkin Anda tidak perlu menjalin hubungan dengan seorang extrovert. “Mengapa seseorang ingin tinggal di rumah saja sedangkan ada banyak tempat untuk dilihat dan ada banyak orang untuk ditemui?” Tanya Scott, dengan gaya extrovert. Tapi jika Anda merasa ingin keluar rumah sesekali, sesekali pula ambillah tanggung jawab.
  • Mengabaikan dunia. “Hal lain yang bisa menimbulkan frustrasi adalah apa yang sering dianggap sebagai sesuatu yang biasa dalam hal hubungan di dalam sebuah lingkaran yang kecil,” anggota dewan extrovert  mengeluh. “Jika saya berbicara tentang beberapa teman, sebagai contoh, reaksinya mengiyaratkan pada saya bahwa dia heran mengapa saya mau menghabiskan waktu bersamanya.” Hal itu tidak bagus. Punyailah minat atau sekurangnya pura-puralah punya minat berteman.
  • Memilih bungkam. Ini juga salah. Kita perlu waktu untuk memikirkan segala sesuatunya secara mendalam selama terjadinya konflik. Saya paham akan hal itu. Namun meninggalkan seorang teman atau pasangan dalam keadaan tidak pasti jika ada masalah, menciptakan kasus, atau berencana menghindar, adalah kejam. Paling tidak, Anda perlu berpikir dan mungkin mengatur waktu untuk memulai percakapan kembali. Dan kemudian melakukan hal itu. Jangan seperti wanita yang menyampaikan keluhan yang kusut seperti di dalam kolom nasihat dalam situs Washington Post seperti di bawah ini: … suatu pertengkaran benar-benar mengejutkan/mengagetkan dan mengecewakan saya—saya tidak ingin menunjukkan respon, karena saya pikir saya pasti telah salah memahami sesuatu, atau saya perlu mencari sebuah cara penyelesaian masalah ini dengan baik—sehingga saya memilih bungkam—dan kemudian yang membuat saya marah adalah—pasangan saya, yang merupakan bagian dari percekcokan kami sejak mula, dengan enteng mengabaikan segala sesuatunya seolah tidak terjadi apa-apa… mencoba “melakukan komunikasi” dengan cara berbicara tentang cuaca atau olahraga (“Bagaimana dengan tim baseball Mets?”) atau sesuatu yang lain, di saat masih ada masalah yang belum diselesaikan… dan jelas dia TIDAK ingin memulai percakapan itu kembali. Walhasil, para pembaca merujuk pada hal-hal yang jelas: Jika Anda mempunyai sesuatu yang ingin Anda katakan, maka Anda harus mengatakannya. Dan, lagi pula, jika Anda kecewa tentang sesuatu yang tidak ada hubungannya dengan orang lain, Anda tidak boleh mengatakan itu. “Istri saya bukanlah seorang komunikator yang paling verbal, jadi ketika dia sedang bad mood, saya jadi bertanya-tanya apa sebabnya, apakah ada sesuatu yang salah dalam perkataan saya,” kata seorang anggota dewan extrovert.
  • Mengabaikan “ungkapan cinta” pasangan Anda. (Sebagaimana yang digambarkan dalam buku psikologi pop klasik ini.) OK, ini bukanlah khusus masalah introvert-extrovert, tapi bisa terjadi dalam hubungan yang manapun. Tapi jika Anda cenderung tidak verbal dan hanya perlu menunjukkan cinta kasih Anda, maka tunjukkan kebaikan hati Anda dan berbicara sekali-sekali saja. Jadilah eksplisit. Katakan apa yang Anda rasakan. Tentu, Anda boleh mendemonstasikan cinta Anda dengan beribu cara, namun kadang-kadang tidaklah enak mendengar hal itu dalam bahasa kita sendiri. (Atau bahasa Perancis. Ungkapan cinta selalu terdengar indah dalam bahasa Perancis.) Sama halnya dengan waktu yang berkualitas. Ya, Anda perlu waktu untuk menyendiri. Tentu saja. Tapi jika pasangan Anda ingin menghabiskan keseluruhan waktu akhir pekan dengan terus berpelukan, maka tunjukanlah cinta Anda dengan cara demikian.
  • Tidak pernah memperlihatkan antusiasme. Kita ini pendiam, tentu saja. Tapi adalah sangat melegakan jika kita menghampiri seseorang  dan menyampaikan kabar baik dan mendapat jawaban “Itu bagus.” Berusahalah sedikit lebih keras untuk menyampaikan pujian. Dan dalam kegiatan kelompok, cobalah perlihatkan rasa senang Anda jika Anda sedang senang. Anda tidak perlu cengar-cengir terus menerus, tapi sekurangnya pikirkanlah pikiran yang antusiastis. Hal itu bisa jadi akan terlihat dalam sikap Anda.
Apakah hal-hal di atas serupa dengan Anda? Kalau demikian mungkin Anda merasa terganggu. Kini saatnya untuk sedikit introspeksi  (yang biasa kita lakukan dengan sangat baik). Atau mulailah sebuah percakapan dengan mereka yang extrovert dalam hidup Anda dan perhatikan apakah ada sesuatu yang sedang Anda lakukan yang bisa merusak hubungan Anda dengan mereka. Dan jika Anda berpkir tentang segala sesuatu yang lain, kemukakanlah. Saya penasaran ingin mengetahuinya. (by Sophia Dembling)
--
Hope you've bought my book, The Introvert's Way: Living a Quiet Life in a Noisy World. And please join me (and a bunch of other introverts) on Facebook. And, disclaimer as required by law: Anything you purchase from Amazon by clicking through links here earns me a few cents.

