Laki-Laki yang Memandang Laut


Mira memperlambat laju kendaraannya. Sudah hampir tujuh jam perjalanan dia tempuh dari ibukota provinsi. Keletihan akibat menyetir seolah-olah terobati begitu kendaraannya mendekati garis pantai, memasuki simpang jalan tanah berbatu menuju surfcamp tempat dia dan Andrew dulu hidup bersama, berbagi cerita suka dan duka. Kini, keletihan itu berubah menjadi rasa galau, cemas dan was-was. Sudah dua tahun lebih dia tidak bertemu Andrew; bagaimanakah Andrew sekarang, dan apakah dia masih sudi bertemu dengannya.

Memasuki simpang jalan tanah berbatu itu, Mira melihat banyak perubahan. Kini sudah ada gapura besar di persimpangan jalan, berornamen khas daerah setempat. Di kiri kanan jalan sepanjang kira-kira lima ratus meter menuju surfcamp miliknya dan Andrew, sudah banyak berdiri camp-camp baru milik penduduk setempat. Beberapa di antaranya berpagar beton berukir, ada juga yang membangun candi kecil di halamannya, mirip suasana di Bali. Persaingan bertambah ketat pikir Mira dalam hati.

Bagaimanakah Andrew mengantisipasi perkembangan pesat seperti ini. Dulu hanya dia dan Andrew yang memiliki camp di sini, setahun kemudian disusul oleh Steve Hines laki-laki asal Australia yang membangun camp sejenis di sebelah mereka. Saat itu pun persaingan sudah ketat. Andrew dan Steve kerap bentrok memperebutkan walk in tourist yang mencari tempat menginap. Steve sebenarnya mengelola sebuah biro perjalanan. Camp miliknya digunakan untuk menampung para turis yang mengikuti paket perjalanan yang dikelolanya. Tapi, random tourist juga dia sikat. Inilah yang sering membuat Andrew jengkel; turis yang sedianya menginap di tempat mereka, kadang, beralih ke tempat Steve. Kalau sudah begini, Andrew jadi uring-uringan; ngomel-ngomel, mencaci maki, bahkan, menantang Steve berkelahi secara fisik. Pernah sekali Andrew memukul pembantunya Steve. Kemudian urusan menjadi panjang karena si pembantu itu mengadu ke polisi. Ditambah dengan biaya fisik dan materiil selama mengikuti persidangan, kerugian mereka cukup besar. Andrew memang keras dan temperamental kalau menyangkut urusan bisnis. Tapi tidak dengan Mira. Pada mira dia lembut, bahkan, teramat lembut sehingga timbul kesan dia tunduk di bawah Mira. Inilah yang membuat Mira bertahan hidup dengannya selama sepuluh tahun lebih sedikit.

Konon., Andrew-lah yang pertama kali menemukan tempat ini; tempat yang kemudian menjadi tujuan para peselancar dari seluruh dunia. Dahulu, tempat ini tidak dikenal oleh para peselancar; hanya sekali-sekali turis datang, itu pun hanya untuk melihat-lihat, dan tinggal selama dua-tiga hari. Tapi, kini para peselancar yang datang dari lima benua di dunia ini tinggal lama, berminggu, bahkan berbulan-bulan. Hal ini membawa dampak perekonomian yang positif bagi wartga setempat. Kalau saja Andrew tidak menemukan tempat ini dan mempromosikannya melalui internet, mungkin tempat ini masih merupakan pantai perawan yang tak terjamah; karena para nelayan tidak berani melaut dari pantai ini, mengingat ombaknya yang besar-besar.

Mira masih ingat masa-masa sulit ketika dia dan Andrew melakukan survei di sepanjang pantai di kawasan pesisir ini, mencari tempat yang mempunyai ombak yang cocok untuk berselancar, menggunakan sepeda motor. Dahulu tempat ini masih semak belukar, satu-satunya akses hanyalah jalan setapak yang hanya bisa dilalui sepedamotor. Ketika mereka tiba di tempat ini, Andrew berkata inilah yang dia cari; sebuah tempat terpencil dengan pantai berpasir putih berkoral dengan ombak yang besar dan konsisten dengan pemandangan alam yang yang menakjubkan. Andrew tak henti berdecak kagum ketika itu, “This is a world-class.” katanya.

Kemudian, dengan bekerja sama dengan teman-temannya, dan dengan bantuan Saudara-Saudaranya di Amerika, Andrew dan Mira membangun sebuah surfcamp tempat menampung para peselancar menginap. Mulanya, sebuah bangunan permanen berlantai dua berdinding beton tepat di bibir pantai menghadap ke laut dengan luas tanah lebih kurang tiga perempat hektar. Kemudian, berkembang dengan tambahan beberapa bangunan pendukung seperti bar dan tempat olahraga. Ketika keuntungan semakin berlipat, mereka berekspansi ke tempat lain dengan membeli tanah di beberapa tempat yang biasa turis bermain selancar. Saat itu, mereka sudah mempunyai dua surfcamp di lokasi yang berbeda, ditambah dengan satu lahan yang masih kosong yang siap untuk dibangun.

