Beruntunglah Anda yang Berwajah Cantik atau Tampan

i-wan.org


DALAM pergaulan kita, dalam kehidupan sehari-hari, orang yang berwajah lebih tampan, atau lebih cantik pastilah lebih disukai, baik oleh lawan jenis maupun oleh sesama jenis kelamin, baik untuk dijadikan kekasih atau pun hanya untuk sekedar berteman. Wajah cantik atau tampan adalah kesan pertama yang menggoda, dalam setiap kesempatan.

Seperti sudah menjadi hukum tak tertulis. Pertama kali orang tertarik pastilah dengan wajah atau penampilan, baru kemudian sifat atau karakter ikut menentukan. Aura yang timbul dari wajah yang tampan mendorong orang untuk lebih mendekat. Sebaliknya, aura yang timbul dari wajah yang tidak cantik atau tidak tampan membuat orang cenderung menjauh. Beruntunglah orang yang dikaruniai wajah cantik atau tampan karena mereka sudah menang satu poin, selangkah lebih maju dalam memulai kehidupan sosial, bahkan, pun, dalam kehidupan ekonomi.

Orang yang berwajah cantik atau tampan, kalau disertai pula dengan sifat atau karakter yang menawan, tingkah laku yang terpuji, apalagi kalau pintar pula, niscaya akan menjelma menjadi manusia yang super, sebuah modal utama untuk meraih sukses. Sedangkan yang berwajah kurang menguntungkan, meskipun dia bersifat terpuji dan punya karakter yang menawan, dan pintar, masih harus berjuang keras untuk diterima di tengah-tengah masyarakat dengan tanpa reserve. Namun demikian, bukannya tidak mungkin orang yang berwajah tidak cantik atau tidak tampan mencapai sukses serupa, cuma prosesnya lebih panjang dan berliku, disertai cobaan-cobaan keras dan kadang-kadang menimbulkan keputusasaan.

Begitulah cara pandang kehidupan sosial kita; banyak ditentukan oleh takdir dan karunia. Dan kita tidak pernah melakukan apa-apa untuk mengubah cara pandang seperti itu, malah, serta merta pula, memupuknya sehingga menjadi lebih intens.

Tayangan televisi yang selalu mengedepankan wajah cantik dan tampan sebagai modal utama untuk memikat perhatian pemirsa, baik dalam film (sinetron) maupun acara musik dan talkshow. Begitu intens-nya pola itu diterapkan sehingga terbentuk persepsi di masyarakat bahwa untuk menjadi pemain sinetron itu harus berwajah cantik atau tampan, hal yang sebenarnya bukan merupakan esensi dari sinetron itu sendiri, apalagi musik.

Sudah tak terhitung artis penyanyi atau pun pemain sinetron yang sukses luar biasa karena mereka berwajah cantik atau tampan. Dan tidak terhitung pula artis yang mempunyai jutaan penggemar karena wajahnya.

Perhatikan pula iklan komersial, baik di media cetak maupun media televisi, hampir semuanya menampilkan wajah cantik dan tampan, meski barang yang diiklankan sama sekali bukan produk kecantikan atau ketampanan.

Dalam kehidupan sehari-hari, kita seolah-olah terjajah oleh kecantikan dan ketampanan, baik dalam kehidupan sosial maupun ekonomi. Di mana ada wajah cantik atau tampan, yang berwajah jelek menyingkir, atau tersingkir. Di mana ada tawar menawar posisi, orang yang berwajah cantik atau tampan selalu punya kans lebih besar untuk keluar sebagai pemenang.

Di samping itu, orang yang berwajah cantik atau tampan cenderung lebih mudah mendapat simpati dari masyarakat kita daripada orang yang berwajah jelek.

Beruntunglah Ariel Peterpan, karena wajahnya yang tampan dia tidak banyak mendapat hujatan atau cacian atas kasus yang sedang menimpanya saat ini, malah cenderung mendapat simpati dari masyarakat. Begitu juga dengan Luna Maya, kekasihnya Ariel, tidak banyak yang mencaci atau menghujatnya hanya karena dia cantik.

Bayangkan kalau kasus Ariel tersebut menimpa seorang vokalis band yang berwajah jelek, misalnya, pastilah caci maki, sumpah serapah, hujatan, atau bahkan ancaman pembunuhan akan menimpanya, dan habislah kariernya. Sedangkan Ariel masih banyak ditunggu penggemarnya, bahkan ada seorang vokalis juga yang terang-terangan mendukungnya. Niscaya karena sudah terbukti penyanyi atau vokalis band yang berwajah jelek selalu mendapat cacian dan hujatan hanya karena wajahnya yang jelek itu.

Kesimpulan: Penampilan masih merupakan sebuah faktor dalam keberhasilan baik dalam kehidupan sosial maupun ekonomi. Tidak ada logika dan akal sehat dalam hal ini, yang ada hanya emosi, dan kita tidak bisa melakukan apa-apa untuk mengubahnya. Kalau Anda berwajah cantik atau tampan, Anda harus bersyukur atas karunia Tuhan yang demikian besar sehingga memudahkan Anda menjalani kehidupan ini. Kalau Anda berwajah tidak cantik atau tidak tampan, pandai-pandailah menyadari hal ini sebagai sebuah faktor yang berkontribusi terhadap keberhasilan kehidupan sosial ekonomi Anda. Dengan kata lain, Anda harus berjuang lebih keras lagi. Wallahu’alam. 

comment 1 comments:

berlian on October 10, 2015 at 12:16 AM said...

Gue mo bunuh diri ni.....siapa yg mau ikut???

Post a Comment

 
© Hasim's Space | Design by Blog template in collaboration with Concert Tickets, and Menopause symptoms
Powered by Blogger