Photo by Ben Newton via Flickr (Creative Commons).
http://www.psychologytoday.com/blog/the-introverts-corner/201309/five-ways-introverts-can-be-annoying
Read more

0 Jenis Kepribadian Tidak Menentukan Kualitas Kepemimpinan


Akhir-akhir ini, saya telah mempelajari banyak hal tentang kepemimpinan. Dulu ketika saya masih mengalami masa-masa jaya sebagai manajer menengah di sebuah perusahaan besar di Amerika, dan sebelumnya sebagai manajer di sebuah perusahaan kecil yang baru didirikan, saya menemukan bahwa kepribadian saya yang introvert sering kali menimbulkan masalah bagi diri saya sendiri.

Ketika itu, saya lebih suka membaca dan duduk di sebuah kedai daripada ngobrol-ngobrol dengan para karyawan setelah selesai bekerja. Saya mengabaikan kesempatan baik tersebut dan memilih melakukan instrospeksi.

Introversi sebagai Musuh

Pernah sekali saya mengadakan sebuah pertemuan penting dengan seorang karyawan. Dia adalah seorang project manager di dalam tim saya (ketika itu saya menduduki posisi direktur). Singkat cerita: dia berkata bahwa saya adalah bos yang terburuk yang pernah dia temui dan dia membenci nyali saya. Dia bertanya bagaimana ceritanya sampai saya bisa menjadi direktur. Dia ingin berhenti, tapi saya berusaha menenangkannya—kebanyakan dengan cara meminta maaf padanya.

Pada saat itu, saya memandang ini semua sebagian besar sebagai kesalahan saya. Saya tidak cukup gaul; saya tidak cukup sering memperhatikan dia dan segala sesuatunya. Tentu, saya punya anggaran untuk dikelola dan rapat-rapat untuk diikuti. Namun kepribadian saya yang introvert telah membuat saya tak berdaya.

Ternyata saya tidak sendiri. Setelah menulis kisah saya tentang suka duka saya merintis sebuah karir manajemen sebagai seorang introvert, saya menerima banyak sekali pesan yang mendukung. Ketika itu saya kebanjiran orang-orang yang pernah merasakan masalah seperti saya. Dalam kebanyakan kasus, pesan mereka adalah—“Saya juga adalah seorang introvert yang mengalami kesulitan dalam mengatur orang lain.”

Kabar baiknya adalah, bahwa kepribadian Anda bisa jadi tidak menentukan seberapa baiknya Anda bisa mengatur orang lain seperti yang selama ini Anda kira. Baik mereka yang extrovert maupun yang introvert sama-sama bisa memimpin. Skill itu bisa dipelajari, disesuaikan, dipadu-padankan, dan diperdalam.

Skill yang Dipelajari

Penelitian ini (lihat di sini) merupakan sebuah alat yang berguna untuk memahami betapa kepribadian Anda yang spesifik bisa membantu Anda dalam memimpin sebuah perusahaan kecil, dan bahwa kepemimpinan itu adalah sebuah skill, bukan bakat. Sebagai kesimpulan, saya berbicara dengan Jim Kouzes, co-author dari laporan di atas. Kouzes dan Barry Posner menulis buku "The Leadership Challenge" dan melakukan Inventarisasi Praktik-praktik Kepemimpinan (Leadership Practices Inventory).