Namun, sayangnya, ketika bisnis mulai berkembang, Andrew semakin menunjukkan sifat serakahnya. Tiap surfing spot yang ada di kawasan pesisir ini mau dia kuasai semua. Lahan yang sudah dia beli diberi pagar supaya orang lain tidak bisa masuk kecuali para peselancar yang menginap di tempatnya. Para peselancar lain yang mencoba masuk ke pekarangannya dia usir. Keserakahannya semakin menjadi-jadi ketika dia mengakui bahwa dialah yang sang pemilik laut, dan ombak tempat bermain selancar itu adalah haknya. Peselancar lain yang mencoba bermain di “wilayahnya” dia coba usir. Hal ini, kerap menimbulkan bentrokan yang mengarah ke perkelahian fisik. Kalau sudah begini, Mira Cuma bisa mengurut dada.

Ketika surfcamp milik masyarakat lokal mulai bermunculan, Andrew makin pusing. Tapi, pada masyarakat lokal dia tidak berani berbuat macam-macam. Pernah suatu ketika, dia mengusir seorang penduduk yang mencoba mendekati camp-nya. Tapi, orang itu bukannya pergi, malah menantangnya berkelahi dengan golok. Dan masalahnya tidak hanya selesai sampai di situ, karena, kemudian, datang lagi beberapa orang penduduk lokal yang ingin mengeroyoknya. Untunglah, pada waktu itu, masalahnya bisa diselesaikan dengan damai.

Wajar juga Andrew uring-uringan dan pusing tujuh keliling setiap kali ada pesaing baru yang membanguan camp di dekatnya, karena, dialah yang pertama kali mengembangkan tempat ini. Dahulu tempat ini hanya semak belukar, kini, sudah ramai, menyerupai sebuah kampung kecil. Dahulu, tempat ini gelap gulita di malam hari, kini sudah terang. Andrew dan Steve, dahulu, patungan memasukkan listrik PLN ke wilayah ini dengan biaya yang tidak sedikit. Karena, dahulu, tidak ada tiang listrik di sini, maka biaya pemasangan listrik masih harus ditambah lagi dengan biaya pembelian tiang yang jumlahnya tidak sedikit. Sekarang, camp-camp baru ini tinggal menikmati hasilnya; mereka bisa memasang listrik tanpa harus memikirkan biaya membeli tiang.

Lebih memusingkan lagi karena camp-camp baru ini memasang tarif yang lebih murah dari camp-nya Andrew dan Steve, sehingga turis ramai beralih ke sana.

Para peselancar yang pernah datang ke tempat wilayah ini, rata-rata, tidak menyukai Andrew. Di internet, beredar caci maki mengenai dirinya. Nyaris tidak ada tulisan yang memuji atau menyukai Andrew di internet.

***

Mobil Mira merangkat menyelusuri jalan tanah berbatu itu. Hampir sampai. Pikirannya makin galau. Rasa rindu, cemas, dan was-was makin menggelora bercampur dengan romantisme tempat itu. Beberapa orang yang berdiri di pinggir jalan di depan camp tidak mengenalinya karena mobilnya berkaca gelap dan serba tertutup.

Kalau saja aku dulu tidak lari dengan laki-laki lain, mungkin aku masih berada di tempat ini, pikirnya. Sedangkan Andrew sudah memutuskan untuk menghabiskan sisa-sisa hidupnya di tempat ini. Hanya sekali-sekali dia pulang ke Amerika jika ada urusan kekeluargaan, atau jika pikirannya pusing.

Inilah kelemahan Mira. Dia terlalu mudah jatuh cinta dengan laki-laki yang tampan dan lebih muda dari dirinya. Beberapa kali dia punya affair dengan lelaki muda lokal. Dan, beberapa kali pula kedapatan oleh Andrew. Tapi, Andrew memafkannya. Tapi, kali ini, masalahnya lebih serius dari sekedar affair. Mira benar-benar jatuh cinta dengan laki-laki yang tidak lain adalah sopirnya. Sopir yang biasa mengantar dia kemanapun dia pergi itu kini telah menjadi suaminya.

Dari beberapa segi laki-laki itu memang mempunyai kelebihan dibandingkan dengan Andrew; dia lebih muda, lebih tampan, dan lebih kuat di ranjang. Faktor-faktor inilah yang membuat Mira berpaling, ditambah lagi dengan sifat-sifat Andrew yang sering membuat dia jengkel karena sering bentrok dengan orang lain, dan pendiriannya untuk tetap tidak mempunyai anak seumur hidupnya; selama sepuluh tahun mereka hidup bersama tanpa anak. Meskipun, secara ekonomi, laki-laki itu kalah jauh dari Andrew, dan kenyataan bahwa dia sudah mempunyai istri dan anak, tidak menyurunkan langkah Mira untuk menjadikan dia suami. Dan, itu terbukti, selama Mira hidup dengan laki-laki itu dua tahun ini, dialah yang mencari nafkah; laki-laki itu hanya membantu.

