Awas Kecanduan Iklan!

Courtesy: Logan Sachon

Saya sekarang menghindari menonton iklan TV, bagaimanapun juga. Saya mengalihkan saluran, mematikan suara TV, membaca update Twitter selama jeda iklan. Karena jika saya sedang menjelajah chanel TV dan menemukan iklan, saya berhenti.

Salesman yang bersemangat, konsumen yang puas, dan nomer 800 yang meminta Anda hubungi—adalah hiburan dari iklan, dan saya mudah terpengaruh olehnya.
Para presenter yang giat itu dengan tanpa merasa bersalah menunjukkan antusiasme mereka akan sebuah produk dan manfaatnya, dan saya menghargai transparansi tersebut. Mereka tidak sedang menjual soda dengan cara menjual seks; mereka menjual sepotong selimut berlengan dengan cara menjual sepotong selimut berlengan. Dengan hanya menggunakan panggung yang lembut sebagai latar belakang, mereka merinci alasan dan cara produk tersebut bisa mengubah kehidupan Anda.
Dan saya ingin kehidupan saya berubah.
Ketika saya di sekolah menengah, saya menonton sebuah iklan mengenai sebuah produk dehidrator buah-buahan. Orang-orang yang mempunyai dehidrator buah-buahan akan hidup sehat dan berbahagia, dan karena itu saya membutuhkannya sebuah.
Ketika saya meminta pada ibu agar dibelikan sebuah, saya menekankan bahwa dehidrator makanan bisa mengubah cara saya makan, memberi saya energi dan nutrisi berlebih, dan akhirnya bisa menghemat uang orang tua saya. Ibu saya mengatakan kemungkinan yang saya buat tersebut sebenarnya sama saja dengan mengganti Oreo dengan irisan apel kering yang tidak membawa penghematan apa-apa..
Dia benar, tetapi saya ketika itu belum tahu.
Benda yang pertama saya beli karena iklan di TV ketika saya dewasa bukanlah dehidrator makanan tersebut (saya beralih), tapi sebuah Blender Peluru Majik (Magic Bullet Blender) seharga $50. saya melihat iklan tersebut dan tertarik dengan keserbagunaannya (membuat salsa! Mengocok telur! Mencincang bawang putih! Merremah keju!), cukup meyakinkan saya bisa jadi koki rumah tangga.
Namun tidak berhasil. Saya tidak membuat Magic Bullet tersebut untuk menyiapkan makanan atau membuat salsa. Satu-satunya hal yang saya lakukan dengan benda tersebut adalah membuat jus—sesuatu yang sudah bisa saya lakukan sebelumnya dengan menggunakan blender biasa. 
Kebanyakan produk yang saya beli berakhir di kotak sampah atau saya sumbangkan karena benda-benda tersebut tidak mempu megubah hidup saya seperti yang mereka tawarkan di TV. Alat untuk menanam tomat Topsy Turvy tomato planter seharga $4,95 tidak mampu membuat saya menjadi seorang tukang kebun; alat perawatan kulit Serious Skincare skincare system seharga 39,95 tidak membuat saya menjadi seseorang yang mempunyai kulit sempurna; Debbie Meyer's GreenBags seharga $9,95 tidak bisa membuat saya menjadi seseorang yang menjaga sayur-sayuran dari tangan petani tetap segar di tangan saya; Perfect Push-Up seharga $39,95 tidak mampu membuat saya menjadi seseorang yang bisa push up.
Saya pikir produk-produk tersebut hanya punya kemampuan—semua produk-produk tersebut punya kemampuan—tapi tidak, atau tidak bisa mengubah kehidupan Anda..
Produk-produk ajaib yang bekerja cepat (quick-fix products) yang ditujukan untuk mengubah hidup saya yang sudah pernah saya beli semuanya senilai sekitar $500, dan yang sudah saya buang atau saya sumbangkan nilainya juga kira-kira sama besar.
Itu adalah jumlah uang yang besar bagi saya. Tapi ada pelajaran yang bisa saya petik bahwa dari uang saya yang hilang tersebut: Tidak ada produk yang bekerja cepat mengubah kehidupan kita; saya tidak bisa membeli kebiasaan-kebiasaan saya sendiri—sekurangnya tidak di toko atau melalui telefon.
Sekarang saya sedang menjalani therapi berbayar, persinggahan saya yang terakhir dalam pencarian saya untuk mengubah kehidupan saya. Dan ini bukanlah produk yang bekerja cepat pula. Saya membayar $200 sebulan untuk ini, dan tidak ada yang didemokan di sini. Tidak ada barang, tidak ada produk, tidak ada janji-janji.
Tapi ini boleh jadi merupakan permulaan yang terbaik: tidak membeli janji akan perubahan cara cepat, dan tidak membeli semata.
(by Logan Sachon, contributor
Saturday, April 16, 2011)
Logan Sachon is a Portland, Ore.-based writer who covers personal finance for Bundle.
___ 

comment 0 comments:

Post a Comment

 
© Hasim's Space | Design by Blog template in collaboration with Concert Tickets, and Menopause symptoms
Powered by Blogger