Waspada, Ilmuwan Temukan Varian Virus Corona yang Lebih Berbahaya

  Coronavirus testing at a Virginia Garcia clinic in Hillsboro, Ore., May 1, 2020.  (Ruth Fremson/The New York Times)

Para ilmuwan di Oregon telah menemukan sebuah versi lokal dari varian virus corona yang pertama kali muncul di Inggris yang telah menyebar dengan cepat—tapi sekarang varian virus corona tersebut telah terkombinasi dengan sebuah virus mutasi yang boleh jadi membuatnya menjadi lebih tahan terhadap vaksin.

Para peneliti sejauh ini telah menemukan sebuah kasus tunggal dari kombinasi virus yang mengerikan ini, namun analisis genetik mengisyaratkan bahwa varian virus tersebut didapat dari masyarakat dan tidak tumbuh dan berkembang di dalam diri si pasien.  

“Kita tidak mengimpor varian virus ini dari mana-mana—varian virus ini muncul secara spontan.” Kata Brian O’Roak, seorang ahli genetik di Universitas Sains dan Kesehatan Oregon yang memimpin penelitian tersebut. Dia dan para koleganya berpartisipasi dalam sebuah upaya dari Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit untuk melacak varian-varian virus , dan mereka telah memasukkan hasil penelitian mereka tersebut di dalam database yang di-share oleh para ilmuwan.

Sign up for The Morning newsletter from the New York Times

Varian virus yang pertama kali ditemukan di Inggris, yang dinamakan virus B.1.1.7, kini telah menyebar luas di AS, dan tercatat ada 2.500 kasus tularan varian virus tersebut di 46 negara bagian. Jenis virus ini lebih menular dan lebih mematikan dari versi virus corona aslinya, dan diperkirakan akan terhitung sebagai sebagian besar dari kasus tularan virus corona di AS dalam beberapa minggu ke depan.

Versi virus baru yang muncul di Oregon ini mempunyai tulang punggung yang sama, namun juga merupakan sebuah mutasi—E484K, atau “Eek”—yang ditemukan dalam berbagai varian virus yang terdapat di Afrika Selatan, Brazil dan New York City.

Penelitian laboratorium dan percobaan klinis di Afrika Selatan mengindikasikan bahwa virus mutasi Eek menyebabkan vaksin yang ada saat ini kurang efektif dengan cara membuat respon imun tubuh menjadi tumpul. (Vaksin masih bekerja, namun temuan ini cukup mengkhawatirkan sehingga Pfizer-BioNTech dan Moderna telah mulai menguji versi terbaru dari vaksin mereka yang dirancang untuk membasmi varian virus yang ditemukan di Afrika Selatan.)

Varian B.1.1.7 dengan Eek juga telah muncul di Inggris, yang disebut-sebut sebagai “varian yang mengkhawatirkan” oleh para ilmuwan. Namun virus yang ditemukan di Oregon tampaknya telah mengalami evolusi secara independen, kata O’Roak.

O’Roak dan para koleganya menemukan varian virus tersebut di antara berbagai sampel virus corona yang dikumpulkan oleh Laboratorium Kesehatan Masyarakat Oregon State dari seluruh negara bagian Oregon, termasuk sebagian dari wabah yang muncul dalam program layanan kesehatan. Dari 13 hasil test yang mereka analisis, 10 ditemukan sebagai virus B.1.1.7 sendiri, dan satu menjadi kombinasi B.1.1.7 dan Eek.

Para ahli lain mengatakan bahwa temuan tersebut tidaklah mengejutkan, karena mutasi Eek telah muncul dalam bentuk virus di seluruh penjuru dunia. Namun kejadian mutasi dalam B.1.1.7 menarik untuk diamati, kata mereka.

Di Inggris, versi varian virus ini hanya ditemui dalam sejumlah kecil kasus. Namun pada waktu kombinasi virus ini berevolusi di sana, B.1.1.7 telah terlebih dahulu menyebar di negara itu.

“Kita berada di titik di mana B.1.1.7 masih dalam tahap perkenalan,” di AS, kata Stacia Wayman, seorang ahli genomik komputasional di Universitas California, Berkeley. “Ketika virus tersebut berevolusi, dan ketika dia secara perlahan menjadi dominan, virus tersebut bisa menimbulkan mutasi lebih banyak lagi.”

Mutasi-mutasi virus bisa jadi memperkuat atau memperlemah satu sama lain. Sebagai contoh, varian-varian virus yang ditemukan di Afrika Selatan dan Brazil mengandung banyak mutasi yang sama, termasuk Eek. Namun versi Brazil memiliki mutasi K417N yang tidak ditemukan dalam versi dari Afrika Selatan.

Dalam sebuah penelitian yang terbit hari Kamis di Nature, para peneliti membandingkan respon-respon antibodi terhadap tiga varian virus yang diteliti—yaitu yang ditemukan di Inggris, Afrika Selatan dan Brazil. Senada dengan penelitian-penelitian lainnya, mereka menemukan bahwa varian virus yang menyerang Afrika Selatan adalah yang paling resisten terhadap antibodi yang diproduksi oleh sistem imun.

Namun varian virus yang beredar di Brazil tidaklah begitu resisten, meskipun membawa mutasi Eek. “Jika Anda memiliki mutasi yang kedua, Anda tidak akan mendapat efek yang begitu buruk,” kata Michael Diamond, seorang ahli imunologi virus di Universitas Washington di St. Louis, yang mempimpin penelitian tersebut.

Terlalu dini mengatakan apakah varian virus yang ditemukan di Oregon akan berkelakuan sama dengan yang ditemukan di Afrika Selatan atau Brazil. Namun ide bahwa mutasi-mutasi lain bisa memperlemah efek Eek adalah “berita gembira” kata Wayman.

Secara keseluruhan, katanya, temuan Oregon ini semakin meyakinkan kita akan perlunya untuk terus waspada, termasuk memakai masker, hingga timbul kekebalan dalam masyarakat dalam jumlah yang substansial.

“Orang tidak perlu ketakutan namun harus tetap waspada,” katanya. “Kita tidak boleh memperlemah perlindungan kita ketika masih banyak varian-varian virus yang bisa menular.”

This article originally appeared in The New York Times.

© 2021 The New York Times Company

 

comment 0 comments:

Post a Comment

 
© Hasim's Space | Design by Blog template in collaboration with Concert Tickets, and Menopause symptoms
Powered by Blogger