Menjadi Orang Baik untuk Hari tua


Pensiunan guru SD itu berusia lebih kurang 73 tahun. Itu berarti sudah sekitar 13 tahun dia pensiun, tak lagi bekerja sebagai guru, bahkan tak pula mengerjakan apa-apa lagi. Kegiatannya sehari-hari hanyalah menjalankan fungsi sosialnya sebagai anggota masyarakat; menghadiri acara pernikahan, kematian, dan kegiatan sosial lainnya serupa itu.

Tapi dalam tiga atau empat tahun terakhir ini dia tak lagi sering terlihat di masyarakat. Paling-paling, jika ada tetangga sebelah rumahnya, atau beberapa rumah lagi, mengadakan acara barulah dia muncul. Itupun belum tentu. Kabarnya dia sakit, tapi bukan sakit keras. Cerita yang banyak terdengar, dia mengalami himpitan ekonomi yang parah. Sedemikian parahnya sehingga, jika ada orang yang lewat di depan rumahnya, dia sapa dan dia ajak mampir, sekedar untuk meminta sumbangan ala kadarnya.

Ketika masih aktif sebagai guru PNS, dia mengalami beberapa kali pindah sekolah, semua itu  bukan karena keinginannya. Dia dipindahkan karena sering ribut dengan rekan kerjanya. Di tempat manapun dia bekerja, dia sulit menyesuaikan diri. Dalam satu perselisihan, dia pernah menampar kepala sekolahnya.

Dia pernah dipindahkan ke sebuah sekolah terpencil yang memakan waktu berhari-hari untuk mencapainya, dan harus ditempuh melalui laut. Untunglah dia di sana bertugas sebagai kepala sekolah, sehingga dia tidak harus masuk setiap hari. Menurut para tetangganya, dia hanya beberapa hari saja masuk sekolah dalam sebulan. Selebihnya, dia diam di rumah. Entah apa yang dia kerjakan.

Namun, tak lama kemudian, menjelang pensiun, dia dipindahkan lagi ke sekolah di kotanya, tak jauh dari rumahnya. Kepala sekolah terpaksa harus menerima, dengan berat hati. Kabarnya, baik kepala sekolah, maupun guru-guru di sekolah yang terakhir ini pusing tujuh keliling melihat tingkah lakunya. Berkali-kali mereka memberi usulan ke Dinas Pendidikan Kabupaten agar dia dipindahkan ke sekolah lain, tapi tak ada tanggapan.

Dia seharusnya hidup tenang di hari tuanya sekarang, dengan gaji pensiun yang seharusnya cukup untuk menghidupi dirinya sendiri. Namun dia berhadapan dengan masalah keluarga yang tak pernah selesai, yang terus menggerogoti jiwaya.

Beberapa tahun setelah dia pensiun, istinya yang tak bekerja apa-apa untuk menyokong kehidupan keluarga meninggal dunia, meninggalkan empat orang anak mereka yang semuanya laki-laki.

Anaknya yang tertua, yang pernikahannya dulu dirayakan besar-besaran, dengan uang pinjaman dari bank, sudah duluan meninggal dunia, meninggalkan seorang anak Perempuan yang kini tinggal bersama mereka. Si anak sulung ini semasa hidupnya tak bekerja apa-apa karena memang tak bisa bekerja. Kematiannya meninggalkan banyak utang yang harus dilunasi.

Anaknya yang kedua yang bekerja sebagai tukang servis elektronik meninggal dunia baru-baru ini akibat penyakit lambung. Semasa hidupnya, anak yang kedua ini juga lebih merupakan beban daripada membantu, meski mereka tinggal terpisah.

Anaknya yang ketiga, yang sudah menikah dan memiliki seorang bayi, yang juga bekerja sebagai tukang servis elektronik, kini tinggal bersama dirinya. Tapi dengan semakin banyaknya orang yang bekerja sebagai tukang servis elektronik sekarang ini, pekerjaan inipun tidak cukup membantu mengangkat perekonomian mereka.

Adapun si anak bungsu, kini kabur entah ke mana, meninggalkan utang yang tidak sedikit dan menyebar ke mana-mana.

Menurut cerita desas-desus, gaji pensiun bekas guru SD ini habis untuk membayar utang-anak-anaknya, tak termasuk si anak bungsu yang kabur itu.

Hingga usianya yang ke-73 tahun itu, tak ada satupun anaknya yang memiliki pekerjaan yang mapan dan bisa membuat rumah sendiri. Satu-satunya rumah yang mereka miliki Adalah rumah yang sekarang mereka tempati. Sebuah rumah sederhana yang terbuat dari kayu, berlantai beton.

