Harga Sebuah Pengalaman


“Ganti dululah sepedamotormu itu,” kata teman-temanku. Entah sudah berapa kali mereka mengatakan itu. Mungkin sudah ribuan kali. Satu orang saia sudah mengucapkannya puluhan kali. Kalau sepuluh orang berarti sudah ratusan kali. Rupanya satu kali saja tidak cukup bagi mereka.

Kenapa sih mereka yang pusing. Sedangkan saya sendiri enjoy dengan kendaraan yang saya miliki itu. Sepedamotor saya itu memang sudah tua, sudah hampir 14 tahun. Tapi tidak ada masalh dengannya. Dia tidak pernah rewel, tidak pernah cerewet seperti teman-temanku itu. Tidak pernah minta diganti. Dia tetap setia, meski hubungan kami sudah berlangsung lama.

Ya, sepedamotor Honda Grand yang kumiliki itu memang sudah tua, yang tertua di antara sepedamotor teman-temanku, mereka yang cerewet itu. Kalau disandingkan di antara sepedamotor baru, sepedamotorku itu mati gaya. Tapi soal mesin dia tidak kalah. Masih kuat diadu. Masih bisa dibawa ngebut. Sensasi mengendarainya masih nikmat. Selain itu bahan bakarnya juga irit. Satu-satunya kelemahan, ya itu tadi, modelnya yang ketinggalan jaman. Tapi itu bukan alasan saya harus menggantinya.

Saya tidak akan mengganti sepedamotor hanya karena mengikuti jaman, hanya karena mode. Hanya karena ikut-ikutan. Hanya karena ingin nge-trend. Saya akan mengganti sepedamotor tersebut bila sustu saat dia tidak bisa bekerja lagi.

Nge-trend dan mengikuti jaman sih boleh saja, tapi itu bukan yang utama. Yang utama adalah esensi sepedamotor itu sebagai kendaraan. Untuk berpergian, bukan baru dan bagusnya kendaraan yang kita utamakan tapi kemanan dan keselamatan kendaraan tersebut. Bukankah demikian?

Ini juga berlaku untuk barang-barang kebutuhan yang lain, HP misalnya. Banyak orang yang membeli HP hanya untuk gaya-gayaan. Mereka bahkan tidak mengenali dengan baik fitur-fitur HP yang mereka beli, tapi karena HP tersebut tampak keren dan trendy, mereka membelinya. Sungguh banyak orang yang membeli HP high end, BlackBerry misalnya, padahal mereka menggunakannya hanya untuk menelepon dan SMS. Menelepon itu pun bukan sesuatu yang benar-benar mereka butuhkan. Mereka menelepon hanya karena mereka punya HP, atau karena HP itu bisa digunakan untuk menelepon.

Tetanggaku membeli sepedamotor tidak untuk apa-apa. Mereka membelinya hanya karena ingin memilikinya, karena tetangga mereka sudah banyak yang memiliki sepedamotor. Ya, supaya tidak kelihatan miskin karena tidak mempunyai sepedamotor. Setiap hari sepedamotor itu hanya nongkrong di rumah. Sang suami pergi bekerja berjalan kaki karena tempat bekerjanya dekat saja. Si anak pergi ke sekolah juga berjalan kaki karena tempat sekolahnya tidak jauh, dan karena teman-temannya semua berjalan kaki. Sungguh mubazir. Padahal mereka harus mencicil setiap bulan untuk mendapatkan sepedamotor tersebut.

Seorang temanku membeli laptop yang mahal, seharga 8 juta lebih, tapi dia mengunakannya hanya untuk mengetik dan untuk mengakses Internet. Dia sesungguhnya tidak tahu banyak tentang laptop dan teknologi computer. Dia juga tidak tahu banyak tentang aplikasi. Yang dia tahu adalah bahwa laptop yang mahal tentu berkualitas bagus. Tidak salah memang. Dan dia memang mendapatkan yang bagus. Tapi menilik dari kebutuhannya, dari apa yang dia perbuat dengan laptopnya, sesungguhnya dia tidak membutuhkan laptop yang semahal itu, laptop seharga 4 jutaan pun sudah bagus baginya.

Kalau dihitung-hitung, mungkin sudah banyak sekali uang yang kita buang tidak untuk apa-apa, hanya untuk membeli kesia-siaan belaka. Tapi mungkin tidak apa-apa. Tidak perlu disesali. It’s just fine. Bukankah kita mendapatkan pengalaman dari benda-benda yang kita beli itu. Dan pengalaman adalah guru yang terbaik. Tapi sekali-sekali kita boleh merenung, apakah pengalaman itu tidak terlalu mahal harganya?

comment 0 comments:

Post a Comment

 
© Hasim's Space | Design by Blog template in collaboration with Concert Tickets, and Menopause symptoms
Powered by Blogger