“Kepemimpinan adalah seperangkat skill dan kemampuan yang bisa dipelajari oleh siapa saja yang mempunyai kemauan untuk memperbaiki diri dan mempunyai keinginan untuk mempraktikkannya,’ kata Kouzes. “Hal ini berlaku baik untuk mereka yang extrovert maupun introvert. Mereka yang extrovert dan yang introvert masing-masing mempunyai preferensi tertentu dalam hal menyemangati diri sendiri, mencari informasi, membuat keputusan, dan mengatur diri mereka sendiri, namun baik orang extrovert maupun yang introvert sama-sama mempunyai kemampuan menciptakan kepemimpinan yang terpuji.

Kouzes mengatakan pada saya bahwa setiap jenis kepribadian harus memimpin dengan contoh. Hal ini relevan bgi saya: Dulu saya terbiasa berpikir bahwa saya harus menggebu-gebu dan bersemangat  dengan para anggota tim ketika berbicara tentang visi saya. Kenyataannya, saya bisa saja mencapai tujuan yang sama dengan cara saya sendiri. Saya tidak perlu menggebu-gebu dan bersemangat atau bersosialisasi—saya hanya perlu memperbaiki skill saya. Alasan seorang karyawan mengira saya adalah bos yang payah kebanyakan karena saya kurang berkomunikasi, yang tidak mesti menggebu-gebu sama sekali—Cuma harus konsisten saja.

“Orang yang extrovert cenderung mengekpresikan gairah mereka tentang hal-hal yang prinsip dengan cara menggebu-gebu, sedangkan orang yang introvert lebih cenderung terlibat dalam percakapan yang tenang tentang harapan-harapan mereka,” kata Kouzes dalam penjelasannya. Bagi saya, hal itu lebih berarti sebagai melakukan bentuk pembinaan secara langsung (in-person) dengan para karyawan, mempelajari keinginan-keinginan dan harapan-harapan mereka—sesuatu yang yang saya sangat mahir ketika kemudian saya bekerja sebagai seorang jurnalis yang banyak mewawancarai orang selama lebih dari 12 tahun.

Menariknya, saya sangat bagus dalam hal menentukan visi (“visioneering”) di tempat kerja. Ketika saya memulai salah satu pekerjaan di sebuah perusahaan hanya dengan tiga orang karyawan, kemudian karyawannya berkembang menjadi hampir 50 orang hanya dalam tempo lima tahun. Kami mengambil berbagai proyek dalam setiap bagian dari organisasi tersebut, dan saya bagus dalam hal memasarkan layanan-layanan kami. Banyak dari rapat-rapat melibatkan pertemuan sau lawan satu dengan para pejabat yang lebih tinggi.

Kouzes mengatakan setiap jenis kepribadian bisa mempelajari skill tentang cara mengkomunikasikan visi.

“Mereka yang extrovert cenderung mendemonstrasikan praktik ini dengan cara melakukan curah pendapat (brainstorming) atau secara langsung mendengarkan keinginan-keinginan orang lain,” katanya. “Sedangkan mereka yang introvert di pihak lain, lebih cenderung membayangkan saja apa yang mungkin ada di dalam pikiran orang lain atau melakukan tukar pikiran dalam percakapan satu lawan satu. Mereka yang extrovert harus bekerja sedikit lebih keras dalam hal memberi kesempatan bagi orang lain untuk mengemukakan harapan-harapan mereka, impian mereka, dan aspirasi mereka, sedangkan kaum introvert sangat mementingkan segala sesuatunya menjasi inklusif,” katanya.

Saya masih perlu belajar banyak dalam hal ini.

Bagaimana kisah Anda? Ceritakan dalam komentar di bawah ini jika Anda bisa mengingat-ingat keberhasilan dan kegagalan Anda, dan bagaimana kepribadian Anda telah menjadi penghalang atau telah membantu. (By John Brandon | Inc – Wed, Sep 11, 2013 6:18 PM EDT)

Read More
Second guessing being an an entrepreneur? Five things to consider.
The fearsome nightmare entrepreneurs never talk about.
5 Time-management tips I can't live without.
http://smallbusiness.yahoo.com/advisor/personality-doesn-t-determine-leadership-ability--221825033.html
Read more

0 Menunda Pensiun Bisa Hindari Demensia

In this Friday, July 12, 2013 photo, June Springer poses for a photograph where she works at Caffi Contracting Services, in Alexandria, Va. Springer, who just turned 90, works as a receptionist. People who delay retirement have less risk of developing Alzheimer's disease or other types of dementia, a study of half a million people in France found. (AP Photo/Alex Brandon)
Dalam foto tertanggal 12 Juli 2013 ini, June Springer berpose ketika dia sedang bekerja di Caffi Contracting Services di Alexandria. Perempuan tua ini baru saja pensiun di usia 90 tahun (AP Photo/Alex Brandon)

BOSTON (AP) —Penelitian terbaru semakin memantapkan teori “gunakan atau Anda akan kehilangannya” tentang kekuatan otak dan keadaan bertahan tetap sehat secara mental. Orang yang menunda pensiun mempunyai resiko terkena penyakit Alzheimer atau tipe demensia yang lebih kecil, demikian temuan sebuah penelitian tentang hampir setengah juta orang di Perancis.

