Entah kata apa yang paling tepat untuk menggambarkan orang-orang seperti ini. Mungkin bodoh dan gila terlalu kasar. Tapi, sungguh, saya tak bisa menemukan kata yang layak yang bisa diterima semua orang.
Ketika seorang kerabat meninggal dunia secara mendadak dan mengejutkan, kaum kerabat, dekat dan jauh, seperti biasa, datang berkumpul melayat. Mungkin kata mendadak di sini kurang tepat. Tapi kejadiannya memang datang tiba-tiba. Pagi itu almarhum tiba-tiba jatuh terkulai, lemas tak berdaya. Oleh anak istrinya dia dilarikan ke Puskesmas terdekat. Tapi Puskesmas tak sanggup dan memberi rujukan menuju sebuah rumah sakit di kota yang berjarak sekitar empat jam perjalanan. Tapi, malang, hanya sehari berada di rumah sakit tersebut, beliau menghembuskan napasnya yang terakhir.
Setibanya kembali di rumah dari rumah sakit, putra tertua almarhum mendapati rumah sudah ramai dengan kaum kerabat yang melayat. Dia perhatikan ada satu kotak plastik ikan, dan bumbu-bumbu dapur yang siap digunakan untuk dimasak. Sesuai adat di kampung tersebut, apabila ada sanak saudara yang meninggal dunia, maka para pelayat yang datang dari jauh harus diberi makan terlebih dahulu ketika mereka tiba, sebelum mereka dapat membantu apa yang mereka bisa.
Melihat itu, si putra almarhum merasa lega. Tapi, belum lagi rasa lelahnya reda akibat perjalanan jauh, dan pikirannya yang masih dalam keadaan berduka, datanglah kakak sepupunya; anak dari kakak almarhum.
Si kakak sepupu tersebut langsung menemuinya dan menagih harga ikan tersebut. “Ini harus segera dibayar. Ditunggu yang punya sekarang,” katanya. Putra almarhum terkejut. Dia mengira ikan itu diberikan gratis oleh kakak sepupunya itu. Dan karena begitulah layaknya ketika seseorang meninggal dunia; kaum kerabat menyumbang secara ikhlas, apalagi yang masih tergolong kerabat dekat seperti keponakan almarhum ini.
Mau tak mau si putra almarhum merogoh sakunya dan memberikan uang sebanyak harga yang diminta.
Namun, belum lagi hilang rasa terkejutnya, datang pula bibinya; kakak perempuan dari almarhum. “Ini barang yang saya bawa juga harus dibayar,” katanya. “Harganya total Rp.200 ribu.” Namun di putra almarhum tak bisa lagi menahan sabar. “Serius bibi menjual ini dengan kami?,” hardiknya dengan mimik muka terkejut. “Iya, nak. Kamu kan tahu bibi juga dalam keadaan kesulitan,” kata si bibi. Karena tak ingin berdebat lebih lanjut si putra almarhum membayar sebanyak yang diminta.
Masih terbayang di benak si putra almarhum kerjadian ketika putra tertua bibinya itu menikah beberpa bulan yang lalu. Waktu itu bibinya tersebut menyuruh dia meminjam mobil untuk keperluan pengantin. Dengan berat hati si putra almarhum meminjam mobil bosnya. Untunglah si bos memberi izin. Namun, perjalanan menggunakan mobil tersebut tidak mulus karena salah satu bannya pecah, kempes. Si putra almarhum turun tangan sendiri mengatasi ban bocor tersebut, bibinya, dan kerabat lainnya yang ada di dalam mobil, menunggu dan menyaksikan saja. Untuk mengganti ban bocor itu, dia mengeluarkan uang sebanyak Rp. 1 juta. Dan, dari Rp. 1 juta tersebut, tak sepeserpun bibinya ikut menyumbang. Dan, kini, ketika bapaknya meninggal dunia, si bibi datang untuk menjual sembako.
Mungkin ada yang mengatakan bahwa tindakan si kakak sepupu dan si bibi tersebut wajar karena mereka juga dalam keadaan kesulitan. Mungkin memang wajar. Tapi, ingat, dalam keadaan berduka, keluarga dekat seperti bibi, dan kakak sepupu semestinya datang membantu, bukan berjualan, apalagi kalau mengambil untung dari itu. Kalau tidak mampu memberi sesuatu atau menyumbang uang, datanglah dengan tangan kosong untuk menyumbangkan tenaga, atau sekedar menunjukkan rasa duka cita. Begitulah selayaknya Tindakan orang yang bisa berfungsi secara normal.

Post a Comment