Lama-lama, Mira merasa jengkel juga; dia merasa terus-menerus dieksploitasi oleh suami barunya itu; keuntungan dari usaha dagang yang dijalankannya lebih banyak diambil oleh laki-laki itu untuk menghidupi anak-anak dan istrinya yang pertama. Kenyataan bahwa dia masih juga tidak punya anak, lama-lama, menambah tebal keinginannya untuk kembali pada Andrew. Apalagi, akhir-akhir ini laki-laki itu lebih banyak meluangkan waktu bersama istrinya yang pertama. Nafkah bathin pun sudah jarang dia terima.

Usia Mira dengan Andrew sebenarnya terpaut jauh; Mira di awal tigapuluhan dan Andrew di akhir empatpuluhan. Perkawinan mereka sebenarnya ditentang oleh keluarga Mira, karena, untuk itu, Mira harus melepaskan keyakinan keagamaannya. Mereka menikah di gereja, sedangkan Mira beragama Islam. Sampai saat ini Mira tidak diakui oleh kedua orang tuanya sebagai anak. Tapi, mereka bersedia menerimanya kembali jika dia lepas dari Andrew dan kembali beragama Islam. Hal yang membuat Mira tertarik adalah ketampanan Andrew, uangnya, dan keperkasaannya di ranjang. Tapi, sekarang, seiring dengan bertambahnya usia, keperkasaan itu perlahan hilang, meski ekonomi cenderung membaik. Mobil yang dikemudikannya sekarang adalah hasil usahanya mengelola surfcamp bersama Andrew. Meski dia tidak menanamkan modal uang karena dia memang tidak punya, tapi Andrew memberinya sebagian saham. Sampai sekarang pun, dia masih berstatus sebagai pemegang saham dan mendapatkan keuntungan dari sana.

***

Sudah dua tahun, pikir Mira dalam hati. Perubahan banyak sekali terjadi. Perlahan mobilnya mendekati pintu pagar. Dia hampir tidak mengenali pintu utama pagar camp tempat dulu dia tinggal itu. Dulu pintu utama itu terbuat dari sembarang kayu dengan penukangan yang tidak rapi. Sekarang, sudah diganti dengan kayu pilihan, dicat, dan tampak rapi dan simetris.

Satpam penjaga pintu utama terkejut menyambut kedatangannya, sembari membuka pintu lebar-lebar agar mobilnya bisa masuk. “Andrew ada” tanyanya sambil tersenyum seolah-olah biasa, padahal, jantungnya berdebar-debar. “Ada.” Jawab satpam balas tersenyum. “Ibu baru nyampe?” Mira mengangguk lemah. “Di mana?” “Di pantai. Begitulah, Bu. Setiap sore dia selalu duduk di pantai memandang ke laut. Begitu terus selama berjam-jam.”

Suasana camp itu tampak sepi. Musim selancar sudah usai. Mira memarkir mobilnya di bawah pohon kelapa, di depan bangunan utama. Matanya menerawang pohon-pohon di sekitarnya. Tanaman bunga-bungaan tampak lebih tinggi dan lebih besar dari dua tahun lalu, daun-daunnya pun lebih rimbun. Pot-pot bunga besar di depan bangunan utama tampak bersih dan tertata rapi, pertanda dirawat setiap hari.

Tidak ada seorang pun yang menyambutnya di situ. Bangunan utama tampak lengang meski pintunya terbuka lebar. Mungkin karyawan sudah pulang, pikirnya. Biasanya karyawan memang pulang sore hari kalau tidak ada turis yang menginap, atau sedang berpergian entah ke mana.

Mira memasuki bangunan utama tempat biasanya turis menginap itu. Perlahan dia menyelinap, dengan niat memberi kejutan kalau-kalau ada orang di dalamnya. Tapi, benar saja, tidak seorang pun dia temui di dalam. Berarti Andrew melewati malam-malamnya seorang diri, katanya dalam hati.

Sejenak pandangannya menerawang ruang tamu. Tapi, tidak ada perubahan apa-apa sejak dua tahun lalu. Dari situ dia langsung menuju pintu belakang yang menghadap laut. Angin laut sore menerpa wajahnya dengan kencang begitu dia membuka pintu.

Di bawah pohon yang daunnya tinggal sedikit. Di pagar pembatas rumput dengan pasir putih. Di atas balai-balai papan yang biasanya tempat turis duduk santai memandang ombak, seorang laki-laki duduk termenung memandang laut. Pakaiannya lusuh seperti sudah dipakai berminggu-minggu. Rambut, jenggot, dam kumisnya tergerai panjang seperti tak terurus

Andrew dulu pernah berkata bahwa laut adalah istri keduanya. Andrew juga pernah berkata bahwa dia tidak mungkin hidup tanpa laut.

Kilauan cahaya matahari senja di permukaan laut yang tenang melukis laut bak permadani jingga.***


Catatan: Cerita ini hanya fiksi belaka. Jika ada kesamaan nama dan tempat kejadian, itu hanyalah kebetulan belaka.

comment 0 comments:

Post a Comment

 
© Hasim's Space | Design by Blog template in collaboration with Concert Tickets, and Menopause symptoms
Powered by Blogger