Sejauh ini, penelitian tersebut adalah merupakan penelitian terbesar yang meneliti masalah ini, dan para peneliti mengatakan bahwa kesimpulan tersebut masuk akal. Bekerja cenderung membuat orang tetap aktif secara fisik, tetap bergaul dengan sesama dan tertantang secara mental—hal-hal yang telah pula dikenal bisa membantu mencegah penurunan mental.

“Untuk setiap tahun tambahan bekerja, resiko terkena demensia jadi berkurang sebanyak 3,2 persen,” kata Carole Dufoil, seorang ilmuwan di INSERM, badan penelitian kesehatan milik pemerintah Perancis.

Dia memimpin penelitian tersebut dan mengumumkan hasilnya pada hari Senin di dalam Konferensi Internasional Persatuan Alzheimer di Boston.

Sekitar 35 juta orang di seluruh dunia mengalami demensia, dan Alzheimer adalah jenis yang paling umum. Di A.S., sekitar 5 juta orang mengalami Alzheimer—1 dari 9 orang yang berusia 65 ke atas. Apa yang menyebabkan penyakit yang merenggut pikiran ini tidak diketahui dan tidak ada obat atau cara perawatan yang bisa memperlambat perkembangan penyakit ini.

Perancis telah mempunyai sebagian dari penelitian terbaik tentang Alzheimer di dunia, sebagian karena bekas presiden negara itu, Nicolas Sarkozy, menjadikan penelitian tentang penyakit ini sebagai  prioritas. Negeri tersebut juga mempunyai catatan-catatan rinci tentang kesehatan orang-orang yang bekerja sendiri (self-employed) yang mengikuti asuransi kesehatan serupa Medicare.

Para peneliti menggunakan catatan-catatan serupa ini pada lebih dari 429.000 pekerja, yang kebanyakan di antaranya adalah para penjaga toko atau para pengrajin seperti tukang roti dan tukang kayu. Mereka rata-rata berusia 74 tahun dan telah pensiun selama rata-rata 12 tahun.

Hampir 3 persen dari mereka terkena demensia namun resiko terkena demensia ini lebih rendah pada setiap tahun usia pensiun. Seseorang yang pensiun pada usia 65 mempunyai resiko terkena demensia 15 persen lebih rendah dibandingkan dengan mereka yang pensiun pada usia 60, setelah faktor-faktor lainnya yang mempengaruhi hasil tersebut diperhitungkan, kata Dufoid.

Untuk menutup kemungkinan bahwa penurunan mental boleh jadi telah menyebabkan orang pensiun lebih awal, para peneliti melakukan analisis terhadap orang yang tereliminasi yang terkena demensia dalam tempo 5 tahun setelah pensiun, dan dalam tempo 10 tahun setelah pensiun.

Trend-nya benar-benar sama,” yang mengisyaratkan bahwa bekerja mempunyai pengaruh terhadap kognisi, bukan sebaliknya, kata Dufouil.

Perancis memandatkan pensiun dalam berbagai bidang pekerjaan—pegawai negeri sipil harus pensiun pada usia 65, katanya. Penelitian terbaru tersebut mengisyaratkan bahwa “orang harus bekerja selama mereka masih menginginkannya” karena hal ini bisa mempengaruhi kesehatan mereka, katanya.

June Springer, yang baru saja memasuki usia 90, setuju. Dia bekerja sebagai resepsionis full time di Caffi Plumbing & Heating di Alexandria, Va., delapan tahun lalu.

“Saya ingin memberi penghargaan pada perusahaan yang mau mempekerjakan saya pada usia demikian,” katanya. “Bekerja itu menyenangkan, berada di tengah-tengah orang-orang dan mengikuti perkembangan peristiwa. Saya suka melakukan apa yang saya lakukan. Selama Tuhan masih menganugerahi saya otak untuk digunakan maka akan saya gunakan setiap hari.”

Heather Snyder, direktur medis dan operasi ilmiah pada Persatuan Alzheimer, mengatakan hasil penelitian tersebut tidak berarti bahwa setiap orang perlu menunda pensiun mereka.