Pernikahan anak pertamanya yang diselenggararakan besar-besaran itu tak diikuti oleh anak-anaknya yang lain. Bahkan tetanggapun tak ada tahu ketika ketiga anak-anaknya yang lain menikah.

Di sisi lain, ada seorang pensiunan guru SD juga yang hidup mapan dengan harta berlimpah, tanah di mana-mana, dan memiliki usaha kecil-kecilan yang mapan. Empat orang anaknya sudah dia bangunkan rumah masing-masing, meski sebagian dari mereka belum memiliki pekerjaan yang mantap. Berbeda dengan pensiunan guru SD yang pertama, pensiunan guru SD yang satu ini memiliki karier yang berkembang, maju. Dalam hal pendidikan, pensiunan yang pertama yang hanya lulusan SPG, sedangkan pensiunan yang kedua ini melanjutkan pendidikannya hingga mencapai gelar sarjana Pendidikan. 

Setelah mendapat ijazah sarjana, dia mengajukan pindah mengajar ke sebuah sekolah menengah kejuruan (SMK). Kebetulan waktu itu ada SMK yang baru dibuka yang membutuhkan guru.

Tak hanya berhenti sebagai guru sekolah SMK, kariernya berlanjut hingga menjadi kepala sekolah. Mulanya, di sebuah SMK kecil yang baru didirikan. Beberapa tahun kemudian, dia pindah ke SMK asalnya. Istrinya yang juga semula guru SD, juga memiliki karier yang berkembang. Dia meningkat menjadi kepala sekolah. Dan di akhir masa tugasnya dia menjadi pejabat struktural dengan jabatan terakhir camat.

Pensiunan yang kedua ini berhasil menyekolahkan anak-anaknya hingga mencapai gelar sarjana semua, bahkan ada yang bergelar master. Sedangkan anak-anak pensiunan guru yang pertama, yang semuanya laki-laki itu, tak ada satupun yang melanjutkan ke perguruan tinggi hingga sarjana. Bahkan, ada yang cuma sampai SMP.

Membandingkan Nasib kedua pensiunan ini, kadang membuat kita berpikir, dosa apa yang telah diperbuat si pensiunan pertama hingga mengalami nasib yang begitu memprihatinkan di hari tuanya.

Mungkin ada yang tak setuju jika itu dikaitkan dengan dosa dan kepercayaan lainnya.

Namun pikiran seperti ini bisa dimaklumi mengingat perbandingan keadaan mereka di hari tua seperti bumi dengan langit. Taruhlah, si pensiunan pertama tak mungkin sekaya pensiunan yang kedua karena istrinya hanyalah seorang ibu rumah tangga yang tak punya penghasilan. Tapi, semestinya, dia memiliki kekayaan separuh dari kekayaan pensiunan yang kedua. Namun, kenyataannya, separuh pun tidak, bahkan mungkin sepersepuluhnyapun tidak.

Orang yang berpikir rasional akan mengatakan bahwa nasib mengenaskan yang dialami pensiunan pertama ini tak lain karena kesalahan manajemen di masa mudanya, ketika dia masih aktif sebagai guru PNS. Meski istrinya bukan pegawai, dan tidak memiliki pekerjaan apa-apa untuk menyokong keluarga, namun, sekurangnya, dia bisa mengatur keuangan keluarga, dan merencanakan masa depan anak-anak mereka.

Di sisi lain, mereka yang berpikiran klenik percaya bahwa apa yang dialami oleh guru pensiunan yang pertama itu adalah kualat. Dia kualat pada orang-orang yang pernah disakitinya. Orang-orang itu menyimpan dendam, tapi mereka tak berani melampiaskan dendam itu sehingga Tuhanlah yang membalaskannya. Pikiran seperti ini memang sulit dipercaya dan tak bisa dinalar, tapi dia tetap ada dan terus tumbuh subur di tengah-tengah masyarakat kita.

Apapun itu, mungkin kita bisa menarik hikmah dari cerita ini bahwa tidak ada salahnya menjadi orang baik karena takut akan kutukan di hari tua kita. Dan meski kutukan itu tidak ada, menjadi orang baik juga tidak merugikan kita apa-apa.

 

 

comment 0 comments:

Post a Comment

 
© Hasim's Space | Design by Blog template in collaboration with Concert Tickets, and Menopause symptoms
Powered by Blogger