![]() |
| Photo by Markus Spiske on Unsplash |
Sejauh ini kerusakan paling parah disebabkan oleh pemanasan global belum dirasakan secara universal. Panas 90 derajat di London pada bulan Mei membawa konsekuensi kesehatan yang nyata, namun tidak akan membunuh manusia dalam jumlah besar. Bahkan Florida, yang baru-baru ini luluh lantak oleh angin topan, mengalami kerugian ekonomi yang tidak begitu berarti bagi GDP negara bagian tersebut—meskipun pada level lokal, kerusakan yang ditimbulkannya sangatlah parah. Namun, bahkan panas 110 derajat di Las Vegas tidak sebanding dengan kondisi-kondisi di bagian-bagian dunia lain di mana perubahan iklim telah menjadi masalah untuk bertahan hidup. New Delhi, sebuah kota berpenduduk 20 juta, telah mencatat temperatur setinggi 1150 F disertai kualitas udara yang buruk.
Hingga sejauh ini, sebagian besar orang di dunia belumlah menjadi korban akibat perubahan cuaca—meski efek terburuk dari perubahan cuaca ini telah merusak beberapa wilayah di dunia.
Apa yang mendesak untuk diperhatikan ada di depan kita. Banyak negara di dunia telah mengingkari komitmen mereka terdahulu untuk mengurangi emisi gas rumah kaca. Kesepakatan Paris—sebuah kesepakatan internasional yang mengikat yang disetujui oleh 195 negara di COP21 pada tanggal 12 Desember 2015—telah membuat patokan yang jelas: Membatasi peningkatan temperatur hingga 1,50 C di atas level praindustri. Amerika Serikat Adalah satu di antara negara-negara yang telah mengabaikan kesepakatan ini.
Para ilmuwan telah mengembangkan detil-detil apa saja yang akan terjadi pada akbir abad ini jika pemanasan global berlanjut dengan kecepatan seperti yang ada sekarang. Akibat yang paling membahayakan akan terjadi pada skenario emisi-tinggi, di mana peningkatan pemanasan mencapai hingga mendekati 3-50 C di atas level praindustri pada tahun 2100. Jika dunia mengurangi bahan bakar fosil, dampak terburuk itu kecil kemungkinan akan terjadi—namun pengurangan ini belum dilaksanakan sekarang. Konsumsi bahan bakar fosil masih terus meningkat, dan Amerika Serikat telah mengabaikan pengembagan energi matahari dan energi angin, dan secara aktif terus meningkatkan pengeboran minyak dan pembukaan tambang batu bara baru.
Di bawah ini adalah dokumentasi resiko-reskio paling buruk yang bisa menimpa kehdupan manusia dan masyarakat, yang diambil dari proyeksi oleh WHO, IPCC, MIT, Stanford, dan berbagai jurnal ilmiah dan institusi riset.
Panas Ekstrem dan Habitabilitas
Di Sebagian Asia Selatan dan Timur Tengah, kombinasi panas dan kelembaban bisa jadi melampaui batas manusia bisa bertahan hidup—temperatur bola basah (wet-bulb temperature) mendekati 350C, di mana tubuh kita tidak lagi bisa mendinginkan diri sendiri. Pekerja buruh luar ruangan bisa jadi mempertaruhkan nyawa mereka di sebagian besar tahun, dan sistem pendingin akan kewalahan di wilayah-wilayah di mana listriknya tak menentu. Kematian bisa mencapai angka ribuan dengan cepat, di mana pekerja luar ruang yang lebih tua dan masyarakat miskin paling besar beresiko terkena dampak. Seiring berjalannya waktu, jutaan orang bisa jadi menghadapi masalah yang mengancam nyawa mereka selama beberapa bulan dalam satu tahun.
Pada suhu 40C, panas ekstrem yang semula diperkirakan hanya terjadi satu kali dalam satu abad akan menjadi peristiwa tahunan. Jika dikombinasikan dengan kekeringan yang panjang, ini akan mengurangi produktivitas pertanian secara tajam dan bisa menyebabkan ribuan orang mati akibat cuaca panas.
Level Permukaan laut dan Kerusakan Pesisir
Level permukaan laut di seluruh dunia bisa naik lebih dari tiga kaki pada tahun 2100, Sebagian disebabkan oleh semakin cepatnya lapisan es di Greenland dan Antartika Barat menghilang. Dataran pesisir yang rendah akan tergenang berulang-ulang secara permanen.
Jutaan manusia kemugkinan harus mencari tempat pindah--khususnya ke dan sekitar wilayah kota-kota seperti Dhaka, Shanghai, Miami, New York, Jakarta, Mumbai, dan New Orleans. Wilayah-wilayah yang tidak sepenuhnya tenggelam akan menghadapi masalah banjir kronis, angin badai kencang, dan erosi. Triliunan dolar aset dan infratrsuktur akan hancur, dan suplai air bersih di banyak wilayah akan terganggu.
Tindakan meninggalkan wilayah pinggir laut ini dan aliran para pengungsi akan semakin memingkatkan resiko instabilitas politik dan konflik militer di wilayah-wilayah yang menjadi tujuan para pengungsi tersebut.
Ketidakamanan Makanan dan Air
Panas, kekeringan, banjir, dan pergeseran musim (monsoon) yang dan pola angin topan akan semakin berdampak buruk bagi tanaman pertanian seperti gandum, padi, dan jagung—makanan pokok di wliayah Asia Selatan, Amerika Utara, dan China. Tanpa adanya adaptasi signifikan tentang varietas tanaman baru dan sistem irigasi, hasil-hasil pertanian tersebut bisa jadi jauh menurun di seluruh dunia.
Ratusan juta manusia kini sudah menghadapi masalah air, dan masalah tersebut akan semakin dalam ketika glasier-glasier mencair, pola curah hujan berubah, dan kekeringan menjadi semakin sering dan parah. Kelangkaan air akan memicu timbulnya dampak krisis makanan dan meningkatkan kemungkinan timbulnya konflik.
Kolaps-nya Masyarakat dan Ekonomi
Puluhan hingga ratusan juta orang akan kehilangan tempat tinggal—baik di dalam negeri mereka sendiri maupun di wilayah perbatasan negara—disebabkan panas, banjir, kekeringan, dan kelaparan. Instabilitas sosial akan meningkat disertai konflik kekerasan dan gonjang-ganjing politik, yang akan mulai paling akut di wilayah-wilayah rawan di Afrika dan Asia Selatan.
Korban ekonomi akan mencapai triliunan, dipicu oleh bencana iklim, menurunnya produktivitas, dan besarnya biaya adaptasi. Negara-negara yang lebih miskin dan masyarakat berpenghasilan rendah akan menanggung beban paling berat, kurangnya cadangan finansial atau jaringan keamanan dari pemerintah untuk bertahan atau memulihkan diri dari guncangan yang berulang-ulang.
Apakah ini merupakan gambaran kondisi kemanusiaan di masa depan atau bukan, itu tergantung pada pilihan yang kita buat sekarang. Variable sentralnya jelas: Apakah penggunaan bahan bakar fosil akan terus meningkat—atau akhirnya akan menurun. (Douglas McIntyre).
https://www.yahoo.com/news/science/articles/worst-dangers-climate-change-still-131000236.html

Post a Comment