“Menjaga tubuh tetap aktif secara kognitif, tetap aktif secara sosial, terus melakukan hal-hal yang disukai” itulah yang penting, katanya.

“Orang tua saya sudah pensiun namun mereka kini lebih sibuk dari ketika mereka bekerja. Mereka kuliah di universitas di tempat mereka tinggal, mereka terus mengikuti perkuliahan dan mereka terus melakukan kegiatan kognitif dan kegiatan sosial dalam hidup mereka.” MARILYNN MARCHIONE July 15, 2013
__
AP Medical Writer Lindsey Tanner in Chicago contributed to this report.
http://news.yahoo.com/study-later-retirement-may-help-prevent-dementia-124022246.html
Read more

0 Bisakah Probiotik Membuat Kita Lebih Bahagia

Probiotik, bakteria sehat yang terdapat di dalam yogurt dan makanan-makanan hasil fermentasi tertentu, boleh jadi merupakan mikroba yang bisa mengubah pikiran yang bisa digunakan untuk membantu mengobati depresi dan kecemasan (anxiety), menurut sebuah riset terkemuka terbaru.

Sebuah studi “pembuktian konsep” terbaru yang menggunakan MRI fungsional menawarkan bukti pertama bahwa bakteria yang terdapat di dalam makanan bisa mempengaruhi fungsi otak manusia, menurut laporan para peneliti UCLA. Studi tersebut menemukan bahwa wanita yang makan yogurt probiotik secara teratur telah mengalami perubahan aktivitas di dalam wilayah-wilayah otak yang mengatur emosi dan sensasi-sensasi tubuh bagian dalam (internal).

Sebagai contoh, dalam sebuah test reaktivitas emosional yang melibatkan melihat gambar wajah-wajah yang marah atau ketakutan, para wanita yang sebelumnya telah mengkonsumsi probiotik dua kali sehari selama satu bulan menunjukkan penurunan aktivitas di dalam wilayah-wilayah ini. Ini adalah sebuah indikasi dari berkurangnya kecemasan (anxiety), menurut ahli saraf Daniel Amen, MD, seorang pakar pencitraan otak yang tidak terlibat di dalam penelitian tersebut.

Sebaliknya, para wanita yang tidak mengkonsumsi probiotik mengalami peningkatan aktivitas atau stabil di dalam wilayah ini selama test reaktivitas emosional berlangsung. Penelitian tersebut, yang melibatkan 36 orang wanita, diterbitkan dalam jurnal tinjauan sejawat Gastroenterology. 


Bisakah Probiotik Membuat Orang Lebih Bahagia?

“Temuan kami ini mengindikasikan bahwa sebagian dari kandungan yogurt bisa jadi punya potensi mengubah cara otak kita merespon terhadap lingkungan,” kata Dr. kirsten Tillich, seorang profesor pengobatan pada David Geffen School of Medicine milik UCLA dan pengarang kepala dari penelitian tersebut, dalam sebuah pernyataannya.

“Jika kita pertimbangkan implikasi dari penelitian ini, maka pepatah lama yang berbunyi ‘Anda adalah apa yang Anda makan’ bisa mempunyai arti baru,” kata Dr. Tillich.


Seorang peneliti psikologi di University of Canterbury di New Zealand sangat antusias mengenai potensi probiotik untuk memperbaiki mood ini sehingga dia telah meluncurkan sebuah studi terbaru di mana 80 orang pasien depresi akan diberi suplemen probiotik selama empat bulan.

“Saya harap studi saya ini akan menemukan bahwa perawatan dengan probiotik bisa mengubah level zat-zat tertentu di dalam darah dan otak, yang secara esensial membuat orang lebih bahagia,” kata peneliti Amy Romijin pada 3 News.

Diperkirakan satu dari 10 orang dewasa menderita sejenis depresi, menurut CDC.

“Keperluan akan sebuah pendekatan baru dalam menangani depresi sangat mendesak, karena therapi yang ada saat ini tidak terlalu berhasil,” kata Dr, Amen, yang juga merupakan penulis buku Unleash the Power of the Female Brain: Supercharging Yours for Better Health, Energy, Mood, Focus, and Sex. Jika  Anda mengumpulkan berbagai penelitian tentang antidepresan baik yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan, Anda akan tahu bahwa cara penanganan yang kita punya saat ini tidak lebih baik dari yang ada 50 tahun yang lalu.” (By Lisa Collier Cool, Jul 12, 2013)


http://health.yahoo.net/experts/dayinhealth/are-probiotics-new-prozac
Read more
 
© Hasim's Space | Design by Blog template in collaboration with Concert Tickets, and Menopause symptoms
Powered by Blogger